***
Suatu hal itu mungkin saja terjadi, jadi gue nggak perlu memikirkan banyak hal lagi sekarang, gue hanya perlu menjalankan apa yang sedang gue jalani dengan baik
***
“Al, lo masih waras kan?” tanya Mikayla ketika mereka sudah hampir mencapai unitnya, Alistair masih dengan begitu seta membawa kantong belanjaan Mikayla dan melangkah dengan cool-nya. Parfum pria itu benar-benar wangi sekali dan sangat-sangat nyaman di indra penciuman Mikayla.
“Kenapa nanya gitu?” tanya Alistair dengan salah satu alis terangkat namun dia sama sekali tidak menghentikan langkahnya membuat Mikayla jadi ketar-ketir sendiri, demi apapun bayangan bagaimana keadaan apartemennya saat ini membuat Mikayla meringis pelan. Harga dirinya benar-benar akan hancur sebentar lagi di hadapan Alistair El Fatih Pradipta, Mikayla benar-benar tidak memiliki sesuatu yang bisa dia sombongkan pada Alistair sekarang. Semua hal yang dia banggakan sudah hancur berantakan di hadapan pria itu, mulai dari muka jeleknya sehabis menangis, fashion-nya dan sebentar lagi adalah keadaan apartemennya.
“Enggak kenapa-napa sih, aneh aja tiba-tiba lo mau mampir ke apartemen gue, lo baik-baik aja, kan?” tanya Mikayla pura-pura baik, sesungguhnya dia juga tidak tahu apa yang akan di lakukan Alistair di unitnya. Apa pria ini ingin membantunya menyelesaikan semua pekerjaannya yang masih terbengkalai, kalau iya sungguh Mikayla yakin Alistair habis kesambet Jin baik.
“Al,” ucap Mikayla, gadis itu menatap Alistair dengan wajah super melasnya ketika mereka berdua sudah berdiri di depan unit milik Mikayla. Alistair terlihat mengangkat sebelah alisnya. Menatap Mikayla dengan bingung.
“Sebenarnya keadaan apartemen gue sekarang sedang sangat-sangat memprihatinkan, lo benar-benar ingin mampir?” tanya Mikayla, dia sangat berharap Alistair berubah pikiran kemudian pergi. Mikayla benar-benar tidak ingin menghancurkan harga dirinya untuk ke sekian kalinya di hadapan pria ini.
“Tidak masalah,” jawab Alistair dengan santai, “Sekarang buka pintunya Mikayla,” ucap Alistair namun sekarang sudah seperti sebuah perintah padahal ini adalah unit milik Mikayla. Walau terlihat tidak ikhlas sama sekali, pada akhirnya Mikayla membuka pintu unitnya, mendorongnya perlahan sambil tetap menatap Alistair dengan wajah super melasnya.
“Setelah lo melihat bagaimana keadaan apartemen gue, please ya, mas Es, tolong ingat gue sebagai Mikayla yang cantik jelita tiada tara dan juga sangat baik hati, cukup itu aja,” cicit Mikayla. Alistair hanya diam saja, pria itu kemudian langsung masuk ke dalam apartemen Mikayla. Satau-satunya tempat yang Alistair cari adalah tempat duduk, Mikayla memiliki satu sofabed super nyaman di apartemennya, yang biasanya Mikayla gunakan untuk bermalas-malasan atau untuk mengerjakan semua pekerjaannya seperti yang terjadi malam ini.
“Jangan duduk dulu Al, gue benerin dulu kertas desain gue!” seru Mikayla dengan heboh sambil menahan Alistair. Gadis itu buru-buru merapikan kertas-kertasnya yang hampir memenuhi seluruh permukaan sofabed. Setelah semuanya beres barulah Mikayla mengangguk ke arah Alistair, mempersilahkan pria itu duduk.
Alistair dengan pakaian serba hitam malam ini sebenarnya cukup mencurigakan, entah acara apa yang Alistair hadiri malam ini apalagi mengingat mood buruk pria itu saat di kantor tadi.
“Lo mau apa? Mie rebus?” tanya Mikayla. Sungguh Mikayla bukan orang yang bisa mengelola makanan dengan baik walau dia sangat-sangat hobi makan, selama dia tinggal sendiri, Mikayla selalu membeli makanan apa saja yang sedang dia inginkan.
“Lo cuma nawarin mie rebus sama tamu lo?” tanya Alistair dengan sarkas, senyum miring tercetak begitu saja di bibir pria itu. Mikayla mendengus.
“Bukan apa-apa nih ya mas Es. Sebenarnya untuk seorang gadis yang baru saja memulai hidup mandiri, gue nggak bisa masak walau gue hobi banget makan selama ini, jadi mohon di maklumi. Kalau masak mie rebus gue bisa kok atau lo mau pesan makanan aja itu jauh lebih baik,” ucap Mikayla, gadis itu kemudian duduk di karpet bulu, singgasana Mikayla sebenarnya sejak dia pulang dari kantor tadi.
“Gue pesan aja,” jawab Alistair, Mikayla mengangkat jempolnya tinggi kemudian nyengir ke ara Alistair.
“Pesenin gue ayam geprek sekalian Al, ntar langsung gue transfer uangnya,” ucap Mikayla, gadis itu kemudian kembali fokus pada pekerjaannya yang masih tertunda sedangkan Alistair sang tamu tidak di undang fokus pada ponselnya, mencari makan malam. Sungguh dia sendiri belum sempat makan sejak pulang dari kantor. Alistair sedikit sibuk.
“Teman lo yang tinggal di kawasan ini akrab banget sama lo ya Al sampai lo sering banget mengunjungi dia?” tanya Mikayla namun gadis itu tetap fokus pada layar MacBook-nya. Mungkin bagi Mikayla kalau hidupnya nggak kepo bagaikan sayur tanpa garam, hambar sekali, apalagi orang yang sedang bersama dengannya sekarang adalah Alistair jelas tingkat kekepoan Mikayla naik dengan sangat-sangat drastis. Apa hubungan Alistair dan Safira yang sebenarnya saja belum terjawab sampai sekarang di tambah lagi kekepoan Mikayla tentang apa yang di lakukan Alistair di kawasan apartemennya.
“Kerja Mika,” ucap Alistair tanpa mau menjawab pertanyaan Mikayla, lagi-lagi hal yang sama terjadi, pria ini seolah memang tidak ingin siapapun mengusik kehidupannya secara pribadi dan ini berhasil membuat Mikayla greget sendiri. Gadis itu pada akhirnya dengan cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, Mikayla akan melanjutkan sesi wawancaranya pada pria yang sudah tiduran di sofa miliknya itu, Alistair seolah sedang bersikap seperti sedang berada di rumahnya sendiri dan Mikayla merasa itu sangat menjengkelkan, bisa-bisanya pria itu menodai sofabed-nya yang begitu suci dengan bau parfumnya yang sangat enak itu. Kalau nanti baunya tertinggal bagaimana? Kalau nanti Mikayla tidak sengaja tidur di tempat yang sama setelah Alistair pergi bagaimana? Terus kalau Mikayla jadi kangen bagaimana eh no…no… itu tidak akan mungkin pernah terjadi, mana mungkin Mikayla akan merindukan manusia es super membosankan seperti Alistair, jelas Mikayla tidak akan membiarkan dirinya melakukan hal sekonyol itu.
Beberapa waktu hanya terjadi keheningan saja sampai pada akhirnya suara bel apartemen membuat Mikayla yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya langsung menoleh ke arah pintu namun sebelum dia benar-benar beranjak dari posisi duduknya tatapan Mikayla terpaku pada Alistair yang memejamkan matanya di sofa sambil memeluk bantal guling Mikayla yang memang selalu ada di sana. Bantal guling dengan sarung berwarna pink dan Alistair si es terlihat mendadak cute. Mikayla berlari ke arah pintu apartemennya, mengambil paket makanannya sambil mengucapkan terimakasih kemudian kembali buru-buru ke arah sofa, gadis itu menaruh makanan pesanan Alistair di atas meja kemudian buru-buru mengambil ponselnya lalu mulai memotret Alistair, kesempatan seperti ini tidak boleh di sia-siakan sama sekali. Mikayla harus memanfaatkannya semaksimal mungkin. Gadis itu kemudian tersenyum puas setelah berhasil mendapatkan beberapa potret Alistair, sungguh pria itu benar-benar terlihat cute ketika sedang tidur apalagi dengan guling pink miliknya. Setelah puas memandang hasil jepretannya dan menguasai ekspresinya barulah Mikayla akhirnya duduk di pinggiran sofa kemudian menepuk lengan Alistair beberapa kali.
“Al makan pesanan lo udah datang, makan dulu deh!” seru Mikayla terdengar super kaku sekali karena sesungguhnya Mikayla belum pernah sekalipun membangunkan seorang pria seperti ini apalagi pria ini adalah Alistair yang selalu sinis dan sarkartis padanya membuat Mikayla semakin kebingungan untuk bersikap seperti apa.
“Al!” seru Mikayla, kali ini gadis itu menepuk lengan Alistair dengan cukup kuat, matanya kemudian terpaku pada wajah Alistair, kalau di perhatikan dengan sangat lekat, Mikayla bisa melihat raut lelah di wajah Alistair seolah memang ada banyak hal yang menganggu pikiran pria itu namun ketika Mikayla melihat mata Alistair mengerjap gadis itu buru-buru berdiri dan pura-pura sibuk mengeluarkan makanan yang sudah di pesan oleh Alistair.
“Makan pesanan lo udah datang, mau minum apa?” tanya Mikayla ketika dia melihat Alistair sudah beranjak duduk, pria itu terlihat benar-benar seperti orang yang beru bangun tidur tapi sialnya Alistair masih terlihat sangat tampan.
“Air mineral dingin,” jawab Alistair, Mikayla langsung mengangguk kemudian dia langsung berdiri dan melangkah ke arah dapur, wastafel Mikayla penuh dengan cucian piring kotor membuat gadis itu meringis, dia tidak akan memperbolehkan Alistair melangkah ke arah dapur, bisa jantungan pria itu melihat keadaannya.
“Lo pesan apa deh Al?” tanya Mikayla saat mereka sudah menikmati makan malam mereka.
“Bebek bakar, kenapa?” tanya Alistair, matanya pria itu masih terlihat sangat sayu, mungkin masih mengantuk.
“Enggak papa, nanya doang,” jawab Mikayla, gadis itu tetap menikmati ayam geprek nya dengan sangat santai.
“Mau?” tanya Alistair. Mikayla langsung menggeleng.
“Enggak mau nanti lo suruh gue transfer uang buat bayar, ngeri gue!” seru Mikala, gadis itu benar-benar menatap Alistair dengan ngeri membuat Alistair tersenyum bahkan nyaris terkekeh. Mikayla cukup membuatnya merasa jauh lebih baik malam ini.
“Yaampun Al tadi itu lo senyum? Demi apa ganteng banget!” seru Mikayla dengan heboh melihat senyum Alistair yang sangat-sangat langkah itu, Mikayla bahkan sampai menghentikan kegiatannya mengunyah ayam geprek miliknya, senyum Alistair itu adalah sebuah keajaiban, Mikayla tidak percaya Alistair akan setampan itu jika tersenyum.
“Lebay!” seru Alistair. Mikayla mengibaskan tangannya.
“Bukan lebay tapi asal lo tahu, lo itu benar-benar jarang banget senyum Al, gue kadang sampai kebingungan kenapa harus ada manusia kayak lo, nyebelin banget. Lo betah?” tanya Mikayla sambil menahan rasa pedas yang mulai menyerang lidahnya bahkan gadis itu sudah berkeringat sekarang, Alistair yang menyadari itu langsung menyodorkan sebotol air mineral pada Mikayla yang langsung di teguk dengan rakus oleh gadis itu.
“Ada beberapa alasan membuat orang memilih bersikap seperti apa,” jawab Alistair. Pria itu sudah selesai dengan makan malamnya. Mikayla yang juga sudah selesai kini menatap Alistair penuh dnegan minat.
“Dan alasan lo?” tanya Mikayla, gadis itu benar-benar fokus menatap kea rah Alistair seolah dia memang benar-benar menunggu moment ini.
“Lo benar-benar ingin tahu?” tanya Alistair.
“Mau banget, jadi apa alasan lo?” tanya Mikayla, gadis itu terlihat semakin sangat-sangat antusias.
“Bawaan lahir,” jawab Alistair dengan senyum miringnya kemudian pria itu berdiri dari sofa dan melangkah ke arah dapur Mikayla, meninggalkan Mikayla yang masih melongo, lagi-lagi dia kena prank oleh Alistair namun ketika menyadari Alistair tidak lagi ada di hadapannya Mikayla cepat-cepat berdiri dan menatap Alistair dengan panik.
“ALI JANGAN KE DAPUR GUE BANYAK TIKUS LO KE KAMAR MANDI KAMAR TAMU AJA!” seru Mikayla dengan sangat heboh, gadis itu berlari ke arah Alistair dan menghalangi langkah pria itu.
“Ke kamar mandi tamu aja,” ucap Mikayla dengan senyum terpaksa nya, dia kemudian membalikkan tubuh Alistair dan mendorong pria itu ke kamar tamu miliknya. Mikayla benar-benar berjanji pada dirinya setelah ini untuk tidak menunda-nunda pekerjaan rumahnya lagi, dia tidak ingin orang melihat sisinya yang lebih kacau lagi. Cukup Alistair saja, yang lain tidak boleh.