Let Me Know You, Sky

2676 Words
Let Me Know You, Sky 11 Mei “Juara lagi, juara lagi. Lo makan apa, sih? Makan kertas ujian?” Ledekan itu terlontar ketika ia sedang mengambil ijazah. Besok mereka akan merayakan kelulusan dengan upacara wisuda ala anak SMA pada umumnya. Sky mencibir. “Makan otaknya Einstein. Lo mau?” tanyanya balik dengan nada menantang. Laki-laki itu lantas bergidik setelah membayangkan otak manusia berada dikunyahannya. “Psikopat lo!” “Gimana sih lo, Jun? Katanya mau pinter juga?” Mereka berjalan keluar kelas beriringan. Masing-masing membawa map bening berisi ijazah yang baru saja mereka cap dengan tiga jari. Dengan mengenakan seragam putih abu-abu yang tertutup jaket, Sky duduk di kursi depan kelasnya. Begitu pula Junio, laki-laki yang sejak tadi membuntuti Sky. Junio yang selalu mengejek Sky pun ikut mendudukkan diri. “Ya nggak pakai makan otak segala. Gue bukan zombi.” “Lah, emang zombi makan otak?” Junio berdecak. “Lo pinter, tapi pengetahuan umum gitu aja lo nggak tau.” “Harusnya Tuhan kasih kepinteran itu ke gue, bukan lo,” tambahnya. Sky berdecih sembari melongokkan kepala mencari keberadaan seseorang. “Bersyukur lo dikasih Tuhan muka bayi, badan atletis.” Tiga tahun mengenal seorang Junio Kalandra membuatnya speechless. Pertemuan pertama dengan laki-laki itu ada di parkiran sekolah. Dengan Hhonda CBR150R StreetFire-nya, Junio hampir membuatnya celaka. Belum lagi ia kira Junio adalah tipe laki-laki dingin dan pendiam, ternyata semakin mengenal, Junio makin membuat dirinya sering marah-marah. “Nyari siapa sih lo? Muka ganteng gue jangan dikacangin dong.” Ditambah sifat narsisnya membuat Sky makin muak. Junio terkekeh melihat wajah sengit Sky. Perempuan yang sudah tiga tahun menjadi teman sekelasnya itu tidak pernah menujukkan sikap baik padanya. Tatapan tajam andalan Sky tak pelak membuatnya takut. Menurutnya, wajah Sky tidak cocok dengan sifat yang sok mengintimidasi itu. “Berubah kali Jun, udah mau kuliah lo masih aja gitu,” ucap Sky tanpa melihat laki-laki di sebelahnya. “Kalau ngomong liat orangnya kali Askya Fredella Pratistya,” sindir Junio, kemudian ia menyenggol lengan Sky dengan sengaja. “Berisik deh lo, Jun. Gue lagi nyariin Syifa nih.” Kepala Sky masih menoleh kiri dan kanan mencari keberadaan perempuan yang sejak tadi dicarinya. Banyak orang berlalu lalang di lapangan sehingga menyulitkan pandangan. Sky menoleh mendengar dengkusan napas Junio. Rupanya laki-laki itu sedang bermain Mobile Legend. Sky menggoyang-goyangkan tangan Junio hingga u*****n keluar dari mulutnya. “SKY! ANJIR! Salah pencet b**o!” Keningnya berkerut kesal, tapi tidak bisa membalas perbuatan Sky karena permainannya hampir defeat. “Mulut lo diamplas dulu. Kasar banget, heran.” “Diem nggak lo?!” protes Junio dengan pandangan fokus dengan game di ponselnya. Merasa diabaikan dan tidak membutuhkan Junio lagi, Sky berdiri dan menuju bangunan seberang. Bangunan sekolah mereka seperti bentuk letter U yang memiliki banyak fasilitas, seperti lapangan basket, lapangan voli, lapangan sepak bola, laboratorium, dan banyak lainnya. “SYIFA!” Sky mengejar Syifa yang hendak menuju ruang guru. Perempuan yang sejak tadi dicari Sky pun menghentikan langkah. Keningnya berkerut melihat Sky berlarian menyeberangi halaman sekolah. “Loh, Sky? Gue pikir lo udah pulang.” Sky terengah-engah. “Belum, digangguin mulu sama Junio tuh.” Sky menoleh ke tempat duduknya tadi dan Junio masih terpaku dengan game di layar ponselnya. “Lo mau temenin gue nggak habis ini?” Sky melihat ke arah Alexander Christie yang terpasang cantik di tangan kirinya. “Ke mana?” “Rumah nyokap,” jawab Sky meringis. Sky sudah lama tidak bertemu dengan mamanya sejak tiga tahun lalu. Terakhir kali mamanya datang ke perayaan wisuda SMPnya. Hubungan mereka memang terlihat tidak dekat. Semua berawal dari perpisahan kedua orang tuanya saat ia baru menginjak usia sembilan tahun. Usia di mana ia belum mengenal kata perpisahan, terlalu dini untuknya mengenal problematika saat itu. “Oh, oke. Tapi gue urus berkas ini dulu.” Syifa menunjukkan map itu kepada Sky. Map yang berisi fotokopi dokumen-dokumen piagam dan prestasi yang selama ini ia peroleh hendak dilegalisasi. Ia juga hendak meminta beberapa pertimbangan dari para guru untuk jurusan yang akan diambilnya kelak. “Gue tunggu di situ lagi ya.” Sky menunjuk ke arah bangku yang sebelumnya ia tempati dan tentu dengan Junio di sebelahnya. Syifa mengangguk. “Oke, ntar gue samper.” Sky menghela napas lega. Ia tidak pernah bertemu mamanya seorang diri. Selalu ada yang mendampingi. Bukan karena takut, Sky hanya tidak ingin terasa canggung. Dulu ia tidak mengerti mengapa mamanya jarang pulang ke rumah. Papa selalu memberi alasan kalau Mama sedang ada dinas ke luar kota. Hanya sekitar tiga bulan sekali Mama mengunjunginya, itu pun hanya menginap selama satu hari. Ia benar-benar tidak memiliki banyak waktu bersama sang mama. Sampai suatu saat ia menemukan fakta bahwa mama dan papanya telah bercerai. Mamanya tidak lagi pulang ke rumah selama enam bulan. Waktu yang lama baginya. Setiap bangun pagi ia selalu berharap mamanya ada di sampingnya. Saat menginjak usia 10 tahun, papanya akhirnya menikah lagi dengan seorang wanita yang sudah memiliki anak. Usia anak itu berada empat tahun di atasnya. “Woi! Melamun aja!” Seruannya membuat Sky terlonjak. “Junio s****n!” umpat Sky saking kagetnya. Lamunan masa kecilnya terpaksa terbuyarkan. “Weits! Tu mulut disekolahin, Bos!” seru Junio membalikkan kata-kata Sky tadi. Ya, perihal itu mereka memang sudah sangat sering beradu mulut. Tidak heran jika banyak yang mengira ada sesuatu di antara mereka. Namun, tentu saja mereka mengelaknya mentah-mentah. “Lo duluan, sih. Nyebelin!” sungut Sky tidak peduli dengan orang-orang yang sedang memperhatikan keduanya saat ini. “b**o! Malu tahu diliatin orang-orang! Toa lo kecilin dulu!” desisnya pada Sky. Perempuan berambut panjang itu hanya mengendikkan bahu cuek. “Bodo amat,” ketusnya. Junio menoleh ke arah Sky, ponsel yang tadi ia gunakan untuk bermain game ia matikan dan dimasukkan ke dalam saku celananya. “Lo habis ini mau ke mana?” “Routine, maybe. Meet my mom and crying then.” Sky menjawab dengan nada bergurau. Laki-laki itu menatap Sky dengan wajah datar. Ia tahu sedikit banyak cerita Sky saat masih kecil. Perempuan itu tidak suka dipandang dengan iba, jadilah ia berusaha sekuat tenaga memasang muka datar. “Nggak lucu, by the way,” sahut Junio. Perempuan itu lagi-lagi tidak mempedulikan perkataan teman di sebelahnya. Kondisi keluarga yang tidak harmonis sudah ia rasakan sejak masih kecil. Bisa dikatakan Sky telah terbiasa. “Tapi serius lo mau ketemu nyokap lo?” Junio melontarkan pertanyaan yang dianggap tidak bermutu oleh Sky. “Mending lo ketemu nyokap gue aja. Mereka mirip ‘kan?” Sky mengendikkan bahu. “Nggak tahu, Jun. Gue cuma mau ketemu nyokap. Gue nggak mau jadi anak durhaka yang nggak mau ketemu wanita yang udah susah payah ngelahirin gue ke dunia ini.” Sky melirik sekilas Junio yang sedang memandanginya, kemudian menolehkan kepalanya ke arah lain. “Gue tahu, tapi gue nggak suka dikasihani. Bokap nyokap memang sudah cerai, tapi justru gue jadi punya empat orang tua. Keren ‘kan?” celetuk Sky berbangga diri. Junio mendengkus. Itu adalah kebiasaan Sky. Selalu membuat sesuatu yang tidak menyenangkan menjadi sebuah lelucon. “Well. It’s not reallly fun, but up to you deh Sky.” Junio mengalah. Jika didebar terus-menerus, Sky bisa meledak kapan saja. And it’s worse. “Of course. Hidup, hidup gue. Kok lo yang repot,” sinisnya. “FINE!” seru Junio. “I’m not gonna give you advice anymore.” Sky terkekeh sambil tersenyum miring. “Gue nggak pernah minta. Lo-nya aja yang kelewat peduli.” Junio melirik perempuan itu tajam. Dihembuskannya napas yang sejak tadi tertahan. Tiga tahun bersama Sky, kejadian ini sudah ia alami berkali-kali. Junio tidak pernah kapok, Sky pun juga tidak pernah jera. “Dasar bocah,” omel Junio cukup keras hingga mendapatkan sebuah tamparan ringakn di lengan atasnya. “Ngomong apa lo barusan? Bocah?”sudut Sky membuat Junio memalingkan wajahnya ke arah lain. “Sana lo katanya mau pergi,” usir Junio guna mengalihkan pembicaraan. Ia tahu betul Sky tidak begitu suka dianggap masih kecil. Umurnya mungkin memang hampir menginjak 20 tahun, tapi belum membuatnya menjadi dewasa seutuhnya. “SKY!” Teriakannya membuat Junio menghela napas lega. Setidaknya satu pawang Sky sudah berada di sini. Tepat waktu! Syifa baru saja selesai dengan urusannya. Perempuan itu menghampiri Sky dan Junio yang masih bersitegang. Hal itu tak lantas membuatnya kebingungan. Percecokan di antaranya sudah dianggap biasa olehnya. Bahkan mereka pernah saling melempar barang di kelas dan berakhir di ruang BK, tapi hubungan pertemanan mereka sama sekali tidak merenggang. Syifa salut dengan hal itu. Syifa mendudukkan diri di tengah–antara Junio dan Sky. Ia tidak ingin pertumpahan darah lebih besar. “Ayo, jadi nggak?” ajaknya. “Jadi, dong!” Sky berdiri dan menggandeng tangan sahabatnya itu. Junio yang melihat itu pun hanya mendesis sambil menatap mereka dengan tatapan tidak suka. “Ya udah sana lo pergi.” Sky dan Syifa benar-benar pergi setelah Junio mengatakan hal itu. Pandangannya berubah seperti sedia kala sambil mengikuti langkah mereka yang perlahan-lahan mulai menjauh. Crazy Vanity “Lo yakin beneran mau ketemu nyokap lo?” tanya Syifa yang sibuk dengan kemudinya. Sky yang sejak tadi bermain ponsel terpaksa mendongak dan menghela napas. “Itu pertanyaan kedua di hari ini. Kalo gue nggak beneran, ngapain kita ada di sini?” Syifa meringis. Kepalanya menoleh ke arah spion di sisi Sky duduk. “Ya gue kira lo nggak jadi aja, masih bisa putar balik soalnya.” Sky tertawa. “No, Cip. I’m not a kid anymore. Gue nggak mau jadi anak durhaka yang nggak pernah nengokin wanita yang udah ngelahirin gue ke dunia ini,” ucap Sky mengulang pernyataannya seperti pada Junio sebelumnya. Syifa berdecak. “Nggak gitu, Sky. Lo tetep anaknya even nggak pernah nengok. Lagian yang mutus komunikasi duluan kan nyokap lo.” Kakinya melepas injakan gas perlahan karena di depan terdapat lampu merah. Kepalanya menoleh penuh ke arah Sky. “Lo nggak perlu merasa bersalah, Sky. It’s been three years you blame  yourself.” “Kenyataannya begitu. Gue cuma nggak mau jadi anak yang dicap lupa jasa orang tua. Capek gue denger omongan orang,” keluh Sky tiada henti. “Gue pengen ngerantau, sih. Asli.” “Really? Me too tho,” kekeh Syifa selagi kakinya menginjak gas karena lampu lalu lintas sudah berubah hijau. Sky menatap Syifa senang. Matanya berbinar. Keinginan ini sudah ia idamkan sejak pertama masuk SMA. Ia tahu papanya begitu strict dengan segala urusan yang menyangkut sekolah. Apalagi kali ini ia memutuskan untuk ke luar kota. Mungkin papanya butuh alasan yang mendukung agar ia diizinkan dan Sky telah menemukannya. “Lo mau ke mana?” tanya Sky. “Nggak jauh-jauh. Cuma ke Jakarta doang, lo juga?” Syifa balik bertanya. Sky memandang jalanan. Kira-kira 15 menit lagi mereka akan sampai ke rumah mamanya Sky. “Nggak tahu. Mungkin iya. Bokap izinin kalo gue kuliahnya sama lo.” Syifa tertawa kecil. Ia telah menjadi salah satu orang kepercayaan Papa Sky ke mana pun Sky akan pergi. Dan hal itu terkadang dimanfaatkan oleh Sky sebagai alasan untuk mengelabui papanya. “Kebiasaan deh lo,” cibir Syifa sambil melanjukan mobilnya memasuki pekarangan milik mamanya Sky. Perempuan berkucir kuda itu menarik rem tangan. Ia menoleh ke arah Sky yang memasang wajah tegang. Beberapa kali Sky menelan ludah karena terlalu gugup. “Jadi turun nggak?” goda Syifa. Ia memundurkan kursi dan menyenderkan tubuhnya di sana. Kepalanya masih memberi perhatian penuh pada perempuan di sebelahnya itu. “Jadi!” seru Sky yang langsung membuka kunci pintu dan keluar dari mobil itu. Namun, tetap saja kakinya masih kaku. Ia tidak bisa melangkahkan kakinya lebih banyak dari ini. Syifa menggeleng maklum dalam mobil. Sky memang masih butuh waktu untuk menemui mamanya itu. Ia turut keluar dan bersandar pada kap mobil. “You sure nggak mau masuk?” Sky memandang rumah minimalis di depannya. Jarinya saling meremas untuk menghilangkan rasa gugup serta tegang yang ia rasakan ini. Sesekali juga ia mengatur napas. “Mau, tapi bentar dulu. Gue mau atur napas.” “Keburu sore. Ntar lo dicariin bokap lo, makin repot,” celoteh Syifa membuat Sky menghentak-hentakkan kakinya. “Iya iya, ini gue mau masuk.” Sky berjalan menuju ke arah pintu rumah mamanya itu. Pintu diketuk sebanyak tiga kali. Sky menatap Syifa khawatir ketika menunggu si pemilik rumah membukakan pintu. Syifa hanya mengangguk dan memberikan senyum pengertian. “It’s okay,” bisiknya tanpa suara. Terdengar kunci pintu terbuka. Jantung Sky makin berdebar hebat. Senyum kaku terbit di wajahnya ketika seorang wanita membukakan pintu. Terlihat jelas wajah terkejut dengan mata yang berkaca-kaca. “Sky?” tanyanya terkejut. Yang dipanggil hanya mengangguk kaku. Wanita itu memeluknya dengan erat, sedangkan ia hanya bisa membalas pelukan dengan kaku. “Ini beneran Sky?” ulangnya. Sky mengangguk kaku. “Selamat siang, Tante. Saya Syifa, teman sekolahnya Sky.” Syifa memperkenalkan dirinya. Ia mengulurkan tangan dan wanita itu menjabat tangan Syifa dengan erat. “Selamat siang. Saya Ratna, mamanya Sky. Mari masuk.” Mama Sky mempersilakan keduanya masuk. Mereka duduk di sofa tamu, sedangkan mamanya menyiapkan