“Kemejanya...” Giselle menatap kemeja Zachary yang bagian atasnya berwarna hijau muda. Tentu saja ini semua karena Giselle melemparkan segelas greentea pada Zachary.
Haruskah Giselle meminta maaf? Giselle inginnya begitu, tapi lidahnya terasa sangat kelu untuk sekedar memanggil nama Zachary.
Pikiran Giselle seolah terpecah menjadi dua kubu. Di satu sisi Giselle merasa bersalah dan ingin meminta maaf, tapi di sisi lain Giselle juga merasa apa yang dilakukannya memang pantas terlebih pada anak nakal seperti Zachary.
Apa Giselle terlalu berlebihan menganggap Zachary sebagai anak nakal? Tentu saja tidak, lagipula Zachary sudah menunjukkan kalau dia tidak berhak disebut sebagai anak baik setelah menghajar sesama murid berkemeja.
Lantas apa yang harus Giselle lakukan sekarang? Giselle masih belum kunjung menemukan jawabannya.
“Gisel.” Seseorang memanggil nama Giselle. Seketika saja Giselle menoleh ke samping dan menemukan seorang laki-laki berkacamata yang tengah tersenyum padanya.
“Namamu Gisel kan? Aku Kevin, salam kenal ya.” Suaranya terdengar sangat ramah pada Giselle. Hal ini sedikit membuat Giselle merasa jauh lebih baik.
“Ya, salam kenal juga,” jawab Giselle sambil tersenyum.
“Heh, cepat bersihkan kemejaku,” ujar Zachary dengan nada suara kesal. Mengganggu komunikasi Giselle dengan Kevin. Bagaimana tidak kesal, Giselle telah membuat kemejanya kotor, tapi Giselle sama sekali tidak kunjung minta maaf padanya.
“Aku tidak mau,” ucap Giselle sambil menaruh kemeja Zachary di atas mejanya.
Zachary mengerutkan keningnya. “Sombong sekali kau.”
“Jack, apa yang kau lakukan.” Kali ini Kevin yang merespon perkataan Zachary. “Berani sekali kau merundung murid baru secantik Gisel.”
“Haaaah?!” Urat syaraf Zachary terasa berkedut mendengar perkataan Kevin. Berbeda dengan Giselle yang merasa tersipu dalam diam.
“Aku tidak peduli, dia harus bertanggungjawab!” seru Zachary sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
“Apa kau tidak bisa bersikap lebih baik?!” protes Kevin kesal. Zachary memalingkan pandangannya tidak peduli.
Giselle menghela napasnya lalu mengeluarkan selembar uang berwarna merah dari dompetnya. “Aku harap ini cukup, jadi jangan menggangguku lagi.”
“Hah?” Zachary terbelalak melihat Giselle menaruh uang senilai seratus ribu rupiah di atas meja Zachary.
“Gila aja lu?!” bentak Zachary. Sontak saja seisi kelas melirik pada Zachary, termasuk Ron yang sedang menerangkan tentang paragraf induktif.
“Ada apa Zachary? Kau belum juga memakai kemejamu?” Ron menatap Zachary dengan tatapan sinis. Meski dia adalah dosen muda berwajah tampan, tapi Ron sangat tegas untuk urusan peraturan dan pembelajaran di kampus.
“Ma-maaf,” ucap Zachary yang setengah menunduk. Dia kemudian memakai kemejanya.
Giselle hanya bisa menahan tawa. Meski salah, tapi Giselle merasa senang melihat Zachary tersudutkan.
“Sekarang buka halaman 35,” ujar Ron mengembalikan perhatian pada pembelajaran.
Seiring dengan berjalannya waktu, istirahat pun datang. Ron sudah kembali ke ruang dosen, para murid pun berkeliaran di kantin dan sekitar kampus.
“Gisel, biar aku antar ke kantin, ya.” Kevin menawari Giselle dengan senyuman yang terkembang di wajahnya.
“Sungguh?” tanya Giselle setengah tersipu dengan kesopanan Kevin.
“Ya, tentu saja. Aku juga bisa mengantarmu berkeliling,” ujar Kevin masih dengan nada suara bersahabat.
“Wah, terima kasih sekali.” Giselle tersenyum girang, tapi berbeda jauh dengan apa yang dirasakan oleh Zachary.
“Hey, kacamata empat.” Zachary memanggil Kevil. Seketika saja Kevin melirik dengan tatapan tidak suka.
“Tadi dia bilang ingin berkeliling denganku. Jadi kau tidak usah repot-repot,” ujar Zachary sambil berjalan melewati Kevin dan menarik pergelangan tangan kanan Giselle.
“Hah?!” Kevin tidak terima, tapi Zachary mengabaikannya begitu saja.
“Lepasin!” seru Giselle.
Zachary menghentikan langkahnya lalu menarik tangan Giselle ke atas. Membuat badan Giselle hanya tinggal berjarak satu jengkal darinya.
“Bukankah kau yang tadi bilang akan berkeliling kampus denganku? Kau lupa?” Zachary menatap Giselle dengan lekat.
“A-aku...” Giselle tidak tahu apa yang harus dia katakan, tapi kenyataannya dia memang mengatakan pada Ron kalau Zachary akan mengantarkannya berkeliling kampus.
Apakah ini yang dinamakan s*****a makan tuan? Giselle merasa menyesal dengan apa yang telah dikatakannya.
“Kenapa? Kau mau pura-pura lupa lagi?” tanya Zachary kesal. Dia sangat tidak suka pada Giselle yang bertingkah seolah-olah kejadian tadi pagi tidak pernah terjadi.
“Maumu apa sih?” Giselle berusaha menarik tangannya, tapi sayangnya Zachary jauh lebih kuat darinya.
“Ah, aku tahu. Ada tempat yang harus kau kunjungi.” Zachary tersenyum menyeringai, membuat Giselle merasa disengat aliran listrik. Entah apa yang akan dilakukan Zachary pada Giselle, dia merasakan firasat buruk tentangnya.
“Ikuti aku.” Zachary berbalik. Dia berjalan sambil menarik lengan Giselle.
“Lepasin, aku bisa jalan sendiri.”
“Tenang saja, aku tidak akan pernah melepaskanmu.” Zachary menjawab sambil tertawa. Sebuah tawa yang membuat Giselle merasa bagaikan terjatuh ke jurang.
“Dasar psikopat,” maki Giselle. Meski begitu, Zachary tidak peduli. Dia malah tersenyum senang dan semakin erat mencengkram pergelangan tangan Giselle.
“Ugh... Sakit.” Giselle meringis. Dia berjalan setengah berlari karena langkah kaki Zachary tergolong cukup panjang.
“Hai Jack.” Beberapa orang dari kelas lain menyapa Zachary.
“Yo!” Zachary mengangkat tangannya sebentar untuk merespon.
Zachary... Jack... Kedua nama itu terbilang sesuai. Melihat ada banyak orang yang menyapa Zachary membuat Giselle berpikir kalau Zachary adalah seseorang yang popular di kampus.
Popular karena apa? Apa karena Zachary adalah ketua gank kampus yang selalu melakukan demo dan tawuran dengan kampus lain? Memikirkan hal ini membuat Giselle ingin muntah.
“Jack, apa itu pacar barumu?” tanya seorang perempuan berambut pendek. Dia menatap Zachary dengan tatapan penuh tanya sebelum kemudian menatap Giselle dengan tatapan sinis.
Siapa dia? Apakah itu mantannya? Giselle merasa sangat terintimidasi.
“Urus saja urusanmu sendiri, haha.” Zachary tertawa sambil terus berjalan lurus ke depan. Membuat perempuan berambut pendek menatap Zachary dengan tatapan kesal campur sedih.
“Hai, Jack. Nanti malam kita pergi ke tempat karaoke, ya!” Kali ini seorang perempuan berbibir penuh gincu berseru sambil melambai pada Jack. Dia terlihat cantik dengan semua makeup yang ada di wajahnya.
“Aku sibuk,” jawab Zachary datar.
“Paling tidak kau harus datang sabtu ini,” ujar seorang laki-laki bertopi yang ada di samping perempuan tadi.
“Ya, tentu saja.” Zachary menjawab tanpa menoleh sedikit pun.
Giselle sudah tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya tahu kalau semua orang bersikap sangat ramah dan seolah ingin menarik perhatian Zachary.
“Sebentar lagi kita sampai.” Zachary berbelok memasuki sebuah jalan kecil yang ada di samping perpustakaan.
“Ka-kau mau bawa aku ke mana?” tanya Giselle penuh tanya. Jantungnya berdebar tidak karuan melihat banyak dedaunan kering bercampur tanah di sepanjang jalan yang mereka pijak.
“Jangan banyak tanya, kau harus bertanggungjawab,” ujar Zachary yang berjalan lebih cepat hingga hampir membuat Giselle terjatuh.
Zachary terus berjalan menuju sebuah rumah dengan bingkai jendela yang terlihat lapuk dan kacanya telah pecah. Seperti sebuah bangunan yang sudah lama tidak terpakai.
BAAMM
Zachary menendang pintu dengan keras.
Belum juga Giselle mengucapkan sepatah kata pun, Zachary sudah melempar Giselle pada matras yang ada di lantai.
“Ack?!” Giselle terbelalak menatap Zachary. Badannya jatuh sempurna di atas matras.
Jantung Giselle semakin berdebar saat melihat Zachary yang melepaskan kemejanya lalu melemparkannya ke samping kanan Giselle.
“K-kau?! Kau mau apa?!” Giselle hampir tidak bisa bernapas karena takut.
“Kau mau tahu, hah?” Zachary mendekati Giselle. Dia pun menaruh kedua lututnya di samping kanan dan kiri pinggul Giselle. Membuat Giselle tidak bisa pergi ke mana pun.
“Kau lihat saja.” Kali ini Zachary mulai membuka kaos hitam miliknya. Tepat di atas badan Giselle.
Giselle memejamkan matanya. Jantungnya terasa ingin copot. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan kalau hari pertamanya kampus akan menjadi seperti ini.
Apa yang harus Giselle lakukan? Dia tidak bisa hanya tinggal diam dan menerima apa pun yang akan dilakukan Zachary padanya. Mau bagaimana pun Giselle punya harga diri dan kerhormatan yang harus dijaga.
“Buka matamu!” seru Zachary, tapi Giselle tidak mengindahkannya.
“Kubilang buka matamu!” Zachary kembali membentak. Giselle menggigit bibir bawahnya sendiri. Enggan untuk membuka matanya, dia pun masih belum menemukan ide untuk kabur.
PUSH
Giselle dapat mendengar suara tangan Zachary yang menekan matras di samping kanan dan kiri telinga Giselle.
“Selama aku masih bersikap lembut, kau harus menuruti perkataanku,” ujar Zachary dengan nada suara yang jauh lebih berat dari sebelumnya.
“Hah?” Giselle membuka matanya. Dia semakin terkejut melihat Zachary yang ada di atasnya. Jarak mereka hanya tinggal sejengkal. Giselle bahkan bisa melihat wajah Zachary jauh lebih jelas dari sebelumnya.
Bila dilihat, wajah Zachary tidaklah buruk. Kulitnya putih dan juga bersih. Garis rahangnya yang tegas pun bisa membawa Zachary menjadi seorang model majalah fashion. Singkatnya, Zachary adalah anak laki-laki yang tampan.
“Ah?!” Giselle tersadar dari pikirannya. Memangnya kenapa kalau tampan? Dia tetap tidak boleh berbuat sesukanya.
BERSAMBUNG