Rivan menurunkan kecepatan motornya, saat melihat sosok orang yang dikenalnya, entahlah dia seperti mau ribut dengan pemuda yang sekarang sedang memegang tangannya di halte
Rivan menghentikan motornya agak jauh dari tempat kejadian, dimana dia bisa melihat ekspresi kesal sekaligus ketakutan Sandra.
Sebenarnya Rivan bisa saja pergi meninggalkan Sandra dengan pemuda itu karena dia tidak tau apa urusan keduanya, tapi dilihat dari ekspresi Sandra, sepertinya cewek itu butuh bantuan. Dan memang kata Sandra, semua manusia punya rasa peduli dengan manusia lain. Rivan turun dari motornya, kaki panjangnya melangkah ke arah Sandra.
"Banci banget sih lo" ucapan datar dari Rivan mampu membuat beberapa pemuda disana menoleh.
"Sini San" Rivan menjulurkan tanganya dan menggerakkan lima jarinya, menyuruh Sandra mendekat ke arahnya. Namun belum genap Sandra melangkah, pemuda itu tersebut mencekal lengan Sandra begitu kuat hingga Sandra meringis. Rivan yang melihat kejadian itu berdecih. "Tuh kan banci banget, berani kasar ke cewek." Rivan berbicara dengan nada meremehkan, seiring dengan itu, langkah kaki Rivan semakin mendekat ke arah Sandra. Dengan pergerakan perlahan dia meraih lengan kiri Sandra. "Lepas!" Ucap Rivan tajam terhadap seseorang yang mencekal lengan kanan Sandra.
"Kalo gue nggak mau, lo mau apa?"
"b*****t lo!" Rivan meraih kerah baju cowok itu.
"Easy bro" cowok tersebut berusaha melepaskan cekalan tangan Rivan pada kerah kemejanya.
Namun belum sempat tangan Rivan terlepas dari kerah kemejanya. Rivan terlanjur memberi bogem kepada cowok tersebut.
"Aahh, b******n!" Cowok tersebut mengumpat, sambil memegangi rahangnya yang terasa ngilu.
Perkelahian antara dua kubu itu tidak bisa lagi di indahkan, Sandra yang melihat kejadian itu, mundur secara otomatis, tapi kembali maju untuk melerai sebisanya.
"Stop! Stop! Kalian apa-apaan sih?" Sandra menarik tangan keduanya untuk berhenti saling menarik kerah. Tapi bukannya dilepas, keduanya malah menarik semakin kuat.
"RIVAN GILANG GUE BILANG BERHENTI!!!" Sandra berteriak sekuat tenaganya.
Hingga akhirnya keduanya melepas cengkraman di merah masing-masing. Lalu cowok yang Rivan tau bernama Gilang itu menepuk, tidak lebih tepatnya mencengkram bahunya, lalu mendekatkan bibir ke telinganya dan berbisik.
"Siapa lo?"
Rivan menaikkan satu alisnya bingung dengan pertanyaan itu, lalu ia menjawab dengan lantang. "Gue pacarnya Alsandra."
Sedetik kemudian cowok itu melepaskan cengkraman tangannya di bahu Rivan dan pergi berlaku dengan beberapa k********r.
Sandra melihat ke arah Rivan, cewek itu memegangi pundak Rivan. "Lo nggak papa." Sandra meringis saat melihat darah di sudut bibir Rivan.
"Gue nggak papa" ucap Rivan. Sandra mendengus, lalu meraih lengan Rivan, memapah cowok tersebut duduk di kursi halte.
"Makasih ya, udah mau nolongin gue" Sandra membuka tas ranselnya, mengambil beberapa lembar tisu, dan membersihkan darah di sudut bibir Rivan.
"Maaf, udah ngaku-ngaku jadi pacar lo."
"Gue anter lo pulang" ucap Rivan.
Sandra diam saja, tidak menjawab penolakan atau penerimaan, hanya senyuman tipis yang terlukis di bibir Sandra. Dan itu Rivan artikan sebagai penerimaan.
Setelah selesai dengan luka Rivan. Keduanya berjalan ke arah motor Rivan.
"Lo masih bisa nyetir?" Sandra bertanya kepada Rivan.
"Emang lo bisa pake motor gede?" Balas Rivan dengan nada mengejek. "Bawel banget sih." Tambah Rivan.
***
Sandra mengucapkan terimakasih setelah turun dari motor Rivan.
"Jangan lupa, besok kerja kelompok di rumah Satria" Sandra mengingatkan Rivan sebelum cowok itu mengegas motornya. Rivan mengangguk dan tersenyum samar dibalik helm full face nya. Hingga detik berikutnya, Rivan menstater motornya dan melesat cepat, menghilang ditikungan rumah Sandra.
***
Rivan mendengus saat melihat beberapa paper bag di atas tempat tidurnya. Dia lalu mengecek ponselnya, berharap ada pesan masuk dari orang yang ditunggunya. Namun nihil, yang ada hanya notif dari permainan online di ponselnya, dan pesan dari operator kartu yang digunakannya.
Akhirnya Rivan mengacak-acak paper bag di atas kasurnya, mengeluarkan semua isi didalamnya. Dan yang didapati Rivan hanya, beberapa potong baju, satu kotak sepatu, satu kotak jam tangan, dan bungkusan lain yang berisi sebuah kunci.
Rivan bergegas keluar dari kamarnya, menuruni satu persatu anak tangga dengan tergesa-gesa, langkahnya membawanya menuju bagasi di rumahnya. Sesampainya di bagasi, Rivan bisa melihat ada kendaraan baru yang terparkir apik di bagasinya.
"b******k!" Geram Rivan kesal.
Bagi Rivan semuanya tak berarti, kenapa juga orang tuanya malah mengiriminya barang-barang yang jelas-jelas tidak berguna itu. Rivan tidak butuh itu semua, yang Rivan butuh hanyalah keluarganya yang kembali utuh seperti dulu, yang dia mau hanya rumah yang hangat seperti dulu. Orang tuanya memang egois. Mereka tidak pernah memikirkan keadaan Rivan, yang Rivan mau bukan uang dan uang, Rivan hanya ingin keluarganya kembali seperti yang dulu. Hanya itu.
Suara mesin mobil membuat Rivan bangkit dari ketermenunganya. Dia segera keluar dari bagasi dan menuju ke kamarnya. Namun kenyataannya, saat ini dia memang harus berhadapan dengan Ayahnya yang memanggilnya dengan suara tegas.
"Andra!" Suara itu, sudah beberapa minggu Rivan tidak mendengar suara itu. Suara pria tua penuh ketegasan, suara milik seseorang yang dulu selalu jadi pelindungnya.
Rivan masih tidak memperdulikan suara milik ayahnya. Kakinya masih melangkah lebar menuju kamarnya, tetapi suara itu kembali menginterupsi.
"Andra, Ayah mau bicara sama kamu, nak. Ini tentang masalah keluarga kita." Dua kata terakhir berhasil menyita perhatian Rivan, membuat tubuh Rivan beku seketika.
Di sinilah sekarang, dua orang berbeda generasi itu duduk berdua di bawah langit bertabur bintang. Setelah sekian lama tidak bertemu, kini keduanya kembali bersama, kembali duduk berdampingan sebagai seorang Ayah dan anak.
"Andra, Ayah kira kamu bisa mengerti kalau—"
"Keluarga kita nggak kayak dulu lagi?" Rivan memotong ucapan ayahnya.
"Ayah udah berusaha, tapi..." Djafar tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Seharusnya Ayah tau, kalau Rivan masih butuh kalian!"
Djafar mengerutkan keningnya saat anaknya mengganti nama panggilannya menjadi Rivan, bukan Andra. Djafar tau, dulu anaknya itu paling tidak suka dipanggil Rivan, entah karena sebab dan alasan apa.
Mengerti akan gelagat ayahnya Rivan buka bicara. "Kaget? Ngeliat Rivan jadi kayak gini. Sekarang nggak ada lagi Andra Yah, nggak ada lagi Andra si penurut, Andra yang sopan, Andra yang ini dan itu. Bagi Rivan, Andra itu udah mati!" Rivan menahan emosinya, menahan untuk tidak meluapkan perasaannya saat ini juga.
"Kita bisa bangun keluarga ini sama-sama An, walaupun tanpa Mama." Djafar berusaha memberi pengertian kepada anaknya.
"Ayah, dan Mama itu sama aja. Kalian nggak pernah tau apa yang Rivan mau. Rivan nggak butuh materi Yah, Rivan cuman pengen kasih sayang kalian. Nggak lebih" setelah itu Rivan bergegas pergi melangkah menuju bagasi. Menstater motornya dan menjalankannya, hal ini sering dilakukan Rivan, saat dia tidak tau harus kemana, saat dia merasa tidak ada lagi rumah baginya. Jalanan adalah rumah terbaik bagi siapapun untuk singgah.
Rivan menepikan motornya di sebuah ruko sederhana di pinggir jalan. Dia membeli sebungkus rokok, dan duduk di emperan ruko tersebut. Jam tangan milik Rivan masih menunjukkan pukul 20.15. Waktu yang terlalu sore untuk pulang ke rumah.
Rivan membuka bungkus rokok tersebut, dan mengeluarkan satu batang dari wadahnya. Dihisapnya kuat-kuat, lalu di hembuskan asap rokok itu ke udara. Rivan ingin masalahnya terangkat layaknya udara yang berhembus dan hilang, Rivan ingin begitu. Bebas, tanpa masalah, tanpa pengganggu, hidup bahagia, dan bisa tertawa dengan lepas.
"Rivan?"
Rivan mengernyit mendengar suara familier itu. Dia berharap bukan dia, bukan dia yang selalu bertemu dengan Rivan saat ada diposisi lemah. Tapi takdir berkata lain, suara itu adalah suara milik seseorang yang selalu bertemu Rivan saat dirinya tengah lemah. Sandra.
"Lo?" Sandra menggantung kalimatnya, seperti orang yang tidak jadi bicara.
Rivan yang mengerti posisinya, menjatuhkan rokoknya dan menginjaknya pelan.
"Enggak, bukan rokok, maksud gue lo ngapain di sini? Rumah lo deket sini?" Tanya Sandra.
Rivan hanya diam, bingung ingin menjawab apa. "Kepo." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Padahal gue nanya baik-baik." Ucao Sandra mencibir.
"Lo sendiri, ngapain di sini?" Tanya Rivan balik.
"Lo lupa apa gimana?rumah gua deket sini kali. Ini lagi mau beli barang sama cemilan."
Rivan hanya membuatkan bibirnya membentuk huruf "O" tanpa bersuara.
"Makasih buk!" Dilihatnya Sandra yang tengah menerima uang kembalian, diteliti lagi cewek itu. Penampilannya biasa saja, tidak terlalu nyentrik, hanya kaos rumahan dan juga celana selutut yang dapat menampilkan betis indah bak bulir padi milik Sandra.
"San!" Entah bisikan serta keberanian dari mana, Rivan memanggil nama Sandra.
Sandra menoleh saat merasa seseorang memanggil namanya, hanya tolehan kecil untuk memastikan bahwa orang itu memanggil namanya. Bisa saja dia salah tangkap, soalnya nama pemilik warung tempatnya membeli kopi itu bernama Santi jadi Sandra nggak mau pas nanti dia balik badan, ternyata itu orang ngomong sama si pemilik warung.
"Sandra!"
Oh, jadi Sandra nggak salah tangkap, soalnya orang itu memanggil nama lengkapnya.
"Ya... Andra?"
"Rivan!" Tegas Rivan
"Eh, iya. Lo ngapain disini?... Maksud gue, ada apa?"
Rivan menggeleng pelan, kemudian mengangkat kepalanya. Menatap Sandra yang masih setia berdiri di depannya.
.
.
.
.