2. PERKARA KOPI

1696 Words

Seminggu sudah Chesa bekerja di perusahaan Big D dan sejak hari ke dua Dafa dan Alvin pergi ke luar kota untuk penandatanganan proyek baru. Chesa melakukan pekerjaan dengan baik dan begitu menikmati rutinitasnya.

Untuk pertama kalinya Chesa makan siang di kantin perusahaan karena sebelumnya ia selalu berusaha membawa bekal dari rumah agar menghemat biaya makan siang. Selain itu, Chesa memiliki alergi terhadap kacang, jaga-jaga jika makanan yang ia beli mengandung kacang walaupun hanya sedikit.

Terakhir ia masuk rumah sakit karena Aiden tidak sengaja membawa makanan yang mengandung kacang. Bahkan kadarnya hanya sedikit namun akibatnya membuat Chesa sesak napas dan harus di rawat inap di rumah sakit. Aiden yang merasa bersalah, membayar semua baiya rumah sakit Chesa meski Chesa menolak.

Dengan wajah canggung, Chesa berjalan menuju kantin. Beberapa orang menatapnya dengan raut wajah yang tidak bisa Chesa artikan. Chesa berusaha bersikap tidak terlalu mencolok agar tidak menarik perhatian karyawan yang sedang makan di sana.

Setelah memesan nasi goreng dan es teh manis, Chesa kini tengah mengalihkan pandangan pada bangku yang masih kosong. Namun apesnya, semua meja terisi penuh.

Seseorang yang duduk tidak jauh dari tempat Chesa berdiri, melambaikan tangan. Chesa yang tidak kenal, otomatis membuatnya menoleh ke kiri dan ke kanan. Memastikan yang di panggil wanita itu adalah dirinya atau orang lain.

“Sini...” panggil wanita itu sambil menunjuk Chesa.

Ragu-ragu Chesa menghampiri wanita yang kira-kira usianya sepantaran dengannya.

“Kamu manggil aku?” tanya Chesa memastikan.

“Iya, aku manggil kamu. Duduk di sini aja daripada kamu bingung begitu” ucapnya dengan ramah.

“Iya, bareng sama kita aja” salah satu teman wanita itu ikut menimpali.

“Makasih ya” ucap Chesa tulus. “Oh iya, nama aku Chesa” Chesa meletakkan makanannya di atas meja lalu mengulurkan tangan.

“Aku Laura, bisa panggil Lala” jawab wanita yang memanggil Chesa.

“Aku Anin, kami dari divisi keuangan. Kamu sekretarisnya Pak Dafandra kan?”

Chesa mengangguk, “Iya aku sekretaris baru. Lebih tepatnya baru seminggu resmi kerja” Chesa duduk di sebelah Lala.

“Sambil makan aja ngobrolnya, nggak masalah kan?” ucap Lala.

Ketiganya asik menyantap makan siang masing-masing. Saling bertukar cerita mengenai asal, tempat tinggal dan kesan bekerja di sini. Penilaian awal Chesa terhadap Lala adalah, gadis ini sedikit tomboy namun dari segi penampilan sangat rapi dan cantik. Sedangkan Anin terlihat anggun dan ramah. Tapi kesan pertama ini bisa membuat Chesa merasa nyaman.

“Seminggu kerja sama bos, rasanya gimana?” tanya Anin.

“Aku ketemu Pak Dafa baru sekali dan sisanya beliau ke luar kota”

“Tapi kesan pertama bagaimana?”

Chesa sedikit kurang nyaman saat Anin dan Lala menanyakan hal seperti ini. Bukankah mereka lebih dulu tahu tentang Dafa, harusnya mereka yang lebih banyak cerita. Chesa berusaha hati-hati menanggapi pertanyaan ini. ia tidak mau dua orang yang baru saja di kenalnya adalah karyawan yang suka mengadu domba.

Chesa meneguk es teh manisnya, “Kesan pertama Pak Dafa cukup baik, karena kami hanya membicarakan masalah pekerjaan. Sisanya aku lebih sering komunikasi dengan Pak Alvin” jawab Chesa hati-hati.

Lala dan Anin manggut-manggut mendengar penjelasan Chesa. Namun wajahnya terlihat kurang puas dengan penuturan Chesa.

“Syukurlah kalau begitu” gumam Lala.

Chesa mengerutkan dahinya, “Memang ada apa kok kalian tanya seperti itu?”

Anin mengangkat bahunya, “Bukan hal penting. Aku harap kamu bisa bertahan dengan Pak Dafa”

“Kalau kamu belum tahu mengenai rumor Pak Dafa, biar aku kasih tahu” bisik Lala. Badannya condong ke samping agar lebih dekat dengan Chesa.

Chesa mengangguk dan mendengarkan dengan seksama. Mungkin saja yang di katakan Lala berbeda dengan apa yang ia dengar selama ini.

“Selama ini Pak Dafa udah sering ganti sekretaris dan setiap sekretaris yang mengundurkan diri alasannya adalah sikap Pak Dafa sangat tidak manusiawi. Suka marah, minta ganti kopi sampai lima kali karena tidak sesuai selera dan bahkan suka meminta lembur di saat hari libur”

“Begitu rumor yang beredar tapi kalau dengan karyawan lain Pak Dafa selalu bersikap baik. Makanya kami berpikir, mungkin saja beliau punya dua kepribadian. Jadi kamu harus tetap waspada” Anin menimpali.

Chesa merinding saat Anin menyebut Dafa memiliki dua kepribadian. Rasanya ia berpikir Dafa seperti seorang psikopat yang bisa melakukan apa saja tanpa ada rasa bersalah.

“Apa kalian tidak pernah berpikir, mungkin saja ini karena permintaan istrinya”

“Ibu Ribka jarang datang ke sini. Paling kalau ada acara perusahaan saja baru beliau datang. Dan banyak orang bilang kalau Ibu Ribka istri pengertian dan tidak banyak menuntut. Jadi mustahil kalau sekretaris pada kabur karena kecemburuan Ibu Ribka” jelas Lala.

Setelah makan siang, Chesa kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaan dan membalas beberapa email yang masuk. Tiba-tiba ponsel yang ia letakkan di dalam tas miliknya berdering. Chesa mengambil dan melihat siapa yang menghubunginya.

“Nomor siapa ini?” pikirnya.

Tanpa menunggu lama, Chesa menerima panggilan dari nomor yang tidak di kenal.

“Halo selamat siang”

“Kamu lagi di mana?” tanya si penelpon tanda basa basi.

“Lagi di tempat kerja. Maaf ini dengan siapa?” tanya Chesa.

“Kamu ini masa nomor atasan sendiri tidak tahu. Saya ini CEO kamu Chesa. Baru juga di tinggal seminggu kamu lupa dengan suara saya?” terdengar nada tinggi menggema melalui sambungan telepon.

Chesa merasa badannya panas dingin mendengar suara setengah berteriak dari Dafa. Bagaimana ia bisa seteledor ini tidak tahu nomor dari atasannya sendiri. Selama ini ia tidak pernah berkomukasi dengan Dafa lewat telepon. Chesa hanya berkomunikasi dengan Alvin jika menyangkut pekerjaan ataupun tentang Dafa.

“Maaf Pak, saya belum punya nomor Pak Dafa karena saya selalu berkomikasi dengan Pak Alvin. Bapak kenapa telpon saya?”

“Kamu jangan pulang dulu, saya sedang perjalan kembali ke Jakarta. Ada beberapa berkas yang perlu saya tanda tangani dan akan di bawa oleh seseorang ke kantor. Jadi kamu amankan berkas itu sampai saya kembali”

“Baik, Pak”

“Satu lagi”

Chesa terkejut mendengar teriakan Dafa, “Apa lagi yang perlu saya lakukan, Pak?”

“Simpan nomor saya. Awas sampai tidak, saya potong gaji kamu”

“Baa..baik, Pak. Setelah ini akan langsung sama simpan. Jangan potong gaji saya. Pak” ucap Chesa dengan nada takut.

Dafa tidak menjawab, justru ia memutus sambungan teleponnya.

“Kenapa bukan Alvin yang telpon sih. Bikin jantungan aja” gerutu Chesa. “Ah aku juga lupa nanya jam berapa berkas itu sampai dan siapa pengirimnya. Begini nih kalau punya bos gampang naik darah cuma karena nomornya nggak di simpan” batin Chesa.

Chesa kembali melanjutkan pekerjaannya. Walaupun ini pengalaman pertamanya bekerja yang bukan bidangnya, tapi Chesa cukup menikmati. Selama ini prinsipnya, semakin banyak belajar semakin banyak pengalaman yang akan ia punya. Perkara punya atasan galak, Chesa tidak masalah. Toh Dafa baru kali ini bersikap galak padanya dan semoga saja seterusnya CEO Big D itu akan bersikap baik kepadanya.

Pukul 4 sore, Chesa turun ke lobi perusahaan untuk mengambil berkas yang di titipkan di resepsionis.

“Selamat sore Mbak, apa ada yang menitipkan berkas untuk Bapak Dafa?” tanya Chesa begitu sampai di meja resepsionis.

“Oh iya, ini Mbak Chesa” ucap wanita itu sambil menyerahkan beberapa tumpukan map yang berisikan berkas.

“Makasih ya Mbak. Oh iya, Mbak tahu nama saya?”

“Tahu, tadi yang bawa berkas ini yang mengatakan agar memberikan berkas kepada Mbak Chesa sekretaris dari Bapak Dafa”

“Oh iya, cewek apa cowok sih Mbak?”

“Cowok Mbak. Ganteng deh, Mbak”

“Siapa ya?” Chesa melihat berkas yang bertuliskan kantor cabang dari Big D.

“Oh berkas dari kantor cabang ya, Mbak”

“Iya Mbak. Tapi saya kurang tahu siapa yang kirim. Soalnya biasanya cewek yang sering bawa ke sini tapi sekarang malah beda. Waktu mau nanya namanya, eh malah udah pergi”

Chesa mengangguk pelan, “Sekali lagi makasih ya, Mbak. Saya mau kembali keruangan dulu”

“Sama-sama, Mbak” jawabnya ramah.

Sampai di meja kerjanya, Chesa kembali ingat dengan ucapan wanita tadi, “Perasaan aku baru kerja di sini, kenapa ada orang cabang yang tahu namaku? Ah mungkin di kasih tahu Pak Alvin atau Pak Dafa” gumamnya.

Sudah pukul 7 malam tapi belum ada tanda Dafa akan datang. Chesa lelah dan lapar. Tapi tidak mungkin ia pergi hanya untuk membeli makanan dan kembali lagi ke kantor. Bisa saja saat ia pergi justru Dafa datang. Bisa habis Chesa kena amukan kalau Dafa tahu dirinya tidak ada di meja kerja.

“Sabar, sebentar lagi pasti datang” gumamnya menyemangati diri sendiri.

Benar saja, suara langkah terdengar mendekat ke arah Chesa. Mata gadis itu nampak awas, mungkin saja itu bukan Dafa. Secara semua karyawan sudah waktunya pulang sejak tadi. Pikiran buruk kadang masih sering menghinggapi Chesa.

Saat melihat sosok Dafa muncul, Chesa tersenyum lega. Akhirnya pria itu datang juga yang artinya sebentar lagi ia akan pulang. Tapi, kenapa Alvin tidak ada di belakang Dafa. Apakah bosnya hanya datang sendiri.

“Akh masa bodoh. Yang penting sebentar lagi tugasku selesai” pikir Chesa.

“Selamat malam Bapak Dafandra”

“Masuk ke ruangan saya dan bawa berkasnya” titah Dafa ketus.

Chesa berdesis pelan, ia tidak habis pikir bagaimana pria ini begitu dingin. Membalas salamnya saja sepertinya tidak sudi. Tidak menunggu lama, Chesa membawa berkas ke ruangan Dafa. Pria itu nampak duduk sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerja. Wajahnya lelah dan sedikit kusut. Tapi aroma parfum pria bernama lengkap Dafandra Dewanto masih tercium segar di indra penciuman Chesa.

“Ini berkasnya, Pak” ucap Chesa sambil meletakkan berkas di hadapan Dafa.

“Buatkan saya kopi” ucap Dafa.

Chesa mengangguk, “Baik, Pak”

Beberapa menit kemudian, Chesa kembali dengan nampan berisikan secangkir kopi. Wanginya yang harum membuat Dafa menoleh ke arah Chesa.

“Silakan di minum, Pak” ucapnya pelan.

Dafa menyesap perlahan kopi buatan Chesa, lalu mimik wajahnya terlihat meraba rasa kopi buatan Chesa.

Chesa begitu tegang menunggu tanggapan dari Dafa. Ia takut jika pria itu melempar cangkir karena tidak puas dengan rasanya. Perkara kopi bisa saja membuat Chesa kehilangan pekerjaannya. Namun ketakutan Chesa terbantahkan, Dafa terlihat mengangguk pelan sambil kembali menyesap kopi.

“Enak, saya suka” ucapan Dafa seperti angin segar bagi Chesa. Sepertinya hari ini selamat dari sikap ketus Dafandra.

~ ~ ~

--to be continue--

*HeyRan*

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd