Bab 11: Perubahan Kecil

1865 Words
“Minum.” Mikayla langsung menoleh, mata gadis itu mengerjab pelahan ketika melihat Alistair menjulurkan satu cup hot chocolate padanya. Mereka berdua sekarang ada di perjalanan pulang menuju Jakarta setelah bertemu kembali dengan klien mereka di Bandung. Sekarang sedang berhenti karena Alistair mengatakan bahwa pria itu sedikit mengantuk. “Thank you,” ucap Mikayla sembari mengambil cup hot chocolate yang di berikan oleh Alistair padanya. Udara malam ini cukup dingin. Mikayla tidak memiliki persiapan apapun untuk menghadapinya. Mikayla hari ini memakai rok span dan blouse seperti biasanya. Keheningan menyelimuti mereka, hanya ada beberapa orang yang keluar masuk dari kafe yang buka dua puluh empat jam itu. Mikayla dan Alistair memilih duduk di depan kafe itu. “Seberapa sering kita akan datang ke Bandung?” tanya Mikayla, dia bosan ketika mereka terus diam seperti ini. Dia menoleh pada Alistair. Menatap pria itu dengan sangat lekat. Tidak ada yag terlalu berbeda dengan penampilan Alistair tadi pagi dengan sekarang hanya saja pria raut wajah pria itu terlihat cukup lelah. Pekerjaan Alistair jelas lebih banyak di bandingkan Mikayla. Pria itu tidak hanya memegang satu projek saja. Mikayla dengar juga Aistiar memiliki usaha yang lain diluar pekerjaanya di Maju Sukses. “Akan sangat sering, klien kita benar-benar bukan orang yang mudah di hadapi, butuh banyak waktu untuk bisa mencapai kesepakatan bersama dengan mereka. Jadi siapkan diri lo dengan baik, pakai pakaian yang lebih nyaman lain waktu,” ucap Alistair, pria itu meneguk kopinya kemudian menyandarkan tubuhnya sepenuhnya ke sandaran kursi. Mikayla mengangguk mengerti. Apa yang dikatakan Alistair ada benarnya. Sangat tidak nyaman berpakaian seperti sekarang apalagi harus pulang semalam ini. “Al, are you oke?” tanya Mikayla ketika Alistair memejamkan matanya. Pria itu hanya bergumam pelan menjawab pertanyaan Mikayla. Mikayla kembali melihat ke sekelilingnya dan melihat jam di ponselnya. Hari beranjak semakin larut, udara semakin terasa dingin. Jika mereka terus bertahan di tempat ini, itu akan sangat buruk untuk keadaan Alistiar. “Al, gue sangat fresh untuk menyetir. Lo bisa percaya sama gue kali ini,” ucap Mikayla, dia langsung mengambil kunci mobil yang ada di atas meja kemudian bangkit dari kursinya. Alistair membuka matanya perlahan. “Gue yang nyetir,” ucap Alistair sembari menjulurkan tangannya pada Mikayla namun alih-alih memberikan kunci mobil, Mikayla justru menarik tangan Alistiar, membawa pria itu ke mobil. “Nggak usah maksain diri sendiri kalau sebenarnya lo nggak kuat. Ini gunanya hidup berdampingan sama orang lain Al. Gue bisa menyetir mobil dengan sangat baik, lo bisa percaya sama gue,” ucap Mikayla. Dia membuka pintu samping kemudi dan meminta Alistai segera masuk setelah itu Mikayla menyusul dan duduk di balik kemudi. “Nggak usah banyak protes, lo bisa tidur mulai sekarang. Al, trust me, please,” ucap Mikayla gadis itu menautkan kedua tangannya kemudian mulai fokus pada kemudi, tidak peduli lagi dengan tatapan penuh protes Alistair. “Jangan lihat gue kayak gitu, tidur aja, gue bahkan pernah nyetir sendiri dari Jakarta ke Yogyakarta,” ucap Mikayla, gadis itu masih berusaha dengan keras untuk meyakinkan Alistiar, tapi Mikayla juga tidak berbohong tentang dia yang pernah menyetir dari Jakarta ke Yogyakarta. “Perhatikan mapsnya dengan baik, jangan nyasar,” ucap Alistair, Mikayla langsung melirik dengan sinis tapi Alistair yang sudah mulai memejamkan matanya. Pria itu pikir dia sebodoh itu sampai tidak bisa membaca maps. Walau Alistair tidak lagi senyebelin dulu tapi pria yang sudah tertidur di sampingnya itu membuat Mikayla semakin penasaran dari waktu ke waktu. Alistair penuh dengan rahasia. Mikayla ingin tahu rahasia itu satu persatu. Walau Mikayla yakin tidak mudah untuk melakukannya karena Alistair bahkan terlihat tidak pernah berinteraksi dengan banyak orang. Sejauh ini orang yang terlihat dekat dengan pria itu hanya Safira tapi Safira bukanlah orang yang senang membicarakan kehidupan pribadi seseorang jadi Mikayla rasa dia akan sangat sulit mengorek informasi dari Safira. “Sebernarnya dia manusia