4. HASRAT

1329 Words
Mobil yang di bawa Dafa mengantar Chesa berhenti di depan sebuah gang sempit. “Terima kasih ya, Pak sudah mengantar saya pulang dan juga traktir saya makan malam. Maaf sudah merepotkan, Bapak” ucap Chesa dengn tulus. “Iya sama-sama” jawaban Dafa datar. “Kos kamu di mana?” “Itu Pak, rumah nomor tiga” jawab Chesa sambil tangannya menunjuk rumah yang di maksud. “Apa mobil tidak bisa masuk ke sana?” “Bisa, hanya saja susah kalau mau putar balik” “Oh begitu” “Kalau begitu saya pamit, Pak. Bapak hati-hati di jalan” Chesa membuka seatbelt lalu membuka pintu mobil. Setelah mobil Dafa menghilang, barulah Chesa melangkah menuju kos yang selama ini jadi tempat tinggalnya. Keluarga Chesa tinggal di Bandung dan sejak kuliah Chesa pisah dengan orang tua dan adiknya, hanya pulang saat libur semester. Rumah yang menjadi tempat kos Chesa bukan rumah mewah. Yang kos di sana hanya tiga orang dan semuanya perempuan. Si pemilik kos sepasang suami istri yang semua anaknya tinggal di luar Jakarta. Chesa beruntung bisa menemukan tempat tinggalnya yang sekarang. Walaupun sederhana, tempat itu nyaman seperti rumahnya sendiri. apalagi pemiliknya sangat baik dan sangat peduli dengan anak kos. Chesa belum berniat pindah dari tempat itu meskipun ia sudah memiliki penghasilan yang lebih. Setelah masuk ke dalam kamar, Chesa meletakkan tas kerja dan membuka blazernya. Chesa segera membersihkan make up lalu pergi mandi. Kebiasaan Chesa selama ini adalah pantang merebahkan tubuhnya di tempat tidur jika belum membersihkan diri dan berganti baju. Selain karena faktor kebersihan, Chesa merasa akan malas untuk melakukan aktivitas jika sudah nyaman rebahan di atas kasur. Setelah membersihkan wajah, Chesa mengambil handuk, baju ganti serta perlengkapan mandi. Di tempat tinggalnya, kamar mandi berbagi dengan penghuni lain jadi mau tidak mau Chesa harus membawa baju ganti ke kamar mandi. Tidak menunggu lama, sekitar 30 menit Chesa kembali ke kamarnya setelah menjemur pakaian yang di cuci sebelum mandi. Chesa selalu berusaha mencuci pakaian agar tidak terlalu menumpuk. Padahal besok adalah hari minggu tapi Chesa menyelesaikan tugas mencucinya sekarang agar besok bisa pergi dengan Sita dan Aiden. Chesa merebahnkan tubuhnya di atas kasur sambil memeriksa ponsel miliknya yang sejak tadi tidak sempat di jamah karena bersama Dafa. Ternyata ada beberapa pesan yang masuk di aplikasi w******p terutama pesan grup CAS yang isinya Chesa, Aiden dan Sita. “Pada ngomongin apa dua bocah ini sampai puluhan jumlah chat yang masuk” pikir Chesa. Chesa : Aku baru pulang kerja nih. Sita      : Jam berapa ini non? Lo lembur makanya pulang jam 10? Chesa  : Iya, nemenin pak bos lembur. Sita      : What? Chesa  : Jangan mikir aneh deh. Ada kerjaan yang harus aku dan pak bos selesaikan. Makanya pulang malam. Aiden  : Bos kamu bikin susah? Chesa  : Nggak kok. Kenapa emang? Sita      : Kalau bos lo bikin susah, si Aiden mau kasih pelajaran. Begitu kan? Hahaha Chesa  : Lebay ah kamu Sit Aiden  : Jaga kesehatan, jangan sampai sakit Sita      : Lo ngomong sama gue apa Chesa? Aiden  : Sama kalian berdua Chesa  : Iya iya, besok jangan lupa Sita      : Paling yang lupa si Aiden Chesa  : Aku tidur duluan ya, capek Sita      : Yah kok pada kabur sih Chesa tidak bisa menahan kantuknya lalu perlahan menutup mata. Berharap bisa tidur dengan nyenyak malam ini. *** Sampai di rumah, Dafa segera masuk ke dalam kamarnya lalu segera membersihkan diri karena tubuhnya terasa lengket. Koper yang berisi pakaian selama pergi ke luar kota, ia letakkan sembarangan di depan kamarnya karena nanti akan di ambil oleh ART. “Aku kira kamu tidak pulang?” suara Ribka menyambut kedatangan Dafa saat pria itu membuka pintu. Ribka tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan punggung bersandar pada sandaran tempat tidur. “Kalau aku tidak pulang kamu mau apa?” tanya Dafa dingin. Ribka tersenyum dingin, “Ada atau tidaknya kamu di rumah ini tidak berpengaruh besar untuk aku, Dafa” Dafa mulai membuka jas serta dasi yang sudah membuatnya gerah sejak tadi, “Kalau begitu perkataan kamu tadi tidak perlu aku tanggapi kan?” ujar Dafa dengan nada tidak peduli. Hubungan antara Dafa dan Ribka sudah lama tidak berjalan baik. Ribka selalu menjadikan kesibukan Dafa sebagai alasan dirinya sering bersikap dingin. Ribka lebih sering pergi bersama teman-temannya daripada mengurus Dafa. Ribka mengatakan ini adalah bentuk protes kepada suaminya yang terlalu gila bekerja. Dafa sendiri memiliki alasan kenapa ia sesibuk ini. Posisi dirinya sangat penting dalam perusahaan dan tanggung jawabnya cukup besar. Jika Dafa tidak serius dalam melaksanakan tugasnya maka akan berpengaruh kepada kelangsungan perusahaan. Jika terjadi masalah terhadap perusahaan bukan hanya pihaknya yang rugi tapi ribuan karyawan akan kena imbasnya. Belum lagi perusahaannya sudah merambah pasar internasional, jelas Dafa begitu bekerja keras. Selama ini ia selalu berusaha meluangkan waktu untuk istrinya tapi sayang, wanita itu tidak puas dengan sikap Dafa. Dafa meninggalkan Ribka lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Jika perdebatan dengan istrinya di lanjutkan hanya akan buang-buang waktu. Ia terlalu lelah, bukan hanya fisiknya tapi pikirannya juga butuh istirahat. Dafa mengguyur tubuhnya di bawah shower. Penat karena pekerjaan berharap hilang saat sampai di rumah. Nyatanya istrinya malah membuat pikirannya semakin kusut. Tiba-tiba Dafa ingat dengan percakapannya bersama Chesa saat mengantar sekretarisnya pulang. = = = = “Bapak kenapa suka sekali dengan kopi?” tanya Chesa ketika mobil yang membawa mereka keluar dari parkiran tempat keduanya makan. “Kenapa kamu bisa berpikir saya suka sekali dengan kopi?” tanya Dafa balik sambil fokus menyetir mobil. Selama ini ia memang tidak pernah menggunakan supir untuk pergi ke mana pun. Kecuali saat ia lelah barulah menggunakan supir untuk mengantar pergi. Alvinlah yang akan memegang kemudi jika Dafa pergi untuk urusan pekerjaan. “Karena Pak Alvin bilang waktu saya di interview. Katanya Bapak Dafa suka kopi dan jangan sampai salah membuat kopi kesukaan Bapak. Begitu kira-kira, Pak” “Saya hanya sekedar suka saja” “Tapi Bapak tiap hari minum kopi, iya kan?” “Ada masalah dengan hal itu?” “Sebenarnya tidak salah, tapi yang saya tahu tidak baik minum kopi terlalu sering” jelas Chesa. “Apakah minum kopi semacam mengalihkan pikiran yang sedang kusut karena pekerjaan atau hal tertentu?” “Maksud kamu sebagai pelarian, begitu?” Chesa mengangguk, “Soalnya saya dulu hampir tiap hari makan ice cream karena mengalami hal sulit selama kuliah. Jadi kalau saya makan ice cream perasaan saya jadi membaik” “Begitukah?” “Tapi apapun alasannya, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, Pak. Jadi lebih baik kurangi minum kopi demi kesehatan, Pak” “Istri saya saja tidak melarang, kenapa kamu yang khawatir?” “Maaf Pak, saya tidak ada maksud menggurui atau melewati batas saya sebagai bawahan. Hanya saja pengalaman saya yang membuat saya bicara seperti ini. Sakit tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga membuat orang lain kerepotan” Chesa hanya ingin membagi pengalamannya saja tanpa ada maksud tertentu. = = = = Dafa tidak menyangka apa yang di ucapkan Chesa semua benar. Selama ini ia memang menjadikan kopi sebagai penawar saat pikirannya kusut entah karena pekerjaan atau karena rumah tangganya. Tapi kenapa Chesa bisa menyadari hal sederhana seperti ini yang bahkan belum tentu orang lain sadari. “Gadis itu pintar juga. Walaupun wajahnya terlihat polos tapi otaknya boleh juga” gumam Dafa di sela-sela aktivitas mandinya. Setelah selesai, Dafa keluar dari kamar mandi dengan perasaan lebih baik. Ia melihat Ribka sudah tidur dengan posisi memunggungi Dafa. Entah kapan terakhir Dafa menjamah istrinya. Rasanya masa-masa sebagai pasangan suami istri yang harmonis nyaris hilang dari pikiran Dafa. Istrinya begitu dingin tanpa ingat apa kewajiban terhadap suami. Selama ini Dafa berusaha menahan hasrat untuk tidak menyentuh wanita di luar sana. Selain tidak ingin menimbulkan masalah, hal itu juga bukan hobi dari Dafa. Ia berusaha menahan diri walaupun terkadang tidak tahan. Pada akhirnya ia menuntaskan sendirian di kamar mandi. Entah Ribka tahu atau tidak, bagi Dafa tidak penting. Sebagai wanita harusnya Ribka tahu kebutuhan biologis sangat penting bagi seorang pria yang telah menikah. ~ ~ ~ --to be continue-- *HeyRan*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD