Bab 7: Musuh?

1631 Words
Mikayla membuka matanya ketika alarmnya terus saja berbunyi dan itu sangat menganggu Mikayla. Gadis itu merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Mikayla menatap ke sekelilingnya. Matanya menyipit ketika melihat kertas desainnya tersusun dengan sangat rapi di samping macbook dan iPad-nya. Mikayla juga terkejut ketika menyadari sebuah selimut tebal menutupi tubuhnya. "Kenapa gue tiba-tiba bisa tidur dengan selimut? Bukannya semalam gue lembur?" gumam Mikayla, gadis itu menguap dan kembali merenggangkan ototnya yang terasa begitu kaku. Mikayla tiba-tiba menghentikan gerakannya ketika dia menyadari sesuatu. Ingatannya kembali pada malam tadi. Alistair bersama dengannya. Lalu kemana perginya pria itu? "Jangan bilang dia lagi-lagi melihat gue dalam keadaan paling buruk? Gue nggak mangap-mangap kan semalam tidurnya? Posisi gue pasti anggun banget dong?" tanya Mikayla pada dirinya sendiri sebelum mengacak rambutnya dengan frustasi. Sekarang Mikayla seolah benar-benar tidak memiliki sesuatu yang bisa dia rahasiakan dari Alistair. Pria itu tanpa sengaja tahu banyak hal tentang dirinya bahkan Alistair sering melihatnya dalam keadaan paling buruk. "Gue harap dia tiba-tiba amnesia dan melupakan semuanya. Kenapa gue selalu konyol di hadapan dia sih? Nggak ada harga dirinya banget gue sebagai perempuan!" seru Mikayla. Gadis itu beranjak dari sofa. Matanya menatap ke sekeliling apartemennya, lagi-lagi Mikayla melihat sesuatu yang menakjubkan. Apartemennya mendadak terlihat sangat rapi, semua benda-benda tertata begitu cantik di tempatnya. "Bahkan nggak ada debu di lantai apartemen gue?" Mikayla menatap takjub lantai apartemennya yang benar-benar bersih, dengan langkah yang mendadak semangat Mikayla beranjak ke dapur, lagi-lagi dia menatap dengan sangat takjub, tidak ada lagi cucian piring kotor di sana, semuanya sudah bersih. "Ini benar-benar gila, bahkan sudah ada sarapan untuk gue!" seru Mikayla ketika melihat ada sarapan yang sudah tersaji dengan sangat baik di meja makannya. "Ini semua nggak mungkin Alistair si manusia es super nyebelin itu kan yang nyiapin?" Mata Mikayla kembali menyipit ketika melihat sebuah note yang menempel di meja makan. Gue baru tahu ada orang sejorok lo! Jangan lupa transfer ke gue biaya kebersihan dan sarapan sesuai yang tertera di sini. Terimakasih Mikayla langsung menarik napasnya perlahan, seharusnya memang tidak perlu merasa senang akan sesuatu yang berkaitan dengan Alistair karena hal itu hanya akan berakhir dengan luar biasa seperti sekarang. Pria itu benar-benar sangat perhitungan. "Mulai besok nggak akan gue biarin dia bantuin gue. Apa-apa transfer padahal gue tahu dia punya uang banyak! Gue nggak bisa ngebayangin bagaimana nasib perempuan yang berakhir dengan dia, miris banget pasti punya pacar pelit! " seru Mikayla gregetan sendiri. Gadis itu mulai menyantap sarapannya dengan emosi yang terlihat menggebu. Tangannya yang kosong bergerak dengan sangat lincah di layar ponselnya, mengirim uang sesuai dengan apa yang di minta oleh Alistair. *** "Lo terlambat!" seruan itu membuat langkah terburu-buru Mikayla langsung terhenti. Dia langsung melirik dengan sangat sinis pada Alistair yang berdiri tepat di samping pintu masuk ke dalam ruangan divisi mereka. "Gue bahkan datang lebih awal, lo pikir dari parkiran ke sini nggak pakai waktu? Yang paling penting gue udah melewati gerbang Maju Sukses sebelum jam kantor. Jadi minggir! Udah kayak patung selamat datang lo berdiri depan pintu!" seru Mikayla dengan sangat tidak santai bahkan rekan-rekannya yang lain kini menatap ke arah Mikayla dengan sangat takjub. Hanya gadis itu yang marah-marah penuh energi di pagi hari seperti ini bahkan sasaran amarah gadis itu adalah Alistair. "Gue yakin mereka benar-benar nggak akan pernah akur, " bisik Fandi pada Safira. Gadis yang terkenal sangat cantik Semaju Sukses itu mengangguk sembari meringis pelan. "Gue pikir juga gitu," ucap Safira. Kedua dengan kompak mempersiapkan diri untuk melakukan pekerjaan ketika Mikayla melangkah ke arah mereka masih dengan tatapan sinis pada Alistair yang melangkah dengan sangat santai ke mejanya. "Apa lo liat-liat, mulai hari ini gue nggak mau ngomong lagi sama lo!" seru Mikayla. Alistair hanya mengangkat sebelah alisnya kemudian mulai fokus pada pekerjaannya. "Tapi kita hari ini ada meeting bareng Ali, gimana bisa lo nggak ngomong sama dia?" tanya Fandi dengan sangat polosnya. Safira mati-matian menahan diri untuk tidak tersenyum. "Mas, lo bisa diam nggak? Nggak asik banget lo!" seru Mikayla. Fandi meringis pelan sampai pada akhirnya mereka semua sibuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Mikayla sesekali masih terlihat mengomel namun kali ini tanpa suara. *** Impian Mikayla untuk tidak bicara dengan Alistair nyatanya hanya mimpi belaka, di ruang meeting kali ini mereka bahkan harus berbicara banyak, Alistair terus saja menyerang Mikayla dengan kalimat-kalimat sarkas yang membuat mood Mikayla semakin memburuk tapi gadis itu juga tetap berusaha dengan keras untuk mempertahankan pendapatnya. “Kita pakai proposal dari Fandi," ucap Alistair menutup perdebatan itu. “Lo nggak bisa langsung gitu aja dong, setidaknya lo juga harus mempertimbangkan proposal gue,” ucap Mikayla, gadis itu kembali ke tempat duduknya, dia kembali menatap Alistair dengan sangat sengit. “Proposal yang lo buat masih banyak banget celahnya, lo tahu sendiri bagaimana klien kita kali ini. Mereka sangat selektif dan sangat pemilih, seharusnya sebelum lo membuat proposal seperti itu, lo udah mempertimbangkan semuanya. Waktu lo jadi terbuang percuma. Meeting selesai,” ucap Alistair, pria itu langsung bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruang meeting begitu saja. Mikayla menatap nanar proposal yang berisi perencanaan yang sudah dia siapkan sejak semalam bahkan semua desain-desain yang Mikayla buat di tolak begitu saja begitu juga dengan beberapa konsep yang di sarankan. “Mika, lo tahu Alistair, jangan terlalu di pikirkan. Nggak ada yang menang dalam meeting kali ini karena pada akhirnya semua akan kerja tim. Sekarang ayo makan siang,” ucap Fandi, berusaha menghibur Mikayla supaya suasana hati gadis itu tidak terlampau buruk. “Seharusnya dia nggak seenaknya kayak gitu, Mas. Gue di sini juga kerja kali!” seru Mikayla, mata gadis itu mendadak berkaca-kaca. Mikayla mendadak merasa begitu lelah akan semuanya, dia berusaha menyampaikan proposal yang dia buat dengan sangat baik, Alistair justru terus mendebatnya dan berakhir pria itu mengambil keputusan begitu saja tanpa mau repot-repot mempertimbangkan pendapatnya. “Mika, apa yang di bilang sama Fandi benar, jangan terlalu di pikirin, pada akhirnya semua akan jadi kerja tim. Tanggung jawab kita semua,” ucap Safira dengan sangat lembut. Mikayla memalingkan wajahnya kemudian dia meninggalkan ruang meeting. Fandi dan Safira saling lirik satu sama lain kemudian menghembuskan napas mereka dengan kompak. Ini tidak akan mudah sama sekali. Apa yang mereka pikirkan tadi sepertinya memang akan terjadi. Alistair dan Mikayla akan menjadi musuh bebuyutan. “Gue pikir Ali kali ini benar-benar keterlaluan. Biasanya dia nggak pernah kayak gini kan? Setidaknya, dari proposal yang kita buat akan ada yang satu atau lebih ide yang akan dia pertimbangkan tapi kali ini dia memutuskan semuanya begitu saja,” ucap Fandi. “Mungkin mood-nya cukup nggak baik hari ini, gue akan mencoba untuk bicara sama dia,” ucap Safira, gadis itu juga ikut membereskan barang-barangnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Fandi. “Gue baru sadar kalau kalian berdua cukup dekat satu sama lain. Tolong bantu kali ini. Pekerjaan kita akan semakin banyak, kita nggak mungkin bisa bekerja dengan sangat baik kalau kita nggak akur kayak sekarang,” ucap Fandi. Safira mengangguk. Safira tidak terlalu yakin akan bisa bicara dengan Alistair kali ini karena memang akan sangat sulit sekali. Safira sangat tahu apa yang sedang menganggu pikiran Alistair saat ini. Safira biasanya akan membiarkan Alistair melakukan apa yang ingin pria itu lakukan sendiri karena memang akan percuma saja berbicara dengan Alistair, bukannya memperbaiki keadaan justru akan memperburuk semuanya. “Fan, gue balik ke ruangan, lo silahkan gabung makan siang sama yang lain di kantin. Mas Krisna sama mbak Dyah udah nunggu di sana,” ucap Safira. Fandi langsung mengangguk mengerti. Mereka sebagai penghuni lantai lima yang isinya memang anak Arsitektur sebenarnya cukup dekat satu sama lain namun terkadang juga keadaanya bisa secanggung sekarang. “Kalau lo juga belum berani untuk ngomong sama Ali, nggak usah ngomong dulu. Lagian Mikayla juga bukan tipe orang yang suka marah lama-lama,” ucap Fandi, Safira mengangguk cepat, mereka kemudian berpisah, Safira kembali ke ruangan divisi mereka sedangkan Fandi menyusul yang lain untuk makan siang bersama. *** Mikayla hanya pura-pura sibuk dengan ponselnya. Mikayla pikir memilih kembali ke ruangan Arsitektur di saat jam makan siang seperti sekarang akan membuatnya terhindar dari Alistair namun sekarang Mikayla justru terjebak hanya berdua dengan pria itu. Alistair masih memasang wajah tidak bersalahnya dan tetap fokus pada layar komputer seolah pria itu menganggap bahwa tidak ada Mikayla di sampingnya. Kali ini Mikayla benar-benar merasa kesal pada Alistair, dia tidak tahu kapan bisa melupakan rasa kesalnya itu. Mikayla yakin dia akan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa kembali bersikap biasa saja. "Mika nggak makan siang?" pertanyaan itu membuat Mikayla mengalikan tatapannya dari layar ponsel. Senyum tipis gadis itu mengembang ketika melihat Safira melangkah kearahnya. "Udah kenyang makan kalimat sarkas seseorang di ruang meeting. Gue yakin semuanya udah jadi tenaga sekarang sampai gue nggak merasa lapar lagi!" seru Mikayla dengan penuh sindiran, dia bahkan melirik dengan sangat sinis pada Alistair. "Gue bawa bekal hari ini, kalau mau makan aja," ucap Safira. Sebagai orang yang dekat dengan keduanya jelas sekarang posisi Safira mendadak serba salah. "Fira, kamu bilang itu buat aku, titipan dari Mama, kan?" tanya Alistair membuat Mikayla yang baru saja ingin mengambil bekal yang di maksud oleh Safira. "Al! " seru Safira menegur, dia tidak ingin Mikayla salah paham mengenai ucapan Alistair. Apalagi akhir-akhir ini Mikayla sering bertanya tentang hubungan di antara mereka berdua. "Aku bawa dua kok," jawab Safira dengan sangat cepat kemudian mengambil bekal untuk Alistair. Mikayla mengerjapkan matanya melihat interaksi Alistair dan Safira. Lagi-lagi dua orang itu terlihat begitu dekat. "Temenin aku makan di luar," ucap Alistair setelah menerima bekal dari Safira, gadis itu langsung melihat ke arah Mikayla. "Pergi aja, gue juga males liat wajah orang yang nggak memiliki rasa bersalah sedikitpun," ucap Mikayla. Safira mengangguk, dia mengikuti langkah Alistair. Safira sudah sangat tahu apa yang akan Alistair katakan padanya saat menyantap makan siang yang dia bawakan. Safira sudah sangat terbiasa akan semuanya walau terkadang Safira juga merasa bahwa hal ini seharusnya tidak terjadi terus-menerus. Seharusnya ada yang berubah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD