Chapter 8

720 Words
Sekar memandang keluar jendela mobil. Kepalanya kembali pusing setelah turun dari pesawat. Suaminya sudah berpamitan kepadanya langsung menuju rumah sakit karena ada pasien yang harus segera ditangani malam ini. Astaga Sekar. Kamu ini sungguh kampungan. Naik pesawat saja pusing, nggak pantes jadi ibu negara kalau begini caranya. "Non, ini langsung pulang atau mampir?" Sapto, supir keluarga Pak Sony itu menatap Sekar lewat spion. "Langsung pulang saja, Pak." Ada sedikit rasa kecewa terbesit di hatinya ketika dia tau jika harus pulang mendadak. Sekar jadi berpikir, apakah di hati Arya juga memiliki rasa kecewa karena tiba-tiba harus membatalkan jadwal honeymoon mereka. "Non, sudah sampai. Nyonya Ajeng sudah menunggu," Sekar tersentak menatap sekitar, pandangannya terkunci pada ibu mertuanya yang tengah berdiri di teras rumah. Segera dia turun dan berniat membantu Sapto. "Nggak usah, Non. Biar saya saja," Sekar mengangguk ragu dan segera menghampiri Bu Ajeng yang tersenyum lembut. "Jetlag nggak, Dek?" tanya Bu Ajeng yang sudah membawa Sekar dalam pelukannya ditinggal baru dua hari saja sudah membuatnya kangen seperti ini pada menantu cantiknya ini. Apalagi jika Arya memilih untuk tinggal sendiri rasanya Bu Ajeng tidak akan sanggup. "Sedikit, Bun. Di sana kemarin malah meriang," ucap Sekar penuh rasa bersalah. Karena masalah dirinya yang kampungan jadilah dia menyusahkan suaminya. "Tapi sekarang gimana? Udah baik-baik aja? Apa meriang lagi?" Sekar tertawa pelan, "Baik kok, Bun. Cuma sedikit pusing, mungkin karena Sekar nggak pernah naik pesawat jadi gini," Bu Ajeng tersenyum mengusap rambut Sekar. "Karena pekerjaan Mas Arya mu itu kamu jadi gagal honeymoon nya. Padahal Bunda udah wanti-wanti dia supaya matikan saja ponselnya malah nggak nurut." "Nggak apa-apa, Bun. Sekar udah senang banget bisa liat pantai di Maldives cantik," Bu Ajeng tersenyum mendengar cerita Sekar yang nampaknya begitu menikmati liburan bulan madunya. Dia merangkul bahu memantunya itu dengan sayang memasuki rumah. "Terus ngapain lagi kalian di sana kemarin? Cuma jalan-jalan aja?" Bu Ajeng mulai menyelidiki apa yang terjadi antara anak dan menantunya itu. Dia berharap jika Arya dan Sekar sudah mau melakukan lebih. Bu Ajeng sangat mengharapkan kemajuan hubungan anak dan menantunya itu. "Ehm, sama makan malam dan sarapan di resto. Sisanya cuma di kamar," jelas Sekar yang mengundang kemurungan wajah Ajeng. Tapi hal itu tak berlangsung lama, karena Bu Ajeng mencoba berpikir positif, bahwa anak dan menantunya pasti butuh waktu untuk bisa mencintai. Bagaimana pun juga pernikahan ini adalah pernikahan tak berencana sebelumnya, semua serba mendadak. "Yaudah, sekarang adek mendingan istirahat dulu, ya. Pasti capek, nanti Bunda buatin teh hangat," "Nggak usah, Bun. Nanti biar Sekar sendiri yang buat," "Nggak apa-apa, orang Bunda mau manjain anaknya masa nggak boleh?" tutur Bu Ajeng sangat lembut. Sekar patut bersyukur karena bisa mendapatkan mertua sebaik Bu Ajeng dan Pak Sony. Mereka seperti memperlakukan Sekar seperti anak sendiri. Dan mereka juga dapat mengobati rasa rindu di hati Sekar pada Bapak dan Ibuknya. *** Hari sudah malam, Pak Sony, Bu Ajeng, dan Sekar sekarang tengah menikmati sajian acara televisi. "Arya nggak bilang mau pulang jam berapa, Dek?" Bu Ajeng menatap Sekar merasa anak menantunya itu mulai mengantuk. "Nggak, Bun. Mas Arya cuma bilang kalau operasinya malam," Bu Ajeng menghela napas, dia melirik suaminya yang duduk di sampingnya. "Biasanya kalau operasi malam Arya pasti nggak pulang kan Yah? Tapi sekarang sudah punya Sekar, masa mau ditinggal istrinya." Pak Sony mengelus punggung Bu Ajeng dengan sayang, istrinya itu selalu khawatir tentang apapun. Hal kecil pun pasti dikhawatirkan oleh Bu Ajeng. "Pasti Arya pulang. Dia sudah punya istri, Bun." ucap Pak Sony walau sedikit ragu. "Kamu tidur dulu aja, Dek. Nanti kalau Mas kamu pulang biar langsung ke kamar, lagian kamu juga pasti capek habis perjalanan jauh tadi." Sebenarnya Sekar sangat mengantuk, ingin sekali rasanya ia memejamkan matanya ini. Namun, statusnya kini telah berbeda. Dia adalah seorang istri, walaupun hanya istri yang terikat kontrak tapi Sekar ingin menjalani semua ini dengan baik hingga masa tugasnya usai. "Nggak kok, Bun. Bunda sama Ayah duluan saja nggak apa-apa, Sekar masih kuat." Bu Ajeng memandang iba pada menantu satu-satunya itu. "Ya sudah, nanti kalau kamu ngantuk nggak usah dipaksain nunggu ya, Dek." Sekar mengangguk mantap. Dia melakukan itu agar bisa meyakinkan Bunda mertuanya bahwa dia masih kuat dan sanggup begadang hingga suaminya itu datang. Tak etis rasanya jika suaminya yang tengah mencari nafkah tidak disambut kepulangannya. Ingin sekali rasanya Sekar menelepon suaminya itu dan menanyakan kepulangannya, namun jika dia melakukan itu Sekar takut akan mengganggu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD