Bab 57

1955 Words
34 Hari Sebelum Persidangan Sagara tersenyum sambil menatap Feli. Wanita itu mengatakan kalau dia berterima kasih karena Sagara telah menjadi temannya. Teman? Ya, seorang teman. Apapun yang dilakukan oleh Sagara, Feli hanya akan menganggapnya sebagai seorang teman. Benar, memang sangat menyedihkan ketika Feli lagi-lagi memberi tahu kalau dirinya tidak lebih dari seorang teman saja. Sebenarnya Sagara juga sudah merasa sangat bersyukur karena selama ini Feli masih mau menjadi temannya. Bagi Sagara, tidak peduli apapun status mereka, yang paling penting Sagara masih bisa melihat Feli, Sagara masih bisa menatap senyuman wanita itu. Kadang memang beginilah kenyataan hidup yang harus diterima. Mau bagaimana lagi? Sagara tidak memiliki pilihan yang lain. Feli sudah ada di dalam kehidupan Sagara sejak bertahun-tahun yang lalu dan mulai dari hari pertama mereka bertemu, tidak ada satupun hari buruk yang terjadi ketika ada Feli di sampingnya. Iya, Feli selalu membawa suasana positif untuk setiap orang yang ada di sekitarnya. Tapi hari ini Feli tampak sangat berbeda. Ada sesuatu yang salah dengan Feli sekalipun Sagara masih belum tahu dengan pasti apa yang menjadi masalah wanita itu. Benar, Sagara memang tidak memiliki hak apapun untuk tahu segala hal yang menyangkut dengan kehidupan Feli, tapi jujur saja Sagara memang sangat ingin menunjukkan betapa dia peduli pada Feli. “Apakah sedang ada perayaan sesuatu? Kenapa kalian tersenyum seperti itu?” Tanya Tristan yang baru saja masuk ke dalam ruangan ini bersama dengan Yuda. Mereka sudah bersama selama empat tahun, bukan hal yang mudah kalau secara tiba-tiba mereka semua harus berpisah dan menjalani hidup masing-masing tanpa sering bertemu satu sama lain. Iya, Sagara tahu kalau hidup tidak akan pernah selalu sama setiap harinya. Selalu ada perubahan yang mungkin tidak akan bisa diterima dengan mudah, tapi memang beginilah kenyataannya. Cepat atau lambat mereka juga akan tetap berpisah. Suatu hari nanti mereka akan kembali berkumpul di tempat ini dengan kehidupan yang berbeda-beda. Mereka akan datang ke sini dan mengingat segala hal yang pernah mereka lakukan. Bagi Sagara dan yang lainnya, tempat ini adalah rumah kedua mereka. “Apakah kamu juga mau memelukku?” Tanya Feli sambil menatap Tristan yang ikut duduk di samping Feli. Sagara menatap Tristan yang tampak mengernyitkan dahinya sekalipun beberapa detik kemudian pria itu juga langsung memeluk Feli dengan erat. “Apa yang terjadi?” Tanya Tristan ketika Feli melepaskan pelukannya. Feli tampak menyeka air matanya, iya.. Sagara melihat jika sejak tadi Feli memang seperti orang yang sedang menahan tangis. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Feli terlihat sangat sedih? Apakah terjadi sesuatu dengan wanita itu? Selama ini Sagara memendam perasaannya sendiri karena dia memang tidak ingin membebani Feli dengan apa yang dia rasakan. Iya, Sagara tahu kalau dia memang memiliki hak untuk jatuh cinta pada Feli, Feli juga memiliki hak untuk menolak cintanya. Selama ini Sagara tidak pernah mengatakan apa yang dia rasakan karena Sagara takut kalau Feli akan menjauhinya suatu saat nanti. Tidak, Sagara tidak siap untuk hal itu. Mungkin selama ini orang lain berpikir kalau Ken adalah satu-satunya orang yang tidak bisa hidup tanpa Feli, padahal salah.. bukan hanya Ken saja, tapi juga Sagara dan mungkin juga banyak orang lainnya yang selama ini diam-diam juga jatuh cinta pada Feli. Wanita itu memang sangat mudah untuk dicintai, tidak heran kalau banyak orang mungkin sedang menyimpan perasaan mereka untuk Feli. “Aku memang sedang ingin memeluk kalian saja.. Yuda, datanglah ke mari dan peluk aku sebentar..” Kata Feli sambil kembali menyeka air matanya. Ketika Yuda bangkit berdiri lalu memeluk Feli selama beberapa saat, Sagara langsung teringat dengan apa yang dia dengar beberapa hari yang yang lalu. Sekalipun tahu bagaimana perasaan Yuda padanya, Feli tidak menjauhi pria itu. Feli tetap merangkulnya sebagai teman, tidak membedakan Yuda dengan yang lainnya seakan wanita itu tidak ingin semakin menyakiti Yuda. Ya Tuhan, bagaimana mungkin ada manusia seperti Feli? Dia sebenarnya lebih cocok untuk disebut sebagai seorang malaikat atau mungkin bidadari. “Maafkan aku, aku sedikit emosional hari ini..” Kata Feli sambil tertawa dengan pelan. Sekalipun Feli tertawa, Sagara justru mendengar jika wanita itu menangis di dalam hatinya. Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Sejak pagi Feli memang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang besar. Feli seperti menyimpan satu masalah tanpa mau mengatakan apapun pada orang lain. Wanita itu terlihat sangat rapuh padahal biasanya Feli selalu menjadi wanita terkuat yang pernah Sagara temui. Orang sering kali salah sangka dengan keadaan Feli, banyak orang yang mengira kalau wanita seperti Feli adalah wanita cengeng yang tidak memiliki kekuatan apapun. Iya, Feli memang sangat cengeng, wanita itu sangat mudah menangis hanya karena ha-hal kecil tapi itu bukan berarti kalau Feli adalah wanita yang lemah. Tidak, Feli adalah wanita yang kuat, dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Feli tidak pernah takut dengan perjuangan, bagi Feli rintangan adalah hal yang sangat biasa dalam kehidupan ini sehingga setiap kali ada masalah, Feli akan menyelesaikan masalah itu dengan baik. Lalu, kenapa hari ini Feli terlihat sangat kacau? “Tidak, ada sesuatu yang terjadi dengan dirimu. Apakah ada masalah, Feli?” sama seperti biasanya Tristan akan menjadi manusia yang paling peka dengan keadaan. Sagara menghembuskan napasnya dengan pelan. Sagara tahu kalau Feli bukanlah tipe orang yang suka membagi masalahnya dengan orang lain, tapi Sagara ingin tetap memberikan dukungan pada Feli apapun yang terjadi. Sagara mungkin tidak tahu apa yang Feli alami saat ini, tapi Sagara akan tetap mendukung wanita itu, Sagara tahu kalau Feli bisa melewati setiap masalah yang ada. “Kamu memang sangat perhatian. Ya, pada dasarnya kalian semua memang sangat perhatian padaku.. huh, sebenarnya aku memang memiliki masalah, tapi jangan khawatir, bukankah semua orang juga memiliki masalah?” Tanya Feli sambil tertawa pelan. Wanita itu memang kembali tertawa seperti dia sama sekali tidak memiliki beban apapun. Tapi Sagara bisa melihat di dalam matanya kalau wanita itu sebenarnya sedang sangat bersedih, wanita itu sedang terluka tapi dia berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri. Feli selalu menjadi alasan setiap orang yang ada di sini tersenyum setiap hari. Hanya dengan melihat kebahagiaan yang selalu terpancar di mata Feli, semua orang jadi langsung tersenyum bahagia dan untuk sejenak akan melupakan beban hidup mereka masing-masing. Tapi hari ini sepertinya Feli yang membutuhkan perhatian mereka. Feli yang membutuhkan dukungan dari mereka semua. “Apapun masalah yang sedang kamu hadapi, ingatlah apa yang aku katakan saat ini, Feli. Kamu harus bahagia lebih dulu baru kamu bisa membahagiakan orang lain. Jangan mengorbankan dirimu untuk kebahagiaan orang lain, jangan.. sesekali kamu juga harus egois untuk mendapatkan kebahagiaanmu..” Kata Tristan sambil tersenyum. Iya, Feli memang selalu menjadi orang yang suka melakukan sesuatu hanya untuk membahagiakan orang lain. Wanita itu rela melakukan apapun asalkan dia bisa mendapatkan senyuman kebahagiaan dari orang lain. Kali ini Sagara sangat setuju dengan apa yang Tristan katakan. Ya, sebenarnya juga Sagara selalu setuju dengan apa yang Tristan katakan karena selama ini Tristan selalu menjadi orang yang sangat bijak dalam memberikan nasehat. “Apa yang kamu katakan? Tentu saja aku juga akan mendahulukan kebahagiaanku sendiri. Ya, dengan catatan jika orang lain tidak tersiksa dengan kebahagiaan yang aku miliki..” Kata Feli sambil tetap mencoba tersenyum. “Kamu terus membahagiakan orang lain tanpa memikirkan bagaimana keadaanmu sendiri. Aku senang karena kamu memutuskan untuk keluar dari band ini, sesekali kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri.. Akhirnya kamu memutuskan keluar dan membahagiakan dirimu sendiri untuk hidup bersama dengan Ken..” Kata Tristan sambil tetap menatap Feli. Ya, sekarang Sagara dan Yuda hanya bisa mendengarkan saja apa yang dikatakan oleh Tristan karena sekarang pria itu sedang berusaha memberikan nasehat penting untuk kehidupan Feli. Benar, mereka semua memang tidak tahu apa yang sekarang sedang menjadi beban di dalam hidup Feli. Sagara tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Feli selain memberikan dukungan secara moral kepada wanita itu. Tapi Tristan bisa memberikan hal yang lebih dari sekedar dukungan saja. Pria itu akan memberikan nasehat yang pastinya akan sangat berguna untuk kehidupan Feli. “Aku sebenarnya juga bahagia ketika bersama dengan band ini. Aku memutuskan keluar karena aku sudah tidak sanggup lagi dengan semua kesibukan ini. Iya, hanya itu saja.. kalian tahu sendiri kalau aku dan Ken sama-sama sibuk setiap hari, kamu tidak bisa bertemu setiap hari. Saat sudah menikah aku tidak bisa terus seperti ini. Ya, begitulah kenyataannya..” Kata Feli dengan pelan. Sagara sangat mengerti dengan keadaan Feli saat ini. Wanita itu pasti merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Ya, sebenarnya band ini bubar bukan karena Feli, Sagara sendiri juga sudah beberapa kali berpikir untuk keluar dari band ini. Mau bagaimana lagi? Pada akhirnya Sagara memang tidak memiliki pilihan lain selain meneruskan usaha orang tuanya. Sementara itu. jika untuk alasan Tristan keluar dari band ini, Sagara masih belum tahu dengan pasti. Sejak dulu sebenarnya Tristan adalah orang yang paling tidak nyaman dengan kehidupan public figure  yang selalu disorot dalam hal apapun. Tristan adalah orang yang sangat menghargai privasi sehingga sering kali dia orang yang paling bermasalah dengan media. Para wartawan selalu ingin tahu dengan kehidupan pribadi Tristan tapi selama ini Tristan mencoba untuk menutupinya. Mungkin Tristan juga sudah mulai lelah dengan semua sorotan ini. “Iya, kalau aku menikah denganmu, aku juga pasti akan memintamu untuk keluar dari band ini. Jangan khawatir, kami semua sudah menerima semua keputusanmu..” Kata Yuda sambil menatap Feli. Tristan mungkin menganggap jika kalimat yang dikatakan oleh Yuda adalah sebuah lelucon biasa, tapi tidak dengan Sagara. Sagara sangat tahu kalau di balik kalimat dengan nada gurauan itu pasti tersimpan satu harapan besar yang tidak bisa dikatakan secara langsung oleh Yuda. Sagara menghembuskan napasnya dengan pelan. Kenapa Yuda jadi sangat menyebalkan seperti ini? “Sayangnya kamu tidak menikah dengan Feli. Sudahlah, jangan terlalu banyak berandai-andai, kamu bisa sakit hati kalau kenyataannya tidak sesuai dengan keinginanmu..” Kata Sagara dengan pelan. Tristan kembali tertawa ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Sagara. Iya, kalimat itu sebenarnya adalah sindiran untuk dirinya sendiri. Sagara selama ini terlalu banyak bermimpi sehingga pada akhirnya dia harus menerima keadaan yang sebenarnya. Feli akan segera menjadi milik orang lain. Ya, sekalipun akan sangat menyakitkan, Sagara juga akan tetap berusaha untuk tersenyum di hari bahagia Feli tersebut. Bagi Sagara, kebahagiaan Feli adalah hal yang paling utama. Sagara memang mencintai Feli, tapi dia sama sekali tidak berharap kalau dia harus mendapatkan Feli. Yang paling penting bukanlah keberadaan Feli untuk selalu bersamanya, yang paling adalah kebahagiaan Feli. Dengan siapapun wanita itu akan menikah, Sagara berharap kalau Feli akan selalu bahagia. Tidak ada hal yang bisa dilakukan oleh seorang teman selain mendoakan segala hal yang terbaik. “Kita pasti akan sangat merindukan tempat ini. Aku tidak menyangka kalau kita sudah berada di sini sejak 6 tahun yang lalu..” Kata Tristan sambil tetap tersenyum. “Kita harus tetap sering berkumpul seperti ini sekalipun aku tahu kalau kalian akan sibuk dengan pekerjaan kalian masing-masing..” Kata Feli sambil tersenyum. Sagara sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, mereka mungkin akan memiliki kesibukan yang lain, tapi Sagara harap kalau mereka masih bisa meluangkan waktu untuk berkumpul sesekali waktu. Akan ada banyak hal yang Sagara rindukan dari tempat ini, tapi Sagara tidak akan menyesali keputusan yang dia buat saat ini. Tidak, Sagara memang sudah melakukan hal yang benar. Selain untuk mendukung keputusan Feli, Sagara sebenarnya juga memikirkan keluarganya juga. Sagara tahu kalau apapun yang terjadi Sagara tidak akan bisa menolak fakta tentang hubungan keluarganya. Begitulah kenyataannya, orang tuanya pernah menganggap Sagara sebagai anak yang tidak berguna, tapi sekarang.. pada akhirnya mereka mengharapkan Sagara kembali. Sudahlah, semua orang pernah membuat kesalahan begitu juga dengan orang tuanya. “Aku sangat menyayangi kalian. Berjanjilah padaku kalau apapun yang terjadi kalian tidak akan pernah melupakan keberadaanku..” Kata Feli sambil menatap ke sekeliling. Sagara tidak mengerti kenapa Feli mengatakan hal ini. Sebenarnya, semua orang juga tahu kalau Feli tidak akan pernah bisa dilupakan dengan mudah. Bukan hanya untuk Sagara saja, tapi ini adalah fakta untuk semua orang. Pada kenyataannya, tidak akan ada yang melupakan Feli. Tidak, tidak akan ada.     
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD