Prom Night

1303 Words
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh semua siswa SMA Harapan Jaya. Malam nanti akan dilaksanakan acara perpisahan nonformal dari angkatan di sebuah hotel cukup mewah. Sepasang sahabat yang tidak terpisahkan itu sedang sibuk mempersiapkan yang perlu dibawa saat acara. Tidak lupa mereka juga melakukan perawatan mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pokoknya malam ini mereka harus tampil total. “Kita harus tampil cantik pokoknya!” seru Sky semangat diikuti anggukkan sahabatnya. Sejak pagi hingga siang mereka berada di salon. Mereka melakukan perawatan rambut, kuku tangan, hingga kuku kaki. Setelah nyalon, mereka langsung akan di-make up oleh MUA yang telah mereka pesan jauh-jauh hari. Dress yang dipakai Sky bertema vintage fairy corset dengan bahan satin. Panjang dressnya berukuran tujuh per delapan. Dress ini memberikan kesan kasual, tapi juga elegan dengan aksesoris tambahan, seperti gelang dan chocker necklace berwarna emas. Sementara Syifa mengenakan long dress dengan belahan tinggi di atas dengkul. Dress lengan panjang dengan square neck terlihat pas di tubuhnya yang semampai. Tidak lupa sabuk hitam dengan manik-manik perak sebagai aksesoris. Mereka sampai di hotel pada pukul 19.30 dan langsung diarahkan menuju ballroom. Sebelum itu, mereka dibagi menjadi dua barisan, yaitu barisan cowok dan cewek. Hal ini dilakukan panitia untuk memudahkan para siswi yang menggunakan heels dengan bantuan para siswa. Entah semesta sedang berbaik hati atau apa, secara kebetulan Syifa berpasangan dengan Junio. Laki-laki itu berpenampilan sangat berbeda dari yang mereka biasanya lihat. Tidak tahu siapa yang menjadi costume makernya, yang jelas saat ini Junio benar-benar terlihat beribu-ribu kali lebih tampan. Sepasang sahabat itu menatap kagum laki-laki yang biasanya berpenampilan berantakan. “Lo beneran Junio?” tanya Sky membuat laki-laki itu hampir menjitaknya. “Iyalah! Lo kira gue siapa?!” semprotnya tidak terima membuat Syifa terkekeh. Sky berdecih. “Halah! Tumben banget rapi,” ejeknya hingga mendapat pelototan dari Junio. “Mulut lo kadang-kadang emang minta disumpel kaos kaki.” Pakaian formal yang Junio pakai sangat lengkap, mulai dari dress shirt, vest, bow tie, handkerchief, hingga cuffinks and studs yang dibalut dengan tuxedo dan celana hitam, serta leather shoes. Tidak lupa rambutnya ia beri gel supaya tahan lama. “Sabar,” sahut Syifa mendadak kalem. Sky menatap keduanya takjub, terutama pada Syifa. Perempuan itu selalu melembut jika menyangkut hal yang ia suka. Sky menggeleng tidak habis pikir. “Dahlah, jodoh kalian berdua,” sahutnya asal tanpa menyadari wajah sahabatnya memerah dan Junio yang mendadak memalingkan wajahnya. Sebelah tangan Junio meminta tangan Syifa dan menaruhnya pada lengan supaya perempuan itu berpegangan saat memasuki ballroom. Hatinya berdegup kencang. Tindakan Junio yang begitu tiba-tiba membuatnya salah tingkah. Namun, ia berusaha agar tidak terlihat memalukan di depan laki-laki itu. Di belakang mereka, Sky menahan tawa melihat interaksi kedua temannya itu. Mereka terlalu kaku dan canggung untuk disatukan. Posisi duduk mereka disusun melingkar per meja. Panitia prom kali ini benar-benar membuat mereka merasa spesial. Makanan yang disediakan mulai appetizer hingga dessert. Hidangan pertama mereka adalah salad sayur. Sky tidak begitu suka dengan salad, tapi makanan malam ini benar-benar extraordinary! Menu utama yang disajikan sederhana, tapi menggugah selera makan. Siapa yang tidak tergiur dengan nasi goreng udang kecombrang? Kalau Sky dan Syifa sih sudah pasti kurang jika hanya satu porsi. Ada dua pilihan menu untuk main course selain nasi goreng, yaitu ayam taliwang. Untuk hidangan penutup, mereka dimanjakan dengan semua hal yang manis. Mulai dari kue, puding, hingga es krim. Dan tentu saja mereka dibebaskan mengambil sesuka hati. Pokoknya malam ini perut mereka dimanjakan. Tidak hanya dalam hal makanan, hiburan yang dipertunjukkan pun sangat menghibur. Mereka bernyanyi dan menari bersama. Saat tiba di penghujung acara, lampu yang tadinya berpendar terang kini diredupkan. Tempo alunan musik pun diperlambat. “Teman-teman, yuk kita berkumpul di tengah.” Seorang perwakilan siswa kelas 12 meminta seluruhnya untuk berkumpul di depan panggung. Bisik-bisik tanda tanya bergemuruh. “Oke. Tenang dulu ya teman-teman,” katanya lagi, kemudian semua mendadak hening. “Makasih teman-teman udah nyempetin waktu dan tenaga untuk datang ke acara terakhir kita sebagai siswa-siswi SMA Harapan Jaya.” Semua menaruh perhatian pada si pembicara. “Pada kesempatan kali ini. Gue, Rasya, mau berterima kasih banyak sama kalian semua yang selalu kompak sampai sekarang. Gue harap kekompakan dan kebersamaan kita ini nggak selesai sampai sini aja.” “Gue minta ke kalian buat nggak lost contact sama teman-teman. Gue tahu nanti kita bakal sibuk masing-masing, tapi gue nggak mau kalian lupa satu sama lain. Kita udah sama-sama selama tiga tahun dan gue nggak mau tiga tahun kita sia-sia.” Kerumunan itu terdiam. Sepertinya mereka bergumul pada pikirannya masing-masing. Yang dikatakan Rasya ada benarnya. Tidak mungkin melupakan kenangan manis selama tiga tahun ini. Alunan “Sebuah Kisah Klasik” milik SO7 terputar, membuat semuanya mengaduh. “Duh, make up gue bisa luntur ini.” Keluhan-keluhan terdengar, tapi suasana haru makin menyelimuti ruangan itu. Jabat tanganku mungkin untuk yang terakhir kali Kita berbincang tentang memori di masa itu Peluk tubuhku usapkan juga air mataku Kita terharu seakan tidak bertemu lagi Secara perlahan, mereka saling merangkul dan membentuk lingkaran. Mereka bergerak ke kanan dan kiri sambil bernyanyi bersama. Kebersamaan mereka selama tiga tahun sekelibat muncul di benak masing-masing yang membuat suasana semakin haru. Di puncak lagu, mulai terdengar suara nyanyian yang bergetar. Getaran itu menular dari siswa satu ke yang lainnya. Crazy Vanity “… capek banget gila!” Acara berakhir pukul sebelas malam, tapi gerombolan kelas Sky dan Syifa baru selesai befoto-foto sekitar pukul dua belas malam. “Lo berdua pulang naik apa?” tanya Junio mendekati mereka berdua yang sedang sibuk dengan ponsel masing-masing. “Taksi online, tapi ini daritadi nggak dapet driver,” keluh Sky yang kini mulai gerah dengan make up di wajahnya. Meski sudah tengah malam, tapi tetap saja gerah. Apalagi Sky tidak terbiasa full make up seperti ini. Berbeda dengan sahabatnya, Syifa cenderung jadi lebih pendiam dari biasanya. Sesekali juga ia mencuri pandang ke arah Junio. Ia benar-benar terpesona dengan penampilan laki-laki itu. Sangat tidak biasa dan membuat jantungnya berdebar tidak karuan. “Lo nginep di rumah Sky?” tanya Junio pada perempuan yang sedang mengalihkan pandangannya entah ke mana. Mereka sempat bersitatap sebentar sebelum perempuan itu berdeham. “Ya.” Junio sedikit heran tumben sekali perempuan itu tidak banyak bicara. Namun, ia tidak berpikir banyak hal, mungkin saja Syifa memang kelelahan. “Gue anter aja,” ajak Junio kasian melihat keduanya sudah tidak memiliki tenaga lagi. Tanpa babibu, Sky langsung mengiyakan dan menggandeng Syifa ke arah parkiran mengikuti laki-laki itu. “Lo berdua biarin gue jadi supir gini?” decak Junio. “Nggak terima banget gue.” “Pindah lo salah satu,” suruhnya. Ia tidak akan menyalakan mobil jika salah satu dari mereka tidak ada yang pindah. “Lo aja, Cip. Gue ngantuk.” Sky langsung memejamkan mata dan memposisikan diri senyaman mungkin. Syifa melongo. “Gue?” “Buruan, Syif. Gue nggak akan jalan kalau lo belum pindah,” ucap Junio membuatnya mau tidak mau membuka pintu. “Gitu kek daritadi, ribet amat.” omel Junio yang dibalas seruan dari Sky. “Banyak mau lo!” “Udah untung gue anterin balik, gue malah dijadiin supir. Emang kurang ajar lo berdua.” “Diem ah. Gue mau tidur.” Sepanjang perjalanan, Junio dan Syifa sama sekali tidak membuka mulut. Mereka seharusnya tidak secanggung ini. Terus terang saja jika Junio mengajaknya bicara saat ini entah ia apa bisa menjawab tanpa gugup. Itu akan terlihat aneh sekali! “You look good with that dress.” Junio membuka mulut ketika hampir sampai di depan rumah Sky sambil menoleh ke samping. Syifa yang sadar pujian itu untuknya, menyembunyikan wajahnya yang sudah tidak tahan lagi menahan senyum. “Thanks,” jawabnya mencoba tidak terbuai dengan smirk laki-laki itu. Ia berdeham ketika mobil sudah berhenti di halaman. Tangannya membuka pintu sambil menggumamkan kata terima kasih, lalu langsung masuk tanpa menunggu laki-laki itu pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD