03

1078 Words
Rivan menggeleng pelan, mengingat kejadian itu. Sama saja mengoyak kembali lukanya yang belum mengering. Rasanya perih, melebihi semua tubuh yang dihujam dengan belati tajam. Rasanya terlalu perih, hingga Rivan tak bisa mengungkapkannya. Dan karena kejadian itu pula, semua hidup Rivan berubah, gaya berpakaian, sikap, dan juga panggilan. Tidak ada Rivan yang selalu rapi dan bersih, tidak ada Rivan yang selalu bersikap sopan dan tau tata krama. Dan tidak ada lagi Andra, bagi Rivan, Andra adalah bayangan masa lalunya yang harus sesegera mungkin ditinggalkan. Andra sudah mati, tidak akan ada lagi Andra di hidup Rivan. *** "San, kamu udah ke dokter kan. Uang yang Mama kirim kemarin masih ada kan sayang, kalo habis bilang ya! Eh ya udah Mama tutup dulu. Mama ada meeting lima menit lagi!" Piiip... Sandra menghembuskan nafas lelah. Padahal dia baru berbicara tiga kata. "Magh Sandra kambuh" tapi mamanya, berbicara beberapa kalimat dengan nada tergesa-gesa. Seolah-olah Sandra bukanlah hal penting. Sandra tau Mama dan Ayahnya sibuk disana. Tapi apakah mereka berdua tidak bisa mengabari ataupun menanyakan bagaimana keadaan Sandra barang sedetik saja, menanyai bagaimana hari-hari Sandra?, bagaimana sekolah Sandra?, Sandra sudah makan? Dan hal lain yang sering ditanyakan para orang tua kepada anaknya. Bukan uang, uang dan uang. Sandra tau, uang adalah hal penting dalam hidup, tapi tidak selamanya Sandra akan hidup dengan uang. Adakalanya Sandra ingin merasakan kasih sayang orang tuanya. Ada kalanya Sandra ingin bercerita dan berkumpul dengan keluarganya. Itu yang Sandra mau, bukan yang lain. Entahlah Sandra malas terlalu tenggelam dalam kesedihan lagi, ia sudah terlalu lelah. Akhirnya ia memutuskan memainkan ponselnya dan membuka aplikasi piano tiles, hampir satu jam Sandra fokus bermain game. Sampai pada akhirnya sebuah notifikasi pesan w******p masuk. Ia mengernyit melihat nomor yang tidak terdaftar di kontaknya mengirim sebuah pesan bertuliskan. "Masih inget gue, San?" Sandra lalu mengecek profil si pengirim dan setelah itu ia menutup ponselnya. "k*****t, dapet nomer gue dari mana lagi sih ini orang?" Tanya Sandra pada dirinya sendiri. Sandra kemudian memblokir nomer tersebut dan mencari kontak Dila, berniat menghubungi temannya itu, tapi Berkali-kali dihubungi Sandra tidak mengangkatnya. Sandra menghembuskan nafas pelan, lalu mengirim pesan singkat pada Dila melalui aplikasi chatting. Alsandra : Gilang, ngontak gue lagi. Lalu Sandra menutup ponselnya dan memilih rebahan di kasurnya, sekedar info. Gilang adalah teman sekelas Sandra waktu kelas sepuluh sampai menuju kenaikan kelas sebelas, dan pindah dipertengahan semester. Dari kelas sepuluh Sandra memang sudah tau Gilang mendekatinya, tapi pada saat itu ia berstatus pacar dari siswi dari Sekolah lain yang Sandra tau bernama Ceryn. Apesnya Gilang selalu berusaha mendekati Sandra, dan yang Sandra tidak suka adalah ia kemudian menjadi incaran Ceryn dan komplotan teman alaynya itu karena menganggap Sandra menggoda Gilang. Untung ada Dila dan Satria yang membantunya, ya walaupun sebenarnya Sandra juga nggak takut sama si Ceryn itu, tapi komplotan alaynya itu suka bikin ribet. Dan Sandra sejak saat itu selalu menghindari Gilang, Alhamdulillahnya lagi Gilang pindah dari SMA angkasa, walaupun kadang masih sering menghubungi Sandra. *** "Sandra!!!" "Jangan teriak-teriak." Sandra membungkam mulut Dila. "Malu." Sandra melepas bungkamannya. "Ya, sorry, abisnya gue kepo tentang si Gilang itu." Dila menarik tangan Sandra untuk segera duduk "Gimana sih, kok bisa gitu?" "Tau, dia dapet nomor gue dari mana coba? Gue nggak mau ya, dilabrak lagi sana Ceryn plus preman-premannya itu." "Nggak akan lah, lo tenang aja, lo tau kan sekarang gue udah pinter ninju orang." Dila menunjukkan kepalan tangannya. Sandra hanya menatap Dila dengan alis terangkat. "Jangan ngomong sama gue lagi deh." Ucap Sandra Dila hanya tertawa puas saat berhasil membuat Sandra kesal, tapi tawanan terpaksa berhenti saat bu Rusda yang notabene nya guru matematika itu masuk ke dalam kelas. Dila langsung duduk anteng di tempatnya. Dan akhirnya jam pertama di mulai dengan khidmat sampai bu Rusda akhirnya memberi tugas kelompok dan  terdengar bel yang menandakan jam pertama berakhir. "Ok, anak-anak jadi tugasnya sudah jelas ya? Oh, iya, untuk pembagian kelompok bisa kalian atur sendiri. Ibu akhiri pelajaran kali ini. Selamat beraktivitas" bu Rusda meninggalkan kelas dengan langkah anggunya. Sepeninggalnya bu Rusda dari kelas, anak-anak kelas dua belas IPA tiga itu langsung gaduh karena merebutkan teman satu kelompoknya. "San lo sama gue ya?" Satria menarik lengan Sandra. "Iya, sama Dila juga kan?" Sandra melirik teman satu bangkunya yang tersenyum manis pada Satria. Satria langsung memasang raut wajah canggungnya, kentara sekali bahwa cowok itu merasa kurang nyaman karena keberadaan Dila di kelompoknya. "Nggak papa Sat, lagian kan satu kelompok empat orang, lo cari satu lagi gih." Sandra mendorong pelan bahu Satria. "Tinggal mahluk ansos ini yang ada!" Jawab Satria menekankan kata 'ansos' sambil melirik Rivan. "Ya udah nggak papa" Dila menyahut. "Kelompoknya di rumah siapa?" Sambungnya "Gue aja!" Satria menyarankan. Ketiganya mengangguk, tidak dengan Rivan yang asik sendiri dengan aplikasi Line di ponselnya. "Lo mau ikut kelompok nggak?" Tanya Satria kepada Rivan. "...." "Woooy!!" Satria mengguncang pelan lengan Rivan. Merasa aktivitasnya terganggu Rivan mengalihkan pandangannya ke arah Satria. "Iya!" Rivan mendesis sembari menatap tajam Satria. Bukanya merasa terintimidasi, Satria malah nyengir kuda, memamerkan deretan gigi putihnya yang rata. "Emang lo tau rumah gue?" Satria bertanya pada Rivan. Dan lima kata tersebut hanya dibalas gelengan oleh Rivan. "b*****t, banget sih ini orang!" Umpat Satria dalam hati. "Nih" Satria meletakkan secarik sticky notes berwarna kuning stabilo, yang ia peroleh dari mengambil milik temanya. Disana tertera alamat lengkap rumah Satria, serta jam kedatangan agar Rivan tidak terlambat, bahkan Satria juga memberi tahu apa saja yang harus dibawa oleh Rivan. Rivan mendengus membaca tulisan tangan orang disebelahnya ini. Dia geli sendiri, walau Rivan bertingkah seenaknya dan menyebalkan kepada Satria. Tapi cowok disebelahnya yang bernama Satria itu tetap baik kepadanya, bukan dengan cara yang berlebihan tentunya. "Makasih" Rivan tersenyum simpul setelah mengucapkan  kata tersebut kepada Satria. "Apa?!" Satria menoleh ke arah Rivan, jujur dia tadi memang tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Rivan. "Makasih" ucap Rivan lebih pelan "Ha? Bisa bilang makasih juga ya lo." Ucap Satria pelan, tapi masih bisa Rivan dengar. Satria lalu memainkan ponselnya membuka aplikasi i********:, melihat hal-hal lucu yang kemudian ia bagikan dengan dua cewek di depannya, membuat ketiganya tertawa. Rivan tersenyum melihat keasyikan tiga orang yang tertangkap oleh lensa matanya, Rivan dulu seperti itu. Dia bisa tertawa lepas seperti tiga orang di hadapannya ini, dia dulu bebas tanpa beban dan tekanan, dan dia dulu bahagia. Tidak seperti sekarang, rasanya hari-harinya semakin suram, rasanya cahaya dalam hidupnya semakin menggelap, tidak ada lagi cahaya penerang baginya. Bagi Rivan semuanya mati begitu saja. "Hei! Nglamun aja, disuruh ke lab tuh!" Satria menepuk pelan lengan Rivan. Rivan terdiam dan tersenyum menatap kepergian Satria.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD