3

1633 Words
  Suasana mobil BMW hitam itu terlihat sunyi senyap. Alfa yang mengemudi di depan, tampak biasa saja. Berbeda dengan Alana dan Ola yang saling mengedip mata, dan saling bersinggungan tangan tanpa kata. "Pertigaan itu, belok kiri Al." Kata Raffi yang sejak tadi ikut berdiam diri di samping Alfa. Alfa mengangguk dan mengikuti instruksi Pappinya. Setelah tadi malam memberitahu Alfa tentang rencana perjodohannya, malam ini Raffi langsung membawa keluarganya ke rumah sahabatnya itu.  Apakah Alfa siap? Entahlah, pria tampan itu tidak menunjukan reaksi apapun tentang rencana orang tuanya itu. Yang ada, si bungsu yang mengamuk pada Pappinya karena menjodohkan abangnya begitu saja. "Pokoknya kalau ceweknya gak lebih cantik dari Ola, Ola gak setuju!" Kata Ola sebelum mobil hitam itu berhenti di depan sebuah rumah bertingkat dua. Raffi dan Alana hanya menggeleng mendengarnya, dan Alfa yang tampak tidak peduli dengan ocehan adiknya. "Ingat La, jangan bicara yang bukan-bukan nanti." Ujar Raffi, sebelum pria itu keluar dari mobil yang diikuti oleh semua keluarganya. Alfa membiarkan kedua orang tuanya saling bergandengan, diikuti dirinya dengan Ola yang sudah bergelanjut manja pada lengannya. "Bang, inget kalau gak cantik pokoknya Ola gak setuju!" Kata Ola lagi dengan suara tegasnya. "Hmm," dan Alfa hanya berdehem sebagai jawabannya. "Assalamualaikum," Raffi berucap  salam ketika mereka berempat berdiri di teras rumah minimalis itu. Dan tidak menunggu lama, seorang pria paruh baya membuka pintu dengan senyum yang lebar menyambut mereka. ''Walaikumsalam, Raffi Soeteja." Jawabnya lalu memeluk Raffi dengan erat. Suara tawa keluar dari bibir Pappinya, membuat Alfa sedikit mengernyit bingung. Tak biasanya Pappinya bisa tertawa lepas seperti itu, jika bukan dengan keluarganya, batinnya. "Hahaha, kamu terlihat tambah tua saja Raffi. Bagaimana kabar kalian?" Katanya sambil mengurai pelukan, dan menatap Mommynya yang juga tersenyum melihatnya. "Alhamdulillah sehat semuanya, bagaimana dengan dokter Alif?" "Sehat, ayo silahkan masuk dulu." Katanya mempersilahkan mereka masuk. Alfa berjalan paling akhir, hingga ketika dirinya akan mengambil tangan pria paruh baya itu untuk dicium, sebuah pelukan hinggap di tubuhnya. "Dia sudah besar dan tampan sepertimu, Raff." Puji pria paruh baya itu pada Alfa yang tersenyum mendengarnya. Sepertinya teman Pappi itu sangat mengenalnya. "Dia anakku Al, apakah kamu lupa?" Balas Raffi yang membuat dua pria paruh baya itu saling tertawa. "Hahaha iya, namanya juga hampir sama denganku. Alif dan Alfa, sepertinya kita memang berjodoh anak muda." Kata pria paruh baya bernama Alif itu dengan menepuk bangga pundak Alfa. Sedangkan Alfa yang mendengar itu tidak mengerti maksudnya. Apakah dia pernah mengenal pria bernama Alif ini sebelumnya, atau bagaimana. "Silahkan duduk, Al. Bunda, tamunya sudah datang." Seru Alif lagi, lalu duduk meninggalkan Alfa yang masih berdiri di depan pintu. Wanita paruh baya menggunakan jilbab panjang bewarna putih, yang bernama Billa muncul dengan senyum ramahnya. "Mbak Alana, ya Allah sudah lama sekali tidak bertemu." Billa berujar, lalu berjalan dan memeluk Alana dengan senangnya. Alana membalasnya dengan suka cita, "Iya, lama banget ya." Balas Alana sambil mengurai pelukannya, dan kembali bercipika-cipiki.   "Iya lama banget." Billa menjawab, karena sudah beberapa tahun belakangan ini suaminya jarang mengajak nya untuk bertemu dengan wanita yang pernah menjadi artis itu. "Oh iya kenalin ini Ola, dan ini Alfa. Masih ingatkan dengan mereka?" Kata Alana menunjuk dua anaknya yang sekarang sedang bergantian menyalami Billa. "Masih dong, ih Ola tambah cantik banget ya mbak. Mirip mbak Alana banget." "Makasih pujiannya tanten, Ola jadi seneng dengernya."  Ola tersenyum mendengarnya, entah kenapa ketika orang menyebutnya cantik, tingkat kepedeannya naik seratus persen. Berbeda dengan Alfa, yang tampak biasa saja ketika orang sedang memujinya pria tampan itu. "Jadi dimana Putri, kalian?" pertanyaan Alana membuat Alif dan Billa saling berpandangan. "Maafkan kami, putri kami masih di rumah sakit. Dan sepertinya kita makan malam dulu, tidak apa-apa kan?" Kata Alif, terlihat sekali jika wajah yang tidak muda lagi itu merasa bersalah pada tamunya. "Ck, jangan dinikahi bang. Masa iya, tuan rumah ngaret." Bisik Ola lirih sekali pada telinga Alfa. Membuat pria yang sejak tadi diam di tempat itu, meliriknya sekilas. "Kalau dia cantik bagaimana?" Jawab Alfa sama lirihnya, membuat Ola semakin cemberut seketika. Tidak mungkin jika ada wanita yang lebih cantik dari dirinya, hanya Ola. Dan jika itu benar, maka Ola tidak akan membiarkan abangnya menikahi wanita itu. "Ya tetep gak boleh dinikahin!" Tegas Ola, dan itu membuat Alfa mengacak rambut Ola gemas. "Dasar, anak kecil." "Ola udah besar!" bantah Ola tak terima. "Ayo mari, kita makan malam terlebih dahulu." Seru Alif,  membuat Ola dan Alif menghentikan acara berbisiknya. Raffi beranjak diikuti Alana, Alfa dan Ola. *** "Assalamualaikum," salam gadis cantik ketika memasuki rumahnya yang pintunya terbuka. Melihat di teras, dan ternyata mendapati banyak sepatu dan sandal yang bukan milik keluarganya. Apakah ada tamu? Batinnya dengan langkah yang semakin memasuki rumahnya. Hingga suara ramai dari arah ruang makan, membuat langkahnya berhenti. "Assalamualaikum,"      Zia mengucapkan salam pelan takut menganggu acara di meja makan, dan benar suara gadis itu membuat suasana ramai itu menjadi hening sejenak. Billa beranjak ketika melihat putrinya yang tampak malu mengganggu makan malamnya. "Akhirnya kamu datang juga mbak, sini Bunda kenalin." Billa menggeret anak sulungnya yang masih terlihat bingung mendapati banyak orang di rumahnya. "Loh dokter, kok disini?" Suara Ola keluar, membuat Raffi dan Alana saling memandang anaknya. Alfa juga tampak sama terkejutnya dengan adiknya. Matanya menemukan wanita cantik yang kemarin menolong adiknya di rumah sakit. Hingga bola mata itu bertemu dengan bola mata miliknya, barulah Alfa sadar jika wanita ini yang akan dijodohkan dengannya. "Ola, sudah kenal Mbak Zia?" Tanya Alana pada putrinya. Ola menatap Alfa, yang masih diam menatap wanita yang tampak kikuk disamping Bundanya. "Gak sih Mi, kemarin pas Ola jatuh yang ngobatin dokter itu. Mangkanya Ola kaget." Jelasnya, sambil mencubit pinggang Alfa yang sejak tadi hanya diam menatap wanita itu. "Abang, matanya!!" Bisik Ola gemas, dan membuat Alfa mengalihkan pandangan pada adiknya itu. "Dia cantik, jadi kamu kalah taruhan dengan Mommi." Dan mulut Ola langsung terbungkam dengan sendirinya. Dan kembali meneliti, wanita yang terlihat kusut di depan sana yang memang cantik. Duh, Ola jadi galau kan. "Baguslah, jadi kalian berdua bisa langsung mengakrabkan diri." Putus Raffi, tanpa memperdulikan kebingungan gadis bernama Zia yang tak tahu menahu apapun dengan kondisi di rumahnya saat ini. Yang ada dipikiran Zia hanya bagaimana bisa pria tampan yang kemarin sore memberikan minuman dengannya sekarang sedang duduk manis di rumahnya. Melihat kebingungan putrinya, Alif angkat suara. "Hahaha, biarkan dia ganti pakaian terlebih dahulu. Lalu kita bicara tentang mereka Raff." Jawab Alif, membuat Zia menoleh pada Bundanya penuh tanda tanya. "Mandilah dulu, lalu turun ke bawah." Zia mengannguk, "Ya sudah, Zia ke kamar dulu." Katanya, lalu pergi menaiki tangga ketika sepasang bola mata hitam itu terus mengamati dirinya. *** "Oh ya Tuhan, ada apa ini. Kenapa ada pria tampan dan pacarnya itu di rumah ku." Kata Zia setelah menutup pintu. Sungguh hatinya was-was sendiri, mengatakan jika dirinya ada hubungannya dengan tamu asing itu. Zia mandi dengan cepat, dan menggunakan sebuah dress cantik namun tetap santai bewarna moca. Memoles wajahnya setipis mungkin, dan tak lupa lipblam untuk pelembab