Aldian harus mengesampingkan masalah rumah tangganya. Dia harus tetap pergi ke kantor dan mengurus beberapa rapat penting yang sudah ia jadwalkan. Dan setelah semuanya selesai Aldian masuk ke dalam ruang kerjanya dan merebahkan tubuhnya di sofa. Kepalanya terasa semakin kencang dan pikirannya berjalan entah kemana. Dia menarik napas dan menghelanya dengan keras. Perkataan Leo seakan terputar di kepala Aldian,” Kalau lo emang sayang sama orang, coba untuk percaya sama dia. Bukan jadiin cinta lo untuk menyakiti dia karena kecemburuan lo yang gak beralasan, ngerti lo?!” Cinta? Dia tidak mencintai perempuan itu. Aldian pun tidak tahu apa namanya ini. Hanya saja sangat sulit untuknya melepaskan Lovita dari hidupnya. Seakan waktu membentuk sebuah kenangan yang sangat pekat. Tawanya. Tatapannya

