Chef dan aku sepakat untuk berpikiran positif. Mungkin saja gadis yang digandeng Aga tadi merupakan sepupunya, atau bahkan keluarganya yang lain. Lagipula, jalan bareng cewek ke restoran nggak harus punya hubungan spesial, kan?
Kendati masih curiga, aku tetap bersikap netral di hadapan Aga. Chef pun melakukan hal yang sama.
“Laksa-nya dibungkus, ya?” tanyaku seraya memberikan papper bag berisi laksa di meja kasir. Aga menerimanya, lantas membayar menggunakan debit card.
“Udah mau pulang, ya?” tanya Aga berbasa-basi.
Aku mengangguk sebagai tanggapan.
“Besok Leti pulang, sekarang lagi di perjalanan.”
“Oh gitu?” responku agak kaku. Entah kenapa, aku nggak begitu bersemangat mendengar kepulangan Leticia. Otakku masih penasaran tentang siapa gadis yang kini berdiri di samping Aga.
“Kamu bisa kenalin aku ke adik kamu, nggak?” tanya gadis di samping Aga. Wajahnya sedikit merajuk. Kalau sudah begini, aku jadi yakin bahwa mereka mempunyai hubungan lebih. Kulirik mereka berdua. Wajah Aga terlihat kaku, sementara gadis di sampingnya bersikap santai.
“Kapan-kapan, ya,” jawab Aga pelan, namun masih terdengar.
“Kok kapan-kapan?”
Alih-alih menjawab, Aga malah menatapku seraya meringis kecil. Mungkin dia menyadari ekspresi curiga di balik rautku. Kuserahkan debit card setelah menyelesaikan transaksi. Dengan gerakan terburu-buru, Aga memasukan kembali debit card tersebut ke dalam dompet.
“Makasih, Wa. Aku duluan,” katanya seraya melambaikan tangan kiri. Tangannya yang lain menarik selingkuhannya.
Memang selingkuhan, kan?
Enak, ya, jadi cowok banyak duit. Mereka bisa berselingkuh karena merasa banyak yang mau. Sementara aku? Jangankan selingkuh, satu pun tak kunjung dapat. Cewek yang kudekati lebih memilih ngacir ketimbang pacaran sama cowok kere sepertiku. Kendati wajahku mirip Bright Vachirawit, tapi kaum hawa lebih enak menghirup wangi duit ketimbang memandangi wajah tampan.
Tampan bukanlah utama modal, Teman-teman.
“Yuk, pulang!” ajak Chef. Chef dan Tita keluar dari arah dapur setelah membersihkan perabotan kotor.
Aku mengangguk, lantas bersiap untuk pulang.
***
Besok Leti pulang. Aduh, aku harus caper dengan cara apa lagi? Pokoknya, jangan sampai Emak menyuruku mengantar gorengan ke warung Bi Eti lagi. Bisa hancur reputasiku sebagai cowok cool se-Desa Cintakarya. Leti nggak akan mau pada cowok pengantar gorengan sepertiku. Selera dia dokter yang duitnya banyak, bukan cowok miskin macam aku.
Dengan senyum mengembang, aku melangkah menuju garasi motor. Motor kebanggaanku terparkir di barisan paling belakang. Bahkan aku bisa melihatnya dari jarak sepuluh meter.
Suara gaduh membuat langkahku terhenti. Dengan gerakan pelan, aku berjalan miring seperti kepiting, mepet ke tembok untuk menguping. Sudah pasti kalau suara itu berasal dari garasi. Karena semakin aku melangkah, kegaduhannya makin terdengar jelas.
“Kayak gini kelakuan kamu di belakang aku?” Suara cewek itu tampak sangat marah. Kulongokan kepala untuk mengintip, tapi di sana gelap. Muka mereka tak terlihat kentara.
“Maaf,” ucap si laki-laki pasrah. Ini pasti perkara selingkuh. Aku sangat yakin.
Setelah dipikir-pikir ... Kok, suaranya mirip Aga? Apa jangan-jangan ini kelanjutan drama yang tadi? Kalau dia Aga, berarti cewek yang lagi nangis di depannya itu anaknya Chef, dong?
“Kita udah mau nikah, lho, Ga! Kok kamu tega banget, sih?” Suara anaknya Chef bergetar menahan tangis. “Apa susahnya jujur kalau kamu udah nggak suka sama aku. Aku nggak suka dikelabui!” lanjutnya.
“Mbak. Aku nggak ada maksud buat ngerebut Aga. Tapi ... sekarang aku lagi hamil. Kami nggak sengaja ngelakuin itu, soal—” omongan si pelakor terpotong saat anaknya Chef menampar pipi Aga. Cukup keras.
PLAK!
“Bahkan dia hamil?” tanya anaknya Chef. Sangat kecewa. Jangankan dia, aku yang hanya seorang pendengar pun ikut-ikutan sakit hati.
“Aku minta maaf, Kinanti,” ucap Aga dengan wajah menunduk. Ia memegangi bekas tamparannya di pipi menggunakan tangan kanan.
“Ayo batalin pernikahan kita!” tandas Kinanti. Benar, kan, namanya Kinanti?
Cewek yang dipanggil Kinanti itu pergi begitu saja. Berlari menerobos rintik-rintik gerimis. Air mata dan hujan bersatu, seakan saling menguatkan satu sama lain. Hujan memberi tahu bahwa ada luka yang lebih sakit ketimbang air mata. Itu adalah manusia yang mencintai namun tak bisa memiliki. Harapan dan angan-angan membayangi mereka setiap malam. Mereka hanya berharap pada mimpi dalam setiap tidurnya, dan akan tersadar keesokan hari ketika terbangun.
Parahnya, Aga tidak berusaha mengejar Kinanti sama sekali.
Tanpa ragu, aku berjalan santai menuju garasi, lalu menunggangi motorku. Di sana, Aga tampak terkejut menyadari eksistensiku. Namun, aku memilih menyapanya dengan senyum tipis, dan berpura-pura tak menyadari apa yang terjadi barusan.
“Duluan, Ga!” pamitku seraya menganggukan kepala sopan.
“Ah, iya. Hati-hati, Wa!” Aga menampakan senyum terpaksa, lantas mengusap kasar wajahnya.
Kulajukan motorku membelah jalan raya. Pukul sebelas malam di Pangandaran sangat sepi. Aku khawatir sama anaknya Chef yang tadi berlari menerobos rintik gerimis seorang diri.
Kenapa mesti khawatir? Dia, kan, bukan siapa-siapa? pikirku. Pertanyaan semacam itu terus bermunculan di dalam kepala. Kinanti memang bukan siapa-siapa, tapi aku mengkhawatirkannya sebagai sesama mahluk hidup. Bagaimana kalau hal semacam itu terjadi pada adik perempuanku?
Lo, kan, gak punya adik perempuan, Dawala! cibirku dalam hati. Benar, aku memang tak punya adik perempuan. Namun, bagaimana kalau hal semacam itu terjadi pada anak perempuanku kelak?
Di pertigaan Desa Cijulang, aku berhasil menemukan Kinanti duduk seorang diri di pinggir ruko. Bajunya basah kuyup. Matanya merah akibat tangis. Kendati ragu, aku memilih untuk menghentikan motorku dan menghampirinya.
Apa salahnya berbuat baik ke sesama mahluk hidup? Chef sangat baik padaku, aku pun harus bersikap baik ke anaknya.
“Hai,” sapaku seraya mematikan mesin motor. Bajuku basah kuyup lantaran tak mengenakan jas hujan. Ini yang kubenci dari motor sport. Motor ini tak menyediakan bagasi untuk menyimpan barang penting.
Kinanti menoleh, kemudian memandangku dengan alis mengkerut. Ia mengusap air mata, lantas tersenyum kikuk.
“Mau apa kamu?” tanyanya agak ketus. Aku menggeleng kecil kemudian tersenyum tipis.
“Geseran, dong, Neng.” Aku duduk di sampingnya dengan muka lempeng. Kinanti tampak kesal dengan sikapku yang kurang sopan sehingga dia memilih diam.
“Ada debu di pipi kamu,” godaku. Kinanti tetap diam, pasti ia menganggap bahwa aku sedang berbohong.
Untuk membuktikan, segera kuusap pipinya yang kehitaman. Kukira itu merupakan noda dari riasan matanya. Noda kehitaman itu menempel di jemari tanganku, dan aku memperlihatkannya sebagai bukti.
“Hitam, kan? Ini noda dari bedak kamu!” kataku seraya memperlihatkan jemariku yang menghitam.
“Noda maskara, kali!” ralatnya. Lagian, aku tak tahu apa itu maskara. Kalau salah, ya, harap maklum.
“Mau apa, sih, ngikutin? Disuruh Apa-ku, ya?” tanyanya. Panggilan Apa di kampungku cukup lumrah. Ini bukan trend dari Korea, ya. Di sini, anak yang dimanja cenderung memanggil ayah mereka dengan sebutan Apa. Kedengarannya agak imut-imut gimana, gitu, kan?
“Apa kamu udah pulang, kali. Memangnya nggak papasan?” tanyaku.
Kinanti menggeleng, “Jangan sampai papasan, lah.”