minuman untuk mereka. “Apa kabar kamu? Maaf Mama lama nggak nengokin,” ucap mamanya ketika mereka bertiga saling diam selama kira-kira lima menit. “Not bad,” jawabnya singkat. Ia masih tidak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap setiap pertanyaan yang diberikan Mama Ratna. Ratna tersenyum sekilas. “Syukurlah.” Tatapan matanya tidak pernah terlepas dari anaknya itu. Anak dari suami pertamanya. “Mama baik?” Sky bertanya balik. “I’m fine. Kalian belum makan ‘kan? Mama mau masak dan siapin kalian makan dulu, ya.” Mama Ratna hendak beranjak dari tempat duduknya ketika seorang anak perempuan masuk ke dalam rumah dan langsung memeluk mamanya dengan riang. “MAMA! Kiki pulang!” seru anak itu. Mama Ratna terkejut dengan pelukan yang tiba-tiba itu. Matanya sedikit membulat dengan tangan tergantung, tidak bisa membalas pelukan itu di depan Sky. Syifa menoleh cepat ke arah Sky yang saat ini sedang tercengang dengan pemandangan di depannya. “Ma?” ulang anak itu cemberut karena pelukannya tidak berbalas. “Mereka siapa?” Mama Ratna tersenyum singkat. “Kiki ke kamar dulu ya, nanti Mama nyusul.” “Ya udah, tapi nanti kakak-kakak ini pulang kan, Ma?” Kiki menatap keduanya dengan tatapan tidak suka dan hanya dibalas Sky dengan wajah datar. “Ke kamar sekarang.” Kiki menuruti perkataan mamanya dengan sesekali menghentakkan kaki kesal. “Anak Mama?” tanya Sky memastikan. Syifa menatap takut-takut pada Sky. Auranya tak lagi baik seperti sebelumnya. “Iya. Baru umur sembilan tahun.” Bukannya tenang, penjelasan mamanya itu justru membuatnya kalut. Sembilan tahun? Itu artinya anak itu lahir ketika ia berumur sepuluh tahun. Persis ketika papa dan mamanya berpisah. Jadi, apakah ini yang menjadi alasan mamanya meninggalkan mereka? “Jadi, anak itu yang membuat Mama pergi dari Sky dan Papa?” tanya Sky dengan suara tercekat. Mama Ratna menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Apa yang ditanyakan Sky, ia tidak pernah menyangkanya. Meski ia sering kali mengira ‘kapan Sky akan mempertanyakan keduanya berpisah’, ternyata sekali pertanyaan itu keluar membuatnya terkejut. Sangat terkejut sampai lupa bernapas. “Bukan begitu, Sky. Ini rumit, Mama bisa jelasin.” Mama Ratna sedikit tergagap. Ia tidak cukup berani menatap kedua manik mata anaknya itu. “I don’t need any explaining from you, Ma. That kid is the answer for my question back then.” Sky tersenyum miring. “So, that’s clear. I don’t have any question again. Maybe this is the last time we meet. Thankyou for bring me to the world, Ma.” Setelah mengatakan itu, ia mengajak Syifa untuk segera kembali ke mobilnya. Namun, Mama Ratna tentu mencegahnya dan memberikan 1001 alasan kepada Sky yang sayangnya sama sekali tidak menggubrisnya. “Sky, lo yakin? Mama lo keliatan sedih gitu.” Syifa mencoba bertanya kepada perempuan di sampingnya. Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, Mama Ratna memandangi mereka dari tempatnya berdiri dengan tatapan sendu. Garis-garis di wajahnya mulai terlihat, tapi Sky berusaha mengabaikan itu semua. “Gue nggak peduli.” Pembicaraan berakhir begitu saja, bahkan ketika mereka sampai di depan rumah Sky. Ia masih tidak membuka mulut sedikit pun. Syifa yang cukup mengerti dengan perasaan Sky, mencoba memberi waktu sejenak untuk perempuan itu sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD