Geulis menempelkan keningnya pada setir mobil setelah ia berhasil kabur dari pria yang ia pikir Rizki—mantan kekasih dari sahabatnya yang dengan seenaknya menyakiti hati sahabat baiknya itu. Sungguh, ia benar-benar malu sekali saat ini. Sikapnya yang awalnya ingin jadi sok pahlawan di mata Beby—sahabatnya—malah berujung pada insiden memalukan seperti ini.
"Gila! Malu banget gue punya sahabat kayak lo, Geulis," celetuk Beby yang baru masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya kembali ke dalam untuk mengambil tasnya yang tertinggal sekaligus membayar apa yang mereka beli tadi.
Geulis mengangkat kepalanya lantas melayangkan pandangannya kepada Beby. Pandangan nelangsa yang membuat siapa pun merasa kasihan dengannya. "Gue malu banget, Beb. Astaga! Gue pengen nangis."
"Lagian elo emosian banget, sih. Udah gue bilang kalo dia bukan Rizki. Kalo diliat sekilas, mereka memang mirip banget."
"Terus gue harus apa?" tanya Geulis dengan matanya yang tampak berkaca-kaca. Bukan hanya malu saja sebenarnya, tetapi ia juga merasa begitu bersalah dengan pria yang ia siram dengan milkshake tadi. Ia yakin badan pria itu pasti akan terasa lengket nantinya.
Beby menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Kayaknya lo harus minta maaf sama dia deh, Lis. Pas gue masuk tadi, muka itu cowok serem banget. Kalo dia Hulk, pasti badannya langsung berubah ijo."
"Gue nggak berani ketemu dia lagi. Dan seinget gue, tadi kayaknya gue udah minta maaf, sih," sahut Geulis yang sedikit terdengar ragu.
Beby memutar kedua bola matanya. "Ya kali dia mau maafin lo kalo lo langsung kabur gitu aja abis minta maaf."
Geulis mendesah pelan sebelum kembali menempelkan keningnya pada setir mobil. "Gue jadi pengen ketemu nyokap gue."
"Hah? Ngapain?"
"Gue pengen masuk lagi ke rahimnya terus minta dilahirin dengan wajah yang baru. Sumpah! Malu banget gue."
Beby hanya mencibir Geulis sebelum meneguk milkshake miliknya yang masih tersisa setengah.
"Lis! Itu cowok yang tadi, Lis! Si Rizkan," seru Beby sambil menepuk pelan pundak Geulis saat matanya menangkap sesosok pria yang ia yakini merupakan kembaran dari mantan kekasihnya yang sekarang terlihat basah kuyup akibat ulah sahabatnya.
Geulis langsung mengangkat kepalanya dan mengikuti arah telunjuk Beby. "Gue harus apa ini?" tanyanya dengan panik.
"Buruan samperin dia sebelum dia dateng ke kantor polisi buat nuntut elo," jawab Beby yang juga jadi ikut-ikutan panik.
Tanpa menunggu waktu lagi, Geulis segera keluar dari mobilnya untuk mendatangi pria itu sesuai dengan usulan Beby barusan. Bagaimanapun juga, ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan. Atau paling tidak, ia harus meminta maaf secara sopan kepada pria itu.
Geulis mengambil posisi berdiri di depan mobil Rizkan saat pria itu sudah ingin melajukan mobilnya. Ia lalu meneriakkan kata berhenti yang membuat Rizkan langsung menginjak rem secara mendadak.
"Nggak waras kamu, ya! Mau apa lagi kamu?!" teriak Rizkan dengan kepalanya yang sudah menyembul keluar dari jendela mobil, menatap Geulis dengan wajah memerah pertanda marah.
Geulis memejamkan matanya sejenak. Untuk kedua kalinya, ia kembali menjadi pusat perhatian akibat kekonyolannya. Sungguh, rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya di dalam sumur bersama Sadako saat ini juga.
Rizkan membunyikan klakson mobilnya, menyuruh gadis yang tak ia kenal itu untuk segera menyingkir dari hadapannya.
Hal itu membuat Geulis meringis pelan. Ia melihat sekelilingnya dan mendapati semua orang yang saat ini tengah menatapnya dengan aneh. Ia kemudian melangkah dengan cepat untuk menghampiri Rizkan, masuk ke dalam mobil pria itu tanpa permisi.
"Kamu mau apa lagi?!" Rizkan kembali berteriak. Amarahnya sudah bercampur dengan rasa kesal akibat tingkah gadis yang telah membuatnya malu ini. Gadis ini memang tidak ada sopan-sopannya sama sekali. Setelah pergi begitu saja, sekarang malah dengan seenaknya masuk ke dalam mobilnya.
Geulis duduk menyudut, merasa ngeri mendengar Rizkan yang kembali berteriak marah. Dan bodohnya, kenapa ia malah masuk ke dalam mobil pria ini. Seharusnya ia kembali ke mobilnya saja tadi. Sialan. Rasa malu setelah menjadi pusat perhatian akibat kekonyolannya tadi membuat dirinya jadi bingung harus berbuat apa.
"Bisa kamu keluar dari mobil saya sekarang juga?" geram Rizkan saat gadis itu hanya diam saja. Kali ini, ia sudah tak berteriak lagi, tetapi suaranya malah terdengar lebih menyeramkan sampai membuat bulu kuduk Geulis meremang.
Geulis yang menyadari niat awalnya yang bisa membuatnya berada di sini, langsung menghadap ke arah pria itu lantas menangkup kedua tangannya di depan d**a dan menundukkan kepalanya. "Maafin saya. Saya nggak bermaksud buat kamu malu. Saya juga nggak ada maksud untuk nyiram kamu. Maafin saya karena ternyata saya salah orang."
Rizkan mendengus pelan. Apa pun alasannya, gadis itu telah berhasil membuatnya marah dan membuat akhir pekannya menjadi berantakan.
"Saya bilang keluar sekarang juga," desis Rizkan dengan nada suaranya yang belum melunak.
Mendengar perkataan Rizkan barusan membuat Geulis segera mengangkat kepalanya secara perlahan. "Jangan galak-galak dong, mas. Saya takut. Saya jadi pengen nangis ini," ucapnya dengan jujur. Bahkan, matanya sudah tampak berkaca-kaca saat ini, menunjukkan air mata yang siap tumpah kapan saja.
"Saya nggak peduli. Saya mau pulang sekarang. Silakan keluar dari mobil saya," tegas Rizkan yang tak terpengaruh sama sekali dengan apa yang gadis itu katakan. Toh, itu juga bukan urusannya.
Bibir Geulis semakin melengkung ke bawah, membuat dirinya tampak semakin menyedihkan. Tangannya kemudian terulur ke depan yang membuat Rizkan membelalakkan matanya lantas menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
"Mau apa kamu?" tanya Rizkan dengan panik.
"Mau ngambil baju kamu. Aku mau tanggung jawab dengan cara nyuci baju kamu yang udah basah gara-gara aku," jawab Geulis masih dengan kedua tangannya yang berusaha mengambil baju Rizkan, memaksa lebih tepatnya.
"Nggak perlu! Awas!" teriak Rizkan seraya menarik tangan Geulis yang sudah menyentuh bajunya. Demi Tuhan, gadis ini benar-benar menjengkelkan. Kalau saja yang sedang dihadapinya saat ini bukan seorang perempuan, ia pasti akan mengeluarkan tanduknya dan menyeruduk orang aneh ini sampai ke planet Mars.
"SAYA BILANG NGGAK PERLU!" Rizkan kembali berteriak, kali ini lebih keras dari sebelumnya yang berhasil membuat Geulis tersentak lantas segera menjauh darinya. Kesabarannya telah habis. Ia benar-benar kesal dengan tingkah gadis tidak waras ini.
Geulis menggigit bibirnya yang sudah bergetar akibat dirinya yang sedang menahan tangis. Matanya belum lepas memandang Rizkan yang saat ini tengah merapikan bajunya. Dan ketika Rizkan balas menatapnya, ia langsung membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya sebelum tangisnya pecah begitu saja.
Rizkan memejamkan matanya sejenak, merasa lelah menghadapi spesies aneh seperti gadis yang satu ini. "Astaga! Kamu sebenernya mau apa, sih?"
"Saya cuma mau minta maaf dan mau bertanggung jawab, tapi mas malah bentak-bentak saya. Saya, kan, jadi takut," jawab Geulis di sela-sela isak tangisnya.
Rizkan mengusap wajahnya frustasi. Gadis itu yang salah, tetapi dia yang menangis dan membuat dirinya menjadi serba salah. Sialan. Tangisan seorang perempuan benar-benar senjata yang ampuh untuk meluluhkan pria mana pun, termasuk Rizkan.
Dan kini, Rizkan memilih untuk menyudahi semua ini, menyudahi hal yang membuatnya hampir gila. Ia lalu membuka kaus panjangnya yang basah dan lengket sehingga membuat bagian atas tubuhnya tak tertutupi apa pun sebelum menyerahkannya kepada gadis itu.
"Ini, ambil baju saya. Kamu bawa pulang terus kamu cuci."
Geulis segera mengangkat kepalanya seiring dengan tangisnya yang mereda. Dan seketika, senyumnya mengembang lebar di bibirnya, diikuti dengan tangannya yang dengan semangat mengambil kaus tersebut dari tangan Rizkan.
"Udah, kan? Kamu bisa pergi sekarang. Saya mau pulang," usir Rizkan dengan wajah lelahnya.
Geulis mengangguk cepat sebelum membuka pintu mobil lantas segera keluar dari sana. Ia merasa lega sekarang. Setidaknya, ia sudah meminta maaf dan bertanggung jawab. Dengan begitu, ia yakin hidupnya akan kembali tenang.
Geulis sedikit membungkukkan badannya untuk melihat Rizkan dari jendela mobil yang tertutup. "Hati-hati ya, mas," ucapnya kemudian yang tak ditanggapi sama sekali oleh Rizkan. Pria itu bahkan langsung pergi begitu saja.
"Galak banget," gumam Geulis seraya melangkah menuju mobilnya.