“Kenapa jangan sampai papasan?” tanyaku sok polos. Padahal aku mendengar semuanya tadi.
“Rahasia.”
“Mau pulang bareng aku, nggak?” ajakku. Kinanti memandangku, kemudian menggeleng pelan.
“Nggak. Kamu ngapain mengikuti aku, sih? Kamu nguping pembicaraan aku sama pacar aku, ya?” tanyanya agak ketus.
“Aku nggak ikuti kamu. Aku di sini untuk berteduh, lho,” alibiku. Cukup cerdas, kan?
“Jelas-jelas aku lihat kamu di samping garasi tadi,” cibirnya seraya merotasi kedua bola mata. Aku dapat menangkap maksudnya dengan jelas. Jadi dia melihatku menguping? Kenapa aku tak menyadarinya?
“I-itu nggak sengaja.” Aku meringis seraya menggaruk kepalaku yang baik-baik saja.
“Aku batal nikah sama pacar aku, tapi aku bingung bagaimana cara menyampaikannya ke orangtuaku. Mereka pasti akan sangat malu. Tetangga akan mencibir kami, menggunjingkan kami. Aku nggak sanggup membayangkan itu terjadi, tapi aku juga nggak mau menikah sama cowok yang udah menyakiti aku.” Kinanti mengusap kasar wajahnya. Aku sangat mengerti bahwa saat ini dia sangat terpuruk.
“Pikirin itu nanti, Mbak.”
“Nanti kapan? Sampai hari H tiba dan uang bapak aku habis untuk bayar DP WO, rias pengantin, katering, dan cetak undangan? Hal kayak ginian gak bisa dinanti-nanti, kamu ngerti?” cerocosnya.
Sekarang aku kebingungan sendiri di sini. Lagian ngapain sok pahlawan segala sih, Wa? Sok-sokan khawatir. Giliran cewek menangis, bingung sendiri cara menenangkannya bagaimana.
“Apa aku harus nyari cowok yang mau menikah sama aku, ya? Biar DP yang udah masuk nggak terbuang sia-sia, dan aku bisa balas dendam ke Aga juga,” gumamnya. Aku tertawa secara refleks. Pemikiran macam apa itu? Siapa yang mau menikahinya hanya untuk dijadikan pelampiasan, kecuali kalau cowoknya mempunyai niatan sama.
“Batalin aja, Mbak. Daripada menikah hanya untuk balas dendam, kan, kasian cowoknya.”
Kinanti mengangguk kecil sambil tertawa. Tawa yang menyiratkan rasa sakit. “Lagian aku cuma berandai-andai.”
Mendengarnya membuatku mengulum senyum kecil. Cewek ini cukup manis untuk dihindari. Ngobrol dengannya membuatku betah.
“Yuk pulang, Mbak. Udah malem. Biar saya antar,” ajakku. Kali ini dia menurut. Saat kuulurkan tangan kanan, dia tampak menyambutnya. Kami menaiki motor saat rintik gerimis perlahan berhenti. Suasana Desa Cijulang sangat dingin, ditambah aspal jalanan yang basah dan licin. Kulajukan motorku pelan-pelan, aku khawatir baju Kinanti kotor akibat cipratan air hujan.
“Eh, nama kamu, tuh, siapa?” tanya Kinanti di tengah perjalanan. Aku memujinya dalam hati. Kinanti cukup kuat mental, padahal ia baru saja memergoki pacarnya berselingkuh, tapi saat ini semuanya mengalir seperti tak terjadi apa pun.
“Dawala,” jawabku setengah berteriak agar dia mendengarnya dengan jelas.
“Keren namanya.”
“Kamu sendiri?” tanyaku sok basa-basi.
“Kinanti.”
***
Aku memarkirkan motorku di halaman rumah Kinanti. Ternyata tempat tinggalnya tak begitu jauh dari Desaku. Kinanti tinggal di Desa Selasari. Suasana di sini jauh lebih dingin ketimbang Desa Cintakarya, bangunan rumah pun masih jarang. Suara hewan malam saling bersahutan saat kami melewati hutan di Cikalungkung tadi. Untung saja aku mengantarnya pulang. Kalau tidak, aku sangsi dia berani pulang sendiri.
“Kamu jangan keluar malam sendirian. Jalan ke rumah kamu melewati hutan begitu!” Aku memandangnya. Kinanti berdiri sambil mencebik bibir. Seolah dia mengabaikan ucapanku barusan.
“Aku udah biasa. Nggak ada apa-apa, kok. Harimau Jawa udah punah, kan?” Kinanti tertawa hiperbola.
“Begal belum punah, Kinanti. Yang ada makin banyak,” ucapku. Bukan tidak mungkin di desa seperti ini berkeliaran orang jahat, kan?
