Pagi ini Mikayla merasa jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Dia bangun lebih awal tapi tetap saja tidak sempat untuk membersihkan apartemennya. Gadis itu bahkan tidak sempat untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Mungkin ini bagian dari kebiasaan buruk dari masa kuliah yang masih terbawa sampai sekarang oleh Mikayla. Sebenarnya tidak hanya itu kebiasaan buruk yang dia miliki. Mikayla masih memiliki kebiasaan buruk yang lain. Tapi sekarang dia tidak sempat hanya untuk sedekar menceritakannya. Mikayla harus buru-buru berangkat ke kantor.
Alistair sudah bersikap cukup manusiawi padanya kemaren, Mikayla tidak ingin mencari keributan lagi dengan pria itu. Memeriksa penampilannya sekali lagi dan memerikasa perlengkapan yan harus dia bawa ke kantor, Mikayla akhirnya dengan penuh percaya diri keluar dari unit apartemennya. Sebelum benar-benar keluar, Mikayla sempat mengambil satu kaleng kopi dingin dari lemari es-nya. Sebenarnya Mikayla tidak terlalu suka kopi ini tapi tidak ada pilihan lagi, lagian Bhanu dan Angga juga sepertinya tidak ada niatan untuk membuka B&W Coffe disini padahal kalau sampai itu terjadi, Mikayla sangat yakin kopi itu akan sangat banyak peminat karena kopi B&W Coffe memang seenak itu.
Langkah Mikayla tiba-tiba terhenti, senyum gadis itu tiba-tiba lenyap begitu saja ketika melihat salah satu ban mobilnya kempes. Gadis itu mengeratkan genggaman tangannya pada kaleng kopi yang sudah mengembun.
“Sial banget sih gue!” seru Mikayla dengan sangat gregetan, gadis itu buru-buru melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, dia tidak lagi memiliki banyak waktu. Alistair mungkin akan kembali berubah menjadi macan ketika melihatnya terlambat hari ini. Mikayla melirik kakinya. Akan membutuhkan sedikit banyak waktu untuknya agar bisa sampai ke lobi apartemen kemudian memesan taksi di sana atau kendaraan umum lagi mengingat dia menggunakan heels hari ini belum lagi rok span yang melekat sangat indah di tubuhnya.
“Gini banget nasib gue!” seru Mikayla. Saat gadis itu ingin membalikkan tubuhnya dan bersiap untuk mengatur langkahnya untuk menuju lobi apartemennya saat itu tatapan Mikayla bertemu dengan bahu tegap seseorang yang terbalut kemeja yang terlihat sangat pas, wangi tubuh orang itu menusuk indra penciuman Mikayla. Sangat maskulin dan juga segar.
“Kenapa?” tanya orang itu, Mikayla sedikit mendongak, gadis itu merapatkan bibirnya kemudian menujuk ban mobilnya yang kehabisan angin.
“Ban mobil gue kempes, gue nggak punya waktu untuk berdebat, gue pamit!” seru Mikayla pada Alistair yang lagi-lagi Mikayla temui di sini. Apa pria ini lagi-lagi menginap di tempat temannya karena kemarin sudah terlalu malam? Tapi teman mana yang selalu senantiasa membuka pintu untuk seorang seperti Alistair?
“Tunggu,” ucap Alistair, dia memegang pergelangan tangan Mikayla. Gadis itu langsung menatap ke arah Alistiar, lagi-lagi Mikayla melirik ke arah jam tangannya yang jarumnya terus bergerak maju.
“Apa? Al, gue nggak mau telat hari ini kemudian kembali berdebat sama lo. Waktu gue tinggal sedikit lagi,” ucap Mikayla. Alistair mengangguk kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Mikayla.
“Lo bisa berangkat bareng gue,”ucap Alistair kemudia pria itu melangkah kearah mobilnya yang ternyata terparkir tidak terlalu jauh dari mobil Mikayla. Gadis itu melongo, matanya mengerjab perlahan seolah dia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Alistair.
“Mikayla, cepat!” seru Alistiar sembari membunyikan klason mobilnya, Mikayla tersentak kemudian melangkah dengan sangat cepat ke arah mobil Alistair. Keadaan mobil itu sudah kembali rapi bahkan selimut yang Mikayla gunakan semalam juga sudah terlipat dengan sangat rapi di kursi belakang.
“Makasih,” ucap Mikayla ketika mobil itu mulai bergerak meninggalkan basement apartemen. Tangan Mikayla mulai bergerak membuka kaleng kopi miliknya yang benar-benar sudah berembun namun belum benar-benar berhasil membuka kaleng kopi itu Alistair sudah menahan Mikayla dan mengambil alih kopi itu.
“Pakai seatbelt lo dan ambil sarapan di jok belakang,” ucap Alistiar. Pria itu menyimpan kopi yang ingin Mikayla minum sebelumnya.
“Tapi kopi gue?” Mikayla menatap Alistair dengan sangat bingung.
“Terakhir lo mengkonsumsi kopi, lo berakhir seperti orang gila. Makan sarapan yang ada di kursi belakang,” ucap Aistair. Pria itu mulai fokus pada kemudi, sempat menyapa penjaga dan memberikan kopi milik Mikayla pada salah satu dari penjaga itu.
“Tapi itu sarapan lo,” ucap Mikayla ketika menyadari, hanya ada satu kotak sarapan di kursi belakang dan juga satu kotak strawberry segar.
“Kita bisa makan bersama.” Alistair mengatakan kalimat itu dengan sangat santai namun respon Mikayla justru sangat luar biasa. Gadis itu lagi-lagi melongo. Dia menatap nasi goring yang ada di tangannya dan Alistair secara bergantian. Tidak mungkin Mikayla menyuapi Alistair bukan?
“Sesuai dengan apa yang lo pikirkan,” ucap Alistair. Mikayla terbatuk.
“Al, sendoknya cuma ada satu,” ucap Mikayla. Tapi memang benar kok, sendoknya cuma ada satu, mereka nggak mungkin menggunakan sendok yang sama bukan?
“Terus masalahnya?” tanya Alistair dengan nada suara yang masih sama santainya, Mikayla menarik napasnya kemudian kembali menaruh kotak nasi goreng itu di kursi belakang.
“Gue sarapan strawberry aja,” ucap Mikayla. Dia tidak bisa membayangkan ketika dia harus menyuapkan Alistair nasi goreng. Bukannya itu biasanya di lakukan oleh pasangan? Mereka bahkan hampir bertengkar setiap hari, tidak cocok untuk itu.
“Jangan lupa transfer setelah makan, lo bisa lihat label harganya,” ucap Alistair ketika Mikayla ingin membuka kotak strawberry impor dari korea itu. Srawberry-nya besar-besar dan Mikayla sudah sangat tahu bagaimana rasanya.
“Gue juga nggak jadi makan strawberry,” ucap Mikayla, saat gadis itu kembali ingin menaruk strawberry itu ke kursi belakang, saat itu Alistair menahan tangannya.
“Becanda, lo boleh makan semuanya,” ucap Alistair, pria itu bahkan tersenyum. Mikayla lagi-lagi di buat terkejut. Sepertinya Alistair sedang dalam suasana hati yang sangat baik saat ini. Mungkin teman pria itu memberikan sedikit pencerahan padanya. Mikayla sekarang jadi penasaran seperti apa teman Alistiar sehingga pria itu senang sekali datang ke tempat ini.
“Beneran ya, nggak bayar?” tanya Mikayla sembari memegang satu buah strawberry yang sangat menggugah selera. Alistair mengangguk kemudian tanpa dugaan, pria itu langsung mengigit strawberry yang ada di tangan Mikayla.
“Manis,” ucap Alistiar, pria itu kembali menjalankan mobilnya ketika lampu jalan berubah menjadi warna hijau.
Mikayla menatap strawberry bekas gigitan Alistair di tangannya. Pagi ini benar-benar penuh kejutan, dengan sangat ragu, Mikayla mejulurkan tangannya ke hadapan Alistair, “habisin sisanya, gue juga mau makan sendiri,” ucap Mikayla, dia mendadak kaku, Mikayla sangat berharap suaranya terdengar normal, sekarang jantungnya berdetak dengan cukup kencang.
“Kenapa nggak lo aja yang makan sisanya?” tanya Aistair dengan senyum miringnya. Mikayla merapatkan bibirnya kemudian menggeleng dengan sangat cepat.
“Gue nggak mau makan sisa lo!” seru Mikayla dengan sangat cepat. Alistair mengangguk kemudian memakan sisa strawberry.
“Sekarang gue tahu, lo benar-benar belum pernah ciuman. Orang-orang bahkan berbagi makanan saat berciuman Mikayla dan kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa itu sangat menakjubkan,” ucap Alistair lagi-lagi dengan santai seolah apa yang dia bicarakan adalah topik yang ringan yang sering di bicarakan oleh orang-orang di pagi hari.
“Nggak tahu lah gue!” seru Mikayla, gadis itu kemudian menikmati strawberry dengan sangat rakus. Mikayla tidak tahu jika Alistair termasuk orang yang bisa membicarakan hal yang menurut sebagian orang sensitive dengan sesantai itu.
“Kenapa reaksi lo kayak gitu, lo benar-benar belum pernah?” tanya Alistair, dia melirik ke arah Mikayla.
“Pernah apa?” tanya Mikayla dengan ekspresi yang di buat sesantai mungkin walau sekarang Mikayla tidak terlalu yakin dengan dirinya sendiri mungkin saja sekarang pipinya sudah memerah.
“Ciuman atau berbagi makanan lewat ciuman?” tanya Alistair bertepan dengan mobil yang terparkir dengan sangat sempurna di parkiran Maju Sukses. Pria itu lagi-lagi tersenyum miring sedangkan Mikayla, matanya sudah membola. Gadis itu dengan secepat kilat langsung melepas seatbelt dan tersenyum dengan sangat konyol pada Alistair.
“Gue hampir telat, dadah,” ucap Mikayla, gadis itu dengan sangat cepat turun dari mobil sembari memeluk kotak strawberry. Melangkah dengan sangat cepat meninggalkan mobil Alistair.
“Gila, gue pikir dia benar-benar kalem, ternyata bisa sepro itu pertanyaanya. Gue bahkan nggak bisa napas!” seru Mikayla. Gadis itu kembali mempercepat langkahnya, sesekali melihat ke arah mobil Alistair, untung saja pria itu belum turun dari mobil.
“Apa ini pertanda gue tambah dewasa? Gue baru dengar pertanyaan itu secara langsung, yaampun!" seru Mikayla. Gadis itu terlihat masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
“Kenapa lo?” pertanyaan itu membuat Mikayla langsung menghentikan langkahnya, gadis itu langsung nyengir meihat anak-anak penghuni lantai lima sedang mengantri menunggu lift. Ada mas Krisna, mbak Dyah, mas Fandi dan juga Safira di sana.
“Nggak papa, memang gue kenapa?” tanya Mikayla sembari tersenyum, gadis itu merapikan rambutnya.
“Lo kelihatan kayak orang abis di kejar-kejar orang gila. Ada masalah di jalan?” tanya Fandi. Mikayla berdehem kemudian menggeleng dengan sangat cepat.
“Masalah? Nggak ada masalah. Semuanya berjalan dengan sangat lancar,” jawab Mikayla.
“Dan sekarang lo sarapan strawberry di pagi hari?” tanya Safira sembari menunjuk strawberry di pelukan Mikayla. Semua orang menatap Mikayla dengan penasaran.
“Ah ini, tadi gue nggak sempat sarapan dan hanya ada ini di lemari penyimpanan gue,” ucap Mikayla dengan sangat cepat. Orang-orang di sana terlihat mengangguk mengerti.
“Dan lo nggak bawa tas?” tanya mas Krisna.
“Gue ba…” Mikayla langsung menepuk keningnya sendiri saat menyadari tasnya tidak ada bersama dengannya. Pasti tas itu tertinggal di mobil Alistair.
“Tas gue pasti ketinggalan di mob…” ucapan Mikayla lagi-lagi terhenti ketika seseorang yang datang dari arah belakangnya mengulurkan tas padanya.
“Tas lo ketinggalan di mobil,” ucap Alistair dengan sangat santai. Pria itu memasang wajah datarnya seperti biasanya bahkan tidak peduli dengan tatapan teman-teman mereka.
Mikayla dengan sangat ragu langsung mengambil tas miliknya. Mereka semua kemudian masuk ke dalam lift masih dengan tatapan penuh tanya dan penuh godaan dari teman-teman mereka. Safira bahkan tersenyum dengan sangat puas melihat itu.
“Jadi kalian berangkat bareng?” tanya Fandi. Mikayla langsung melirik pada Alistair, pria itu benar-benar besikap seolah tidak terjadi apapun sebelumnya,
“Nggak sengaja bareng, mobi gue bannya kempes,” jawab Mikayla dengan cepat Dia tidak ingin ada yang salah paham tentang apa yang terjadi dengannya dan Alistair.
“Jadi sekarang kalian udah baikan?” tanya Safira. Alistair tampak lagsung melirik pada gadis itu.
“Seperti yang kamu lihat,” jawab Alistair dengan sangat cepat kemudian pria itu keluar lebih dahulu dari lift. Safira langsung merangkul Mikayla dan bertos dengan Fandi. Dengan membaiknya hubungan Mikayla dan Alistair itu pertanda bahwa kerja tim mereka akan berjalan dengan sangat baik.
Safira juga berharap ini akan membuat segala hal lebih baik bahkan bukan hanya sekedar kerja tim mereka.