15. Terungkap

1663 Words
"Ikut aku bentar," titah Rich kepada Feyra. Feyra sempat terkejut akan kedatangan Rich yang tiba-tiba. Dia sedang berjalan ke arah kolam renang, tetapi Rich menarik tangannya dari belakang. Lelaki itu juga berucap bahwa tak ada seorang pun yang melihat. Tak perlu khawatir. "Kemana?" "Captain cabin." "Nggak mau. Takut. Sebelahan sama bridge, 'kan? Pasti banyak officer." Walau sudah menolak, tapi Feyra tetap saja berjalan mengekori langkah Rich. Sambil terus mengayunkan kaki, Feyra menoleh ke kanan dan kiri. Area ini termasuk tempat yang cukup asing baginya. Walau terkesan lebih eksklusif, tapi tetap saja terasa kurang nyaman. Beberapa kali Feyra meminta agar Rich saja yang datang ke kabin miliknya. Namun, Rich tetap berkata tidak. Hari ini bisa dikatakan sebagai free time untuk para pekerja kapal. Deck bawah pasti akan lebih ramai dari biasanya. "Pengen ketahuan?" tanya Rich. "Emang kenapa kalo ketahuan?" tantang Feyra. Bibir Rich melengkungkan senyum separuh. "Ya udah ayo, biar pada liat." "Enggak enggak, becanda," tolak Feyra cepat karena Rich hampir saja nekat membawanya turun. Sempat sedikit tertawa, Rich kemudian membuka pintu kabin dan membawa Feyra masuk. Tangannya lalu terulur menggerakkan kunci pintu. Setelahnya, Rich juga beralih menuju pintu penghubung ke arah bridge. Dia harus menguncinya juga. Lampu kabin menyala dengan terang walau masih siang. Rich sengaja tak membuka tirai, karena sisi kiri jendelanya langsung mengarah ke anjungan. Tak seluruhnya terlihat, tapi tak ada salahnya berjaga-jaga. Bermain lebih rapi dan aman adalah sebuah keharusan. "Aku berasa diculik," keluh Feyra yang kini dipaksa duduk di hadapan Rich. "Emang," ucap Rich sambil menuang segelas minuman. "Minum dulu, kita perlu ngobrol sebentar." Feyra menurut. Dia sudah melihat kilat serius pada sorot mata Rich. Mantan kekasihnya ini terbilang cukup dominann. Dan setelah menjadi seorang kapten kapal, sepertinya Rich jadi lebih suka mengatur. Namun, tak apa. Rich selalu bisa menempatkan diri kapan harus tegas dan kapan harus mengalah. Separuh air dingin sudah membasahi rongga mulut Feyra. Dia bisa menduga bahwa ini akan menjadi pembicaraan yang menegangkan. Setelah menaruh kembali gelasnya di atas meja, Feyra lantas menanyakan apa yang akan Rich katakan. Feyra tahu, Rich tak pernah suka basa-basi. "Aku abis ketemu Ben." "Ben?" "Iya, mantan ketua PPI," jawab Rich sambil tersenyum sedikit. "Sekaligus mantan pacar kamu." Feyra lantas memutar bola matanya malas. "Ngobrolin apa kalian?" "Banyak, tapi aku mau tanya satu hal aja sama kamu. Aku pengen kamu jujur, sebenernya kamu sama Freddy tu gimana?" "Emang Ben cerita apa?" tanya Feyra. "Ya intinya, suami kamu itu baik," jawab Rich. "Fey, aku bukan mau ikut campur urusan rumah tangga kamu. Tapi aku terlanjur masuk di hidup kalian." "Ben tau tentang kita?" "Aku nggak bilang apa-apa, tapi mungkin dia udah tau sendiri," jawab Rich. "Bener yang Ben bilang. Dia emang baik." "Tapi?" tanya Rich. Dia bisa meraba ada sesuatu yang janggal saat Feyra membenarkan tentang kebaikan suaminya. Feyra seperti menyembunyikan sesuatu, dan Rich bersumpah akan membuat Feyra mengatakan segalanya. Rich merasa berhak tahu dan dia memang tak ingin Feyra menutupi apapun mulai sekarang. "Tapi apa?" balas Feyra balik bertanya. Wajah Feyra tampak gamang. Dia tahu maksud ucapan Rich, tapi lebih memilih pura-pura tidak tahu. Jika diamati lebih dalam, Feyra seperti menyimpan sebuah rasa takut. Mungkin ini yang membuat Feyra tak nyaman untuk menjawab pertanyaan Rich. Perlahan, Rich lantas bergerak mendekat. Dia meraih helai rambut Feyra yang menjuntai menutupi pipi. Setelah sedikit memberikan belaian lembut, Rich kemudian mendaratkan sebuah kecup. Melalui lakunya itu, Rich tengah berusaha membujuk. Rich mencoba meyakinkan Feyra bahwa apapun faktanya, Rich akan tetap menerima dan menyayanginya. Tak perlu menutupi apapun, karena Rich menjamin kebenaran sebuah kata, I'll love you no matter what. Sedikit mencondongkan badan, Rich kemudian meraih dagu Feyra agar terangkat. Dia terus menantang kedua manik Feyra yang mulai berkaca. Feyra harus sedikit dipaksa dan didesak agar mau bercerita yang sebenarnya. Bukan berarti tidak jujur, Rich tahu betul kalau wanita satu ini memang sulit terbuka. "Fey, sebenernya ada apa?" tanya Rich pelan namun penuh nada interogasi. "Nggak ada, Rich. Aku sama Freddy emang kebetulan LDR, terus aku kebetulan ketemu kamu. Semua serba kebetulan." "Kita satu kapal, mungkin kebetulan. Aku kena alergi terus ketemu kamu, mungkin kebetulan. Tapi kebersamaan kita selama beberapa waktu belakangan, pelukan itu, ciuman itu, apa itu kebetulan? Perasaan kamu ke aku apa itu kebetulan? Enggak, Fey. Nggak semua kebetulan. Am I right?" "Rich, terlalu susah dijelasin," kilah Feyra. "Aku cuma perlu kamu jawab, iya atau enggak." "Iya." "Ok. Kamu sama Freddy ada masalah?" "Iya." "Itu kenapa akhirnya kamu lari ke aku?" "Enggak, Rich. Aku sama kamu itu murni dari perasaan aku sendiri," jawab Feyra jujur. "Ok. Kalian ada masalah yang nggak bisa kalian selesein, jadi kamu mutusin buat menjauh, terus kebetulan ketemu aku?" tanya Rich. "Iya." Rich tersenyum. Dia sudah berhasil sedikit demi sedikit menggiring Feyra menuju pembahasa inti. "Kalo dia baik kenapa kamu harus pergi? Dia punya sisi yang lain?" tanya Rich lagi. "Iya." "Apa? Ceritain." Feyra mengawali cerita dengan pertemuannya bersama Freddy. Rumah mereka bersebelahan. Rasa ketertarikan Freddy padanya sudah bisa Feyra rasakan sejak awal. Dia sering datang dan mengajak jogging bersama, atau sekedar mengirimkan makanan. Kedekatan keduanya berlanjut layaknya pasangan pada umumnya. Freddy cukup manis, romantis, dan pandai meluluhkan hati Feyra. Satu hal yang membuat Feyra akhirnya yakin pada Freddy adalah kesetiaannya. Jujur, hal nomor satu yang Feyra takutkan adalah perselingkuhan. Dia sangat menghindari kejadian seperti saat bersama Rich dulu. Dan Freddy cukup bisa membuktikan bahwa Feyra memanglah satu-satunya. Bahkan lelaki itu tidak gentar saat Feyra menyinggung soal pernikahan, berbanding terbalik dengan lelaki Eropa lain yang biasanya akan berpikir dua kali jika ditanya tentang komitmen. Hanya selang satu bulan, Freddy melancarkan sebuah surprise wedding proposal. Ini adalah hal yang sangat di luar dugaan Feyra. Dia sangat tersentuh dengan segala macam upaya Freddy dalam mendekatinya. Hingga pada akhirnya, Feyra kemudian memantapkan hati dan menerima lamaran Freddy. Saat masa awal pernikahan mereka, tak ada sedikit pun mencurigakan. Freddy tetap menjadi partner yang sangat menyenangkan. Namun, suatu malam mereka terlibat pertengkaran saat Feyra mendapati Freddy melakukan video call s*x dengan seorang rekan kerja satu kapal. Feyra sudah mencoba mengajaknya bicara baik-baik, tapi Freddy tak terima dan terus menyalahkan Feyra. Dia berucap, istrinya itu tak mampu memberikannya kesenangan. Permohonan maaf sudah Feyra layangkan. Dia juga berjanji akan menjadi lebih baik lagi. Sayangnya, rumah tangga mereka mulai goyah bahkan saat baru memasuki usia satu bulan. Sejak saat itu, untuk pertama kalinya, Freddy berani melibatkan kekerasan secara fisik. Feyra ingin menyangkal. Dia seolah tak percaya bahwa Freddy bisa berubah drastis seperti ini. Namun, luka dan memar di tubuh juga wajahnya seolah memberi bukti bahwa Freddy nyatanya memang tidak sebaik saat pertama kali Feyra mengenalnya. "Kenapa kamu nggak pergi aja? Minta pertolongan sama seseorang. Kamu nggak sendirian, Fey," ucap Rich yang mulai murka mendengar pengakuan Feyra. "Udah. Saat itu, orang terdekat aku cuma Ben. Aku udah ajak dia ketemu, aku mau cerita semua, tapi pas aku mau pergi malah ketahuan Freddy." Saat itu, Freddy melarang sambil memohon agar Feyra tak membocorkan semua masalah rumah tangga mereka. Lelaki itu bahkan sambil berlutut dan menitikkan air mata. Dia juga berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya dan berubah menjadi lebih baik lagi. Sayangnya, hal yang sama kembali terulang. Perdebatan akan selalu berujung pada kekerasan fisik. Dan saat Feyra akan pergi, Freddy kembali menjerat wanita itu dengan berbagai bujukan dan juga janji. Mungkin bagi sebagian orang, Feyra akan dinilai bodoh. Namun kenyataannya, memang sangat sulit keluar dari sebuah hubungan toxic. Tidak mudah terlepas dari siklus di mana Feyra sangat diperlukan baik dan dicintai, lalu dikhianati, lalu dijadikan korban kekerasan, lalu dibujuk dengan permohonan maaf dan tangisan, lalu kembali diperlukan seperti ratu kerajaan, lalu kembali dipukuli saat mereka terlibat pertengkaran. Pergi dari Freddy dan memutuskan status pernikahan mereka memang terlihat mudah bagi sebagian orang yang tidak pernah merasakan toxic relationship. Namun, bagi Feyra yang mengalami langsung, itu adalah hal yang teramat berat. Bahkan, dia perlu waktu sampai enam tahun hingga Feyra berada di titik di mana dia sudah merasa sangat lelah dan menyerah. Dan .... ya. Nyatanya, butuh waktu sepanjang itu untuk Feyra agar benar-benar sadar. Awalnya, tujuan Feyra bergabung di Diamant Cruise Line karena ingin mencari modal untuk hidup mandiri tanpa Freddy. Hidup di Jerman tidaklah murah, dan gaji di kapal pesiar cukup bisa menjamin masa depan Feyra. Namun, semesta justru kembali mempertemukan Feyra dengan Rich. Lelaki yang menempati ruang tersendiri di hati Feyra. Lelaki yang kini kembali masuk ke dalam kehidupan Feyra. "Kenapa nggak bilang dari dulu, Fey," ucap Rich sambil megernyit. "Rich, seandainya kamu tau, kalo keluar dari hubungan yang kayak gini itu susah banget. Nggak semudah yang orang lain pikirin. Kalian nggak bakal ngerti kalo kalian belum ngalamin langsung kayak aku," papar Feyra dengan suara yang mulai parau. Rich terdiam. Ada kerapuhan dalam sorot mata Feyra yang sudah basah. Demi Tuhan, Rich seolah merasakan luka yang sama. Tanpa mau mendebat lagi, Rich kemudian mendekap tubuh Feyra. Dia menenggelamkan kepala Feyra dan membiarkan air mata itu membasahi baju seragamnya. "Barusan Freddy WA aku, Rich," keluh Feyra lagi. "Bilang apa dia?" Feyra lantas menceritakan tentang saat beberapa hari lalu ia menelepon Freddy. Waktu itu, panggilannya dijawab oleh seorang rekan kerjanya. Feyra mengaku bahwa di saat itulah dia tahu tentang status pernikahan yang ternyata Freddy sembunyikan. Setelah membeberkan kejadian itu, Feyra kemudian memberikan ponselnya kepada Rich. Layarnya sudah menunjukkan sebuah riwayat pesan antara Freddy dan juga Feyra. Freddy: Fey, aku pikir kita bisa jaga privasi masing-masing. Kamu ngomong apa sama temen aku? You f****d up! Feyra: Apa pernikahan kita harus dirahasiakan? Dari siapa? Biar apa? Freddy: Just shut up! Stop fuckingg around! Membaca deretan pesan itu, amarah Rich seketika mendidih. Dia mengembalikan ponsel milik Feyra kemudian langsung berbalik. "Aku bisa beresin dia sekarang juga!" "Rich, nein! Enggak, jangan," cegah Feyra yang berlari sambil memegang lengan Rich. "Why?" "Jangan, please. Biarin aja." Bulir bening di kedua mata Feyra keluar dengan semakin deras. "Jangan pergi. Aku cuma butuh kamu sekarang. Jangan kemana-mana." Tak kuasa melihat Feyra tertunduk di hadapannya, Rich lantas mengangguk. Dia ikut menunduk kemudian kembali memberikan peluk. Dalam hati, Rich bersumpah bahwa dia tak akan melepaskan Feyra lagi, apalagi kepada Freddy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD