Not For Sale

1861 Words
Matahari bersinar terang. Biru sama sekali belum tidur. Tidur dalam artian mata memejam dan bermimpi di kasur kesayangannya. Semalaman ia hanya duduk di kasur menemani Dira yang tidak berhenti menangis. Perempuan itu tertidur tepat pukul dua pagi. Ia memintanya untuk tidak pergi. Dan ya, Biru menuruti apa kata perempuan itu. Lagi pula Biru mana tega meninggalkan perempuan sendirian dengan emosi yang tidak stabil begitu. Kalau terjadi apa-apa, orang terakhir yang ditemui Dira kan dirinya. Bisa-bisa repot. Dira keluar dari kamar dan langsung menuju ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Perempuan itu bahkan tidak menoleh ke arah Biru sama sekali. Entah ia pura-pura menghindar atau memang tidak sadar ada Biru di sofa. Tapi Biru tidak ambil pusing. Ia mengambil ponselnya di atas meja ketika ada bunyi pesan masuk. Yang tidak disangka, Dira langsung duduk di samping Biru sambil menyenderkan punggungnya dan menghela napas. Biru menoleh. “Lo kenapa?” Laki-laki itu menyimpan ponselnya. “Kusut banget.” Dira menggeleng. Matanya terpejam sejenak. “Gue capek.” Memang terlihat dari matanya yang membengkak dan biru. Kalau hubungan mereka masih baik-baik saja mungkin saat ini Biru sudah mengelus rambut atau memeluknya. Biru meliriknya sekilas. Ada rasa simpati muncul di hatinya, tapi berusaha ia abaikan. “Males pulang.” Kebetulan Dira memang menginap di apartemen Biru. Laki-laki itu juga tidak ada niatan untuk mengusir Dira dari apartemennya. “Ya udah nggak usah pulang,” balas Biru enteng. Dira memalingkan wajahnya terkejut. “Lo nggak ngusir gue?” tanyanya. Biru menggeleng dengan wajah datarnya. “Gue pikir lo nggak mau gue lama-lama di sini,” kekehnya sembari menyilangkan tangan. “Lo nggak keganggu ada gue?” Biru mengendikkan bahu. “Biasa aja.” Tangannya mengambil remote untuk menyalakan televisi. Dira tertegun. Ia menatap laki-laki di sampingnya selama beberapa detik. Bagaimana bisa ia melukai laki-laki yang sudah sangat baik padanya? Bagaimana bisa laki-laki ini masih menerima dirinya di saat seperti ini? Dira memainkan ujung jarinya. Ia hendak mengatakan sesuatu, tapi Biru tiba-tiba beranjak. “Gue mau balik. Lo kalau masih mau di sini jangan obrak-abrik isi apart.” Perempuan itu mengurungkan niatnya dan menatap punggung Biru yang menjauh hingga tak terlihat lagi. Dira menghela napas. Ia mengusap wajahnya dan memaki dirinya sendiri. “Dira b**o. Harusnya lo nggak seenaknya sama Biru kayak gini.” Sementara di sisi lain, Biru yang baru saja duduk di kursi pengemudi menopangkan kepalanya pada setir. Jujur saja, kedatangan Dira yang tiba-tiba membuatnya mati kutu. Dirinya memang sudah tidak lagi memiliki perasaan yang sama seperti dulu, tapi tetap saja getaran itu masih ia rasakan. Hal ini diperparah karena tanpa ragu ia menawarkan Dira untuk menginap di apartemennya. Entah semalam ia kerasukan apa, tapi ia merasa tidak tega membiarkan perempuan itu menangisi keretakan keluarganya. Biru juga merasa lega meninggalkan perempuan itu sendirian. Bukannya ia tidak ingin bersama Dira, tapi jika mereka terus bersama akan ada percikan-percikan yang akan kembali muncul. Dan Biru tidak mau hal itu terjadi. Semua yang berlalu biarlah berlalu. Past is past, right? Selain itu juga, ia ingin memberikan waktu bagi Dira untuk menenangkan diri. Ia berspekulasi jika perempuan akan lebih nyaman dengan kesendirian. Ya, setidaknya Biru telah menunjukkan rasa simpatinya. Ya … mungkin begitu. Biru melajukan mobilnya menuju kediaman Obsidian. Tadi mamanya mengirim pesan untuk segera datang. Sang mama minta ditemani belanja. Biasanya yang selalu menemani adalah anak bungsi Obsidian. Namun, berhubung adik bungsunya itu sedang ada kegiatan di sekolah, terpaksa ia lah yang menemani mamanya berbelanja. “Mama!” panggilnya ketika memasuki ruang tamu dan berjalan menuju kamar orang tuanya. Ia mengetuk pintu beberapa kali sampai dibukakan. Tampak mamanya sudah siap dengan setelan casual. Tidak lupa tas high-end kesayangannya. Hanya mengenakkan kemeja putih sedikit oversize dengan celana cokelat dan blazer berwarna cream. Rambutnya dicatok bergelombang dan diikat menjadi satu. “Mama siap!” katanya. Namun, Biru malah menarik mamanya ke dapur dan memintanya untuk membuatkan omelet karena ia benar-benar lapar. “Lapar, Ma. Buatin omelet.” Biru memintanya dengan suara lembut, membuat hati mamanya luluh dengan cepat. “Ah, kamu! Mama kan udah dandan cantik begini masa suruh masak.” Walaupun diiringi dengan omelan, tangannya tetap mengerjakan keinginan sang anak. Sembari menunggu mamanya memasak, Biru membuka kulkas dan mengambil sepotong puding untuk dijadikan appetizer. Sungguh menu yang aneh. “Nanti habis temani mama belanja, antarkan mama ke rumah Tante Rasya, ya.” Wanita berwajah campuran Indo-Eropa itu menyajikan sepiring omelet beserta kondimennya. Karena sudah sangat lapar, Biru hanya mengangguk dan langsung melahap makanannya sampai habis tidak tersisa. Selama belanja, Biru mendorong troli di belakang mamanya. Mereka menghabiskan waktu paling lama di section bahan makanan. Hampir semua makanan di etalase itu diambil oleh sang mama. Memang banyak kebutuhan yang perlu dibeli, tapi baru kali ini Biru melihat mamanya seperti kalap setiap melihat barang. “Ma, tumben beli banyak banget. Buat apa?” “Ini nanti semua dikumpulin di rumah Tante Rasya. Semua temen-temen Mama juga belanja gini,” jawabnya sambil mengambil minyak dari etalase. “Buat?” “Kita mau bagi-bagi nanti. Kamu bantuin, ya.” Biru menghela napas. Harusnya ia tidak bertanya sampai sejauh ini kalau ujung-ujungnya jadi babu ibu-ibu sosialita. “Emang Biru bisa nolak?” Gina terkekeh. “Nah, itu kamu tahu.” Setelah berbelanja, keduanya menuju kediaman Tante Rasya yang membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Berhubung hari ini hari kerja dan masih jam kerja, jalanan tidak terlalu macet. Namun, ibukota tetap ibukota yang selalu padat merayap kapanpun dan di manapun. “Kamu gimana sama Dira?” tanya Gina ketika menunggu rambu lalu lintas. Biru melirik sekilas ke arah mamanya dengan malas. “Ya gitu.” “Ya gitu gimana? Kamu ini ditanyain tentang pacarnya kok jawabannya gitu.” Gina menasehati anaknya yang tampak tidak antusias seperti biasanya. “Udah enggak,” jawab Biru. Kakinya menginjak gas ketika rambu berwarna hijau. Sementara Mama Gina menoleh dengan terkejut. “Kapan, Bang?” tanyanya dengan nada yang meninggi. “Belum lama.” Mama Gina menyipit tidak suka. “Kenapa? Kamu ngapain Dira?” Biru mendengkus. Ia menghela napas. Sudah ia duga mamanya akan bertanya mengenai hubungan mereka. “Biru nggak ngapa-ngapain. Emang udah nggak cocok.” “Halah. Jangan bohong sama Mama ya, Bang.” Biru berdecak. “Enggak, Ma.” Deru napansnya terdengar berat. “Ngapain juga Abang bohong.” Wanita itu tidak lagi bertanya melihat perubahan ekspresi anaknya itu. Terlihat wajah Biru mengeras dengan kening berkerut. Ia tidak tahu apa yang terjadi di antara kedua insan itu, tapi mungkin yang mereka alami memang berat. Selama bertahun-tahun mereka pacaran, ia selalu senang tiap Dira main ke rumah dan menemaninya memasak. Mereka telah sampai dan disambut oleh ibu-ibu lain yang sedang membawa barang belanjaan ke dalam rumah. Tentu saja Biru membantu. Ternyata tidak hanya dirinya yang dijadikan babu oleh sang mama. Ada beberapa anak dari teman-teman mamanya yang sepertinya juga terpaksa ikut membantu. Di sana Biru lebih banyak diam karena saat ini ia sedang teringat perempuan yang ditinggalnya di apartemen. Apakah dia sudah makan? Apakah dia masih di apartemen? Ia ingin buru-buru memeriksanya, tapi tidak bisa melakukan itu. Kalau ia terus memenuhi rasa penasarannya, ia tidak akan bisa maju dan hanya akan stuck. Lalu? Gagal. “Lo pada kuliah jurusan apa?” tanya seorang laki-laki di sebelah Biru membuka percakapan. “Gue kriminologi.” Satu dari dua perempuan itu menjawab sembari menyusun mie instan ke dalam kardus. Jawaban itu mendapat decak kagum dari yang lain. “Kalo gue HI,” jawab perempuan yang lain. “Kalo lo apa?” tanyanya pada Biru. “Bisnis,” jawab Biru singkat. Tangannya cekatan menyusun semua bahan sembako ke dalam kardus. “Oh iya! Lo kan Obsidian, lupa gue.” Laki-laki itu menyahut sembari tertawa kecil. Entah tawa itu ditujukan untuk apa, Biru tidak peduli. Biru bersama dengan yang lainnya membantu menyusun bahan sembako ke dalam tiap kardus. Mereka bekerja dari siang hingga sore hari. Biru bahkan sampai lupa dengan seseorang yang menunggunya di apartemen. Semua anak-anak itu menghela napas setelah kardus terakhir terisi. Namun, keluhan itu berganti dengan sorakan meriah ketika para ibu membawakan martabak dan pizza. “Makasih ya semua udah pada mau direpotin,” ucap Tante Rasya. Mereka berkumpul dan duduk melingkar di sofa. hampir satu jam mereka habiskan untuk mengobrol sebelum akhirnya kembali menjadi pesuruh. Tempat yang mereka datangi adalah sebuah yayasan yang didanai oleh Obsidian Corp. Jarak dari rumah Tante Rasya ke yayasan tidak terlalu jauh. Ketika sedang menurunkan kardus-kardus itu, ponsel Biru berdering. Namun, ia tidak mengindahkannya. Ia terus membawa kardus itu ke dalam ruang penyimpanan. Tidak ada acara yang formal. Tiap enam bulan sekali, Mama Gina dan ibu-ibu yang lain memang rutin memberikan sumbangan kepada yayasan. “Terima kasih Bu Gina, Bu Rasya, Bu Tika, dan Bu Putri. Terima kasih banyak atas bantuannya.” Ibu pimpinan yayasan menyalami para ibu dan anak-anaknya. “Sama-sama, Ibu. Semoga untuk enam bulan ke depan terpenuhi ya. Kalau memang kurang bisa hubungi saya saja,” ucap Mama Gina dan disambut anggukan oleh ibu-ibu yang lain. “Cukup sekali ini, Bu.” Wanita berkerudung itu menyahut sambil tersenyum. “Syukurlah kalau bisa mencukupi. Bagaimana yayasan Bu? Apa ada kendala?” tanya Tante Rasya. Pimpinan yayasan menggeleng. “Tidak ada Bu. Malah sekarang anak-anak lagi aktif-aktifnya punya karya,” jawabnya lembut. “Oh, ya? Karya apa saja, Bu?” tanya Tante Putri selagi mengambil cangkir teh. “Itu lukisan sama beberapa kerajinan itu yang bikin anak-anak, Bu,” jawabnya sambil menunjuk lukisan yang terpajang di dinding. “Ada juga yang aktif di seni tari dan seni musik,” jelasnya. “Wah. Sudah mulai ada gurunya ya, Bu?” sahut Tante Tika. “Oh iya Bu. Sudah ada tiga guru yang mengajar di sini walaupun hanya seminggu tiga kali saja.” Mereka berbincang selama hampir satu jam. Biru dan yang lain terpaksa mendengarkan obrolan membosankan itu. Sepanjang satu jam yang mereka lakukan hanyalan mengecek handphone, makan camilan, minum seduhan teh yang sudah disediakan, dan terlihat mendengarkan padahal ada hal lain yang mereka pikirkan. Setelah menyadari bahwa langit mulai berubah warna, barulah mereka pamit. Tidak lupa, Mama Gina selaku pemilik Obsidian Corp memberikan sejumlah uang tunai dalam amplop kepada pimpinan yayasan. “Ya Allah. Terima kasih Ibu,” ucapnya sambil berkaca-kaca. “Kalau begitu kami pamit dulu,” kata Mama Gina sambil membuka pintu mobil. Biru langsung mengantarkan mamanya pulang dan ia akan kembali ke apartemen. Tadi ada dua panggilan masuk dari Dira yang tidak ia angkat. Pintu apartemen berbunyi. Biru masuk dan menaruh sepatunya pada rak di belakang pintu. Suasana di dalam ruangan itu ridak terang dan tidak gelap juga. Hanya beberapa lampu saja yang dinyalakan. Televisi pun menyala dengan suara kecil. Biru baru menyadari kalau perempuan yang sejak tadi ia tinggal sedang meringkuk di sofa. Matanya terpejam. Namun, ia menyadari bibir perempuan itu terlihat pucat. Bulir-bulir keringat juga mengalir cukup deras, padahal AC sudah dinyalakan pada suhu paling rendah. “Ra,” panggilnya. Biru menggaruk alisnya. Biru seketika sadar ada yang tidak beres dari mantan kekasihnya itu. Ia memegang pipinya dan merasakan panas. Begitu pula dahinya. Ia menggoncang pelan tubuh perempuan itu sambil memanggil namanya. Namun, respons yang diberikan Dira hanya kening yang berkerut sesekali. Karena tidak ingin terjadi hal buruk, Biru bergegas memakai sepatunya lagi. Ia menggendong Dira dan membawanya ke rumah sakit untuk mendapat penanganan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD