"Jangan bilang begitu. karena walau bagaimanapun Kampung Sagaranten ini adalah kampung kelahiran kamu, kampung yang harus kamu cintai dan kamu jaga sekaligus harus dibanggakan, Kalau bukan kita yang membanggakan Kampung kita sendiri, mau siapa lagi?" ujar Nathan yang seketika membuat Abduh melirik dan mencibir, sebab apa yang dibicarakan sahabatnya tidak selalu benar dengan kenyataan.
"Yey.... diingetin malah begitu... Coba tolong ceritakan bagaimana Kampung ini bisa bermusuhan dengan kampung orang lain?" lanjut Nathan yang belum mendapat jawaban.
"Ceritanya sangat panjang. aku juga tidak tahu awal mulanya seperti apa, tiba-tiba ketika aku sudah lahir Kampung ini sudah bermusuhan dengan Kampung Cisaga, sehingga menimbulkan banyak korban jiwa. orang-orang yang tidak memiliki dendam ketika melihat keluarga, saudara. tetangganya meninggal dibantai oleh warga kampung yang lain, Mereka pun merasa dendam, hingga dalam hatinya bertekad untuk membalaskan apa yang dirasakan oleh saudara-saudaranya. begitupun dengan pihak musuh yang tidak sedikit kehilangan keluarga, sampai akhirnya saling balas dendam terus terjadi hingga saat ini." ujar Abduh yang menundukkan tubuhnya di lantai Balai yang berada di halaman belakang rumah kakaknya.
"Apakah belum ada orang yang mau mendamaikan?"
"Pihak kepolisian, pihak aparat, dinas sosial mereka sudah menengahi Namun kami yang keras kepala tidak mau mengikuti Mereka yang berbaik hati. banyak orang yang ditangkap tapi itu tidak memberikan Efek jera, yang ada itu malah semakin memperkeruh suasana, agar terus melanjutkan dendam karena orang-orang yang masuk penjara itu gara-gara tingkah laku musuh." jawab Abduh yang menarik nafas dalam, dia tidak mengerti dengan cara apa lagi agar kampungnya bisa berdamai dengan Kampung Tetangga.
"Sesepuh dari setiap Kampung harusnya duduk bersama untuk membicarakan masalah ini agar menemui titik temu."
"Sudah dilaksanakan. tapi bukanlah perdamaian yang kami dapat melainkan rasa permusuhan yang semakin tinggi. Dulu ketika bapak kami masih ada Mereka pun mengajak musyawarah bersama pak Dadi sesepuh kampung Cisaga, namun Bapak saya diserang oleh beberapa orang yang tidak bertanggung jawab yang diketuai oleh sesepuh kampung musuh, sampai akhirnya kedua orang tua saya tewas. kang Dadang sebagai sesepuh pengganti bapak dia pun merasa marah hingga membalas kematian bapak dengan melukai pak Dadi yang akhirnya dia sampai lumpuh, karena urat-urat sarafnya diputuskan. dari saat itu anak-anak pak Dadi yang tidak terima terus mengancam keselamatan kang Dadang, sampai teh Sarah sudah biasa melihat suaminya Kalau pulang berlumuran darah atau terluka, karena beliau sudah merelakan Semua yang akan terjadi karena memang beginilah tinggal di kampung konflik." jawab Abduh panjang lebar matanya menatap ke arah sawah yang sangat membentang luas, diselingi dengan pohon-pohon Kelapa ada pula pohon-pohon pisang, Kalau di tepian sungai biasanya ditumbuhi oleh bambu haur agar tanahnya bisa kuat tidak goyang.
Mendengar cerita Abduh Nathan pun mulai mengerti kenapa sahabatnya itu selalu melarang ketika Shakila dan dirinya untuk berkunjung bertamu ke kampung Abduh, karena kampung Abduh sudah lama membakar api permusuhan yang terus disirami dengan cairan bensin hingga permusuhan itu terus membara seperti akan sulit dipadamkan.
"Susah juga ya, kalau sudah mengakar seperti itu. tapi apakah pihak kepolisian tidak menangkap pak Dadi yang membunuh orang tua kamu?"
"Tidak... karena warga Kampung Cisaga melindunginya dengan mengorbankan Darman yang akan menggantikan bapaknya dipenjara, namun Sangat disayangkan ternyata hanya beberapa tahun saja Darman dipenjara sampai akhirnya kita dicegat seperti tadi, itu semua hendak membalaskan dendam kesumat terhadap kang Dadang yang sudah melukai urat saraf pak Dadi."
"Kasihan ya keluarga kamu terus diteror. maaf kalau selama ini aku selalu menurutmu dengan yang tidak tidak karena kamu tidak mau mengajak ke kampung halamanmu."
"Aku yang harusnya minta maaf, karena aku sadar kalian memang sangat baik, tapi aku tidak bisa membalas kebaikan kalian. dan kenapa aku menolak kamu untuk mendekati Jasmine karena kalau kamu berdekatan dengan Jasmine permusuhan ini akan semakin melebar yang awalnya permusuhan Kampung, hingga akhirnya nanti jadi permusuhan sahabat. Untuk itu mending kamu urungkan niatmu untuk mendekati adik saya."
"Oh Jangan.... justru kalau Jasmine di sini sangat berbahaya, sebaiknya kamu titipkan Jasmine di pangkuanku. aku berjanji sama kamu akan aku jaga dia sekuat tenaga, seluruh jiwa dan akan ku bahagiakan, layaknya dia tinggal di sebuah istana."
"Serius kamu akan menjaganya?" tanya Abduh yang menatap nanar ke arah Nathan, dia merasa terharu atas kebaikan sahabatnya yang mau menerima kekurangan adiknya, karena dia sangat khawatir kalau adiknya itu tidak ada yang mau menerima sebagai kekasihnya karena Gadis itu berada di kampung konflik.
"Sangat serius.... kalau kamu tidak percaya kamu bisa merasakan bagaimana Aku menjagamu.... Aku serius tertarik dengan adik kamu." Ungkap Nathan sambil menatap lekat ke arah Abduh menandakan Apa yang dibicarakan serius, tidak seperti biasanya yang diselingi dengan bercandaan.
"Terima kasih.... kalau begitu aku titipkan adikku sama kamu... tapi ingat aku menitipkan bukan untuk disakiti tapi untuk dibahagiakan...."
"Siap kakak ipar...." jawab Nathan sambil meletakkan tangan yang diluruskan di atas alis, menirukan Seorang Prajurit yang baru saja diberikan perintah oleh komandannya.
Setelah rasa haus menghilang, Mereka pun masuk kembali ke dalam rumah. terlihatlah Dadang dan istrinya sedang mengobrol, melihat kedatangan Nathan dan Abduh Mereka disambut dengan segelas kopi dan cemilan cemilan yang serba ada.
Mereka berempat mengobrol ngalor ngidul terutama membahas tentang perkuliahan mereka yang sudah berada di semester akhir. Dadang tidak menyembunyikan kekaguman terhadap Nathan yang sangat pandai dalam berbicara dan sangat sopan, Bahkan dia sangat pemberani walaupun sudah diserang dia tidak sedikitpun membahas tentang penyerangan yang dialaminya.
"Maaf kalau penyebutannya kurang berkenan Nathan. maklum ini di kampung serba kekurangan." ujar Dadang di sela-sela pembicaraan.
"Ini sudah luar biasa. karena di sini semuanya ada mulai dari pisang, kelapa, sawah, ikan. semuanya tinggal ngambil tinggal kita mau memasukkannya saja ke dalam perut." jawab Nathan yang tanpa henti membuat orang-orang rumah mengulum senyum.
"Iya kalau di sini yang terpenting kita mau bergerak, maka kita tidak akan kesusahan, kalau hanya untuk makan. namun kalau untuk uang lumayan agak susah karena penghasilan kami tidak ditentukan oleh bulan, melainkan ditentukan oleh panen, sedangkan kalau panen itu tidak menentu."
"Tidak menentu bagaimana Kang?" tanya Nathan yang mengurutkan alis.
"Ya tidak menentu... karena panen kadang-kadang berhasil, kadang-kadang merugi kalau diserang oleh hama. tapi walaupun keadaan begitu orang kampung tetap bersyukur karena kami sebagai petani bisa mensuplai kebutuhan para orang-orang yang bekerja di kantor. bayangkan kalau tidak ada petani mereka mau makan apa?"
"Benar ya... memang benar peribahasa hidup itu simbiosis mutualisme orang-orang kota membutuhkan makanan dari petani, sedangkan petani membutuhkan duit orang kota untuk membeli pupuk."
"Iya benar... Jadi kita tidak usah sombong dengan apa yang kita miliki karena kekayaan kita bisa dihasilkan dari keterlibatan orang lain di dunia ini. tidak ada orang yang kaya sendirian, mereka pasti akan ditopang oleh orang-orang yang hebat yang rela mengorbankan dirinya untuk menjadikan orang lain untuk menjadi kaya. buktinya para karyawan yang rela bekerja mati-matian hanya untuk memperkaya orang lain. coba kamu bayangkan kalau perusahaan ditinggalkan oleh para karyawannya, Saya yakin perusahaan itu akan bangkrut."
"Benar... benar.... terima kasih atas ilmu yang diberikan. kadang kita merasa paling unggul ketika kita memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain, tapi kadang manusia itu merasa lebih rendah ketika dirinya tidak mampu menyamaratakkan dengan orang lain.
"Nah kalau seperti itu berarti ketika kita kaya, kita tidak boleh sombong. ketika kita miskin kita tidak boleh minder. karena tidak akan ada orang kaya Kalau tidak ada orang yang disebut sebagai orang miskin. Begitupun sebaliknya tidak akan ada orang miskin Kalau tidak ada orang kaya."
Mereka pun terus mengobrol sambil ditemani oleh cemilan-cemilan khas dari perkampungan. ada rengginang, wajit, opak, Bugis, lontong dan yang lain-lainnya.
Obrolan pun terhenti ketika adzan maghrib berkumandang, mereka semua pergi bersama untuk melaksanakan salat berjamaah di salah satu masjid terbesar yang berada di kampung. sekarang Nathan sangat tercengang ketika dia sampai ke masjid karena orang yang akan berjamaah sangat banyak, mungkin sampai setengah masjid penuh. berbeda ketika salat di kampusnya, meski anak-anak kampus tidak memiliki pekerjaan, Sangat disayangkan masjid yang kecil itu paling banyak hanya satu baris.