bibirnya. Rambut sebahunya ia biarkan tergerai begitu saja. "Baiklah Zia, semuanya baik-baik saja." Katanya pada dirinya sendiri, sebelum keluar dari kamarnya. Semua orang sudah meninggalkan meja makan, dan terdengar suara tawa dari arah ruang tamu. Langkah Zia memelan, dengan debaran jantung yang menggila. Dia tidak tahu mengapa, tetapi perasaannya tiba-tiba tak enak. "Sini sama Bunda mbak." Kata Billa, sambil berjalan menghampiri Zia, lalu mendudukan nya di samping Alif. Kepala Zia menunduk, entahlah ia seperti diawasi sejak tadi. Dan ketika kepala itu mendongak, dua pasang mata sedang menatapnya. Pria itu, sedang menatapnya yang membuat kaki Zia serasa kesemutan, dan Zia tak menyukai kelancangan pria tersebut. "Hmm, jadi bisa kita mulai sekarang?" Suara Raffi memulai, wajah yang selalu tegas dan berwibawa itu, menatap seluruh orang yang berada di ruang tamu. Alif mengangguk, dan Raffi kembali bersuara.  "Baiklah, Zia kenalkan ini putra Om Alfa, dan Alfa kenalkan dia Zia anak Om Alif." Alfa mengangguk tanpa suara, tatapannya yang sejak tadi menatap Zia tak teralih sama sekali. Hingga membuat wanita itu nampak salah tingkah sendiri. Bagaimana tidak salah tingkah, jika ada pria tampan menatapmu dengan terang-terangan. "Dan disini, saya dan Alif sebagai wali ingin menyampaikan pada kalian semua. Jika saya ingin menjodohkan putra saya Alfa, dengan Putri Alif yang bernama Zia." Zia terkejut bukan main mendengarnya, sungguh ia tidak tahu jika firasatnya tadi benar adanya. Dijodohkan, dia? Huh, yang benar saja. Kepala langsung menoleh pada Ayahnya, tetapi pria paruh baya itu hanya tersenyum padanya. "Kenalin, itu Alfa. Dia pria yang baik Ayah sudah mengenalnya sejak ia lahir, dan insyallah tepat untuk kamu jadikan imam hidupmu." Jelas Alif, membuat Zia ingin menangis sekarang juga.   Zia tidak tahu apapun, dan kenapa kedua orang tuanya juga sama jahatnya tidak memberi tahunya terlebih dahulu jika ia dijodohkan. Kepala Zia kembali berpaling pada Bundanya, yang juga tampak tersenyum mendukung Ayahnya. "Bun," bisik Zia pelan, sungguh kenapa Bundanya setega ini padanya. Padahal baru tadi malam ia cerita jika putus hubungan dengan Dion. Dan sekarang, secepat kilat ia akan dijodohkan dengan pria asing yang tidak ia kenal sedikitpun. "Zia, bagaimana?" Tanya Raffi ketika melihat wajah Zia yang tampak sekali kebingungan. Sedangkan Alfa, hanya diam menyaksikan, karena dirinya pun tak punya kuasa untuk menegur perempuan yang menurutnya cantik dengan penampilan sederhananya itu.   Mata Zia kembali beralih, dan sekarang menatap Ola yang menatapnya tak suka. "Tapi, gadis ini bukan kekasihnya?" Tanya Zia, sambil menunjuk Ola dan Alfa. Mulut Ola menganga lebar mendengarnya. Sungguh, ia tak menyangka jika dia dikira gadis abangnya. "Bukan lah mbak, dia ini abang Ola. Tapi merangkap jadi pacar gadungan Ola." Ola tertawa cekikikan, membuat orang yang berada disitu juga ikut tertawa. Selain Alfa tentunya, karena pria itu diam saja sejak tadi. Entah apa yang ada dipikirannya, tetapi yang jelas matanya tidak dapat ia alihkan dari wanita cantik bernama Zia itu. "Bukan, sayang. Ola dan Alfa itu adik dan Kakak. Jadi mereka tidak mungkin pacaran." Tambah Alana, ia menatap lembut Zia. Seakan menyalurkan rasa kesukaannya pada calon mantunya itu. "Jadi, bagaimana? Zia mau kan belajar mengenal anak Om ini. Tenang saja dia pendiam tetapi selalu perhatian." Ujar Raffi lagi, seakan memperlihatkan keunggulan anaknya di depan calon menantunya. Zia bingung, hatinya masih tidak bisa menentukan. Bagaimana bisa ia menerimanya begitu saja. "Zi, bagaimana?" Tanya Raffi lagi. Membuat Zia mencari bola mata itu, bola mata yang sejak tadi seakan mengawasi siap memangsa dirinya. Hingga ketika tatapan itu bertemu, Zia mengeluarkan isi pikirannya. "Bagaimana dengan Alfa, apakah dia juga setuju dijodohkan dengan Zia?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD