Bab 9: Maaf?

1883 Words
Terjebak di dalam mobil bersama dengan orang yang tidak pernah di harapkan itu sama saja dengan mimpi buruk. Udara di dalamnya mendadak terasa sangat menipis, Mikayla bahkan merasa begitu kesulitan hanya untuk sekedar bernapas. Sedari tadi Mikayla hanya bisa duduk terdiam kaku. Meghembuskan napas, jemari Mikayla bergerak dengan sangat lembut menekan power window, Mikayla merasa dia benar-benar membutuhkan udara luar, rasanya sangat sesak sekali. “Jangan buka jendela,” ucap Alistair dengan sangat dingin, gerakan jemari Mikayla terhenti, dia menatap Alistair dengan sangat sengit. “Gue nggak bisa napas,” jawab Mikayla dengan sangat cepat. Alistair tampak melirik ke arah Mikayla sebentar. “Debu dan polusi semakin membuat lo nggak bisa bernapas,” jawab Alistair. Mikayla menghembuskan napasnya pelan. Jalanan sangat padat bahkan sekarang mereka terjebak dalam kemacetan. Akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa kembali ke apartemen. “Kenapa lo tiba-tiba mau anterin gue pulang? Gue bisa naik taksi dan pernapasan gue nggak akan seburuk sekarang,” ucap Mikayla. Mobil yang di kendarai oleh Alistair benar-benar tidak bergerak sedikitpun. Mikayla merasa semakin tidak nyaman lagi dengan semuanya. “Karena gue juga ingin pulang,” jawab Alistair, pria itu tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Mikayla membuat mata Mikayla membola sempurna. Pikiran yang tidak-tidak mulai memenuhi otak cantik Mikayla. Namun semua itu dapat di tepis ketika Alistair justu mengatur kursinya untuk mendapatkan posisi yang nyaman. “Tidur, jangan rewel,” ucap Alistair, dia memberikan sebuah selimut pada Mikayla yang berhasil membuat Mikayla megerjabkan matanya berkali-kali. “Lo itu sebenarnya apa sih?” tanya Mikayla dengan tatapan yang sangat bingung. Mikayla sekarang sudah ada di posisi yang cukup nyaman, selimut yang di berikan oleh Alistair ada di pangkuannya. “Apa?” tanya Alistair. Mikayla menarik napasnya pelan, setidaknya dia harus lebih sabar malam ini. Mikayla tidak mau mati muda karena tiba-tiba mengalami kecelakaan karena Alistair mengantuk. “Lo kelihatan lebih aneh dari biasanya akhir-akhir ini. Lo kelihatan banget emosional dan juga moodian. Masalah hidup lo berat banget ya?” tanya Mikayla. Gadis itu sudah memakai selimut yang di berikan oleh Alistair padanya, aromanya khas Alistair sekali, sama persis dengan aroma yang tertinggal di bantal guling pink kesayangannya. Fokus Mikayla sekarang benar-benar tertuju pada Alistair yang masih terlihat sangat kalem menghadapi kemacetan. “Pasti nggak mau jawab,” ucap Mikayla ketika Alistair hanya melirik ke arahnya sebentar, “oke nggak papa lo nggak mau jawab, tapi dengeri cerita gue. Bukan buat apa-apa sih. Gue nggak mau aja lo ngantuk kemudian gue mati bersama dengan lo. Serem banget nggak sih. Nanti kalau di tanyain malaikat, mas ague yang harus speek up sendiri sedangkan lo tetap diam aja. Itu beban buat gue!” seru Mikayla dengan super random. Alistair bahkan terlihat terkejut mendengar ucapan Mikayla yang di luar pikiran orang senormal dirinya. “Sebenarnya gue masih kesel banget sama lo ya. Tapi nggak papa, khusus malam ini gue akan bersikap normal karena lo udah mau repot-repot nganterin gue pulang ke apartemen. Lo tahu nggak pengalaman paling nggak banget gue saat kejebak macet?” tanya Mikayla, senyum gadis itu mengembang sempurna seolah apa yang dia pikirkan adalah hal yang sangat lucu. Alistair mengernyitkan keningnya, mobil bergerak pelan kemudian kembali terhenti. “gue anggap sekarang lolagi kepo banget. Jadi dulu waktu gue dan Bhanu masih di Jogja dan kuliah, tingkah Bhanu kan suka random banget apalagi kalau dia udah barengan sama Angga. Gue juga nggak punya teman. Jadilah gue ikut pergi jalan-jalan sama mereka. Pakai mobilnya Angga. Nggak hanya kita bertiga, ada anak Arsi yang lain di mobil itu, ceweknya juga bukan gue sendiri. Nah ceritanya tuh kita lagi di jalan pulang setelah kemah, pulangnya itu tengah malem banget karena besok ternyata beberapa orang dari kita punya kelas yang sama sekali nggak bisa di skip, terus nih ya, kan nggak semua jalan itu ramai ya, maksud gue yang ada penerangan yang bagus, kadang kita juga lewat hutan gitu kan. Nah gue sama teman gue yang cewek kebelet pipis, benar-benar nggak bisa di tahan sama sekali dan akhirnya kita pipis di semak-semak gitu dan lo tahu apa yang terjadi selanjutnya?” taya Mikayla dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat antusias tapi juga terlihat mengerdik ngeri. “Di tengah jalan ketika kita berhenti gitu di warung, kita baru tahu penyebab macet di sana itu karena terjadi kecelakaan dan salah salah satu korbannya meninggal dunia dan lebih parahnya lagi, kecelakaanya itu hanya berjarak beberapa langkah dari tempat gue pipis sama teman gue. Nggak banget deh Al, setelah itu gue nggak berani tidur sendirian dan gue nginep di kosan teman gue. Untuk dia mau menerima gue padahal kita nggak perna dekat. Itu pengalaman paling horor dalam hidup gue sampai sekarang gue nggak pernah bisa ngelupain kejadian itu. Sial gue merinding. Jangan-jangan macet kali ini juga karena ada kecelakaan,” ucap Mikayla, dia melirik kesekeilngnya dan merapatkan selimutnya bahkan gadis itu juga bahkan menaikkan kakinya ke atas kursi. Penyakit parnoan Mikayla tiba-tiba mengundara padahal dia sendiri yang bercerita. Alistair membuka jendela ketika ada pedagang yang lewat. Pria itu bertanya tentang apa yang terjadi dan juga membeli dua botol air mineral. “Kenapa katanya?” tanya Mikayla, gadis itu sudah meringkuk seperti bayi. “Kecelakaan bus, beberapa penumpangnya meninggal dunia. Mereka masih di evakuasi sampai sekarang,” jawab Alistair, Mikayla merapatkan Mikayla mendadak merinding. Kecelakaan yang di alami oleh orang-orang hari ini bahkan lebih parah di bandingkan seelumnya. “Gue nggak bisa membayangkan bagaimana perasaan keluarganya sekarang. Di antara mereka pasti ada yang dalam perjalanan pulang untuk bertemu dengan keluarga mereka dan juga pasti ada juga yang baru meninggalkan keluarga untuk mulai bekerja atau justru untuk melanjutkan pendidikan. Orang-orang yang mereka tinggalkan pasti merasa sangat terkejut dengan berita ini. Mereka harus menerima kepergian mereka tanpa persiapan. Menurut gue kehilangan keluarga saat di perjalanan, kecelakaan itu sangat meyakitkan karena memang nggak ada tanda-tanda apapun kayak kehilangan keluarga yang harus pergi karena dia mengalami sakit sebelumnya,” ucap Mikayla. “Lo nggak ngerti apapun,” ucap Alistair tiba-tiba dengan suara rendah, genggaman tangan pria itu pada botol air mineral mengerat, tatapannya mendadak tajam membuat Mikayla langsung terduduk . “Ali…” “Gue bilang dari tadi lo diam, jangan rewel. Stop it!” seru Alistair dengan cukup keras membuat Mikayla merasa ketakutan sendiri. Dia tidak tahu kenapa Alistair semarah itu padahal dia hanya mengutarakan pendapatnya akan sesuatu. Mikayla bahkan bisa melihat genggaman tangan Alistair ke setir mobil kini mengerat membuat urat-urat tangan pria itu terlihat. Rahang pria itu juga terlihat mengeras. Mikayla menggigit bibirnya sendiri, dia tidak tahu bagian yang salah di sebelah mana tapi Mikayla yakin ada kalimatnya yang sangat menganggu Aistair sampai pria itu terlihat sangat marah dan frustasi, “gue minta maaf. Benar-benar minta maaf. Gue nggak tahu salah gue dimana, tapi gue yakin beberapa kata gue berhasil menganggu lo. Maafin gue,” ucap Mikayla sambil menautkan kedua tangannya, gadis itu menunduk. Bibirnya terus bergerak mengucapkan kata maaf bahkan sampai matanya terpejam. Mikayla sangat terkejut dengan reaksi Alistair yang di luar dugaanya. Alistair menarik napasnya berkali-kali, pria itu mengangkat kepalanya dari setir mobil, tatapannya kemudian tertuju pada Mikayla yang terus mengatakan hal yang sama. Alistair menarik napasnya pelan. “Mikayla,” ucap Alistair, tangan pria itu bergerak menyentuh tangan Mikayla yang saling bertautan satu sama lain, Ini adalah salah satu hal yang Alistair benci dari dirinya sendiri. Dia terkadang sangat sulit mengendalikan dirinya sendiri atas sesuatu yang sangat sensitif untuknya. “Maaf, gue benar-benar minta ma…” ucapan Mikayla tiba-tiba terhenti ketika Alistair memeluknya begitu saja. Pelukan yang benar-benar sangat erat. Mikayla hanya bisa mengerjabkan matanya berkali-kali. Apa yang dilakukan Alistair sekarang benar-benar di luar dugaannya. Untung aja masih macet jika tidak mereka sudah membuat kegaduhan yang lain di jalan. Mikayla tidak membuka suara sedikitpun begitu juga dengan Alistair. Pria itu hanya memeluknya. Entahlah, sekarang Mikayla merasa bahwa ada banyak hal yang di sembunyikan oleh Alistair. Hal-hal yang mungkin sangat berat sampai-sampai Alistair terkadang kehilangan kendali dirinya sendiri. “Gue pikir gue sudah mengenal lo dengan sangat baik, ternyata apa yang gue lihat tidak pernah sama dengan apa yang lo rasakan ya? Kalau berat di lepaskan aja, Al,” ucap Mikayla ketika dia merasakan Alistair menggenggam sebelah tangannya semakin erat, “lo tahu nggak, mulut itu selain bisa di gunakan untuk hal-hal serius juga bisa digunakan untuk ha-hal nggak berguna seperti yang sering gue lakukan, ngebacot itu lebih nikmat dari ciuman Alistair!” seru Mikayla tanpa sadar. Gadis itu bahkan dengan refleks menutup mulutnya sendiri bahkan langsung melepaskan pelukan dari Alistair. Alistair menatap Mikayla dengan sangat lekat bahkan mata pria itu menyipit ke aarah Mikayla yang terlihat luar biasa paniknya, “jangan salah paham, kata-kata mutiara gue tadinya nggak mau kayak gitu yaampun otak sama mulut gue berkhianat banget! Padahal udah niat banget mau keren!” seru Mikayla dengan heboh. “Emang pernah ciuman?” tanya Alistair dengan jarak wajah yang cukup dekat dengan Mikayla, pria itu tersenyum tipis, tentu saja itu adalah bentuk senyuman penuh ledekan. Mikayla langsung mendorong kening Alistair dengan jari telunjuknya. “Pernahlah!”seru Mikayla dengan super songongnya, dia tidak ingin tampak semakin mengenaskan di hadapan Alistair, “jalanin mobilnya, mobil depan udah gerak!” seru Mikayla degan cepat. Lagi-lagi sekarang Mikayla ingin melarikan diri dari Alistair. Pria itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis. “Nggak usah senyum-senyum. Lo tersenyum di waktu yang nggak tepat banget. Nggak lucu!” seru Mikayla. Jalanan sudah kembali normal. Mikayla sangat bersyukur untuk itu. Di sisa perjalanan itu Mikayla beberapa kali menguap dan berakhir tertidur karena malam juga sudah semakin larut. Alistair merapikan sedikit selimut gadis itu kemudian fokus pada jalan yang benar-benar sudah lancar. Alistair mengamati gadis yang masih meringkuk seperti bayi itu dengan sangat lekat. Sudah hampir lima belas menit mobil Alistiar terparkir dengan sempurna di basement apartemen yang di tempati oleh Mikayla namun gadis itu tidak kunjung membuka mata. Sesaat Alistair menyadari bahwa Mikayla bisa terlihat sangat kalem ketika gadis itu tertidur. Rasanya pendengaran Alistiar benar-benar sangat tenang. “Mikayla sudah sampai,” ucap Alistiar. Tapi sepertinya itu sama sekali tidak berpengaruh karena alih-alih terbangun, Mikayla justru bergerak pelan mencari posisi yang lebih nyaman. “Mikayla Hadiningrat!” seru Alistar, dia menepuk pundak Mikayla beberapa kali sampai akhirnya gadis itu mengerjabkan matanya. “Udah sampai,” ucap Alistar. Mikayla langsung duduk dengan sangat cepat kemudian mengeluh sembari memegang kepalanya yang mendadak pusing. “Kenapa nggak bilang?” tanya Mikayla sambari melihat kearah Alistair. “Lo tidur terlalu nyenyak. Sekarang gih masuk,” ucap Alistair. Mikayla langsung mengangguk. Gadis itu kembali memakai sepatunya dan mengambil tas miliknya. “Kenapa lo bisa masuk ke basement?” tanya Mikayla, karena setahu Mikayla hanya orang-orang yang memiiki akses yang bisa masuk ketempat ini. “Menurut lo?” tanya Alistair. “Karena lo punya akses,” jawab Mikayla dengan sangat polosnya. Gadis itu terlihat belum benar-benar sadar sepenuhnya. “Nah itu,” jawab Alistair. Dia membiarkan Mikayla turun dari mobilnya. “Mikayla!” seru Alistair dari jendela mobil yang baru saja di turunkan oleh pria itu. Mikayla langsung menghentikan langkahnya dan menatap Alistair. “Apa?” tanya Mikayla. “Sorry and thank you,” ucap Alistair, sudut bibir pria itu terangkat membentuk sebuah senyum tipis. Mikayla terlihat mengerjabkan matanya dan mengangguk sembari melambaikan tangannya pada Alistair. Gadis itu terlihat mempercepat langkahnya meniggalkan basement. Mikayla sekarang tahu, walau terlihat sangat tenang Alistiar adalah seorang yang cukup sulit mengendalikan emosi dan mood-nya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD