PART 8

2406 Words
Geundis dan Viona sudah memasuki area bangsal anak-anak. Yang Geundis dapati bangsal itu tak terlihat terlalu menyeramkan karena banyak pasien anak-anak yang  sedang bermain di taman yang terletak tepat di dekar bangsal itu. Mereka tentu saja ditemani keluarga masing-masing.  Melihat pemandangan itu Geundis mengulas senyum, dia memang sangat menyukai anak-anak. “Di sini ramai ya?” katanya.  Viona menganggukan kepala, “Ya, jika siang di sini memang ramai karena pasien anak-anak bermain di taman. Tapi jika malam hari bangsal ini akan berubah mencekam.” “Masa sih?” Geundis tampak tak yakin karena sejauh matanya memandang dia melihat bangsal itu biasa saja, tak terlihat menyeramkan sedikit pun. Justru menurutnya lebih seram bangsal khusus pasien lanjut usia yang dia datangi tadi saat tanpa sengaja bertemu dengan Viona.  “Serius. Nanti malam Suster lihat saja sendiri. Yang penting saya sudah mengingatkan ya. Suster Geundis harus hati-hati nanti.”  Geundis menghela napas panjang, mungkin benar yang dikatakan Viona, suasana angker biasanya akan terasa jika sedang sepi. Dan malam hari merupakan waktu yang paling tepat untuk merasakan semua kengerian itu. Walau tak dipungkiri Geundis merasa takut tapi dia sudah terlanjur mengatakan bersedia dan sanggup menggantikan Viona, jadi dia memang tak memiliki kesempatan untuk mundur lagi.  Mereka terus berjalan menelusuri area bangsal anak-anak yang cukup luas itu. Karena kondisinya yang ramai, Geundis cukup senang berkeliling di sana. Setidaknya melihat pasien anak-anak membuatnya melupakan sejenak tugasnya yang menyebalkan di kamar jenazah.  “Oh, iya. Apa Suster mau bertemu dengan anak kecil yang saya ceritakan tadi?” tanya Viona tiba-tiba, membuat Geundis yang tengah fokus menatap ke arah pasien anak-anak pun kini beralih menatapnya.  “Boleh. Memangnya dia tidak ikut main di taman?” Viona menggelengkan kepala, “Tidak. Semenjak kejadian mengerikan yang nyaris membuatnya celaka itu, dia jadi pendiam dan tidak mau keluar dari kamarnya. Dia selalu meringkuk ketakutan.”  Geundis meringis iba mendengar kondisi anak itu, “Kenapa bisa begitu?” Dan Viona pun merespon dengan mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu, “Nggak tahu juga. Mungkin dia trauma karena melihat penampakan hantu itu.” “Orangtua atau keluarganya sering berkunjung, kan?”  Melihat Viona mengembuskan napas pelan sepertinya Geundis sudah bisa menebak jawabannya.  “Itulah masalahnya. Kasihan sekali anak itu karena orangtuanya terlalu sibuk bekerja. Dia jarang ditemani.”  Sekarang Geundis paham alasan anak itu tak mau keluar dari kamar dan bermain bersama anak-anak yang lain. Mungkin selain karena trauma melihat penampakan hantu, anak itu juga kesepian karena tak ada yang menemani. Mendengar hal ini membuat Geundis semakin iba dan ingin secepatnya bertemu dengan anak itu. “Yuk, kita cepat ke sana. Saya jadi tidak sabar ingin bertemu anak itu. Dia anak perempuan, kan?”  Viona mengangguk, “Iya. Dia perempuan, baru berusia sembilan tahun.” “Namanya?” tanya Geundis penasaran. “Cindy.” “Dia dirawat di sini karena sakit apa, Sus?” pertanyaan lain yang membuat Geundis penasaran bukan main karena anak bernama Cindy itu sampai harus dirawat di rumah sakit dalam waktu sangat lama.  “Infeksi saluran pernapasan. Dia sering mengeluh sesak napas jadi kita harus sering mengecek kondisinya karena sering kambuh. Jika sudah kambuh kita harus cepat memasangkan selang oksigen untuk membantunya bernapas. Dan tiga kali sehari dia harus rutin diberi obat. Nanti saya akan memberitahu Suster Geundis obat untuk Cindy yang harus diberikan nanti malam.”  Geundis mengangguk-anggukan kepala paham. Dia juga tengah mengingat-ingat informasi penting ini karena takut melakukan kecerobohan nanti malam saat dia bertugas.  “Itu kamar rawat Cindy,” kata Viona sambil menunjuk ke arah daun pintu yang dalam kondisi tertutup.  Kedua perawat itu pun melangkah mendekati pintu dan membukanya tanpa ragu. Yang mereka dapati adalah sosok anak kecil yang sedang duduk sendirian di tempat tidurnya sambil membaca komik.  Geundis tersenyum, anak kecil bernama Cindy itu sangat cantik meski wajahnya terlihat pucat.  “Hallo Cindy, apa kabar?”  Yang menyapa dengan  suara riang tentu Viona karena sepertinya dia sudah terbiasa ditempatkan di bagian bangsal anak-anak ini, dia sudah terlihat dekat dengan Cindy.  “Baik, Sus. Mama sama Papa belum datang ya?”  Mendengar pertanyaan Cindy, Geundis seketika memasang raut sendu. Bisa dia lihat dengan jelas betapa anak itu merindukan orangtuanya yang terlalu sibuk bekerja alih-alih mengawasi anak mereka yang sedang membutuhkan perhatian dan dukungan dari mereka.  “Belum datang, Sayang. Tapi sebentar lagi Bi Ina pasti datang,” ucap Viona. Dia lalu menoleh ke arah Geundis yang mungkin heran mendengar nama asing baru saja dia sebutkan. “Bi Ina itu pembantu di rumah keluarga Cindy. Biasanya sekitar jam dua siang dia datang dan menemani Cindy sampai jam delapan malam.”  Geundis pun ber-oh panjang mendengar penjelasan Viona. “Orangtua Cindy biasanya datang jam berapa?”  Geundis kembali mengatupkan bibir saat melihat pertanyaannya ini sukses membuat Cindy langsung menundukan kepala, terlihat jelas sedang bersedih. Geundis merasa bersalah sekarang, dia bergegas menghampiri anak itu dan mendudukan diri di ranjang, tepat di samping Cindy.  “Hai, Cindy. Kita belum kenalan, kan? Kenalkan nama Suster, Geundis,” ucap Geundis riang sembari mengulurkan tangan kanannya pada anak itu. Sengaja dia tak membahas orangtua anak itu lagi karena tak ingin semakin membuatnya bersedih. Hanya saja Geundis bisa menyimpulkan orangtua anak ini jarang datang mengunjungi karena mempercayakan semuanya pada pembantu mereka yang bernama Ina itu. Sekarang Geundis semakin paham alasan Cindy yang begitu pendiam dan tidak mau berbaur dengan pasien anak lain.  Tangan kecil Cindy terulur dan membalas jabatan tangan Geundis, “Cindy,” jawabnya dengan suara teramat pelan.  Geundis tersenyum maklum, tentu saja anak itu merasa canggung karena baru pertama kali ini bertemu dengannya.  “Nanti malam Suster Geundis ini yang akan sering memeriksa kamar Cindy.”  Mendengar ucapan Viona, Cindy seketika menatapnya. “Bukan Suster Viona?”  Sang perawat pun menggeleng, “Bukan. Malam ini Suster Geundis yang kebagian tugas piket malam. Cindy jangan takut nanti Suster Geundis pasti sering memeriksa kamar Cindy.”  Anak itu tak mengatakan apa pun, namun terlihat jelas merasa kecewa karena bukan Viona yang akan berjaga nanti malam. Melihat respon anak itu membuat Geundis semakin yakin Cindy dan Viona memang cukup dekat.  “Cindy jangan takut. Nanti Suster akan sering datang ke sini untuk memeriksa kamar Cindy.” Geundis mencoba ikut meyakinkan agar anak kecil yang terlihat jelas mengalami trauma itu tak merasa kecewa lagi.  “Eh, Suster Geundis sebentar ya. Saya menerima telepon dulu.”  Geundis menoleh ke arah sang pemilik suara, tentu saja pada Viona yang terlihat terburu-buru ingin menerima telepon yang masuk ke ponselnya.  “Dari pacar Suster Viona ya?”  Viona terkekeh, “Iya. Saya keluar sebentar ya. Nanti saya kembali lagi ke sini.” “OK. Tenang saja. Tidak perlu buru-buru.” “Siap. Terima kasih,” sahut Viona sumringah, merasa beruntung karena dia mengenal Geundis yang menurutnya sangat baik dan pengertian. Perawat itu pun bergegas keluar dari kamar rawat Cindy karena mungkin pembicaraannya dengan sang kekasih tak ingin didengar orang lain.  Kini di dalam kamar itu hanya ada Geundis dan Cindy. Tak ada obrolan pada awalnya, mereka sama-sama terdiam karena Geundis juga sedang berusaha mencari topik pembicaraan dengan anak itu. Hingga tiba-tiba Geundis dikejutkan oleh tangan mungil anak itu yang memegang seragamnya.  “Kenapa, Cindy?” tanya Geundis heran dengan sikap Cindy yang tiba-tiba menyentuhnya. “Suster, aku takut.” Kening Geundis mengernyit, “Takut kenapa?” “Takut malam ini dia datang lagi.”  Dia yang dimaksud anak itu tentu saja Geundis sudah tahu siapa karena Viona sudah menceritakan padanya tadi. Tidak lain merupakan sosok hantu pria mengenakan scrub yang biasa dikenakan tim medis saat akan menjalani operasi. Hantu yang sama penyebab Cindy nyaris melompat dari balkon kamarnya di lantai tiga. Mengingat kamar rawat Cindy sekarang berada di lantai dasar, Geundis yakin setelah insiden itu Cindy pasti dipindahkan ke ruangan ini dari ruangan lama saat dia tertimpa insiden mengerikan itu.  Mendengar ucapan Cindy barusan, bagi Geundis ini adalah kesempatannya untuk mengorek informasi dari si gadis kecil.  Geundis memang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.  “Maksudnya hantu yang pernah mengganggu Cindy itu ya?”  Cindy mengangguk-anggukan kepala dengan gerakan perlahan, mengiyakan tebakan Geundis memang benar adanya.  “Dia masih sering mengganggu Cindy?” “Dia sering datang ke kamar ini. Hampir setiap malam. Aku takut, Suster. Aku selalu menutupi kepala dengan selimut setiap kali dia datang karena aku nggak mau lihat dia. Dia sereeeeem.”  Geundis semakin mendekatkan posisi duduknya agar suara Cindy yang begitu pelan bisa dia dengar dengan jelas dari jarak lebih dekat.  “Memangnya dia seperti apa?” Inilah yang ingin Geundis ketahui kareha Viona menyebutkan ciri-ciri hantu itu secara garis besar, dia ingin mengetahuinya secara detail dari saksi mata yang pernah melihat penampakannya secara langsung yaitu anak kecil di hadapannya itu.  “Wajahnya serem. Di sini …” Cindy mengusap pipi sebelah kanan dengan tangannya sendiri. “… mukanya hancur, tulangnya kelihatan dan darahnya menetes-netes.”  Geundis bergidik ngeri, tiba-tiba saja dia merasa hawa di dalam kamar itu menjadi begitu dingin dan bulu kuduknya mulai meremang.  “Dia tidak memiliki rambut tapi di kepalanya banyak belatung. Ihhh, jijik deh, Suster,” kata anak itu kembali melanjutkan.  Geundis kini membekap mulut, membayangkan penampilan hantu itu membuatnya mual dan rasa-rasanya ingin memuntahkan seisi perutnya.  “Dia juga memakai masker, jadi mulut dan hidungnya nggak kelihatan.” “Oh, gitu. Terus gimana lagi?” tanya Geundis masih terus meminta Cindy menyebutkan ciri-ciri hantu itu. “Matanya melotot dan berwarna merah. Menyala. Aku takut kalau dia sudah natap aku.” “Cindy, apa yang hantu itu lakukan sama kamu kalau datang ke kamar ini?”  Geundis sungguh tak sabar ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan ini karena dia ingin tahu alasan Cindy sampai nekat nyaris melompat dari jendela di kamarnya yang dulu.  Anak itu tiba-tiba mengibas-ngibaskan tangan, memberi isyarat pada Geundis agar membungkuk. Geundis menuruti keinginan Cindy dan ternyata anak itu kini mendekatkan mulut dan berbisik pelan di depan telinga Geundis, “Dia ingin bunuh aku, Suster. Aku takut.”  Dan Geundis tak tahu lagi harus bereaksi seperti apa sekarang, hanya saja dia meyakini anak itu berada dalam bahaya dan seharusnya cepat dikeluarkan dari rumah sakit ini. Geundis juga bertekad nanti malam akan memastikan keselamatan anak itu, dia akan sesering mungkin memeriksa kamarnya.  Yang jadi pertanyaannya, apa yang akan dilakukan Geundis semisal dia benar-benar melihat penampakan hantu itu nanti malam? Geundis sendiri bahkan tak mengetahui jawabannya.    ***    Setelah puas mengobrol dengan Cindy lalu berkeliling di bangsal anak-anak ditemani Viona, kini Geundis kembali ke tempatnya ditugaskan, tidak lain merupakan kamar jenazah. Walau waktu istirahat siang sudah lama selesai, dia tak peduli meski terlambat datang ke ruangan itu. Toh, sebenarnya Geundis tak sudi menginjakan kakinya lagi di tempat yang sangat menakutkan itu.  Geundis melangkah masuk ke dalam ruangan yang didapatinya sangat sepi. Tak ada siapa pun di sana, bahkan sosok Davin pun tak terlihat.  “Dimana si cowok galak itu?” gumam Geundis pada dirinya sendiri. Berdecak saat menyesal datang ke tempat yang tak dihuni siapa pun itu. Seharusnya tadi dia tetap menemani Cindy mengobrol karena anak itu masih sendirian saat dia dan Viona meninggalkan kamar rawatnya, sang pembantu yang selalu menemaninya belum  menampakan diri.  “Ya udah deh keluar aja.”  Geundis berniat melangkah untuk pergi karena merasa tak ada gunanya dia berada di ruangan itu toh belum ada tugas yang bisa dia kerjakan. Namun belum sempat kakinya melewati pintu keluar, Geundis seketika menghentikan langkah saat telinganya tiba-tiba mendengar suara aneh. Suara itu berasal dari ruangan lain, tidak lain merupakan ruangan tempat dirinya dan Davin memandikan jenazah. Suara yang dia dengar seperti suara benda-benda terbuat dari alumunium yang terjatuh. Mungkinkah peralatan untuk memandikan jenazah jatuh di ruangan itu? Mungkin saja di dalam sana ada Davin yang sedang memandikan jenazah.  Geundis meneguk ludah sebelum kembali melangkah namun dengan tujuan yang berbeda karena kini bukan pintu keluar lagi yang dia tuju melainkan pintu ruangan yang khusus untuk memandikan jenazah tersebut.  Jentung Geundis berdetak tak karuan saat dirinya tiba di depan pintu. Tangan kanannya terulur untuk memutar kenop pintu. Dan saat pintu itu dia buka, Geundis mendapati ruangan dalam keadaan kosong. Tak ada siapa pun di sana, jangankan sosok Davin bahkan satu jenazah pun tak terlihat di ruangan tersebut. Namun anehnya Geundis melihat sebuah nampan terbuat dari alumunium yang biasa digunakan sebagai tempat untuk menaruh gunting dan peralatan memandikan jenazah lainnya, tergeletak di lantai. Melihat hal ini dia jadi teringat pada insiden yang dialaminya tadi sebelum istirahat siang yaitu saat kapas yang menutupi salah satu mata jenazah terjatuh namun saat Davin muncul tiba-tiba kapas itu sudah kembali ke tempatnya semula.  Geundis menggulirkan mata dengan gelisah, haruskah dia masuk ke dalam dan mengambil nampan itu? Hati Geundis bimbang karena sungguh dia sedang ketakutan sekarang. Dua kali dia melihat penampakan hantu saat berada di ruangan ini.  “Sudahlah, biarkan saja.”  Itulah keputusan yang Geundis ambil pada awalnya, namun dia berubah pikiran saat mengingat Davin yang begitu galak itu pasti akan memarahinya jika sampai mengetahui Geundis melihat ada peralatan yang jatuh tapi tidak mau menyimpannya kembali ke tempat semula. Geundis berdecak saat mengingat pria menyebalkan yang sialnya menjadi rekan kerjanya di ruang pemandian jenazah tersebut.  “Ya udahlah, aku ambil aja daripada si Davin nanti marah-marah lagi,” gerutunya jengkel.  Geundis pun berjalan cepat menuju nampan itu tergeletak, tak jauh dari wastafel berada. Dia berjongkok untuk mengambil nampan di lantai dan segera mengembalikannya ke tempat semula yaitu dia letakan di samping wastafel seperti peralatan lain yang sudah dicuci bersih olehnya tadi setelah selesai memandikan jenazah bersama Davin.  Geundis lalu mencuci tangan di keran wastafel dan berniat menatap cermin yang dipajang di atas wastafel untuk memastikan wajahnya tak terlihat pucat atau berantakan. Namun Geundis tersentak saat melihat ada sebuah bayangan yang terpantul di dalam cermin. Bayangan menyerupai jenazah yang telah terbungkus kain kafan melayang di pojok ruangan, tak jauh dari tempat Geundis berdiri.  Geundis bergegas menoleh ke belakang, ke arah pojok ruangan itu lebih tepatnya, tapi dia tak melihat penampakan apa pun. Sosok yang dilihatnya tadi di dalam cermin tak ada di sana. Lalu Geundis kembali menatap ke arah cermin dan seketika dia pun terbelalak tatkala melihat melalui pantulan cermin sosok jenazah itu kini sudah berdiri tepat di belakangnya.  “Aaaaaaaaaakkhhh!”  Geundis berteriak sekencang yang dia bisa, naasnya saat dia berniat berlari menuju pintu, pintu yang dalam keadaan terbuka itu tiba-tiba tertutup dengan sendirinya, menciptakan suara gebrakan kencang di saat Geundis belum sempat melewatinya.  “Tidak! Tolong! Tolong keluarkan aku dari sini!”  Geundis terus menggedor-gedor pintu berharap ada yang menolongnya keluar dari ruangan menyeramkan itu karena yang dia dapati adalah pintu itu dalam keadaan terkunci sehingga Geundis kini terkurung di sana bersama sang penampakan arwah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD