Part 5. Pelajaran Berharga

1761 Words
"Anda benar, sekali! Akan tetapi Anda tidak memahami makna dari kalimat yang Anda ucapkan sendiri," ucap Ibrar. "Maaf Tuan. Maksud Tuan apa ya? Saya kurang paham dengan apa yang Anda bicarakan," jawab gadis itu. "Maksud Saya adalah perusahaan ini sudah cukup memberikan semua pelayanan terbaik terkait dengan kinerja para pegawai dan manajemen perusahaan. Jadi, Anda tidak perlu, maaf! Menjual diri untuk memberi pelayanan lebih kepada pelanggan," jelas Ibrar. "Sekali lagi Saya mohon maaf atas kata-kata tidak sopan Saya! Saya hanya mengungkapkan apa yang ada di hati dan pikiran Saya. Saya tidak bermaksud untuk merendahkan Anda. Saya harap Anda mengerti," lanjut Ibrar memberikan pengertian kepada gadis itu. "Oh. Iya Tuan. Saya paham. Saya mengerti. Maafkan Saya atas ketidaksopanan Saya," jawab gadis itu sambil menundukkan kepalanya. "Oke. Tampaknya Anda harus kembali kepada pekerjaan Anda sekarang," ucap Ibrar. "Iya Tuan. Saya akan kembali ke meja kerja Saya. Saya permisi dulu Tuan," jawab gadis itu. "Oke baiklah. Akan tetapi, jangan lupa untuk mempertimbangkan saran Saya! Oke?" pesan Ibrar. "Iya Tuan. Terima kasih atas saran yang Anda berikan untuk Saya. Saya permisi dulu Tuan," jawab gadis itu. "Baiklah. Kembalilah ke mejamu!" ucap Ibrar. Kemudian gadis customer service itu pun melangkahkan kakinya menjauhi Ibrar. Di dalam perjalanannya kembali ke meja kerjanya, gadis itu pun menggerutu di dalam hati karena kesal. 'Duh, baru kali ini Aku ditolak oleh seorang lelaki. Apa dia bilang? Aku tidak sopan? Aku berpakaian terlalu sexy? Dan Aku menjual diri?' rutuk gadis itu di dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Oh. Barangkali dia itu tidak normal seperti sewajarnya lelaki yang lainnya. Dimana-mana, semua lelaki akan lebih menyukai penampilanku yang seperti ini daripada penampilanku yang sok alim. Iyaa, benar. Dia itu memang tidak normal!' lanjut gadis itu masih kesal dan berbicara di dalam hatinya. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. 'Sayang sekali. Tampan, tajir, akan tetapi bermulut pedas. Baru kali ini Aku bertemu dengan lelaki sok alim seperti itu. Baru pertama kali bertemu, langsung menggurui Aku seperti ini. Memangnya Dia itu siapa? Pemilik perusahaan ini? Atasanku juga tidak, kan?' lanjut gadis itu masih berbicara di dalam hatinya, merutuki Ibrar. "Huff..!" dengus gadis itu sesampainya Ia di meja kerjanya. "Oke. Baiklah Tuan sok alim. Seperti saran Anda, Saya akan kembali kepada pekerjaan Saya sekarang," gumam gadis customer service itu. Sementara itu, di sisi lain dari perusahaan itu. "Astaghfirullah hal adziim, astaghfirullah hal adziim. Apa-apaan itu tadi? Mengapa ada customer service yang seperti itu di perusahaan Ayah?" gumam Ibrar seperginya gadis customer service itu dari hadapannya. Ia pun mengelus-elus dadanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Apakah Ayah tahu tentang semua ini ataukah tidak? Apakah Ayah tahu tentang semua ini dan membiarkannya terjadi sehingga menjadi kebiasaan? Apakah Ayah memperhatikan hal-hal kecil seperti ini dalam pelayanan pelanggan ataukah tidak? Wah, ini tidak bisa dibiarkan. Hal-hal yang terlihat kecil bisa saja menjatuhkan reputasi perusahaan ini. Aku akan pantau mulai dari sekarang setiap detail dari perusahaan ini. Aku tidak akan membiarkan sedikitpun celah yang memungkinkan untuk menurunkan reputasi dan kredibilitas perusahaan Ayah,' ucap Ibrar di dalam hatinya. 'Aku berjanji Ayah. Aku akan berbuat sebaik mungkin untuk perusahaan ini. Aku akan menjaga dan mempertahankan semua yang telah perusahaan ini miliki sekarang. Aku tahu Ayah telah sangat bekerja keras untuk sampai di titik ini. Aku berjanji, Aku tidak akan membuat Ayah kecewa. Bismillahirrahmanirrahim..,' janji Ibrar di dalam hatinya kepada Ayahnya. Kemudian Ibrar pun melanjutkan aktivitasnya mengelilingi seluruh bagian dari perusahaan auto workshop and maintenance itu. Sudah lebih dari satu jam lamanya Ibrar melakukan aktivitasnya. Setiap sisi perusahaan telah Ia sisir untuk diperiksa. "Hmm. Semua sisi perusahaan telah Aku periksa. Da..n. Jam pulang kantor masih lama," gumam Ibrar sambil memeriksa jam tangan Alexandre Christie miliknya. Kemudian Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. "Oh iya. Sudah waktunya sholat Isha. Aku akan sholat dulu di Mushola kantor," gumam Ibrar. Kemudian Ia pun melangkahkan kakinya menuju Musholla yang terdapat di perusahaan itu. Keluarga Kareem adalah keluarga muslim yang taat. Keberadaan tempat ibadah sangatlah penting di setiap tempat yang mereka bangun. Tak hanya di setiap perusahaannya, mereka juga membangun sebuah Mushola di dekat setiap rumah yang mereka tinggali. Selang beberapa waktu, kini Ibrar sampai di Mushola perusahaan itu. Setelah melepas sepatunya, kini Ia mengambil air wudhu. 'Alhamdulillah. Ayah memang benar-benar hebat. Tempat ini sudah jauh dari kata baik. Sangat bersih, dan semua fasilitas dalam kondisi yang terawat baik. Nampaknya tidak ada catatan koreksi untuk tempat ini,' ucap Ibrar di dalam hatinya. Setelah mengambil air wudhu, kini Ibrar melangkahkan kakinya menuju ke ruangan utama. Saat mau memulai ibadahnya, di ruangan mushola itu telah ada beberapa orang pegawai dan pelanggan dari perusahaan itu. Ibrar melihat salah satu dari pegawainya tengah melantunkan iqamah. Ibrar pun tersentuh mendengarkan suara merdu yang dilantunkan oleh salah seorang pegawainya itu. 'MashaAllah. Merdu sekali suara bapak itu. Dari seragamnya, tampaknya beliau adalah salah seorang mekanik perusahaan ini,' batin Ibrar. 'Oh, merdunya suara Iqamah ini. Dari suaranya, Aku bisa merasakan ketulusannya. Beliau pastilah seorang yang taat beragama, jujur, dan dapat dipercaya. Aku yakin sekali,' lanjut Ibrar lagi, masih berbicara di dalam hatinya. Selang beberapa menit, kini ibadah sholat Isha itu pun selesai. Setelah berdo'a selama beberapa menit, bapak-bapak yang Ibrar sangka adalah seorang mekanik itu pun tampak hendak bergegas meninggalkan ruangan sholat itu. Merasa penasaran, Ibrar pun menghampiri beliau. "Assalamu'alaikum bapak," sapa Ibrar. "Wa'alaikumsalam Tuan. Maaf, apakah Anda membutuhkan bantuan, Tuan?" sapa balik lelaki