04 :: Tergadai Kepala

1519 Words
Geulis melihat layar ponselnya yang sedang menampilkan sebuah alamat yang tadi dimintanya dari Beby. Alamat rumah seorang pria yang ia ketahui bernama Rizkan. Ia sengaja mendatangi rumah pria itu untuk mengembalikan baju yang kemarin ia minta sebagai bentuk pertanggung jawaban atas perbuatannya di kafe waktu itu. Dan sekarang, ia sudah berhenti tepat di depan rumah yang ia yakini merupakan rumah Rizkan. Sembari mematikan mesin mobilnya, Geulis mengambil paper bag yang ia letakkan di bangku penumpang sebelum keluar dari dalam mobil. Ia lalu berteriak dari luar gerbang, memanggil siapa saja yang ada di dalam sana untuk membukakan gerbang yang terkunci ini. "Nggak usah teriak, mbak. Di samping gerbang ada bel kali," ucap seorang gadis remaja dengan seragam SMA yang tiba-tiba berdiri di samping Geulis. Geulis meringis malu saat melihat gadis yang tak ia kenal itu sedang memencet bel yang memang ada di luar gerbang. Norak banget lo, Geulis, umpatnya dalam hati. "Mbak nyari siapa?" tanya gadis itu sambil terus memencet bel yang terkadang diselingi dengan u*****n saat tak ada satu orang pun yang keluar dari rumah tersebut. "Saya nyari Rizkan. Kamu yang punya rumah, ya?" Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Gue adiknya bang Rizkan. Mbak siapanya bang Rizkan?" "Uhm ... saya temennya," jawab Geulis yang terdengar tak yakin dengan jawabannya barusan. Gadis itu kembali mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum mengambil ponselnya entah untuk menghubungi siapa. "Buka gerbang!" teriaknya yang lantas mematikan panggilannya begitu saja. Dan Geulis langsung bisa tahu siapa yang gadis itu hubungi. "Maaf ya, mbak. Abang gue kalo lagi sendirian di rumah memang kayak gitu. Suka lama bukain gerbang soalnya lagi tidur. Di rumah juga nggak ada pembantu. Jadi, ya gini, deh," gadis itu kembali berucap, merasa tak enak hati karena membuat Geulis menunggu terlalu lama. Geulis tersenyum maklum. "Nggak apa-apa kok. Si Rizkan, ya?" "Bukan. Abang gue yang satunya, mbak. Bang Kiki, kembaran bang Rizkan. Kalo bang Rizkan jam segini, sih masih kerja." Mendengar nama mantan kekasih Beby keluar dari mulut gadis itu, seketika membuat Geulis jadi keki sendiri. Entah kenapa, sejak kejadian waktu itu, ia jadi semakin membenci pria yang tak ia ketahui rupa aslinya itu seperti apa. Pria yang telah menyakiti hati sahabatnya sekaligus pria yang membuatnya malu karena salah orang. Sebenarnya ia juga tidak bisa menyalahkan Rizki atas kejadian memalukan waktu itu. Namun, kalau saja ia tidak terlalu marah dengan Rizki setelah mendengar cerita Beby, ia yakin dirinya tak akan seemosi itu sehingga membawa dirinya pada kejadian memalukan karena salah orang. "Lama banget sih lo!"                                             Teriakan kesal gadis itu berhasil membuat Geulis terbangun dari lamunannya. Ia kemudian menoleh ke depan dan menemukan pria yang memang mirip sekali dengan Rizkan. Dan seketika, kekesalannya langsung melambung tinggi saat tahu bahwa pria inilah yang sebenarnya ingin dimakinya sejak kemarin. Dan saat ini, ia berusaha sekuat mungkin untuk tak menyebutkan satu per satu nama hewan yang tinggal di kebun binatang kepada pria itu karena ia datang ke sini untuk menemui Rizkan. "Ayo, mbak, masuk," ajak gadis itu yang membuat Geulis mengangguk lantas mengikuti langkahnya. "Mobilnya ditinggal di situ aja, mbak? Nggak mau dibawa masuk?" "Aman kan kalo ditinggal di situ?" "Aman, kok. Oh iya, abang masih kerja. Mbak nggak apa-apa nunggu? Paling bentar lagi pulang, sih." "Nggak apa-apa," jawab Geulis dengan senyum tipisnya sebelum mengambil duduk di sofa ruang tamu saat gadis itu menyuruhnya untuk duduk terlebih dahulu. Dan ia sudah tidak melihat keberadaan Rizki di mana pun. Selagi menunggu gadis yang belum ia ketahui siapa namanya itu yang katanya nanti akan kembali untuk menemaninya menunggu Rizkan, Geulis melihat-lihat berbagai macam lukisan dan foto yang berjajar di sepanjang dinding ruang tamu sehingga membuat rumah ini tampak begitu ramai. Pandangannya berhenti pada sebuah foto dengan ukuran yang paling besar di antara foto lainnya. Foto keluarga. Ia mengamati foto yang diisi oleh lima orang tersebut. Dan ia bisa melihat senyum bahagia yang tersungging di bibir mereka masing-masing yang tanpa sadar membuat bibirnya juga ikut tersenyum. Hanya sebuah foto, tetapi mampu menghantarkan perasaan hangat bagi siapa pun yang melihatnya. Seperti dirinya saat ini. Tatapan Geulis kemudian berhenti pada foto si kembar Rizkan dan Rizki. Keduanya benar-benar mirip sekali dalam foto tersebut. Hanya berbeda pada gaya rambut, warna kulit, dan bagian dagunya saja. Pantas saja ia bisa salah orang waktu itu. Apalagi ia hanya pernah melihat Rizki dari foto yang pernah ditunjukkan Beby kepadanya. Lalu, tatapannya teralihkan pada foto seorang wanita yang ada di sana yang ia yakini merupakan ibu dari Rizkan. Entah kenapa wajahnya terlihat tak asing di matanya. Ia seperti pernah bertemu dengan wanita itu, tetapi sialnya ia tidak bisa mengingatnya. "Assalamualaikum." Satu suara yang masuk ke dalam telinganya membuat Geulis segera memutar pandangannya ke arah pintu, dan ia menemukan Rizkan di sana, berdiri dengan wajah terkejutnya saat matanya bersitatap dengan Geulis. "Kamu! Ngapain ke sini?!" Rizkan tak bisa menahan dirinya untuk tak berteriak. Ia masih ingat dengan jelas apa yang sudah gadis itu lakukan kepadanya sehingga berhasil membuatnya malu. Bahkan, di tempat kerja pun, kedua temannya yang kemarin menyaksikan langsung kejadian itu tak berhenti meledeknya sehingga membuat semua rekan kerjanya menjadi heboh. Geulis meringis pelan lantas bangkit berdiri saat mendengar Rizkan meneriakinya untuk yang kesekian kalinya. Pria yang satu itu sepertinya memang hobi sekali berteriak. "Abang udah pulang rupanya. Ya udah, deh, gue balik ke kamar lagi aja. Itu si mbak nungguin abang dari tadi," ucap adik Rizkan sebelum pamit kepada Geulis untuk kembali ke kamarnya. "Ngapain ke sini?" tanya Rizkan yang sudah merendahkan nada suaranya seraya berjalan menghampiri Geulis sebelum mengambil duduk di hadapannya. Geulis kembali duduk dengan matanya yang tak lepas dari Rizkan. Selama beberapa saat, ia diam sambil terus memandang Rizkan. Ia sedang tidak mengagumi wajah pria itu, tetapi lebih mengagumi seragam yang dipakai Rizkan. Hanya melihat sekilas saja, ia sudah tahu apa pekerjaannya. Dan ia benar-benar selalu tertarik melihat pria dengan seragam-seragam seperti itu. Terlihat sangat gagah dan laki sekali. "Mbak!" tegur Rizkan setengah berteriak saat sekian menit lamanya Geulis hanya diam sambil terus memandanginya. Geulis mengerjapkan matanya berulang kali saat ia sadar bahwa matanya sudah terlalu lama menatap Rizkan. Sial. Pasti pria itu mengira dirinya sedang melakukan flirting. Najis! Orang galak seperti Rizkan bukanlah tipenya. Apalagi pria itu merupakan kembaran Rizki yang kata Beby terkenal suka menyakiti hati para wanita. Mereka kembar, tentu saja keduanya memiliki sifat yang sama. Dan ia datang ke sini juga bukan untuk tebar pesona, tetapi untuk menebus dosa. "Saya ke sini cuma mau ngembaliin baju mas yang kemarin saya bawa pulang," ucap Geulis sembari menyerahkan paper bag yang ia bawa kepada Rizkan. Rizkan langsung menerimanya dan melihat isinya yang memang terdapat kaus panjang berwarna abu-abu yang kemarin ia pakai. Ia kemudian kembali menatap Geulis yang sepertinya sedang menunggu responsnya. "Ya, udah. Pulang sana," usir Rizkan secara terang-terangan. Terserah jika gadis itu menganggapnya sebagai tuan rumah yang tidak sopan atau apa pun itu. Jika melihat wajah gadis itu, ia jadi ingat dengan kejadian memalukan waktu itu yang membuat rasa kesalnya semakin bertambah. "Berarti urusan kita udah selesai kan, mas? Mas nggak dendam sama saya, kan?" tanya Geulis dengan senyum lebarnya. Rizkan tak menjawab apa pun, tetapi kedua matanya malah memandang gadis itu dengan lekat yang sontak membuat Geulis langsung melunturkan senyum di bibirnya lantas menatap Rizkan dengan kening yang berkerut bingung. Pandangan pria itu mengingatkan Geulis pada tatapan pria-pria genit di luar saja. Benar dugaannya, Rizkan pasti tak jauh berbeda dengan kembarannya. Tatapan pria itu yang begitu lekat membuat ia yakin bahwa Rizkan sedang melakukan flirting dengannya. Geulis berdehem pelan lantas mengangkat dagunya dengan raut angkuh yang terpasang di wajahnya, berlagak sok cantik karena Rizkan sepertinya baru sadar bahwa selama ini, pria itu sedang berurusan dengan gadis berparas anggun sepertinya. "Mas ngapain ngeliatin saya? Awas, lho, nanti mas jadi baper," ucap Geulis dengan santai. Rizkan mendengus pelan lantas memutus tatapannya dari Geulis. "Kamu jualan cabe, ya?" Geulis semakin mengerutkan keningnya setelah mendengar pertanyaan Rizkan yang sangat tidak nyambung dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya. Namun, ketika ia sadar apa maksud dari pertanyaan pria itu, senyumnya langsung merekah lebar di bibirnya. "Kok tahu?" Geulis balik bertanya saat ia yakin bahwa pertanyaan Rizkan barusan bermaksud untuk menggombalinya. Ya, ia tahu kalau dirinya memang cantik, wajar saja kalau Rizkan ingin mengeluarkan rayuannya untuk menarik perhatiannya, pikir Geulis dengan kepercayaan diri yang berada di atas rata-rata. "Itu, di gigi kamu ada cabe," ucap Rizkan seraya mengarahkan telunjuknya ke arah mulut Geulis. Senyum Geulis seketika runtuh, berganti dengan wajah merona karena malu. Sialan. Untuk yang kesekian kalinya, ia kembali membuat dirinya malu. Dan kenapa Rizkan tega sekali mengatakan hal itu kepadanya. Seharusnya pria itu pura-pura tidak tahu saja seperti apa yang adiknya lakukan. Karena ia yakin, adik Rizkan pun sepertinya tahu kalau di giginya ada cabai mengingat mereka yang sempat mengobrol tadi, tetapi dia menahan diri untuk tak mengatakannya. Rizkan memang tak punya hati. Geulis kembali berdehem, kali ini dengan wajahnya yang dibuat sedatar mungkin, menunjukkan bahwa ia tak terpengaruh dengan apa yang Rizkan katakan tadi. "Saya pulang dulu," pamitnya dengan mulut yang tak terbuka sepenuhnya. Setelahnya, ia segera pergi dari hadapan Rizkan. "Sampe rumah jangan lupa sikat gigi ya, mbak!" teriak Rizkan dengan tawanya yang sudah tak bisa ia tahan lagi yang membuat Geulis semakin mempercepat langkahnya. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum beranjak ke atas, menuju kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD