Chapter 6

814 Words
"Kapan terakhir kamu datang bulan?" Sekar menoleh pada Arya yang tengah sibuk dengan  handphonenya  .  "Emm... Waktu setelah sehari pernikahan kita,"  Arya menatap wajah ayu nan lembut Sekar. Hatinya sedikit bahagia mendengarnya. "Itu artinya kita harus program hamil segera, kalau bisa malam ini."  Mata Sekar sedikit melebar, "Aa-apa? Malam ini?"  "Boleh, sekarang bukan baju mu." Gila. Bagaimana bisa secepat ini? Dan tadi Arya langsung menitah Sekar agar membuka kaos yang dipakai gadis itu.  "T-tapi aku malu," "Lakukan! Waktu kita satu tahun, membuatmu hamil juga bukan waktu yang singkat. Jadi lebih baik kita memulainya sekarang. Saya juga mengharapkan hanya seorang anak dari pernikahan ini. Saya tidak akan tahu setelah perceraian kita nanti, tidak diberikan kesempatan untuk menikah lagi atau tidak. Maka dari itu saya mohon lakukan saja, saya juga akan memenuhi keinginan mu untuk memiliki anak. Kita akan merawat anak itu berdua meskipun kita nantinya akan cerai. Jadi tolong cepat lakukan,"  Sekar menatap sendu wajah Arya yang tengah berbicara serius itu. Apapun yang terjadi kedepannya, aku hanya bisa pasrah dengan takdir-Mu. Aku tau malam ini aku akan menyerahkan milikku pada suamiku, meskipun dia bukan orang yang aku cintai. "La-lampu," "Kenapa?" "Dimatikan saja, aku malu, Mas." cicit Sekar pelan. Enak saja main langsung lihat tubuhku ini. Ya walaupun tubuhku nggak sebagus para artis bintang film yang bohay. Tapi aku nggak mau langsung lepas baju di depanmu. Arya menghela nafas lalu berjalan untuk menekan saklar lampu di samping pintu. Dan sekarang hanya ada lampu tidur di atas nakas yang tersisa. Sekar dengan perlahan membuka kaos dan celana panjang miliknya, jantungnya berdegup kencang sekarang, ia tak pernah bertelanjang di depan orang lain. "Semuanya, Kar."  "Mas... Tapi aku malu," Sekar benar-benar malu sekarang jika dia juga harus melepaskan bra dan celana dalamnya.  "Oke, kita buka sama-sama," ucap Arya dan pria itu segera melepas pakaian yang ada di tubuhnya. Sekar melotot ketika melihat kejantanan Arya yang besar, panjang, coklat, dan berurat itu. Napasnya tercekat sesat. Bagaimana bisa dia dengan santainya membuka bajunya di depan orang lain?! Kenapa seperti itu bentuknya? Kenapa besar sekali? Ibu, aku takut. Gimana kalo nanti robek punyaku? Bagaimana jika tidak mau dan membuatku mati di malam ini juga? Hati Sekar berdegub begitu kencang sekarang. Dia bahkan belum melepas bra dan dalaman miliknya. "Kenapa menatapnya seperti itu? Semua milik laki-laki juga seperti ini." Arya yang berjalan mendekati Sekar pun jadi menimbulkan gerakan di selakangan pria itu. Kejantanannya bergerak-gerak ke atas bawah.  Sekar yang menyadari itu langsung membuang muka dan segera melepaskan kaitan bra nya. Jelalatan banget mata kamu, Sekar.  Jujur saja saat melihat Sekar yang melepas kaos mempertontonkan bra dengan p******a yang tidak tertampung otomatis membuat Arya tegang. Ini pertama baginya menatap langsung tubuh seorang wanita tanpa busana. Jujur saja dalam hati nya juga sedikit gugup.  Arya juga tak menyangka jika pada akhirnya Sekar langsung menurut, padahal tadi dia sedang ingin bercanda saja. Susah payah Arya mengendalikan dirinya agar tidak langsung menerjang perempuan di depannya itu. Hawa dingin menyergap kuat ke dalam kulit pasangan pengantin baru itu. Arya tetap saja membuka jendela kamar, begitu juga dengan Sekar yang tidak bisa membantah, bahkan untuk mengatakan sesuatu pada suaminya saja rasanya sangat malu.  Arya sekarang sudah ada di atas Sekar sedang mengukung istrinya yang ayu itu. Kepala kejantanannya sedikit menggesek-gesek lipatan-lipatan milik Sekar.  "Shh..," Sekar yang mati-matian menahan desisannya pun akhirnya keluar juga. Malu sekali. Tapi untung saja keadaan sekitar gelap. "Mas... Kalo nanti nggak muat gimana?" Arya menatap datar Sekar yang saat ini menatapnya takut. "Pasti muat." Jantung Sekar rasanya seperti dipompa cepat. Gadis itu sedikit terjengit geli saat Arya mencoba menggesek-gesekan kembali ke atas bawah lipatannya. Gadis itu sedikit tersentak ke atas karena kegelian yang ia rasakan menyentuh kulit nya. Sembari menahan nafas dia mencengkram erat seprai. "Pelan-pelan ya." Arya hanya bergumam menjawab pinta istrinya itu. Napasnya berhembus kencang karena gairah yang begitu ia tahan saat ini. Nyeri pada miliknya sudah pasti. Tapi dia tak mau melukai Sekar, bagaimana pun dia perempuan. Dia tak bisa berbuat kasar hanya karena gairahnya saat ini. Deru napas Arya juga bisa di dengar oleh Sekar. Sekar bisa melihat keringat yang turun mengalir di dahi Arya. Memang tiba-tiba saja dia juga merasakan gerah. Padahal tadi sangat dingin. "Saya udah nggak bisa menahannya lebih lama, Kar." Menit berikutnya, Sekar dibuat melenguh karena sentuhan Arya yang begitu tiba-tiba. Sekar sudah yakin dengan dirinya. Jika dia akan menyerahkan miliknya yang dia jaga selama ini untuk Arya, suaminya. Walaupun hanya untuk sebuah kewajiban. Sekar sempat memekik kaget dan disusul ringisan yang dia keluarkan. Sakit dan nyeri tubuhnya seperti dipaksa terbelah oleh sesuatu dan kemudian tersalur ke otaknya yang membuatnya ikut pusing. Malam itu menjadi penyatuan mereka untuk pertama kali, tanpa ada dasar cinta di diri mereka berdua. Tapi siapa sangka jika di hati sang wanita yang telah resmi menjadi istri sejati itu mulai terselip rasa yang harusnya tak pernah ada. Dia bahkan menatap Arya dengan senyum sebelum menutup matanya karena rasa lelah yang sudah memukul dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD