14. Mantan Kekasih

1429 Words
"Mau minum sesuatu?" tawar Rich. "Boleh, kebetulan aku free sampe sore ini." Setelah sejenak melakukan obrolan singkat, Rich lantas segera menyelesaikan pembayaran belanjanya. Begitu keluar dari gerai tersebut, mereka berdua melangkah beriringan di tepian jalan dekat pelabuhan. Berjalan kaki di daerah sini sedikit melelahkan. Walau di area dekat perairan, tapi daratan Genoa terbentuk dari lereng-lereng pegunungan. Tak seperti pelabuhan pada umumnya yang cenderung datar, di Genoa mereka berdua justru terasa seperti sedang mendaki. Tak ingin membuang lebih banyak tenaga, Rich lantas mengajaknya menuju sebuah coffee shop dekat dengan Acquario. Tempat duduk di teras lantai dua adalah pilihan yang tepat. Mereka dapat melihat bangunan akuarium terbesar di Italy dari sisi kiri. "Nggak nyangka ketemu kamu pas kamu udah jadi kapten kapal, Rich." "Iya, 6 tahun?" tanya Rich seraya menyerahkan selembar kertas berisi makanan dan minuman yang mereka pesan. "Kayaknya udah 7 tahun. Terakhir kita ketemu itu sebelum Feyra wisuda." "Aku agak lupa, Ben." Ya. Ben. Lelaki asal Indonesia yang merupakan mantan ketua PPI Jerman. Lulusan kedokteran seperti Feyra, dan katanya sekarang sudah mengambil studi spesialis penyakit dalam. Mereka berdua sempat berteman cukup lama. Selain karena memiliki karakter yang serupa, keduanya juga menggeluti hobi yang sama. Kesamaan lain yang mereka punya adalah sebuah status hubungan. Mereka sama-sama mantan kekasih Feyra. "Kok bisa disini?" tanya Rich. "Tadi abis beli ini," ucap Ben sambil mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin amber berwarna coklat dengan corak emerald. "Buat adikku juga." Melihatnya, Rich lantas tertawa. Kalung itu hampir sama seperti kalung yang Rich beli untuk Sascha. Sebenarnya mereka bisa mendapatkan kalung serupa di mana saja. Tidak ada yang spesial dengan perhiasan satu itu. Namun, Rich dan Ben sepakat bahwa terkadang wanita memang lucu. Wanita akan menganggap berbeda atas sebuah benda yang dibeli di tempat yang berbeda. "Lagi liburan?" "Enggak. Mau ke rumah seseorang," jawab Ben. "Cewek?" Ben tertawa sambil mengangguk. "Iya." "Girlfriend?" "Calon istri." Rich bersorak ikut bahagia atas teman yang sebentar lagi akan menanggalkan status lajang. Ben akan menikahi seorang wanita asal Italia yang juga seorang dokter di rumah sakit tempat Ben bekerja. "Aku dulu sempet mikir kalo kamu bakal nikah sama Feyra," ucap Rich terang-terangan. Ben mengernyitkan dahi dengan ekspresi wajah yang tampak bingung tak mengerti. "Feyra?" "Oh c'mon, Ben. Kamu pernah rebut dia dari aku." "Wait, tunggu, Rich," sanggah Ben seraya menahan tawa. "Kayaknya ada yang perlu dilurusin." Sambil masih tergelak, Ben mengawali ceritanya dengan sebuah permintaan maaf. Dia dan Feyra memang sempat menjalin hubungan, tapi tak berlangsung lama. Jika tidak salah dalam mengingat, Ben hanya mampu bertahan selama tak lebih dari dua bulan. Keduanya berpacaran, tapi Ben justru merasa hanya menjadi pelarian. Hampir setiap hari, Feyra selalu membahas tentang Rich. Mulai dari kebiasaan mereka ketika bertemu, hingga rasa sakit hati Feyra atas kedekatan Rich dengan banyak wanita. Ben dan Feyra sering menghabiskan waktu bersama, tapi Feyra hampir selalu salah memanggil namanya. Bahkan suatu ketika saat Ben memeluk Feyra yang tengah menangis, wanita itu justru menyebut nama Rich. "Harusnya aku yang marah sama kamu, Rich. Aku cuma jadi badut di antara kalian," ucap Ben. "She still fuckingg love you." Rich seketika terdiam, kemudian tersenyum. Ben lantas kembali menjelaskan bahwa betapa Feyra ingin kembali bersama Rich saat itu. Hanya saja, dia terlalu takut jika saja Rich mengulangi kesalahan yang sama. Bagi Feyra, Rich memang selalu menjadi yang terbaik. Dia adalah satu-satunya lelaki yang paling banyak mengerti. Rich selalu memperhatikan Feyra sampai detail terkecil. Dia juga orang yang paling tahu tentang apa yang Feyra suka dan tidak suka. Rich hapal di luar kepala daftar makanan yang akan Feyra pesan saat mereka mengunjungi restoran. Bahkan Rich tahu kebiasaan Feyra tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh hingga paha, tapi membiarkan kedua kakinya tetap terbuka. "Dia masih sayang, tapi agak yang trauma liat kamu deket sama cewek-cewek. Mana selinganmu banyak banget lagi. Kalo aku abangnya Feyra, kamu udah aku bunuh, Rich. " Rich tersenyum lagi. Bedanya, kali ini senyumnya tampak jauh lebih getir. Kedua bibirnya juga rapat, tak mampu menjawab. "Saat itu, Feyra emang serapuh itu, Rich." Suasana mulai berubah sendu. Rich mengaku salah. Dia juga dilanda rasa penyesalan luar biasa. Namun, dia tak pernah bisa mengubah masa lalu. Satu-satunya hal yang bisa Rich lakukan adalah tidak lagi membiarkan Feyra terluka. Pengakuan dan cerita dari Ben menjelma seperti sebuah tikaman benda tajam. Rich harus rela didera rasa perih saat mengetahui bahwa Feyra ternyata merasakan luka yang sama akibat perpisahan mereka. Feyra sama terpuruk seperti dirinya. Walau begitu, Rich akui bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang patut dipersalahkan. Jika Rich lebih menjaga hubungan mereka, pasti tak akan ada luka yang separah ini. Beberapa kali Rich membuang wajah ke arah lautan lepas. Sejenak menetralisir perasaan agar tak terlalu hanyut dalam setiap kalimat yang keluar dari mulut Ben. Pemandangan perairan dan deretan kapal kecil yang terparkir rapi, sedikit mampu memberikan penghiburan bagi hati Rich yang tengah berantakan. "Tapi ya udah si. Forget it. Udah berlalu," lanjut Ben. Rich hanya bisa meringis. Bagaimana dia bisa lupa? Rich masih ingat, dan akan selalu mengingat. Hal itu memang sudah berlalu, tapi Rich kini sedang menulis kisah yang baru. "Aku juga udah nggak tau gimana kabar Feyra. Sejak dia nikah, kita udah nggak keep in touch. Semoga dia baik-baik aja," ucap Ben. "Dia baik-baik aja kok," balas Rich singkat. Ben sontak menatap Rich dengan wajah antusias. Melalui sorot matanya, Ben mulai mengulik tentang apa saja yang Rich ketahui tentang Feyra. Masih sambil menyesap secangkir minuman hangat, Rich lantas mengaku bahwa Feyra bekerja di kapal yang sama dengannya. Mereka bertemu sejak sekitar dua bulan yang lalu. Rich sama sekali tak menyembunyikan apapun. Dia juga membiarkan Ben menangkap binar mata dan senyuman lebar Rich saat dia bercerita tentang Feyra. Dua lelaki itu memang tak membahas secara terang-terangan tentang perasaan. Namun, Ben dapat melihat dengan jelas bahwa temannya ini masih menaruh hati pada Feyra. Walau Rich tidak mengungkapkannya, tapi sebagai sesama lelaki, Ben yakin seyakin-yakinnya. "Rich, sorry. Kamu udah tau kan kalo dia udah nikah?" "Tau." Ben lantas mengusap wajahnya dengan gerakan kasar. Dulu, dia pernah berada di antara hubungan Rich dan Feyra yang masih labil. Kini, dia terlibat lagi dalam hubungan yang sepertinya sangat ... rumit. "Terus kalian ... ?" tanya Ben menggantung pertanyaannya. "Kalian gimana?" Rich tersenyum. Dia bisa mengerti bahwa Ben kesulitan menemukan kata yang tepat untuk menanyakan hal ini. Rich dan Feyra sendiri saja tak bisa menamai dengan sebutan apa hubungan mereka sekarang. "Aku cuma pengen buat dia bahagia. Aku bersumpah nggak akan ada lagi kesalahan yang kayak dulu, Ben." "Rich, sorry to say. Tapi kupikir dia udah bahagia dengan pernikahannya," balas Ben. "Bahagia? Kamu yakin?" "Yup. Aku tau gimana Feyra sama Freddy ketemu. Aku liat sendiri gimana mereka berdua saling jatuh cinta. Thank God, Tuhan ngasih Feyra lelaki yang sebaik Freddy." Rich tetap dalam ekspresi datar. Dia memasukkan sebuah kentang goreng ke dalam mulut yang sialnya begitu sulit ia telan. Bahkan seteguk minuman pun kini terasa seperti berhenti di tenggorokan. Ben melanjutkan secara singkatnya tentang Freddy. Katanya, dia tinggal satu komplek dengan Feyra yang saat itu sedang menjalani koas di Frankfurt. Berdasarkan cerita Ben, Freddy adalah lelaki yang cukup diidamkan banyak wanita. Dia memiliki reputasi yang baik dan sederet tipe ideal juga ada pada dirinya. Freddy memang tak berasal dari keluarga kaya raya. Keluarganya rata-rata adalah pelaut, sama sepertinya. Gosip miring memang pernah terdengar. Namun, Ben tetap dapat melihat keseriusan dan kasih sayang yang ditujukan Freddy kepada Feyra. "You sure?" tanya Rich. "Yup." Sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali, Rich lantas membandingkan cerita Ben dengan beberapa rekan kerja satu kapal. Ben tak mungkin berbohong mengenai ceritanya tentang Freddy. Namun, para officer kapal juga tak mungkin berbicara omong kosong. "Kapan terakhir kamu kontak sama Feyra?" tanya Rich. "Sebulan setelah dia nikah. Kabar terakhir, mereka pindah ke München. Dia sempet telpon aku minta ketemu di hari Minggu. Tapi pas aku udah sampe di cafe yang kita janjiin, Feyra malah nggak dateng. Sejak saat itu nomor hp-nya udah nggak aktif dan aku cuma dapet kabar dari Freddy kalo dia lagi demam." Ben menceritakan detail itu dengan ekspresi biasa saja. Dia bahkan bicara tanpa terlihat ada rasa curiga. Berbanding terbalik dengan Rich yang segera menemukan sebuah kejanggalan. Rich memang tidak tahu pasti apa yang terjadi, tapi dia punya prespektif lain terhadap hubungan Feyra dan Freddy. Dia merasa ada sesuatu yang Feyra sembunyikan. Entah apa, yang jelas feeling Rich biasanya tak pernah meleset. "Aku perlu nomor telpon kamu, Ben. Kuharap kita bisa ketemu lagi lain kali," ucap Rich. Setelah melanjutkan dengan beberapa obrolan ringan, Rich lantas segera berpamitan. Dia melihat ke arah jam tangan, dan memprediksikan di mana Feyra berada di waktu sekarang. Sepertinya, mereka berdua perlu bicara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD