My Knees Knock

1322 Words
“AAA! Finally it’s over!” seru Sky sesaat sebelum merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia bernapas lega dengan mata terpejam. Semua bayangan soal yang tadi ia kerjakan tak begitu menghantuinya lagi. Setelah berminggu-minggu berkutat dengan berbagai macam latihan soal, hari ini ia telah menyelesaikan ujiannya. Mendengar seruan itu, Monik yang sedang di dapur menuju kamar anaknya. Ia mengetuk pintu dan membukanya perlahan. “Kamu kenapa teriak, Dek?” Ia berdiri sejenak di ambang pintu. Sky menoleh. Ia tersenyum lebar, sangat lebar hingga membuat ibunya ikut tersenyum. “Kenapa sih senyum-senyum gitu?” Monik mendudukkan diri di tepi tempat tidur. “Udah selesai ujian Sky, Bu!” pekik Sky ikut duduk. “Doain ya Bu biar nilai Sky bisa masuk univ di Jakarta,” ucapnya dengan sungguh-sungguh yang diikuti anggukan Monik. Monik mengelus rambut Sky. “Tapi memang papa udah izinin?” Monik sedikit menggoda anaknya itu. Ia tahu kalau papanya belum memberinya lampu hijau secara terang-terangan. “Ibu!” rengeknya cemberut. Monik tergelak melihat ekspresi anak tirinya itu. Ya, walaupun bukan anak kandung, ia berusaha memberi kehangatan bagi Sky meski belum seutuhnya. “Bercanda, Dek!” Ibunya masih tergelak. Sky menidurkan kepala di atas lutut ibunya sambil memandang langit-langit. Tangan Monik terangkat dan mengelus puncak kepala anaknya itu. “Kalau nanti udah di Jakarta sering-sering balik rumah ya, Dek,” pinta ibunya. Sky mengerjap. “Iya Bu. Berangkat juga belum,” kekehnya. “Nanti kalau udah di sana, Ibu sama Papa liburan dong ke Jakarta.” Sky menarik guling dan memeluknya. “Iya nggak ya,” jawab ibunya sambil pura-pura berpikir. “Ayolah, Bu,” bujuknya terus. Monik tertawa sambil menyentil pelan dahi Sky. Mereka berdua bergurau hingga Sky mencium bau gosong. “Bu, Ibu masak sesuatu?” Sky mendudukkan diri. Jeda beberapa detik sebelum Monik berteriak. “ASTAGA IBU MASAK BAKWAN JAGUNG, DEK!” Sky terbahak melihat ibunya tergopoh-gopoh menuju dapur. Ia mengikuti dari belakang dan sontak menutup mulutnya melihat asap muncul karena wajan yang memanas. “Bu, itu gosong parah!” tawa Sky makin menggelegar. “Aduh! Ibu lupa lagi goreng,” keluhnya setelah mematikan kompor dan mengangkat bakwan yang sudah menghitam. “Dek, tolong ambilkan plastik itu.” Sky mengikuti arahan ibunya. Ketika Sky membuang plastik sampah itu ke depan rumah, ternyata sudah ada Syifa yang baru saja datang. “Ngapain lo?” “Buang sampah,” jawabnya sembari melempar kantung kresek itu ke tempat sampah. “Nyokap masak gosong.” Syifa menaruh helm sambil terkekeh. “Udah siap belum lo?” Sky memutar bola mata. “Sabar, gue ganti baju dulu.” “Yaudah gue tungguin.” Syifa duduk di sofa ruang tamu tanpa disuruh karena sudah terlalu sering dirinya main ke rumah Sky. “Halo, Tan,” sapanya pada mama Sky yang baru saja keluar dari dapur. “Katanya tadi masak gosong ya?” tawanya basa-basi. “Aduh, iya nih. Tadi keasikan ngobrol sama Sky jadi gosong semua,” jawab mamanya Sky sambil tergelak. “Mau ke mana kalian sore-sore gini?” “Itu nemenin Sky nonton, Tan. Mau refreshing katanya habis ujian,” jawabnya. Monik mengangguk. “Yaudah kalo gitu hati-hati. Ntar pulangnya jangan kemaleman.” “Ma, kita berangkat ya.” Sky mencium punggung tangan Monik, begitupun Syifa. Mereka sampai persis pintu bioksop dibuka. Karena masih ada cukup waktu, keduanya memesan popcorn dan soda. Area bioskop ini cukup ramai. Tidak seperti bioskop yang biasa ada di mal, gedung bioskop ini berdiri sendiri. Jadi, hanya benar-benar untuk nonton saja. Kapasitasnya pun lebih besar. Parkirannya luas dan halamannya membentang. Saat pertama kali masuk, aroma popcorn dan wangi bioskop semerbak memenuhi indra penciuman. “Ayo, Sky buruan!” Syifa menyeret lengan Sky yang masih sibuk dengan segala macam barang di tangannya. “Iya ih, sabar.” Sky berjalan perlahan membuntuti Syifa. Syifa berbalik badan dan mengambil beberapa barang karena gemas melihat Sky kelimpungan. “Lo tuh kalo bawa tas yang kecil aja, ribet banget sih bawa popcorn sama soda doang.” Setelah melewati pengecekan tiket, mereka akhirnya bisa duduk nyaman di bioskop yang amat luas itu. Tidak hanya ruangan, tetapi layar yang berada di depan mereka pun lebih besar dari yang biasanya. Selama hampir dua jam mereka menikmati jalannya film. “Anjir mewek gue,” celetuk Syifa saat film selesai. Sky terkekeh. “Nggak ada sedih-sedihnya perasaan.” Keduanya membahas isi dari film tersebut dan tanpa sadar sudah berada di parkiran. “Ini kita mau langsung balik apa mau makan?” tanya Sky sembari mengenakan helm. “Makan dulu lah yuk.” Syifa memundurkan motor. “Makan di mana?” “Deket sini ada restoran baru buka. Lo mau nggak?” tanya Sky setelah keluar dari area parkiran dan menuju jalan raya. “Ya udah boleh deh.” Kebiasaan Syifa yang saat ini masih ia bingungkan adalah perempuan itu selalu mencari tempat makan atau restoran terbaru. Alasannya bukan untuk sok menjadi yang pertama, tapi tentu saja karena promo. Biasanya di setiap toko yang baru buka akan membuka diskon besar-besaran untuk menarik pengunjung. Syifa adalah salah satu pengunjung yang terkena sasaran marketing. Saat keduanya masuk ke restoran, terlihat seorang nenek repot membawa kopernya. Walaupun dari fisik terlihat nenek itu masih terlihat bugar, tetapi Sky tidak tega karena koper yang dibawa berukuran besar. “Saya bantu, Nek.” Sky menghampiri nenek itu. Nenek berambut hitam beruban itu sedikit terkejut dengan kedatangan Sky. Ia memang sedang kesulitan membawa koper masuk ke dalam restoran karena ada beberapa anak tangga yang harus dilewati. “Oh ya, boleh. Makasih ya, Nak.” Sky mengambil alih koper itu dan membawanya menaiki tangga dan mengekor nenek itu dari belakang. Sedangkan Syifa mengambil menu di meja kasir dan mengikuti keduanya. Sky meletakkan koper berwarna hitam itu di sebelah nenek itu duduk dan hendak pamit untuk mencari meja lain. “Udah kalian di sini aja. Temenin saya makan.” Ucapan nenek itu membuat keduanya saling bertatapan. “Nggak usah, Nek,” jawab Syifa. “Saya kesepian makan sendiri.” Jawaban itu membuat keduanya tidak tega dan memutuskan untuk duduk berhadapan dengan nenek yang sekarang mengembangkan senyum bahagianya. Sejenak Sky termenung melihat penampilan si nenek yang cukup terlihat modis di usia seumurannya. “Nenek! Sky ikut!” rengek Sky melihat neneknya pagi-pagi sudah mau berangkat ke pasar. Mendengar teriakan cucu kesayangannya, ia berbalik sambil tersenyum. “Nenek Cuma sebentar. Sky nggak usah ikut,” ucapnya dengan nada yang bergetar. Sky memandang tubuh sang nenek yang membungkuk dengan kebaya dan jarik yang selalu melekat. “Tapi Sky mau ikut!” Perlahan tangis anak kecil itu pecah. Mau tidak mau sang mama harus menahannya agar anak itu tidak nekat berlari menghampiri neneknya yang kembali berjalan menjauh. “Mama! Sky mau ikut nenek! Sky mau ke pasar!” Sky menangis keras sambil menghentakkan kaki. “Kamu mandi dulu baru susul nenek,” ucap mamanya setelah menghela napas melihat tantrum anaknya yang jika dibiarkan akan mengganggu tetangga yang lain. Mendengar ucapan itu, Sky mendongak dan matanya berbinar. “Bener ya, Ma?” Sepersekian detik setelah sang mama mengangguk, anak itu langsung lari masuk ke dalam rumah. Kesadarannya kembali ketika Syifa menyenggol lengannya dengan cuukup kencang. “Sky! Lo pesen apa? Ditanyain dari tadi nggak nyaut.” Sky meringis. “Sorry. Gue mau nasi bebek aja sama jus wortel.” Syifa mencatat pesanannya ke nota yang tadi diberikan pelayan saat Sky sedang termenung. Ia termenung mengingat neneknya yang beberapa tahun telah pulang ke rumah Bapa. Nenek yang paling ia sayang. Kata mama, ketika orang tuanya kerja dulu Sky selalu dititipkan ke neneknya. Hal itu yang membuat bonding antara cucu dan nenek makin kuat. Katanya, Sky tidak bisa tidur jika tidak dipeluk sang nenek. Mereka juga pernah mengalami kecelakaan yang mengharuskan sang nenek di operasi dan berakhir terkena alzheimer. Setiap ia berkunjung, neneknya selalu bertanya namanya seolah ia tidak pernah dikenal. Meski begitu, Sky tidak pernah merasa kesal dan marah. Justru ia menjawabnya dengan candaan. Dan setelah beberapa tahun terakhir, ia baru menyadari bahwa saat ini ia sedang amat rindu dengan sang nenek.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD