Bab 63

2010 Words
34 Hari Sebelum Persidangan “Apakah Feli tidak ikut dengan kita? Kenapa kalian tidak mengajaknya?” Sagara menolehkan kepalanya ketika dia mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Tarisha. Sagara menghembuskan napasnya dengan pelan ketika dia teringat dengan apa yang terjadi pada Feli. Sagara tahu benar jika wanita itu sedang ada masalah. Feli bukan tipe wanita yang bisa menyembunyikan perasaannya, tapi dia wanita yang cukup keras kepala juga. Feli akan selalu mencoba untuk tetap terlihat baik-baik saja padahal sebenarnya dia sedang tertimpa masalah sebenar. Apapun yang sebenarnya terjadi pada Feli. Sagara berharap kalau wanita itu akan tetap baik-baik saja. Selama ini Sagara tidak pernah berharap kalau dia yang akhirnya akan memiliki Feli, selama ini Sagara hanya berharap kalau Feli akan selalu bahagia. Kadang cinta memang sesederhana ini. Orang banyak yang mempersulit diri mereka sendiri dengan membuat kisah kita jadi terasa rumit. “Dia sepertinya sedang sibuk.. dia tidak mau ikut padahal sudah ditawari untuk ikut..” Jawab Tristan yang duduk di samping Sagara. Iya, saat ini Sagara, Tristan, dan Tarisha memang sedang dalam perjalanan menjuju rumah salah satu kerabat Sagara. Sebenarnya Sagara tidak hanya ingin mengunjungi kerabatnya saja, Sagara ingin melakukan perjalanan liburan selama seharian penuh karena sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu untuk bersantai dan berlibur. Sagara awalnya berharap kalau Feli mau ikut karena setidaknya, sebelum mereka akhirnya benar-benar berpisah, Sagara memiliki satu momen yang berkesan untuk bersama dengan Feli. Sayang sekali, Feli menolak ikut dan Sagara sama sekali tidak bisa memaksakan apapun juga pada wanita itu. Jujur saja Sagara sedikit khawatir dengan keadaan Feli. Wanita itu berusaha keras untuk menutupi kesedihannya sekalipun pada akhirnya semua orang juga tahu kalau dia memang sedang ada masalah. “Aku sebenarnya berharap kalau Feli ikut. Perjalanan ini akan terasa sangat menyenangkan kalau Feli ikut bersama dengan kita..” Kata Tarisha. Sagara sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Tarisha. Ya, perjalanan ini akan terasa sangat menyenangkan kalau Feli ikut bersama dengan mereka. Sayang sekali, mereka harus mengubur keinginan itu karena pada kenyataannya Feli tidak mau ikut dengan mereka. Sebenarnya ini adalah hal yang sangat wajah. Kurang dari dua bulan lagi Feli akan menikah dengan Ken, wanita itu pasti sangat sibuk karena harus mengurus semua persiapannya. Feli selalu berusaha untuk meluangkan waktu agar dia bisa bertemu dengan Ken. Ketika ada hari libur, wanita itu akan lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersama dengan Ken dibandingkan bersenang-senang bersama dengan mereka. Iya, itu sebenarnya adalah hal yang sangat masuk akal. Mereka memang mendapatkan libur selama dua hari ke depan untuk beristirahat sejenak sebelum kembali sibuk dengan pekerjaan mereka lagi. “Aku rasa semua orang juga mengharapkan Feli ikut. Jujur saja aku juga berharap Feli untuk ikut karena wanita itu sepertinya sedang ada banyak pikiran. Akan lebih baik kalau dia mau ikut bersama dengan kita dan menenangkan pikirannya sejenak..” Kata Tristan dengan tenang. Iya, selain Sagara, Tristan juga orang yang tahu tentang keadaan Feli. Sagara menghembuskan napasnya dengan pelan. Apapun yang terjadi, Sagara berharap kalau Feli akan segera baik-baik saja. Sangat tidak menyenangkan kalau melihat Feli sedang bersedih, rasanya semua orang ikut merasakan kesedihan wanita itu. Sudah sejak lama mereka berteman dan hidup dalam satu band dimana mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersama di studio dibandingkan dengan di rumah mereka sendiri. Ya, selama ini Sagara tidak pernah melihat Feli semurung hari ini. Hari ini Feli terlihat seperti seseorang yang terus menahan tangisnya sepanjang hari. Sagara tahu kalau Feli tidak ingin menunjukkan kesedihannya pada orang lain, tapi menahan tangis seperti itu juga tidak akan membuatnya jadi terlihat baik-baik saja. Sagara lebih setuju kalau Feli mau meluapkan perasaannya dan mulai menangis untuk membuat hatinya sedikit lebih baik. “Itu hal yang sangat biasa. Seseorang yang akan menikah memang kadang seperti itu. Feli akan menghadapi dunia baru yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan. Sangat wajar kalau sekarang dia terlihat seperti orang yang banyak pikiran. Kata Kakakku, sebelum dia menikah dia juga merasakan hal semacam itu. Seperti ada keraguan dan juga ketakutan..” Kata Tarisha dengan santai. Sagara sedikit tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Tarisha. Jadi menurut wanita itu, Feli sedang memikirkan tentang pernikahannya dan juga keraguannya? Sagara merasa kalau selama ini Feli bukan wanita yang gampang meragu. Ketika wanita itu sudah memutuskan sesuatu, Feli tidak akan meragukan keputusannya itu. Mana mungkin Feli merasa ragu dengan keputusan sebesar ini? Memutuskan untuk menika ada hal yang sangat.. entahlah, Sagara sendiri belum pernah merasakannya. Tapi bagi Sagara, itu bukan keputusan main-main yang pada akhirnya bisa menimbulkan keraguan. Tidak mungkin Feli merasa ragu dengan keputusannya ketika wanita itu saja sudah berani mengambil keputusan besar lainnya hanya karena dia menikah. Iya, Feli memutuskan untuk keluar dari band karena wanita itu akan menikah, jadi mana mungkin sekarang Feli malah merasa ragu dengan pernikahannya? “Apakah itu hal yang wajar? Maksudku, pernikahan bukan hal main-main dimana kamu bisa meragukan keputusan besar itu. Bukankah begitu?” Tanya Sagara dengan pela. Jujur saja Sagara tidak memiliki maksud apapun ketika dia menanyakan hal ini. Sagara benar-benar peduli dengan Feli sehingga Sagara tidak ingin kalau Feli sampai melakukan hal yang salah. Keputusan Feli untuk menikahi Ken adalah hal yang paling tepat karena Sagara sangat yakin jika Ken pasti akan selalu membahagiakan Feli dengan segenap kekuatannya. Sagara mengenal Ken dengan cukup baik. Dari caranya menatap Feli, Sagara sangat yakin kalau pria itu begitu mencintai Feli. Ken akan selalu memperlakukan Feli dengan sangat baik, pria itu juga pasti akan selalu mencintai Feli dengan setulus hatinya. Tapi, jika Feli merasa ragu dengan pernikahannya, itu bukan hal yang baik. Sama sekali bukan hal yang baik! “Kalau menurut Kakakku, itu adalah hal yang sangat wajar. Kamu bisa saja sangat mencintai calon pasanganmu, tapi rasa ragu itu akan tetap mengiringi langkah pertamamu. Feli mungkin juga sedang memikirkan hal itu. Dia mungkin sangat mencintai Ken, tapi dia tetap bisa meragukan keputusan ini. Dia tidak meragukan cintanya, hanya meragukan langkahnya saja.. Tapi keraguan itu juga akan mulai hilang seiring dengan berjalannya waktu. Pada dasarnya, setiap melangkah pada keadaan yang baru, manusia memang sering merasa ragu..” Kata Tarisha. Sagara menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sekalipun Sagara masih belum yakin dengan apa yang Tarisha katakan, setidaknya Sagara bisa berharap kalau apapun yang sekarang sedang mengganggu pikiran Feli bisa segera diselesaikan oleh wanita itu. Sagara tidak pernah meragukan kemampuan Feli karena memang pada dasarnya Feli adalah seorang wanita tangguh yang akan mampu melakukan segalanya tanpa bantuan orang lain. Selama ini Feli selalu menunjukkan kekuatannya pada orang lain, Feli tidak pernah dianggap sebagai seorang wanita yang lemah. Tapi, bukankah semua orang memiliki kelemahan masing-masing? “Aku rasa Feli tidak meragukan keputusan tentang pernikahannya. Tidak, tidak mungkin dia meragukan keputusan itu..” Kata Tristan. Iya, Sagara merasa kalau Tristan jauh lebih benar. Feli tidak akan mungkin meragukan keputusannya secara tiba-tiba seperti ini. Sagara ingat kalau kemarin Feli masih baik-baik saja. Wanita itu sama sekali tidak terlihat murung sama sekali. Kenapa masalah keraguan ini bisa tiba-tiba terjadi? Tidak, sepertinya Feli memiliki masalah lainnya. “Kita tidak tahu bagaimana isi hati seseorang, tapi aku yakin kalau Feli tidak akan pernah meragukan pernikahannya dengan Ken. Wanita itu sangat tahu kalau dia akan hidup bahagia ketika menikah dengan Ken. Untuk apa dia meragukan keputusannya?” Tanya Sagara. Sagara menghembuskan napasnya dengan pelan. Jujur saja Sagara sama sekali tidak bermaksud apapun ketika dia membicarakan keadaan Feli saat ini. Sagara sangat peduli pada wanita itu, jelas saja Sagara selalu menginginkan yang terbaik untuk Feli. Iya, hanya itu saja yang diinginkan oleh Sagara. Sering kali Sagara merasa khawatir dengan keadaan Feli, tapi ketika Sagara tahu bahwa Ken selalu membahagiakan Feli, maka Sagara tidak pernah merasa khawatir lagi. Dalam keadaan apapun, Feli akan selalu bahagia ketika dia bersama dengan Ken. Sagara tidak perlu merasa khawatir kalau Feli akan ditinggalkan atau sebagainya. Selama mengenal Feli dan Ken, mereka bukan tipe pasangan yang tidak setia atau semacamnya. Sejak dulu mereka memang sudah menunjukkan kalau pada akhirnya mereka akan menikah dan hidup bahagia selamanya. “Kemarin malam Feli masih terlihat baik-baik saja karena aku sempat berbicara sebentar dengannya ketika kami berjalan ke parkiran. Wanita itu masih bisa tersenyum dan semuanya terlihat baik-baik saja.. Aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya karena—” “Bukankah kemarin kalian pulang hampir tengah malam? Apakah kamu tidak mengantarkan Feli sampai ke rumahnya, Tristan?” Tarisha langsung memotong kalimat Tristan. Iya, inilah yang membuat Sagara merasa sangat bahagia dengan hubungan pertemanan antara Feli dan Tarisha. Mereka berdua adalah teman yang begitu luar biasa. Sekalipun dulu Tarisha terlihat cemburu ketika melihat kedekatan Feli dan Tristan, sekarang wanita itu malah seakan selalu meminta agar kekasihnya menjaga Feli dengan baik. Tarisha tidak pernah lagi terlihat cemburu atau semacamnya pada Feli. Begitulah, Tarisha sepertinya sudah menyadari jika Feli bukanlah wanita tidak baik yang suka merebut pasangan orang lain. Tidak, sejak awal Feli memang sudah bersama dengan Ken dan wanita itu tidak pernah berusaha untuk melakukan kecurangan pada hubungan mereka. “Aku sudah menawarkan untuk mengantar Feli pulang. Seperti biasanya wanita itu menolak..” Kata Tristan. Sagara sama sekali tidak memikirkan bagaimana caranya Feli pulang kemarin malam. Jujur saja kemarin Sagara merasa sedikit pusing sehingga ketika pembicaraan mereka selesai, Sagara langsung pamit untuk pulang tanpa memikirkan temannya yang lain. Sagara tidak tahu kalau hari itu Feli membawa kendaraan sendiri. Iya, beberapa waktu belakangan ini Feli memang lebih suka membawa mobilnya sendiri. Setahu Sagara, ketika mereka pulang malam seperti kemarin, biasanya Feli akan meminta untuk dijemput oleh Ken atau Farel. “Dan kamu membiarkannya begitu saja? Tristan, kita semua juga tahu kalau Feli akan selalu menolak bantuan seseorang karena dia tidak mau merepotkan orang itu. Kenapa kamu tidak mengikutinya saja dari belakang?” Tanya Tarisha dengan pelan. Sagara menghembuskan napasnya dengan pelan. Kalau tebakannya benar, maka sebenarnya Feli mendapatkan masalahnya kemarin malam. Pasti ada sesuatu yang terjadi kemarin malam atau setidaknya tadi pagi.. Keadaan Feli memang sangat berbeda sejak tadi pagi. Kemarin Feli masih tampak baik-baik saja tapi hari ini wanita itu terlihat sangat murung. “Aku tidak bisa melakukan apapun, Tarisha. Dia menolak semua yang aku tawarkan. Dia mengatakan kalau dia akan pergi ke apartemen Farel, karena aku tahu jaraknya tidak terlalu jauh dari studio, akhirnya aku menuruti saja apa yang dia mau..” Kata Tristan dengan pelan. Sagara mencoba untuk tetap tenang karena entah kenapa Sagara merasa kalau ada sesuatu yang salah dengan semua itu. Feli datang ke apartemen Kakaknya jadi kenapa hari ini wanita itu terlihat murung? Feli bertemu Kakaknya, bukan? Dia tidak bertemu dengan orang yang akan menyakitinya kecuali.. kecuali jika orang itulah yang menyebabkan semua ini terjadi.. Bukankah hal yang masuk akal kalau sebenarnya Farel adalah orang yang membuat hari Feli jadi kacau? “Jangan melakukan itu lagi. Kalau kalian pulang malam, setidaknya harus ada satu orang yang mengikuti mobil Feli sampai dia tiba di rumahnya. Apapun alasannya, kalian yang harusnya bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada Feli. Kalian laki-laki dan Feli seorang perempuan. Jika kalian sedang pulang malam dan Feli tidak akan yang menjemput, kalian yang harusnya mengantarkan dia pulang.. Bukankah aku sudah mengatakan ini sejak dulu?” Sagara hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Iya, mereka memang melakukan kesalahan. Sekalipun belum yakin dengan apa yang terjadi, Sagara atau Tristan harusnya tetap mengantarkan Feli pulang kemarin malam. Entahlah, ketika Tristan mengatakan sesuatu tentang Farel, Sagara seperti memiliki ingatan yang sedikit mengganggu pikirannya. Iya, ini memang sudah berlalu sejak beberapa bulan yang lalu, tapi Sagara masih mengingat dengan jelas apa yang dia lihat hari itu. Sagara sendiri tidak yakin dengan semua yang dia lihat sehingga dia sama sekali tidak berani mengatakan apapun pada Feli tapi entah kenapa, sekarang Sagara merasa kalau semuanya terasa semakin jelas. Beberapa bulan yang lalu Sagara bertemu Rosaline dan Farel sedang bergandengan tangan di sebuah pusat perbelanjaan yang ada di Singapura. Hari itu Sagara memang sedang iseng dan tidak memiliki tujuan apapun karena mereka sedang libur latihan selama tiga hari sebelum akhirnya melakukan tour. Sagara tidak tahu harus melakukan apa sehingga akhirnya dia memutuskan untuk jalan-jalan sendirian ke Singapura. Saat itu Sagara sama sekali tidak percaya kalau dia melihat Rosaline dan Farel. Entahlah, sekalipun Sagara tidak mengenal kakaknya Ken dengan baik, tapi Sagara yakin kalau itu adalah dia.. Bagaimana kalau keadaan Feli hari ini ada hubungannya dengan semua itu?    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD