Mengingat kelakuan Aga yang super pengecut membuatku agak ragu untuk ketemu dengan Leticia. Pagi ini dia mengirimiku pesan. Biasanya aku senang setengah mati, tapi kali ini perasaanku biasa saja. Kejadian semalam membuatku malas keluar rumah. Jangankan keluar rumah, bernapas pun enggan.
“Wa, nggak bangun, atau sudah mati?” tanya Emak. Aku bergumam malas, kemudian bangkit karena takut Emak keburu mengomel. “Ada cewek datang, masa tidur melulu!” lanjut Emak sambil berdiri di ambang pintu.
Kulirik jam yang menggantung di dinding kamar. Ternyata sudah jam sembilan pagi. Kugaruk kepalaku, kemudian mengusap wajah yang berminyak. Leticia datang ke rumahku sepagi ini, mau ngapain coba?
“Tunggu bentar, Dawala cuci muka dulu,” kataku seraya bangkit. Emak mengangguk kemudian berlalu dari kamarku.
Sambil mengucek mata, aku berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Jiwaku masih berada di alam mimpi. Tadi malam, Lisa Blackpink datang ke mimpi dan hampir menciumku, tapi Gama menggagalkan semuanya. Dengan jahil, adik laknatku itu meniup balon hingga meletus tepat di kuping. Aku terperanjat kaget, lalu memukul kepalanya hingga memar. Untung saja Gama tidak mengadu ke Emak, karena dia sadar diri akan kesalahan yang ia perbuat sendiri.
“Dawala!” sapa seseorang di ruang tamu. Aku menoleh kemudian tersenyum kecil saat melihat Kinanti.
Tunggu. Dia Kinanti?
Sekali lagi aku menoleh. Mataku membola lantaran masih tak percaya. Dia benar-benar Kinanti? Ngapain dia datang kemari? Bukankah masalah semalam sudah bersih? Chef dan istrinya sudah percaya dengan penjelasan kami.
“Pacar kamu udah nungguin dari tadi, Wa!” teriak Emak dari dapur. Aku langsung memandang mata Kinanti, dan dia hanya nyengir tanpa dosa. Pacar? Maksudnya apa coba?
“Kita harus ngobrol,” ucapku seraya memandang Kinanti dengan wajah kurang bersahabat. Aku tahu bahwa Kinanti masih patah hati, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya menyeretku ke dalam masalahnya, kan? Aku sudah kapok dituduh aneh-aneh oleh Chef dan istrinya. Aku juga tidak mau difitnah oleh Aga dan selingkuhannya.
Kinanti membuntutiku menuju kamar. Kulihat Gama cengengesan di sudut ruangan kemudian berdeham kencang untuk mengejekku.
“Aduh, yang pacaran udah main kamar aja!” sindir Gama. Aku memilih diam tak menanggapi, sementara Kinanti hanya tersenyum kecil.
“Ada apa lagi?” tanyaku setelah menutup pintu kamar. Kinanti menggeleng pelan, lantas duduk di pinggir ranjang sambil celingukan.
“Kamu belum punya pacar, kan? Berarti aman, kan, kalau aku datang ke sini?” tanyanya dengan nada enteng.
“Maksudnya?”
“Aga menuduh kita berselingkuh. Gimana kalau kita lanjutkan permainan ini. Apa sama Mamah juga malah ngasih ide biar aku deketin kamu sekalian. Mereka berharap kita bisa menikah biar DP gedung, WO, catering, MUA, Fotografer dan lain-lain tidak mubadzir.” Kinanti nyeletuk enteng. Aku memandangnya dengan wajah lempeng, kemudian tertawa sarkas.
“Gila, kamu!”
“Aku bercanda, Wa!” celetuknya enteng. “Tapi kalau kamu mau betulan ya, nggak apa-apa!”
“Yang benar kamu mau ngapain ke sini?” tanyaku nggak sabar. Aku bersandar ke pintu sementara Kinanti malah merebahkan diri di atas ranjang kamarku. Anak ini terlalu santai untuk dibilang patah hati. Dia nggak ada sedih-sedihnya sama sekali.
“Hari ini kamu libur kerja! Itu yang Apa bilang. Aku cuma mau bilang itu sama mengembalikan sweater kamu yang ketinggalan di rumahku. Sudah aku cuci, dan sudah aku keringkan di mesin cuci tadi subuh. Jadi, sekarang sudah kering sempurna,” cerocosnya tanpa jeda. Aku memutar bola mata seraya melipat tangan di d**a. Udara pagi ini sangat dingin. Maklum, ini di Desa. Apa lagi sekarang hujan rintik-rintik membasahi tanah. Dinginnya menyeruak sampai ke dasar tulang.
“Mana sweater-nya?” tanyaku.
“Di kursi, lah!” jawabnya enteng. Dia malah memejamkan mata di atas ranjang. Melihatnya membuatku mengukir senyum tipis. Kalau dilihat-lihat, dia manis juga. Aku suka kepribadiannya yang jujur dan apa adanya.
“Hari ini aku libur?” tanyaku. Dia mengangguk di sela tidurnya.
“Iya, kamu libur.”
“Mau jalan bersamaku?” tanyaku tanpa berpikir. Padahal hari ini Leticia pulang, tapi aku tak begitu bersemangat menantikannya. Lagipula, aku sudah mencintainya bertahun-tahun, dan perasaanku gantung tanpa jawab.
“Boleh. Sekalian antar aku ke tempat cetak undangan. Aku mau batalkan sisanya.”
“Oke.”
***
Selagi Kinanti mengobrol dengan pemilik percetakan di dalam ruangan. Aku memilih duduk di luar sambil menyesap batang rokok. Cuaca hari ini lumayan sejuk. Rintik gerimis telah reda berganti sinar matahari. Tidak terlalu terang, tapi cukup membuat aspal jalanan yang semula basah perlahan mengering.
Beginikah rasanya mengantar perempuan ke percetakan undangan? Kok aku malah membayangkan pernikahan, ya? Lagipula, aku akan menikah dengan siapa?
Sebuah mobil berwarna silver berhenti di halaman gedung percetakan. Aku tahu bahwa mobil itu milik Pak RT. Itu berarti Aga yang mengemudikannya.
Benar saja, Aga turun dari dalam mobil kemudian membukakan pintu untuk seseorang. Kukira cewek yang datang bersama Aga adalah selingkuhannya, ternyata dia Leticia. Mata kami berpandangan beberapa saat. Aga sempat menatapku dengan alis mengkerut sinis, kemudian berbisik ke Leti. Mungkin dia melarang Leticia untuk berhubungan denganku.
Saat Aga dan Leticia melangkah ke pintu masuk, di saat itu pula Kinanti keluar. Mereka berpapasan. Kinanti menghentikan langkahnya kemudian memandang Aga dengan wajah penuh kemarahan.
“Kamu lihat, kan, Kinanti datang bersama Dawala untuk membatalkan pesanan undangan pernikahan?” Aga memulai drama. Ia memandang Leticia yang kini menatapku. Entah tatapan macam apa itu, aku tak mengerti. Yang jelas, bibir Leticia tertutup rapat, matanya layu, dan tak menampakan senyum.
“Jangan memutar balikan fakta, Ga. Jelas-jelas kamu yang ketahuan selingkuh! Aku sendiri yang memergoki kamu dengan mata kepalaku sendiri,” sungut Kinanti tanpa ekspresi. Aku tak ingin ikut campur dengan urusan mereka, tapi Aga terlebih dahulu yang menyeretku ke dalam permasalahannya.
“Sekarang kamu sudah ketahuan jalan berdua sama Dawala, Ki. Kamu masih mengelak?” Aga tertawa sarkastik. Sumpah, aktingnya patut dihadiahi piala oscar.
“Lelaki tukang drama!” umpat Kinanti. Aku tertawa mendengarnya, lantaran merasa puas.
“Jaga omongan kamu, ya!” sahut Leticia yang semula diam. Leticia membela Kakaknya? Tentu saja. Lagipula, apa yang kuharapkan?
“Selingkuhan kakak kamu lagi hamil, Neng. Kalau kamu nggak percaya, bawa selingkuhan kakak kamu ke bidan. Suruh dia pakai test pack!”
Leticia diam, di saat itu pula aku bangkit untuk menghampiri Kinanti. Dari dalam gedung, semua pengunjung menyaksikan pertengkaran antara Aga dan Kinanti. Mereka saling berbisik dan bergunjing. Sepertinya semua orang mempercayai omongan Aga. Cara mereka memandang membuatku merasa terintimidasi.
“Ayo pulang!” bisikku ke Kinanti. Mata Kinanti sudah memerah akibat menahan tangis. Aku menarik tangannya sebelum semuanya berakhir rumit, tapi Kinanti menepisnya.
PLAK.
Kinanti menampar Aga kembali. Leticia melotot kaget, dia maju selangkah hendak membalas tamparan Kinanti. Namun, segera aku menahan tangannya sebelum semuanya bertambah runyam.
“Ngapain kamu nahan-nahan tangan aku? Apa gara-gara dia pacar kamu?” tanya Leti sinis. Kulepaskan cengkraman tanganku kemudian menatapnya dengan wajah datar.
“Jangan membuat keributan, memalukan!” sindirku.
“Setelah tahu kelakuan kamu kayak gini, aku memutuskan untuk menerima lamaran Edo. Kita benar-benar berakhir!” ucap Kinanti. Aku memandangnya dengan tawa sarkas. Berakhir apanya? Bahkan kami belum memulai apa pun.
“Sekali pun kita memulai, keluarga kamu nggak akan ada yang setuju. Buktinya kakak kamu fitnah aku seperti ini!” tandasku.
Aku menarik tangan Kinanti kemudian berlalu dari hadapan mereka. Rasa sakit menghujam jantungku bertubi-tubi. Mungkin ini saatnya untukku melupakan Leticia, cinta pertamaku.
“Ayo kita lanjutin pernikahan itu,” ucapku ke Kinanti. Beginlah caraku berpikir saat emosi menguasai jiwa.
“Pernikahan apa? Undangan sudah kubatakan semuanya!” jawab Kinanti seraya memasang helm-nya.
“Jangan mengundang siapa pun. Kita menikah saja!”
“Pernikahan macam apa itu?”
“Kontrak.”