Kinanti hanya tertawa kecil menanggapinya. Dia tak terlalu mengkhawatirkan persoalan begal yang berkeliaran di Desa-Desa. Justru yang membuatnya sakit hati adalah Aga, bukan begal, jambret, atau pun perampok yang dibicarakan olehku. “Makasih sekali untuk tumpangannya,” ucapnya kedengaran tulus.
Aku mengangguk kecil. Kemudian menyalakan mesin motor. “Aku pamit,” ucapku. Belum sempat menarik gas, Chef keluar dari dalam rumah, kemudian berlari menemuiku. Chef tampak khawatir melihat penampilan putrinya yang basah kuyup berantakan, dan ia memandangku penuh selidik.
“Kenapa, Chef. Aku cuma nganterin anaknya pulang, kok.” Aku membela diri terlebih dahulu. Takutnya dikira macam-macam.
“Kamu yang bikin pernikahan anak saya batal?” tanya Chef tanpa tedeng aling-aling. Kinanti langsung melotot kaget, begitu pun aku. Kenapa ceritanya jadi begini?
“Tidak mungkin, Apa! Kinanti cuma nggak sengaja ketemu Dawala di jalan!” bela Kinanti. Ia menatapku kemudian meminta maaf lewat ekspresi wajahnya.
“Aga menelpon ke Apa. Katanya kamu batalin pernikahan secara sepihak. Malu-maluin pisan!” Chef mengomel. Dari sini aku tahu karakter Aga bagaimana. Dia tipikal orang yang tidak mau disalahkan. Jelas-jelas Aga yang berselingkuh dari Kinanti, tapi dia malah playing victim seolah Kinanti yang mencampakannya lebih dulu.
“Aga ngomong kayak gitu?” tanya Kinanti dengan intonasi meninggi. Chef mengangguk, kemudian menarik tangan Kinanti ke dalam rumah.
“Dawala. Kamu juga masuk, sini!” ajak Chef. Suaranya sangat tidak bersahabat di telingaku.
Chef nggak akan menuduhku macam-macam hanya gara-gara aku mengantarkan Kinanti pulang, kan?
“Saya pulang aja, Chef!” ucapku agak ragu. Posisiku masih duduk di atas motor, dan bersiap mengenakan helm.
“Turun, Dawala!” titah Chef. Intonasinya meninggi.
Mau tak mau aku menurut. Dengan langkah gusar, kubuntuti Chef dan Kinanti untuk masuk ke dalam rumah. Rumahnya cukup bagus ketimbang rumah-rumah lain di Desa ini, tapi bukan itu poin pentingnya. Aku ada di sini karena terseret kasus batalnya pernikahan Kinanti dan Aga.
Chef duduk di atas kursi kayu jati, bersebelahan dengan sang istri. Iya, aku menerka bahwa wanita paruh baya di sampingnya adalah istri Chef, soalnya Kinanti memeluk wanita itu dan menangis di dekapannya.
“Duduk, Wa!” titah Chef. Aku merapikan baju kusut yang kukenakan, kemudian duduk dengan sedikit ragu.
“Kenapa bisa batal, Nan?” tanya wanita paruh baya itu seraya menepuk halus punggung Kinanti. Wanita paruh baya tersebut memandangku, lantas mendelik sinis. Apakah aku dicap sebagai lelaki perebut cewek orang lain sekarang?
“Aga selingkuh, Mah.” Kinanti menangis di balik ceruk leher sang ibu.
“Aga atau kamu yang selingkuh?” tanya sang ibu. Mendengarnya membuatku geram. Kenapa mereka lebih mempercayai Aga ketimbang anaknya sendiri?
“Aga yang selingkuh, Mah. Dia bawa cewek ke restoran dan pesan laksa udang. Apa sendiri, kan, yang masak di sana?” tanya Kinanti seraya memandang Chef dengan mata memerah. Chef mengangguk kemudian merogoh saku celananya.
“Perempuan itu sepupu Aga, Nan. Aga bilang kamu yang selingkuh. Dia mergokin kamu lagi berduaan sama Dawala. Saat Aga deketin, kamunya marah-marah dan minta batalin pernikahan! Tadi Aga bilang begitu ke Apa.” Chef memperlihatkan isi percakapan antara Aga dan dirinya di aplikasi hijau. Kinanti membacanya, lalu mengepalkan tangan kuat-kuat, dan menggeram. Begitu pun aku. Mendengarnya membuatku marah. Kenapa Aga harus menyeretku ke dalam persoalan mereka?
"Chef. Saya dengar sendiri percakapan antara Kinanti, Aga, dan selingkuhannya itu. Aga jelas-jelas berselingkuh, bahkan cewek itu sampai hamil, lho, Chef,” jelasku. Chef menggaruk kepalanya dengan kasar lantaran bingung.
“Tak perlu bingung, Chef. Apa yang aku ucapkan merupakan fakta, kok.”