macam apa sih?” gumam Mikayla pelan sembari melirik kearah Alistair, pria itu sekarang sepertinya benar-benar sudah tertidur. Mikayla semakin fokus pada jalanan di hadapannya, masih membutuhkan beberapa waktu lagi untuk sampai ke apartemennya. Mobil milik Mikayla sendiri sekarang terparkir di kantor. *** “Al,” ucap Mikayla sembari menusuk lengan Alistair ketika mobil yang di kendarai Mikayla sudah terparkir di basement dengan sangat sempurna. Mikayla lagi-lagi sempat terpaku pada wajah Alistair. Pria itu memiliki wajah yang sangat sempurna. Ketika melihat mata Alistiar bergerak pelan saat itu Mikayla langsung menabok lengan pria itu. “Bangun, udah sampai. Lo mau langsung balik atau nginep di tempat teman lo?” tanya Mikayla. “Hah?” tanya Alistair. Dia mentap Mikayla dengan bingung. Pria itu masih terlihat berusaha dengan keras untuk mendapatkan kesadarannya. Apalagi dia cukup terkejut dengan Mikayla yang tiba-tiba menepuk lengannya dengan cukup kuat. “Lo mau langsung pulang ke rumah lo atau mau nginep di tempat teman lo?” tanya Mikayla. Gadis itu mulai membereskan barang-barang miliknya. “Teman,” jawab Alistiar, dia langsung turun dari mobi Mikayla langsung mengangguk mengerti. Pilihan yang lebih baik menurutnya. “Ini kunci mobil, gue masuk sekarang, lo hati-hati di jalan. Kalau lihat semut lewat, tolong bilang permisi ke dia,” ucap Mikayla dengan senyumnya. Gadis itu dengan langkah santai langsung menuju lift terdekat yang akan membawanya ke lantai tempat unitnya berada. “Kenapa?” tanya Mikayla ketika Alistair ikut berdiri di sampingnya menunggu lift. Tatapan Mikayla terlihat cukup bingung. “Gue ingin ke tempat teman, memangnya kenapa?” tanya Alistair balik bertanya pada Mikayla. Pria itu langsung masuk ke dalam lift, Mikayla lagi-lagi menatap Alistair dengan sangat bingung. Gadis itu menekan angka lantai yang ingin dia tuju. “Lo nggak pilih lantai tujuan?” tanya Mikayla. Di dalam lift itu hanya ada mereka berdua. Tentu saja. Ini sudah pukul dua pagi. Akan sangat jarang orang yang masih membuka mata jam segini. “Sama,” jawab Alistair. “Kok bisa? Kenapa gue nggak pernah lihat lo selama ini? Bukannya lo pernah bilang unit teman lo ada di tower sebelah? Kenapa sekarang tiba-tiba jadi selantai sama gue?” tanya Mikayla. Keduanya sama-sama keluar dari lift ketika lift terbuka. “Memang.” “Terus?” tanya Mikayla. Mata gadis itu menyipit ketika langkah Alistair juga terhenti di depan unit apartemennya. “Gue nginep,” ucap Alistair, dia langsung menerobos masuk ketika pintu apartemen Mikayla terbuka. Kali ini Mikayla benar-benar melongo. Jadi teman yang di maksud Alistair itu adalah dirinya? Sejak kapan mereka berteman? Bukannya hanya rekan kerja? “Sejak kapan gue jadi teman lo?” tanya Mikayla, dia menyusul ke dalam apartemen. Alistair sedang membuka lemari pendingin Mikayla kemudian mengambil air mineral dari sana. Setelah meneguk air mineral itu sampai puas. Alistair kemudian melewati Mikayla begitu saja. Pria itu bersikap seolah-olah ini adalah apartemennya sendiri. "Al, ngapain sih, pulang sana!" seru Mikayla. Alistair menatap gadis itu dengan sangat lekat kemudian menggelengakan kepalanya. "Gue ngerasa nggak enak badan. Gue izin pakai kamar mandi, gerah banget," ucap Alistair, pria itu mengangkat tasnya. Mikayla sangat yakin itu berisi perlengakapan pria itu. Sepertinya Alistaiir adalah orang yang selalu siap siaga untuk banyak hal. "Lo bisa pakai kamar tamu. Sekalian aja istirahat di sana. Gue masuk ke dalam kamar ya, kalau butuh apa-apa usaha sendiri aja karena gue nggak akan bisa membantu." Mikayla tidak lagi berusaha lagi untuk mengusir Alistair. Ini sudah hampir pagi. Lebih baik menggunakan waktu untuk istirahat di bandingkan terus berdebat. "Mika," ucap Alistair ketika mereka sama-sama ingin masuk ke dalam kamar. Mikayla langsung menoleh dan mengangkat sebelah alisnya. "Istirahat lebih banyak, kita ke kantor besok setelah makan siang," ucap Alistair kemudian pria itu benar-benar masuk ke dalam kamar sedangkan Mikayla. Gadis itu mengerjabkan matanya berkali-kali. Alistair pasti kesambet. Tumben sekali pria itu memberikan penawaran menarik seperti itu. Dengan semangat penuh, Mikayla kemudian mulai bersih-bersih dan beranjak untuk istirahat. Dia tidak ingin membuang banyak waktu lagi. *** "Pagi," ucap Mikayla dengan suara riangnya. gadis itu menghampiri Alistair yang sedang duduk di ruang santai apartemen sembari menikmati sarapan. Layar iPad pria itu juga menyala. Mungkin ada beberapa hal yang harus di kerjakan oleh Alistaiar. Sesekali Alistair terbatuk, mungkin masih tidak enak badan. "Hm," jawab Alistair dengan tetap fokus pada layar iPadnya. "Gimana? Lo udah baikan??" tanya Mikayla, tangan gadis itu dengan refleks menempel dikening Alistair membuat mereka sama-sama tersentak kaget. Tatapan mereka bahkan saling btabrakan satu sama lain. "Gimana?" tanya Alistair ketika tangan Mikayla masih ada di keningnya. "Sorry." Mikayla menarik tangannya dengan sangat cepat dari kening Alistair dan berdehem berkali-kali untuk mengendalikan dirinya. Mikayla merasa mendadak gugup. "Sarapan ada di meja," ucap Alistair, Mikayla langsung mengangguk dan mengambil sarapan di meja makan. Alistair membeli nasi goreng seperti waktu itu kemudian juga ada jus dan buah. "Beli sarapan dimana?" tanya Mikayla, dia kembali bergabung dengan Alistair di sofa. "Delivery." Mikayla mengangguk kemudian dia tidak bertanya lagi. Alistair kini sudah fokus pada iPad-nya. Apa yang Mikayla pikirkan selama ini ternyata memang benar. Alistair adalah orang yang sangat gila terhadap pekerjaan. Pria itu bahkan masih bekerja di saat kondisi tubuhnya tidak terlampau baik dan jelas sedang membutuhkan istirahat. "Al, lo memang seperti ini ya?" tanya Mikayla. Gadis itu menaruh sarapannya di atas meja kemudian mengambil kotak yang tersimpan di sana. Itu adalah kotak yang berisi berbagai macam obat. Orangtua Mikayla adalah dokter. Jelas mereka sangat protektif terhadap Mikayla. Semua obat-obat itu akan di perbaruhi oleh Maminya setiap bulan. "Gimana?" tanya Alistair, di mengamati apa yang sedang dilakukan oleh MIkayla. "Selalu memaksa diri untuk melakukan sesuatu padahal lo sedang tidak benar-benar bisa melakukan itu?" Gadis itu membuka letapak tangan Alistair dan menaruh beberapa obat di sana. Obat itu akan sangat membantu untuk menurunkan deman dan juga meradakan batuk. "Minum obatnya, nggak usah takut. Itu udah sesuai dengan resep dokter," ucap Mikayla. Alistair menatap obat itu dan Mikayla secara bergantian. "Gue nggak minum obat. " Alistair kembali menaruh pil itu di tangan Mikayla. Mata Mikayla langsung menyipit. Senyum jahil langsung tercetak dengan sangat sempurna di bibir gadis itu. "Jangan bilang lo nggak bisa minum obat pil ya? Yaampun mas Es!" seru Mikayla, tawa penuh ledekan gadis itu langsung mengundara begitu saja membuat Alistair langsung mendengus. "Berisik!" "Kalau minum obatnya dihalusin bisa nggak?" tanya Mikayla. Alistair menoleh kemudian mengangguk pelan. Mikayla mati-matian menahan tawanya, Alistair kali ini sangat menggemaskan. "Oke, gue halusin," jawab Mikayla, gadis itu beranjak dari sofa untuk mengambil sendok dan menyiapkan alat untuk menghaluskan obat. Untung saja Maminya juga menyediakan hal semacam itu untuknya. "Yaudah, mas Es ayo buka dulu mulutnya!" seru Mikayla, dia mengarahkan sendok itu pada Alistair. Walau terlihat sangat ragu tapi Alistair kali ini membuka mulutnya, meminum obat kemudian meneguk air mineral dengan sangat rakus bahkan pria itu juga meminum jus, mungkin untuk menghilangkan rasa pahitnya obat. "Gue benar-benar baru tahu, lo nggak bisa minum obat. Yaampun mau ketawa aja. Pagi gue kali ini cerah banget!" seru Mikayla Padahal gadis itu hanya baru tahu tentang Alistair tidak bisa minum obat bahagianya sudah seluar biasa itu. Dendam Mikayla pada Alistair sepertinya masih sangat banyak. "Kita ke kantor lebih awal," ucap Alistair tiba-tiba membuat Mikayla langsung menghentikan tawanya. "Yaampun ngambekan banget lo, just kidding mas Es, just kidding!" seru Mikayla. Gadis itu dengan sangat cepat kembali melanjutkan sarapannya. Sesekali masih menyempatkan diri untuk melirik Alistair kemudian Mikayla berusaha keras menahan tawanya. Orang yang selalu memasang wajah datar itu nyatanya bisa memasang wajah takut saat minum obat. Sangat menggemaskan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD