"Di sini bukan di Jakarta, di sini tidak boleh memanggil orang dengan sebutan tante. Karena sebutan itu kurang sopan dan kurang enak didengar. di sini hanya boleh memanggil yang paling tua itu dengan sebutan Teteh ataupun bibi. dan kamu tidak boleh mengaku-ngaku sebagai calon adik ipar....!" ancam Abduh membuat Sarah menggulung senyum merasa lucu dengan tingkah laku adiknya.
"Maafkan saya tante.... eh Bibi... kalau saya kurang sopan, karena saya belum paham betul dengan adat istiadat di sini."
"Yah tidak apa-apa, Teteh sudah maafkan... Abduh sering bercerita tentang kehebatan kamu dalam pelajaran, Teteh sangat senang mendengarnya karena Abduh bisa berteman dengan orang yang hebat seperti kamu."
"Ah... Abduh suka dilebih-lebihkan saja, padahal saya tidak sehebat itu." Jawab Nathan yang wajah putihnya berubah seketika menjadi warna tomat.
"Ya sudah... ayo masuk ke dalam nanti setelah kalian beristirahat kita ngobrol lagi." ajak Sarah yang mendahului masuk.
Suasana di rumah Dadang terlihat seperti biasa saja seperti tidak ada kejadian yang sangat menggemparkan. Sarah yang masuk ke dapur untuk menyiapkan kopi buat suaminya, sedangkan Abduh mengajak Nathan untuk masuk ke dalam kamarnya.
Suasana kampung sagaranten, sebenarnya terlihat begitu Asri. Rumah-rumah warga yang berada di tengah sawah yang tadinya sedang hijau, dihiasi dengan berbagai perkebunan yang sudah sangat modern, sungai-sungai terlihat berliku-liku seperti ular yang sedang berjalan. dari sebelah Selatan terlihat ada gunung yang tidak terlalu tinggi, dan gunung itu pun dimanfaatkan untuk menanam padi yang tumbuh di darat.
Pohon-pohon masih banyak yang besar, ditambah suara burung yang terus berkicau tanpa henti, menandakan manajemen yang dilakukan oleh pengurus sudah sangat benar, sehingga kalau tidak ada kejadian mungkin Kampung mereka termasuk dengan kampung yang maju.
Di dalam kamar. Nathan pun memindai keadaan sekitar yang terlihat begitu Asri, khas perkampungan. dinding kamar terbuat dari kayu jati yang dihaluskan dihiasi oleh jendela yang berhadapan langsung dengan kolam ikan, air yang mengalir yang jatuh menimpa ke kolam terdengar begitu Indah bak lantunan musik yang dimainkan oleh sang orkestra. Nathan yang merasa penasaran membuka jendela kamar, terlihatlah sebuah kolam yang dipenuhi dengan berbagai ikan yang sangat besar. Ada ikan mas, ada gurame, mujair dan ikan-ikan yang lainnya. Yang perjalanan beriringan sepertinya mereka sangat kompak.
Di sebelah bawah kolam, ada hamparan sawah yang padinya sedang menghijau bak permadani yang sedang dihamparkan, dihiasi oleh saung-saung sawah tempat beristirahatnya Pak Tani selepas bekerja. di bagian belakang rumah Abduh, terlihat ada beberapa pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi buahnya sangat banyak membuat Nathan merasa haus.
"Itu kelapa Siapa yang di belakang?" tanya Nathan melirik ke arah sahabat.
"Kelapa kang Dadang. emang kenapa?" Jawab Abduh yang hendak merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
"Kayaknya panas-panas gini sangat enak kalau tenggorokan kita disiram oleh air kelapa."
"Ngomong aja langsung, Kalau kamu mau minta kelapa."
"Nah itu tahu. Ayo kita sikat!" ajak Nathan sambil menarik tangan Abduh, meski Dia sangat malas tapi dia tetap mengikuti ajakan sahabatnya.
"Mau ke mana lagi?" tanya Sarah yang berada di dapur.
"Mau ngambil kelapa teh." jawab Abduh sambil mengambil golok yang tergantung di dinding dapur.
"Teteh sudah Buatkan kopi nanti bagaimana meminumnya kalau kalian mau minum air kelapa?"
"Nggak apa-apa... nanti saya minum teh, karena kalau air kelapa untuk menghilangkan haus, sedangkan air kopi itu kebutuhan..." jawab Nathan yang mengikuti Abduh yang sudah keluar Lewat Pintu dapur.
Ketika berada di luar, Nathan pun menarik nafas dalam sambil meregangkan kedua tangan, seolah sedang menghirup udara yang terasa masih sangat Asri, seluas mata memandang hamparan sawah selalu ada di sana.
"Kamu bisa naiknya Abduh?" tanya Nathan sambil melirik ke arah sahabatnya yang sama-sama sedang berdiri menikmati alam yang sangat indah.
"Ngapain naik tuh ada kelapa yang pendek?" jawab Abduh sambil menunjuk salah satu pohon kelapa menggunakan goloknya.
"Ternyata pohon kelapa itu tidak melulu harus tinggi, Ada pula yang pendek tapi sudah berbuah." jawab Nathan yang terkagum dengan segera dia pun mendekat ke arah pohon lalu memetik hanya satu buah.
"Kamu itu nyari kelapa Apa jadi degan?"
"Emang kenapa, Bukannya kalau masih ijo itu masih disebut degan?" jawab Nathan sambil membawa kelapa yang baru dipetik ke hadapan Abduh.
"Ya... tidak semua kelapa hijau itu disebut degan karena yang sudah tua juga warnanya masih tetap hijau, mungkin kalau tuanya tua banget baru berwarna coklat sama seperti manusia tidak semua orang itu baik meskipun postur tubuhnya sama mirip."
"Alah sok tahu... sini pinjam goloknya. Aku mau kupas kelapa." ujar Nathan yang tidak mau diceramahi dengan segera dia pun mengambil golok yang dipegang oleh Abduh.
Tanpa berpikir panjang Nathan pun membuka kulit kelapa itu Namun ternyata itu sangat susah, tidak seperti ketika melihat orang yang jualan di kampusnya.
"Susah....!" ujar Nathan seperti anak kecil yang minta tolong terhadap bapaknya.
"Makanya jadi orang itu jangan sok tahu, lagian itu kelapa tua tidak enak untuk dimakan. Ya sudah kamu simpan di sana!" Jawab Abduh sambil menunjuk Saung untuk beristirahat yang berada di halaman belakang.
Nathan pun mengangguk dia menuruti perintah sahabatnya dia menghampiri Saung itu deagan membawa kelapa yang sudah tua, dia tetap berusaha membuka kelapa, karena begitulah sifat Nathan yang tidak mudah menyerah. Sedangkan Abduh Dia mendekati pohon kelapa untuk mengambil yang masih muda, setelah mendapatkannya dia pun mengikuti Abduh yang masih berusaha menipiskan kulit kelapa agar mudah ketika ingin menikmati airnya.
"Awas...!" ujar Abduh sambil meregangkan tangan meminta golok yang sedang dipegang oleh Nathan.
Setelah itu dia pun mengupas kulit kelapa kemudian mencongkel dagingnya menggunakan ujung golok, sehingga terlihatlah air kelapa yang sangat segar membuat jakun Nathan terlihat turun naik, ingin segera dibasahi oleh air yang sangat menyegarkan itu.
"Waduh.... ternyata rasanya sangat manis kalau baru pertama kali metik." ujar Nathan setelah meneguk beberapa tegukan.
"Iya memang kalau yang baru-baru itu pasti akan terasa nikmat, berbeda kalau dengan Yang lama rasanya pasti hambar."
"Terus kelapa yang tadi saya petik di gimanakan, coba tolong bukain dong... pengen tahu saya isinya, Apakah benar kelapa itu sudah tua?" ujar Nathan yang masih penasaran.
Abduh mengikuti kemauan sahabatnya dengan melubangi kelapa yang tadi dipetik, ternyata batoknya terlihat sangat keras sehingga ketika terkelupas dagingnya pun sudah sangat tebal.
"Iya yah sudah tua, tapi airnya masih enak kali."
"Masih, tapi kalau dagingnya lebih cocok digunakan untuk membuat santan daripada untuk dimakan."
Nathan yang sudah menghabiskan satu air kelapa dia pun mengambil kelapa yang baru dibuka, kemudian meminum airnya sampai habis.
"Ternyata perutmu nampung juga ya?" tanya Abdh yang tidak percaya dengan kekuatan sahabatnya.
"Haus lah.... apalagi sehabis perjalanan jauh ditambah dengan kejadian yang sangat mengerikan. Coba kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi di kampung ini, sehingga mendapat serangan seperti tadi?" tanya sambil duduk di lantai Saung wajahnya terlihat serius karena dia memang benar-benar ingin mengetahui cerita Kampung sahabatnya itu.
Mendapat pertanyaan dari Nathan Abduh pun terlihat menarik nafas dalam seolah enggan menjawab pertanyaan yang sangat berat. tapi setelah lama terdiam dia pun menghantamkan goloknya ke kelapa yang Airnya sudah habis membuat Nathan sedikit meringis.
"Kalau kamu nggak mau jawab kamu nggak usah marah." ujar Nathan yang merasa tidak enak.
"Enggak sayang aja kalau airnya diminum isinya dagingnya juga harus dimakan, Jangan sampai ada yang terbuang karena itu sangat mubazir." jawab Abduh sambil memberikan kelapa yang sudah dibelah, tak lupa dia pun membuat sendoknya dari kulit kelapa itu.
"Kirain marah, aku sudah takut..." ucap Nathan menggoda.
"Ngapain marah... harusnya aku minta maaf karena sudah membawamu ke tempat neraka ini?"