16

2121 Words

Hari senin, di kota Jakarta jangan tanyakan surga yang ada malah neraka kepadatan. Bagaimana tidak, sekarang masih pukul setengah tujuh pagi tetapi Zia sudah berada di tengah kemancetan. Padahal sungguh demi apapun, matanya sudah ingin menutup ingin ditidurkan. Drrdd Drrdd Getar ponsel putih miliknya, membuat Zia kembali mengerang seolah terganggu. Apalagi ketika matanya menangkap nama seseorang, tangannya urung untuk memencet tombol merah. "Ya, Al?" "Assalamu'alaikum, kamu dimana Zi?" Salam dari seberang membuat Zia sedikit meringis malu. Huh, kenapa Alfa bisa selalu sopan begini dari pada dirinya yang seorang wanita. "Walaikumsalam, di jalan mau pulang." Jawab Zia dengan punggung yang kembali ia sandarkan dengan tegak. Matanya menatap arus mobil yang berjalan merayap disaat pagi ba

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD