Bukan perkara biasa untuknya menghabiskan waktu meladeni perempuan-perempuan yang bahkan tidak ia kenal. Semua ini ulah sang mama yang memaksanya jalan tiap malam minggu dengan anak dari teman-temannya. Katanya ini demi memperluas relasi dan koneksinya.
Sementara ini Biru masih bisa menerima alasan buatan itu. Jelas ia tahu niat mamanya yang terlihat ingin menjodoh-jodohkan dirinya dengan anak dari salah satu teman-temannya. Kadang yang ia tidak mengerti adalah mengapa mamanya itu ingin sekali ia dekat dengan seorang perempuan. Padahal sebelumnya, wanita yang selalu berpakaian anggun itu selalu bertanya-tanya tentang Dira.
“Mama kan juga mau ada temen ngobrol, Bang.” Begitu alasan yang digunakan setiap Biru bertanya. Padahal ia tahu mamanya itu hanya tinggal datang ke arisan dan done, masalah selesai.
Berhubung untuk beberapa waktu tidak ada kegiatan apapun di malam minggu, jadilah ia menyetujui ide tidak masuk akal wanita kesayangannya itu. Berbagai macam tipe perempuan rasanya sudah pernah ia temui. Beberapa membuatnya mundur seribu langkah, beberapa membuatnya manggut-manggut saja, dan ya beberapa memang membuatnya kagum. Hanya sebatas kagum. Catat itu.
Pernah suatu ketika ia bertemu dengan perempuan yang bule banget. Bukan, bukan mukanya. Aksen bicaranya juga biasa saja. Saat itu mereka telah membuat janji temu di sebuah restoran. Kebetulan restoran itu milik kenalannya dulu saat masih menjadi mahasiswa baru. Restoran ini memiliki menu seasonal yang tidak bisa dipesan secara ala carte. Yang mereka dapatkan saat itu beragam menu Indonesia, mulai dari appetizer hingga dessert. Dengan terang-terangan, perempuan itu minta dibuatkan steak atau pasta yang jelas tidak ada di menu seasonalnya saat itu.
“Maaf Kak, untuk menu tersebut kami sedang tidak ready.” Pelayan itu sudah berkali-kali menjelaskan hingga membuat Biru merasa tidak enak. Akhirnya ia memutuskan untuk pindah restoran sambil meminta maaf kepada pelayan itu atas perlakuan dari rekan kencannya.
Pernah juga ia kencan di kafe. Pakaian yang cocok untuk makan di kafe harusnya santai dan casual, ‘kan? Tapi saat itu Biru benar-benar dibuat tercengang karena perempuan yang ia temui menggunakan dress pendek berbalut lengan yang agak mengembang. Jujur saat itu ia ingin balik badan dan pulang. Walaupun begitu, obrolan mereka cukup nyambung dan Biru tidak merasa terlalu canggung. Sejak menuruti ide sang mama, memang malam minggunya jadi seperti krayon. Berwarna-warni.
“Mama mau sampai kapan deh kenalin aku ke anak teman-teman Mama? Biru lagi persiapan bikin tugas akhir sama mulai bantu abang di perusahaan.” Biru baru saja pulang dari kencan yang melelahkan. Sungguh, kali ini dibuat repot.
Tubuhnya merebah di sebelah mamanya yang sedang menonton acara memasak. Ah, Biru jadi lapar lagi.
“Memang kamu nggak bisa bagi waktu?” Tangan wanita itu mengganti saluran tontonannya. “Bukannya malah bagus bikin kamu refresh lagi?”
Biru mendesah. “Nggak Ma. Mereka lebih banyak yang merepotkan.”
Kedua alis wanita itu mengernyit. “Masa sih? Mama lihat mereka oke-oke aja kok, nggak ada yang aneh-aneh.”
“Ya itu kan di depan Mama, beda lagi kalau di depanku.” Biru meregangkan otot-ototnya yang kelewa kaku. Sudah hampir dua minggu ini ia melewatkan sesi gym tiap pagi-sore.
“Atau kamu kenalan sama anak teman Mama yang dari Singapura deh. Mau nggak?”
Biru menoleh dan menggeleng cepat. “Nggak, makasih Ma. Biru mau fokus sama kerjaan aja mulai sekarang.”
Wanita dengan terusan dress berwarna cerah itu hanya mendesah kecewa, tapi tidak bisa juga memaksa sang anak untuk mengikuti kemaunnya.
“Kalau itu maumu ya sudah, Mama tidak mau memaksa lagi. Tapi ingat ya Bang, jangan keasikan kerja. Mama juga mau punya mantu.” Mata sayu itu mengerjap sempurna, membuat Biru terkekeh.
“Kan ada Mbak Vanilla yang udah ready,” jawabnya disambut gelengan merajuk sang mama. “Mama maunya kamu juga punya, Bang.”
“Iya nanti Biru cari, tapi sabar. Biru nggak akan cari dalam waktu dekat.” Jawaban itu sontak membuat mamanya kembali melemaskan bahu. “Kalaupun nanti ada, Mama jangan bikin pacar Biru kerepotan ya.”
Mamanya mendelik, hampir memukul pundak anaknya itu. “Kapan Mama pernah gituin mantan-mantan kamu?”
“Ya enggak sih.” Biru tertawa kecil. “Biru kan Cuma pesan aja, Ma.”
“Lagian kalau kamu punya pacar juga Mama bakal lebih sering ajak pacarmu itu masak, ngobrol, belanja, atau apalah yang bikin dia senang,” ucapnya berandai-andai.
Biru menepuk tangan. “Itu dia, Ma. Boleh sih, tapi kalau bisa jangan sering-sering. Kasian pacarku nanti.”
Pundak laki-laki itu kembali terkena pukulan. “Halah. Mamamu ini mau dekat juga sama calon mantu anaknya, nanti dikira Mama itu ibu mertua yang galak.”
Biru mengaduh dan mengusap bekas pukulan itu. “Iya Mama.”
Setelah percakapan pacar-calon mantu, keduanya kembali sibuk dengan aktivitasnya. Gina kembali menonton televisi, sedangkan Biru tiba-tiba tercetus ide dalam otaknya yang masih ragu-ragu ia ungkapkan. Insting ibu mana yang tidak pernah salah kepada anaknya. Kegusaran Biru jelas terdeteksi oleh Gina.
“Ada yang mau diomongin, Bang?” Gina membuka percakapan mereka kembali. Kali ini dengan nada yang lebih serius.
Biru tidak langsung menjawab. Ada jeda beberapa menit sebelum akhirnya ia memberanikan diri. “Ma, Biru mau ngomongin rencana jangka pendek selama lima tahun ke depan. Biru butuh saran sebelum ngomong ke Papa.”
“Iya gimana?” Volume televisi sudah mencapai batas minimum ketika Gina memencetnya.
“Jadi, rencananya lima tahun ke depan setelah cukup untuk kerja di perusahaan kita, Biru mau lanjut S2 dan mau bikin perusahaan sendiri, rencana sih tentang media gitu.”
Gina tersenyum. “Go ahead. Mama dukung selagi itu membuatmu berkembang.”
“Tapi Biru nggak yakin sama respons Papa nanti,” keluhnya yang menimbulkan tanda tanya bagi Gina.
“Kenapa memang?”
Biru terdiam sejenak. “Mama tahu sendiri gimana Papa ngebanggain Bang Rey. Papa kalau sudah bangga sama abang, Biru jadi nggak kelihatan.”
Gina menghela napas. “Kamu nggak usah terlalu pikirin itu. Fokus aja sama yang mau kamu bangun, Papa nggak usah tahu nggak apa-apa. Nanti kan kelihatan hasil kerja keras kamu. Setelah itu, Papa nanti pasti lihat dan bangga sama kamu.”
“Kalau aku startnya di luar negeri gimana, Ma?” Pertanyaan kali ini cukup berat untuk dijawab oleh Gina. Pasalnya, ia sulit menahan rindu pada anak-anaknya. Sungguh, bila disuruh memilih jauh dari suami atau anak-anaknya ia akan secara cepat menjawab jauh dari suami. Gina terlalu lemah jika sudah menyangkut ketiga anak laki-laki kesayangannya itu.
“Harus banget ke luar, Bang? Nggak bisa di sini aja temani Mama?” bujuknya dengan lembut, takut mendapat penolakan keras dari anaknya itu.
“Untuk staring, Biru lebih yakin di luar Ma. Nanti, kalau udah lebih stable kira-kira 5-10 tahun, Biru pasti pulang.”
“Abang! Itu lama banget!” serunya dengan mata berkaca-kaca.
Laki-laki itu mengendikkan bahunya. “Ya masih belum tahu juga sih, Ma. Itu perkiraan paling lama aja. Biru juga nggak Cuma fokus ke sana kok, nanti Biru juga bakal bantu-bantu perusahaan kalau-kalau perusahaan Biru nanti butuh sokongan dana,” kekehnya di akhir.
“Kamu udah pikirin matang-matang?” Gina duduk menghadap anaknya itu. “Kalau Mama sih keberatan kamu segitu lama di luar. Lima tahun udah paling maksimal lah, itu pun kamu harus pulang setidaknya satu tahun sekali. Mama nggak mau tahu ya Biru.”
“Selebihnya nanti bisa kamu diskusikan ke Papa terkait kepindahan kamu itu,” lanjutnya.
Biru menghela napas. Ia sudah menduga jawaban mamanya tidak akan merelakan dia pergi selama itu. Tapi paling tidak ia sudah mengantongi restu unuk rencana yang ia buat pada lima tahun mendatang. Semoga saja semua berjalan lancar. Ya, semoga tidak ada yang membuatnya keberatan unuk pergi.
Tangannya memutar kemudi dengan lihai. Mobil melaju memasuki area parkir kampus yang hampir ia tinggalkan. Setelah obrolan tadi, ia mendapat pesan untuk datang ke persiapan acara seminar besok. Jadilah petang di malam minggu ini ia datang ke kampus. Biru sendiri juga tidak tahu mengapa dirinya yang diajak, padahal dia juga sudah hampir setengah tahun tidak mengunjungi kampus.
“Thankyou ya lo udah mau datang. Kia kerepotan banget nih.” Biru baru saja datang ke audiorium yang sudah dihias sedemikian rupa dan langsung disambu oleh si pengirim pesan.
“Emang kenapa?” Matanya menjelajah dari sudut ke sudut ruangan. Rupanya tidak ada yang berubah.
“Ini LO kita ngilang. Lo tahu sendiri kan besok seminar yang datang siapa aja?” Laki-laki itu bercerita pokok permasalahannya.
“Ya, gue tahu.” Biru berjalan mengelilingi audit sambil mendengarkan laki-laki itu berbicara di sampingnya.
“Nah, salah satu pembicaranya kan abang lo, nih.” Kalimat pembuka itu disambut dengan senyum miring Biru. Dia tahu ini pasti akan menjadi merepotkan. “Berhubung LO yang ngurusin abang lo ngilang, gue minta tolong sama lo ya buat ngegantiin?” pinta laki-laki yang berbalut jaket angkatan itu.
Biru menghentikan langkahnya. Ia menghela napas sejenak sebelum berbicara. “Abang gue nggak repot. Lo tinggal sediain makan minum dan ruangan yang nggak panas udah cukup.”
Jawaban itu disambut gelengan keras. “Enggak. Nggak enak kalau nggak ada LO-nya. Paling nggak ada yang nemeninlah. Ini kita hectic banget, orangnya ngepas.”
“Kal, abang gue nggak akan nuntut even kalian nggak ada LO.” Biru menepuk sebelah pundah Raskal.
Wajah Raskal memelas. “Please, Bi. Gue minta tolong banget ini.”
Permintaan itu membuatnya mendesah. Malas sekali ia harus menemani abangnya seharian besok, tapi kalau tidak ada LO juga merepotkan panitia yang akan berkoordinasi dengan sikap cuek abangnyaa itu.
“YES!” Raskal berseru ketika akhirnya Biru mengangguk. Ya, lagipula besok ia hanya ada janji dengan Kai. Paling ia hanya tinggal bilang, “sorry gue besok nemenin Bang Rey seminar” dan laki-laki itu mungkin hanya mengamuk sebentar.
“Ini rundownnya.” Raskal menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Biru yang sekarang sedang melihat dengan serius dokumen itu. “Ini juknisnya.”
“Lo besok boleh datang satu jam sebelum acara dimulai,” ucap Raskal menepuk sebelah pundak Biru. “Tenang, lo kebagian konsum.”
“Haruslah. Kalau nggak, gue obrak-abrik acaranya,” jawab Biru dengan raut wajah Raskal sudah cemberut.
“Bercanda.”
Crazy Vanity
Pagi-pagi Biru sudah sampai di site. Ia sengaja datang lebih pagi, selain untuk menghindari macet juga bantu-bantu panitia. Biru juga sudah memberi tahu kakaknya soal kegiatan hari ini. Laki-laki itu hanya perlu datang, menunggu di ruangan sampai namanya dipanggil, berbicara ini itu di panggung, setelah itu dia bisa langsung pulang. Biru sengaja tidak memberi kelonggaran waktu untuk bersantai karena ia tahu betapa sibuk penerus Obsidian Corp itu.
“Abang lo, ehm, maksud gue Pak Rey udah bakal ready jam 9 kan?” Raskal dengan papan jalan dan lanycard yang menggantung di leher itu menyambut kedatangan Biru dengan senyum, walaupun wajahnya saat ini sangat terlihat kelelahan.
“Iya, udah. Setengah jam lagi doi jalan,” jawabnya sambil melihat isi chat di ponsel.
Raskal mengangguk. “Oke, aman kalau gitu.”
“Ada yang perlu dibantu nggak?” tanya Biru, semua terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Raskal berpikir sejenak. Tawaran Biru ini memang bukan main. Alumni mana yang dengan senang hati membantu para mahasiswa ini menjadi b***k event?
Oh!
Raskal baru ingat. “Lo bantuin anak media buat prepare aja. Juknisnya udah ada di file yang gue kirim semalam.”
“Anak media? Si Prima?” Biru sedikit mengenalnya karena mereka sempat beberapa kali hangout untuk mencari ide foto. Ya, Biru lumayan suka dengan fotografi.
Anggukan Raskal membawanya ke basecamp Media Kampus. Beberapa kali ia juga pernah nongkrong di basecamp mereka. Tangannya terangkat mengetuk pintu. Setelah beberapa ketukan, pintu baru dibukakan. Bukan, bukan Prima yang membukakan pintu.
Dia perempuan. Wajahnya manis, tapi terlihat galak. Itu kesan pertama yang didapat Biru. Belum juga Biru bicara, perempuan itu sudah menyalak lebih dulu. “Siapa ya?” Nada ketusnya hampir membuat Biru tertawa.
“Gue?” Telunjuknya mengarah pada dadanya. “Biru.”
“Primanya ada?” Biru bertanya selagi perempuan itu memindai dirinya dari atas ke bawah.
Matanya mengerjap. Mungkin terkejut kalau dirinya mengenal pimpinan Media Kampus. “Mas Prima?”
Wajah gadis itu lugu. Sesekali alisnya bertaut. “Mas Primanya nggak ada hari ini. Kenapa?”
“Tadi kata panitia gue disuruh bantu anak media. Lo anak media kan?”
Gadis itu mengangguk. Rupanya dia memang sedang butuh bantuan karena setelah itu pintu dibuka lebar dan mempersilakan Biru masuk.
Di ruangan itu hanya ada kamera dan laptop yang tergeletak di lantai. Rupanya gadis itu sedang sendirian.
“Lo sendiri?” Gadis itu mengangguk lesu. Fokusnya kini pada ponsel yang ada di tangannya seperti hendak menghubungi seseorang.
Biru berusaha abai dengan bermain ponsel. Namun, percakapan itu sepertinya tidak berjalan dengan baik karena saat ini gadis di depannya itu sedang berdecak kesal berkali-kali. “Lo tuh tanggung jawab kenapa, sih?! Gue aduin Mas Prima mampus lo.” Begitu kalimat terakhir yang diucapkan si gadis sebelum menutup panggilan dengan sepihak.
“Sorry ganggu sesi marah-marah lo. Jadi, ini gue bantu apa?” Biru bertanya dengan hati-hati.
“Bentar!”
Biru mengulas senyum kecil. Bentakan itu tak lantas membuatnya ikut marah. Gadis itu terlihat sangat kerepotan. Dan kalau boleh ia tebak, sepertinya salah satu anak divisi fotografi yang bertugas tidak datang.
“Lo bisa setting kamera nggak?” Gadis itu menyerahkan kamera kepadanya.
“Dikit,” jawab Biru singkat. Tidak butuh waktu lama untuk membuat kamera itu bisa langsung digunakan.
“Thanks ya.” Gadis itu merapikan laptop dan mengalungkan kamera ke lehernya.
Sudah?
“Itu aja?” Anggukan gadis itu membuatnya keheranan. Ini dia mau liputan sendirian?
“Lo liputan sendiri?”
Gadis itu mengangguk lagi. “Mau sama siapa lagi? Dadakan gini nggak akan ada yang bisa dan kalaupun ada juga sampai sini udah telat.”
“Gue bisa bantu.” Biru sendiri tidak tahu kenapa kalimat itu keluar dari mulutnya. Ia merutuk dalam hati.
Gadis itu menoleh cepat seperti ada angin segar yang menerpa. “Nggak usah, makasih.”
Sungguh, jawaban itu sangat di luar kepala. Biru sampai kaget. Ya, dia memang niat membantu sih, tapi kalau gadis itu menolak ya tidak apa-apa.
“Oke.” Begitu jawabnya meninggalkan gadis itu masih berdiri di tempatnya.
Bahkan Biru tidak tahu siapa nama gadis itu.