Chapter 7

1059 Words
Sekar tersenyum menatap Arya yang masih tertidur pulas. Wanita itu merasa bimbang ketika melihat jam yang kini sudah menunjukkan pukul 4.30. "Mas Arya," ucap Sekar setelah keberaniannya terkumpul. Dia mengusap lembut lengan Arya yang terlihat kekar. "Mas bangun, sudah mau subuh." Ada sedikit pergerakan dari Arya dan detik berikutnya mata tajam itu berusaha terbuka menatap sekitar. "Kamu mandi dulu," ucap Arya dengan suaranya yang serak. Suara yang membuat Sekar tersenyum kecil. Susah payah Sekar bangun dari tidurnya, pahanya terasa begitu nyeri jika digerakkan. Apalagi pusat miliknya juga terasa nyeri. Wanita itu segera menarik baju miliknya yang tergeletak di lantai. Sekar sedikit mencuri pandang pada Arya yang masih terbaring. Arya bahkan tak berminat sekali untuk menatap Sekar. Sekar tersenyum sendu dan segera menutup pintu kamar mandi. Dia tak ingin melukai hatinya terlalu dalam dengan perlakuan yang Arya berikan padanya. Apa segitu nggak menariknya aku di mata Mas Arya? Tanya batin Sekar. Sekar menatap tubuhnya di depan cermin, tak ada jejak apapun di sana. Dulu, ketika Sekar suka membaca novel dewasa disana pasti akan di sajikan tubuh sang wanita yang banyak tanda cinta dari sang laki-laki. Namun apalah semua ini, kehidupan pernikahannya hanyalah sebuah kontrak. Pasti suaminya tak sudi jika sampai menyentuh tubuhnya yang lain hingga membuat tanda cinta di tubuhnya. Air mata Sekar mengalir mengingat kakaknya Clara. Tubuh Clara begitu cantik dan banyak diidamkan oleh sebagian besar kaum adam. Apa yang kamu harapkan Sekar? Pasti Mas Arya lebih suka tubuh yang bagus seperti Kak Clara. Jangan berharap terlalu banyak. Sekar mengguyur tubuhnya di bawah shower. Dia akan mandi besar di pagi yang dingin ini. Hatinya masih terasa sesak. Hidungnya pun ikut memerah. Inginnya ia tak berharap pada suaminya, namun siapa yang bisa memaksa hati yang kini telah jatuh pada sosok dokter tampan yang tak lain adalah suaminya sendiri. Sekar menunduk mengusap perut datarnya. "Cepat datang ya anaknya Mama." wanita itu kemudian tersenyum lembut. Setelah mandi dan keramas Sekar segera keluar dengan pakaian lengkapnya. "Mas Arya, aku sudah selesai." Arya yang tengah duduk di pinggir ranjang menoleh dan segera berjalan menuju kamar mandi. "Tunggu saya, Kar." Sekar mengangguk patuh dan segera menyiapkan dua sajadah yang dia bawa dari rumah. Dia bentangkan satu untuk Arya dan satu lagi untuknya. Tak lupa dia juga segera menyiapkan sarung dan peci milik Arya, lalu melanjutkan kegiatannya mengenakan mukenanya. Pintu terbuka dan Arya keluar dari sana dengan handuk yang masih melilit pinggangnya. Sekar yang lupa tidak menyiapkan baju ganti pun langsung bangkit. "Nggak perlu, biar saya sendiri." ucap pria itu datar tanpa ekspresi. Sekar jadi merasa tak enak karena merasa gagal menjadi seorang istri. Tanpa malu Arya melepaskan handuknya dan segera memakai kelengkapannya. Apa Mas Arya nggak malu? Batin Sekar dengan wajah memerah. Pagi ini akhirnya mereka bersujud menghadap-Nya, dengan Arya Pandu Wiratama sebagai imam. Arya adalah seorang dokter bedah yang cukup dikenal dikalangannya sesama dokter. Anak dari Pak Sony, pemilik pabrik obat yang sudah beroperasi 15 tahun yang lalu, juga istrinya yang memiliki pabrik tekstil yang cukup berkembang. Keluarganya yang sangat mapan membuat Arya tak pernah merasa kekurangan. Dari sekolah menengah atas hingga dia melanjutkan pendidikannya S2, Arya tak pernah pusing-pusing memikirkan dunia percintaan. Dia sangat jarang dekat dengan seorang wanita. Sampai pada akhirnya Bundanya mempertanyakan tentang masa depannya nanti. Dari keinginan Bundanya itu akhirnya Arya terpikir mengenai masa depannya jika tidak segera mencari kekasih. Dan beberapa tahun terakhir Arya bertemu dengan Clara, wanita cantik. Arya yang tidak pernah dihadapkan dengan perempuan sebelumnya luluh dengan Clara yang sangat terbuka padanya. Arya menyayangi Clara, Arya selalu menyempatkan waktunya untuk bisa berjalan bersama kekasihnya itu. Arya melakukan segalanya untuk bisa membahagiakan Clara. Tapi ketika hubungan mereka akan masuk ke jenjang yang lebih serius, Clara malah meninggalkannya. Dan semua ini membuatnya kembali membenci apa yang dinamakan cinta. Arya juga tak berharap dengan pernikahannya ini. Dia tak pernah ingin cinta hadir diantara mereka. *** "Kita mau kemana, Mas?" Sekar mengikuti langlah kaki Arya yang melangkh begitu lebar di depannya. Lalu lalang ramai di sekitarnya membuatnya sedikit sulit. Sekar sesekali sedikit meringis saat kembali merasakan nyeri di miliknya. "Mas jangan cepat-cepat." Arya mendengar itu segera menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Arya melihat d**a Sekar yang naik turun menyesuaikan napasnya. "Kaki aku sakit," cicit Sekar pelan. Bukannya menjawab Arya langsung membalikkan badan dan kembali melangkah. Wanita itu hanya menghela napas lelah dan kembali mengikuti langkah Arya di belakangnya. Meskipun dia sedikit kebingungan karena langkah Arya yang sedikit pelan. Apa mungkin akan segera sampai? Dan benar saja, ternyata mereka sampai tepat di resto tepi pantai yang banyak sekali bule sedang sarapan pagi. "Pesanlah apa yang kamu inginkan." titah Arya pada Sekar yang sudah duduk di sebrangnya. Sekar tersenyum kaku menatap buku menu yang ada di tangannya. Dia diam-diam melirik suaminya yang tengah menikmati pemandangan pantai yang begitu indah. Beberapa kali melirik akhirnya mata mereka bertemu. "Kenapa?" tanya Arya lalu beralih menatap pelayan resto. "Aku... aku bingung," Sekar menggaruk tengkuknya. Dia tidak pernah makan makanan mahal. Apapun yang dibelikan oleh Bapak atau Ibuk nya maka itulah yang akan Sejar terima. "Kenapa bingung? Tidak suka makanannya? Mau pindah resto lain?" tanya Arya sembari merebut buku menu dari tangan Sekar. Untung saja mereka berbicara menggunakan bahasa indonesia. "Bukan... aku hanya nggak pernah memakannya. Ehm, nasi goreng saja apakah ada?" Arya menatap diam Sekar dan membuat wanita itu semakin salah tingkah. Sekar, kamu sungguh memalukan! Lihatlah sekarang tatapan Mas Arya yang diam itu! Pasti dipikirannya kamu ini sangat kuno! Batin Sekar merutuki dirinya. Arya segera mengatakan menu yang dipesan olehnya dan juga Sekar. Tring! Tring! "Halo?" "..." Arya menatap sejenak Sekar yang diam menatap pemandangan. Setelah merasa aman, pria itu segera berjalan menjauh untuk menerima telepon. Cukup jauh hingga dia bisa menemukan tempat sepi untuk mendengar telepon yang dia terima. Tetapi pria itu masih bisa melihat Sekar yang dihampiri oleh pelayan dengan baki di tangannya. Di sisi lain, Sekar hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Dia tak paham apapun yang dikatakan oleh pelayan yang sedang menata pesanannya ini. Dari dulu memang Sekar akui jika bahasa inggris nya sangat jelek. Tapi dia bersyukur kala pelayan itu langsung pamit setelah meletakkan pesanan. Dia tersenyum mendapati dua nasi goreng yang terhidang dengan jus jeruk dan juga roti panggang. Perutnya sangat lapar sekali, tapi dia harus menanti Arya yang tengah menerima telepon. "Cepat makanlah, setelah ini kita harus pulang." ucap Arya yang tiba-tiba sudah di depannya. Sekar menerjap pelan, pulang? "Pulang ke Surabaya, Mas?" "Ya." Bukannya seminggu? Kenapa cepat pulang? ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD