Hari lamaran itupun tiba, sejak pagi hingga waktu menunjukkan pukul tujuh malam, Zia masih disibukkan mengenai persiapan hari penting untuknya itu. Apalagi dengan kedatangan keluarga besarnya yang sumpah demi apapun, sangat membuat Zia harus repot sendiri menghadapi segala pertanyaan tentang calon suaminya. "Ck, kamu ini sudah lupa ya sama Tante. Pacaran gak bilang, sekarang udah main lamaran aja. Kamu anggap tante ini apa Zia!" Gemas wanita paruh baya yang super cerewet ini. Sudah sejak sepuluh menit yang lalu, tetapi wanita cantik adik dari ibunya itu, masih saja menggerakkan bibirnya untuk bernyinyir ria. Satu helaan nafas keluar dari hidung Zia, menghadapi wanita super bawel plus cerewet ala ibu-ibu. "Temel, kan nanti juga tahu sendiri. Lagian Temel sibuk sendiri sih ngintilin si Om