itu. "Iya. Bisakah Kita berbicara? Sebentar.., saja Pak," tanya Ibrar. "Wah. Sebenarnya Saya harus bergegas kembali kepada pekerjaan Saya, Tuan. Akan tetapi tidak apa-apa. Melayani pelanggan adalah bagian dari tugas Kami juga," jawab lelaki itu. "Baiklah Tuan. Apa yang bisa Saya lakukan untuk Tuan? InshaAllah Saya akan membantu sebisa Saya," lanjut lelaki itu. "Alhamdulillah. Ya.., ya… Anda benar sekali Pak. Oh iya. Bagaimana kalau Kita duduk sebentar? Saya rasa kurang sopan kalau Kita berbicara sambil berdiri. Bukankah begitu Pak?" tawar Ibrar. "Oh. Iya, iya. Anda benar sekali Tuan. Kalau begitu, mari silahkan," jawab lelaki itu. "Terima kasih," ucap Ibrar. Kemudian mereka berdua pun duduk di salah satu sudut ruangan mushola itu. "Akan tetapi, maaf sebelumnya Tuan. Mungkin Saya hanya punya waktu tidak lebih dari sepuluh menit. Karena Saya masih ada banyak pekerjaan, dan ini adalah jam kerja Saya. Alhamdulillah, atas kebijaksaan pemilik perusahaan ini, Saya diberikan kelonggaran sedikit waktu untuk melaksanakan ibadah shalat. Tentu saja dengan melihat situasi dan kondisi banyaknya pekerjaan di bengkel. Maaf, Saya tidak bermaksud lancang. Saya harap Anda mengerti, Tuan," jelas lelaki itu. "Iya.., iya… InshaAllah Saya mengerti Pak. Jangan khawatir. Saya hanya ingin berbincang sebentar saja dengan Anda," jawab Ibrar. "Iya Tuan. Silahkan," ucap lelaki itu. "Maaf. Apakah nama bapak adalah Abdullah?" tanya Ibrar memastikan seraya melihat label nama di seragam lelaki itu. "Iya benar, Tuan," jawab lelaki itu. "Oke. Apakah bapak seorang mekanik? Seorang teknisi di bengkel ini?" tanya Ibrar. "Iya benar, Tuan," jawab lelaki itu. "Apakah Anda adalah seorang pegawai senior disini Pak? Atau mungkin Anda adalah seorang kepala mekanik di bengkel ini?" tanya Ibrar lagi. "Alhamdulillah Tuan. Kalau dibilang senior, mungkin itu benar. Karena Saya mulai bekerja di bengkel ini sejak perusahaan ini didirikan," jawab lelaki itu. "Wah. MashaAllah. Saya terharu mendengarnya," ucap Ibrar. "Iya Tuan, begitulah. Akan tetapi, Saya hanya karyawan biasa saja. Saya bukanlah seorang kepala mekanik seperti yang Tuan kira," jelas lelaki itu. "Oh. Sungguhkah Pak? Anda benar-benar hanya seorang karyawan biasa saja?" tanya Ibrar tidak percaya. "Iya Tuan. Sungguh," jawab lelaki itu meyakinkan Ibrar. "Oh. Oke, oke Pak," ucap Ibrar. "Iya Tuan," sahut lelaki itu. "Maaf. Mungkin ini pertanyaan pribadi. Anda boleh tidak menjawabnya jika Anda tidak berkenan. Kalau boleh tahu, berapa gaji Anda setiap bulannya Pak?" tanya Ibrar. "Alhamdulillah. Pemilik perusahaan ini sungguh mulia, Tuan. Setiap bulan Saya mendapatkan gaji sebesar dua ribu dirham. Dan selama ini Saya merasa cukup dengan gaji itu," jawab lelaki itu. "Oh. Oke oke," ucap Ibrar. "Oh iya Pak. Selama Bapak bekerja di perusahaan ini, apakah Bapak pernah mengalami situasi yang sulit?" tanya Ibrar. "Maaf. Saya kurang paham dengan yang Anda maksud situasi yang sulit," jawab lelaki itu. "Maksud Saya adalah, misalnya seperti ini. Bapak mempunyai rekan kerja bukan? Mungkin sesama mekanik atau siapapun lah itu yang sekiranya sejawat dengan Bapak?" jelas Ibrar. "Iya Tuan," jawab lelaki itu. "Nah. Dalam bekerja, apakah pernah atau bahkan sering terjadi konflik diantara sesama pegawai?" tanya Ibrar lagi. "Maaf Tuan, Saya kurang paham dengan maksud pembicaraan Tuan. Saya takut salah mengartikan maksud pembicaraan Tuan. Bisakah Anda memberitahu Saya lebih detail?" pinta lelaki itu. "Oh. Iya, iya," jawab Ibrar. "Apakah ada pegawai yang sering berbuat curang Pak? Misalnya berbuat seenaknya, mengkorupsi waktu kerja, tidak mau berbagi rata jumlah pekerjaan dengan sesama rekannya?" lanjut Ibrar menjelaskan pertanyaannya. "Saya menanyakan ini karena Saya lihat anda sepertinya orang yang tidak suka berdebat dan rawan untuk tindakan penindasan seperti itu Pak," lanjut Ibrar lagi menjelaskan maksud pembicaraannya. "Oh. Saya mengerti sekarang. Dan terima kasih Tuan, atas perhatian Anda. Oh iya. Mungkin Tuan tahu, bahwa kecurangan dan ketidakadilan itu hampir bisa terjadi dimana-mana. Iya. Dan hal itu pula tak dapat dielakkan, bisa juga terjadi di perusahaan ini, Tuan," jawab lelaki itu. "Oh..," ucap Ibrar. "Iya Tuan. Maaf, Saya tidak bisa memberitahu Anda lebih detail tentang hal ini. Karena ini juga menyangkut aib dari perusahaan ini. Perusahaan ini adalah rumah kedua bagi Saya. Tempat Saya mencari nafkah. Sudah sewajarnya Saya menjaga nama baik dari perusahaan ini dengan tidak membeberkan aib perusahaan kepada pihak lain. Saya harap Anda mengerti," jelas lelaki itu. Ibrar terdiam. Ia tertegun atas jawaban yang dilontarkan oleh lelaki itu. Ibrar berpikir bahwa itu adalah sebuah jawaban yang luar biasa untuk sekelas mekanik biasa. Sebuah jawaban yang prinsipil, yang murni keluar dari hati nurani orang yang bersangkutan. Perbincangan Mereka memang cuma sebentar. Akan tetapi dengan berbincang dengan mekanik itu, Ibrar telah mendapatkan sebuah pelajaran berharga hari ini. Iya, pelajaran berharga tentang nilai-nilai kehidupan. "Maaf Tuan," ucap lelaki itu lagi. "Oh, iya Pak," jawab Ibrar, tersadar dari lamunannya. "Maaf, permisi. Saya harus kembali kepada pekerjaan Saya sekarang," pamit lelaki itu. "Oh. Iya, iya. Silahkan Pak. Terima kasih atas waktunya," ucap Ibrar. "Iya Tuan. Sama-sama. Assalamu'alaikum," pamit lelaki itu. "Wa'alaikumsalam," jawab Ibrar. Kemudian lelaki itu pun bergegas melangkahkan kakinya menuju tempatnya bekerja. Ibrar terdiam, hanya memandangi punggung lelaki itu yang menjauh darinya hingga tak nampak lagi oleh penglihatannya. Ibrar masih tertegun dengan apa yang baru saja terjadi. Sebuah pembicaraan singkat dengan seorang pegawainya yang bisa membuat Ibrar memiliki penilaian istimewa terhadapnya. 'MashaAllah. Sungguh lelaki yang berhati mulia. Ia menjaga nama baik perusahaan ini selayaknya Ia menjaga nama baiknya sendiri,' batin Ibrar. Senyumpun mengembang di bibir merah mudanya. 'Betapa beruntungnya Kami memiliki pegawai sepertimu, Pak Abdullah. Dan betapa beruntungnya Kami jika semua pegawai di perusahaan ini mempunyai pemikiran dan sikap seperti Anda,' lanjut Ibrar, masih berbicara di dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD