Geundis tak mempercayai apa yang dia lihat kini, jenazah Suster Viona yang dia lihat terbujur kaku di ruang pemandian jenazah. Padahal dia ingat betul kemarin Suster Viona masih menemaninya menyusup ke ruang arsip, bahkan semalam dia masih berpikir bertemu dengan Suster Viona yang tiba-tiba datang ke kost-annya, tapi kenapa sekarang yang dia lihat justru jenazahnya yang harus dia mandikan? Air mata terus mengalir di wajah Geundis, jika biasanya dia takut saat harus memandikan jenazah, tidak demikian dengan saat ini. Tak ada rasa takut yang dia rasakan karena yang ada adalah dia sangat sedih sehingga selalu gagal menghentikan air matanya. “Suster Vio maafkan aku.” Serta rasa bersalah kini menggelayuti pikiran dan hatinya karena berpikir Suster Viona sampai bernasib seperti ini tidak l

