4

1753 Words
Menjadi dokter itu tak mudah, harus belajar selama hampir empat tahun. Harus praktek di rumah sakit selama dua tahun tanpa dibayar. Belum lagi dia hanya menjadi seorang dokter umum yang kerjanya sangat banyak sekali. Oh kenapa hidupnya sangat melelahkan sekali ya Tuhan, batin Zia. Wanita cantik itu tampak kelelahan dengan kepala yang ia telungkupkan di atas mejanya. Sungguh ia lelah sekali, kenapa cerita seorang dokter tak bisa membahagiakan seperti cerita banyak orang sih!! Dumel Zia dalam hati. Tok Tok Suara pintu membuat kepala wanita cantik itu mendongak, dan mendapati Alisha yang tersenyum sungkan padanya. "Dokter Bian sudah datang, jadi mending kamu panggil dokter Biar saja." Kata Zia sebelum Alisha menyampaikan maksudnya. Alisha menggeleng cepat, dan bergerak mendekati Zia yang sudah kembali menelungkupkan kepalanya. "Bukan dok, tapi ada adik ipar dokter di depan." Jelas Alisha, membuat kepala Zia kembali mendongak menatap Alisha. "Adik ipar? Salah orang dia, saya belum juga menikah masa iya udah punya adik ipar. Yang ada itu Attar, pria cakep yang kamu sukai itu baru adik saya." Ujar Zia, matanya mengantuk sekali. Tetapi masih bisa melihat wajah Alisha yang bersemu merah. "Hmm, tapi ini cewek loh dokter orangnya. Dan dia bilang mencari dokter Zia, kakak iparnya begitu. Jadi dokter mending temuin aja deh ya, kasian juga mbaknya kalau nunggunya kelamaan." Jelas Alisha gak enak, bagaimanapun ia tidak ingin mengganggu acara istirahat dokternya itu. "Iya," Dan akhirnya, Zia mengalah. Ia bangkit dan kemudian membetulkan letak rambutnya yang tampak tak rapi. Setelah merasa cukup baik, barulah ia keluar dari ruangannya. Mata Zia mencari siapa yang mengaku sebagai adik iparnya, hingga ia menemukan gadis cantik yang beberapa malam lalu berkunjung ke rumahnya. "Ola?" Panggil Zia, sungguh ia tak menyangka jika gadis cantik inilah yang mengaku adik iparnya. Senyum Ola terbit, dan tanpa disangka dia memeluk Zia begitu senangnya. "Akhirnya Mbak Zia muncul juga. Tahu gak sih, Ola males banget dateng kesini. Tapi yaudalah, pokoknya Ola harus dateng kesini sesuai titah." Celoteh Ola panjang lebar, membuat Zia sedikit meringis mendengarnya. Sungguh Ola ini, cantik-cantik seperti kereta api. Berisik sekali, batin Zia. "Lalu kenapa kamu kesini? Ada yang sakit?" Tanya Zia sabar, padahal hatinya sudah tak sabar ingin tertidur. Ola menarik Zia duduk disampingnya, lalu kembali berbicara. "Mbak ikut Ola ya, bentar aja terus mbak Zia bisa pulang." Ucapnya. Dahi Zia berkerut mendengarnya. "Mau kemana?" "Ada deh, pokoknya ikut aja." Jawab Ola cepat, senyum cantiknya tak hilang dari wajahnya yang sore ini dipoles natural. Berbeda sekali dengan Zia yang sudah terlihat kucel di jam sore seperti ini. "Tapi aku masih kerja," Zia menolak halus, bukan ia tidak mau diajak untuk jalan-jalan. Tetapi ia sungguh lelah, dan kepalanya sedikit pusing sejak tadi. "Zia udah ijin kok ke Om Alif, katanya mbak Zia juga sudah habis jam jaganya, kan. Jadi ikut Ola aja ya, bentar aja, janji." Kata Ola lagi, membuat Zia tak bisa menolaknya. Ayahnya itu sudah memberikan ijin, yang artinya ia tidak bisa menolaknya lagi. "Ya sudah, aku ganti baju dulu. Kamu bisa tunggu sebentar." Setelah mengatakan itu, Zia beranjak meninggalkan Ola yang tersenyum bahagia mendengarnya. Zia membasuh wajahnya, lalu kembali memoles kan bedak agar wajahnya tampak lebih segar. Membetulkan kemeja putihnya, dan mengganti sandal jepitnya, dengan sepasang stiletto hitam kesukaannya. Walaupun dia seorang dokter, tetapi bagi Zia penampilan juga harus tetap nomor satu. Ya namanya juga wanita. "Ayo," kata Zia ketika berdiri di depan Ola. Mata Ola sedikit melotot ketika mendapati Zia berdiri di depannya, dengan sepatu yang sama dengannya. "Mbak Zia kok stilettonya samaan dengan punya Ola." Protes Ola, membuat Zia mengernyit bingung. Zia melihat kebawah, dan mendapati nya sama dengan yang digunakan Ola. Hanya berbeda warnanya saja. "Lah, mana aku tahu Ola. Kan aku belinya juga gak bareng kamu." Jawab Zia bingung melihat raut wajah Ola yang terlihat lesu tak bertenaga. Memang ada yang salah dengan stiletto miliknya? Kan dia belinya juga sudah lama, lagian masa iya satu pabrik cuman ngeluarin satu sepatu kan itu gak mungkin, ya kecuali yang harganya selangit. "Udah yuk, pokoknya habis ini Pappi harus beliin Ola stiletto yang baru lagi. Dan mbak Zia gak boleh beli yang sama pokoknya." Celoteh Ola dengan menggandeng Zia yang diam saja keluar dari rumah sakit, menuju mobil kecilnya yang terparkir rapi. Sepanjang perjalanan menuju yang entah kemana, Ola berceloteh tentang hobinya yang mengoleksi stiletto dan high heels. Zia menanggapi dengan sama semangatnya, seperti mendapatkan teman baru yang sehobi itulah mereka berdua. "Hotel? Kita ngapain kesini?" Zia bertanya ketika mobil putih Ola memasuki area Hotel ternama. Ola tersenyum lalu membuka sabuk pengamannya. "Mbak gak tau ini hotel siapa?" Tanya Ola sedikit terkejut. Bagaimana calon menantu keluarganya, tidak tahu hotel milik keluarga  calon suaminya. Zia menggeleng. "Emang hotel siapa?" "Turun aja yuk, nanti Ola jelasin." Dan setelah itu. Ola keluar dari mobil, diikuti Zia. Ola berjalan terlebih dahulu dengan memberikan kunci mobilnya pada seorang pria, lalu menghampiri Zia lagi. "Ayo mbak," dan seperti tadi, Zia digandeng oleh Ola menuju sebuah lift. "Sebenarnya apa yang sedang kita lakukan disini Ola? Kamu gak aneh-aneh kan?" Tanya Zia lagi, tapi yang ada Ola hanya tersenyum misterius padanya. Lift terbuka, dan Ola kembali menyeret Zia ke sebuah pintu bewarna coklat yang tertutup rapat. "Mbak Zia masuk dulu gih, Ola ada urusan." Kata Ola setelah membukakan pintu untuk Zia. "Eh, kok gitu. Ini ruangan siapa? Gak ah, mbak ikut kamu aja." Kata Zia, ia tidak tahu ini ruangan siapa. Dan ia tidak ingin tahu siapa pemiliknya. Lagian Ola ini aneh, sudah mengajaknya, sekarang dirinya akan ditinggal sendiri. "Bentar aja mbak, lima menit okey." Dan setelah itu Ola berlari keluar ruangan itu hingga pintu itu berdebam keras. Ola berlari ke ruangan Pappinya, "Assalamualaikum, Pi." Suara Ola terdengar keras ketika pintu ruangan Pappinya ia buka. Terdapat Pappi dan abangnya dengan seorang lagi yang Ola kenal dengan Om Nando, sedang terkejut mendapati kedatangannya yang tiba-tiba. Ola tersenyum kikuk, lalu berjalan kearah Pappinya dan duduk disebelahnya. "Misi beres boss, janjinya mana?" Kata Ola, tidak peduli jika Nando dan Alfa menatapnya tidak mengerti. "Sekarang dimana dia?" Tanya Raffi, dengan milirik Alfa yang sedang menatap penuh rasa ingin tahu. "Di tempat yang aman. Jadi, dimana kartu kredit Ola, lalu utus dia untuk menemui wanitanya." Kata Ola membuat Raffi mengacak rambut anaknya gemas. "Ini, nanti malam kembalikan pada Pappi." "Akhirnya!!" Ola berteriak histeris mendapatkannya. Sungguh ia merindukan kartu gesek bewarna glod itu dalam dompetnya. "Makasih Pappi." Ola mencium cepat pipi Pappinya. Lalu matanya menyapa pada abangnya yang sejak tadi hanya diam menatapnya dan Pappi. "Bang, ada mbak Zia tu di ruangan abang. Kasian dia sendirian disana, bilang sama mbak Zia makasih atas bantuannya." Setelah mengatakan itu, Ola berlari keluar dengan tawa yang membahana. Sungguh dia bukan seperti wanita diusianya yang 24 tahun. Alfa menatap Pappi nya yang juga tertawa, "Jadi, ini rencana Pappi dan Ola?" Suara Alfa datar namun tajam, seperti Raffi dulu ketika muda. Raffi berdehem sebentar sebelum menjawab, "Temui dia, dan bicaralah yang baik padanya." Alfa menghela nafas panjang, sungguh ia tak menyangka jika Pappinya yang berwibawa, bisa melakukan hal yang menurutnya bukan sifat Pappi nya sama sekali. Alfa berdiri, dan bergerak pergi ketika suara Raffi kembali menghentikan langkahnya. "Bukan Pappi, tapi Ola yang menawarkan rencana ini. Jika itu apa yang sedang kamu pikirkan." Dan Alfa pergi meninggalkan Pappinya. Alfa berjalan tenang menuju ruangannya. Ia tidak tahu jika adiknya akan melakukan hal sekonyol ini dengan Pappinya. Apalagi ini menyangkut Zia, wanita yang dijodohkan dengannya. "Hmm," Alfa berdehem sebentar sebelum membuka pintu ruangannya. Zia yang sejak tadi duduk dengan tak nyaman, memalingkan wajahnya ketika pintu itu terbuka. Dan betapa terkejutnya ketika ia menemukan Alfa, pria yang dua hari lalu membuatnya sebal setengah mati. Bagaiman tidak sebal, ia ditolak ketika dirinya tidak menawarkan menjadi calon istrinya. flashback "Bagaimana dengan Alfa, apakah dia setuju dijodohkan dengan Zia?" Semua diam, dan menatap Alfa menunggu jawaban dari pria yang sejak tadi berdiam diri. "Alfa, bagaimana?" Tanya Alif, membuat jantung Zia merasakan debaran halus ketika sepasang bola mata itu menatapnya. Mata Alfa meneliti satu persatu, hingga tatapannya bertemu dengan mata cantik Zia yang juga menunggu jawabannya. "Alfa belum tau, tapi sebaiknya saya dan Zia menjalaninya terlebih dahulu Om." Satu kalimat, yang membuat Zia merasa ditolak saat itu juga. *** end "Kamu?" Zia tergagap, ia tidak tahu jika Ola akan membawanya menemui pria datar yang diam di depan pintu. Zia merasa terjebak, dan ia merasa dibodohi. Alfa diam memperhatikan wanita cantik yang terlihat terkejut melihat dirinya. "Aku, sebaiknya aku harus segera pergi." Zia  berkata cepat, enggan menatap langsung mata hitam yang sedang menatapnya saat ini. "Duduklah, saya akan mengambilkan minuman untukmu." Ujar Alfa tenang, tetapi Zia seakan tak peduli. Wanita itu beranjak berdiri dan berkata dengan cepat. "Tidak, aku harus pergi." "Duduklah, saya akan mengantarkan kamu pulang." Alfa berkata tegas tanpa bantahan, matanya menatap Zia menyiratkan untuk mengikuti kata-katanya. "Baiklah, antarkan aku sekarang juga." Seperti tak mau kalah, Zia juga berucap dengan tegas. "Oke." Alfa dan Zia hanya duduk diam ketika mobil melintasi jalan raya. Zia yang memandang keluar jendela mobil, sedangkan Alfa yang sibuk menyetir. "Kita makan dulu." Seakan teringat omongan Ola tadi, Alfa membelokkan mobilnya ke sebuah restoran. "Tapi aku tidak lapar." Kata Zia, posisinya sudah duduk tegak, siap protes pada pria yang sudah seenaknya sendiri dalam hidupnya. "Kita makan dulu, setelah itu kita pulang." "Alfa!" "Turunlah," seakan tidak mendengar protes Zia, Alfa turun dari mobil dan berjalan membukakan pintu untuk Zia yang sudah merengut jengkel. Zia keluar dari mobil dengan tampang yang luar biasa sebal, ia berjalan terlebih dahulu meninggalkan Alfa yang terlihat biasa saja mendapati sikapnya itu. "Mau makan apa?" Tanya Alfa ketika mereka berdua duduk berhadapan. Zia masih diam saja, tak menjawab pertanyaan Alfa. "Zi, kamu mau makan apa?" Tanya Alfa lagi, pria itu mencoba bersabar menghadapi wanita di depannya ini. "Jus jambu saja mbak," Kata Zia, tanpa mengindahkan pertanyaan Alfa yang terlihat cukup kesal mendengarnya. "Makanan, bukan minuman." Alfa mendesis dingin, dan itu disadari oleh Zia. "Aku tidak lapar Alfa, sudah ku katakan tadi. Jadi kamu saja yang makan." Zia berkata ketus, entah mengapa melihat wajah tampan itu mengingatkan penolakannya kemarin. "Ayam bakar manis dua mbak, dan minumnya jus jambunya dua." Kata Alfa, dan itu membuat Zia semakin menatap tajam pada Alfa. Setelah mbak pramusaji meninggalkan mereka, barulah Zia berbicara. "Aku tidak makan, kenapa kamu pemaksaan sekali!" "Zi, kita makan dulu baru kita bicara nanti." Tegas Alfa tanpa penolakan, dan itu membuat Zia membuang mukanya sebal. Mereka berdua makan dengan tenang, tanpa suara. Zia yang menahan emosi, sedang Alfa yang nampak biasa saja. Hingga makanan mereka habis, dan sekarang sedang menuju rumah Zia. Pria itu tidak membuka suaranya sama sekali. Hingga mereka sampai di depan rumah Zia, Alfa masih diam saja. Dan ketika Zia akan membuka pintu mobilnya, barulah suara itu keluar. "Kita dijodohkan." Kata pria keturunan Soeteja itu. Tatapan datar, dengan aura yang tidak mudah didekati. Zia mengangguk,  dan menghela nafas panjang. Lalu menatap pria itu,  "Ya, dan aku tak bisa menolak itu." "Tapi saya tidak bisa menerima itu." Jawab Alfa, tatapannya menyiratkan rahasia yang begitu dalam, membuat wanita cantik di depannya ingin tahu rahasia apa yang tersimpan di gelapnya mata tajam itu. "Kenapa?" Tanya Zia ingin tahu, sungguh ia tidak tahu kenapa Alfa menolaknya ketika Alfa sendiri dan orang tuanya, yang meminta dijodohkan dengannya di rumahnya beberapa hari lalu. "Karena saya bukan pria Soeteja."        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD