36 Hari Sebelum Persidangan
Feli melangkahkan kakinya dengan pelan untuk segera masuk ke dalam ruangan rapat yang memang biasanya mereka gunakan untuk membicarakan tentang masalah yang penting.
Feli langsung tersenyum dan menyapa beberapa orang yang sudah datang lebih dulu.
“Duduklah di ini, Feli..” Kata Sagara sambil menggeser tubuhnya.
Feli menganggukkan kepalanya lalu melakukan apa yang dikatakan oleh Sagara.
Astaga, Feli hampir saja terlambat karena dia tadi harus melewati jalan yang lain karena jalan utama yang bisa Feli lewati harus ditutup karena akan dilewati oleh pejabat. Entahlah, Feli sama sekali tidak mengerti kenapa mereka harus menutup jalan hanya karena seorang pejabat negara akan lewat. Astaga, mereka sebenarnya juga manusia biasa. Tidak ada yang berbeda antara para pejabat dan rakyat biasa. Bukankah seharusnya mereka juga melakukan sesuatu yang sewajarnya saja? Sekalipun mereka adalah pejabat negara yang kaya raya, sebenarnya mereka mendapatkan gaji dari rakyat. Jadi, siapa yang sebenarnya lebih kaya?
“Apakah semuanya sudah datang?” Tanya River.
Feli menatap ke arah sekitar. Kali ini yang rapat bukan hanya mereka berempat saja, ada banyak orang penting lainnya yang ikut rapat hari ini karena hari inilah River akan memberikan pengumuman tentang band mereka.
Feli masih belum tahu apa yang akan terjadi karena sampai sekarang Yuda juga belum mengatakan apapun. Sebenarnya Feli berharap kalau Yuda tetap meneruskan band ini. Pria itu bisa mencari orang lain untuk menggantikan mereka bertiga. Sebenarnya Feli sanggat berharap kalau Yuda tidak akan ikut keluar dari band ini.
Feli memang sudah membulatkan niatnya, tapi Feli masih berharap kalau band ini tidak akan bubar begitu saja..
“Jadi hari ini, selain akan membicarakan tentang video dan juga album yang akan segera di rilis dalam beberapa minggu lagi, aku juga akan membuat satu pengumuman penting yang mungkin akan membuat beberapa orang jadi terkejut..” Kata River dengan tenang.
Sejak mengenal River kurang lebih 4 tahun yang lalu, Feli memang merasa jika River adalah pria yang memiliki sifat hampir sama dengan Tristan. Pria itu sangat tenang dan selalu bisa mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi band ini selama beberapa tahu dia menjawab sebagai manager. Iya, sebelum River, band ini memang dipegang oleh orang lain, sayangnya banyak orang yang merasa tidak cocok dengan manager yang dulu.
“Beberapa hari yang lalu Feli, Sagara, dan Tristan mengumumkan padaku kalau mereka akan keluar dari band ini. Iya, ini adalah album terakhir yang akan dirilis sebelum band ini bubar..”
Feli langsung menolehkan kepalanya untuk menatap Yuda yang duduk di sudut ruangan. Pria itu tampak menundukkan kepalanya tanpa memberikan respon apapun.
Ya Tuhan, apa yang sudah Feli lakukan?
Yuda terlihat sangat sedih dengan pengumuman yang dibawakan oleh River padahal sudah sejak beberapa hari yang lalu dia mengetahui semua ini.
Feli menghembuskan napasnya dengan pelan. Tidak, kalau Yuda memang masih ingin menghidupkan band ini, pria itu bisa melakukannya.
Semua orang juga tahu bagaimana kemampuan Yuda dalam bermusik. Selain sangat mahir dalam bermain drum, Yuda juga bisa memainkan piano dan juga gitar. Bahkan dulu Feli masih ingin jika orang yang membuat dirinya belajar bermain piano adalah Yuda. Ketika masih SMA, Feli sering melihat Yuda bermain piano, oleh seba itulah Feli memutuskan untuk belajar bermain piano juga.
Yuda sangat pandai dalam bermusik. Feli tidak ingin kemampuan Yuda jadi terkubur begitu saja. Pria itu juga bisa bernyanyi sekalipun selama ini Yuda enggan menunjukkan kemampuannya itu, Yuda lebih suka bermain musik dibanding menunjukkan suaranya sendiri padahal sebenarnya suara Yuda juga memiliki jiwa tersendiri.
“Ini keputusan besar yang disepakati oleh semua anggota band. Aku memang manager di sini, tapi aku tidak bisa mengatur apa yang mereka inginkan..” Kara River kemudian.
Feli memejamkan matanya dengan pelan. Keadaan ini membuat Feli kembali merasa tersudut.
Ya, seandainya Feli tidak memberikan pengumuman kalau dia ingin keluar dari band, sampai sekarang mereka pasti akan tetap baik-baik saja..
***
“Kamu yakin ingin band ini bubar?” Tanya Feli dengan pelan.
Setelah menunggu seharian, akhirnya Feli berhasil mendapatkan waktu berdua untuk berbicara dengan Yuda.
Feli menghembuskan napasnya dengan pelan, Yuda terlihat masih enggan berbicara dengan dirinya.
“Yuda.. aku mohon bicaralah dengan diriku..” Kata Feli sekali lagi.
Feli masih menatap Yuda dengan pandangan yang penuh harapan.
“Aku tidak bisa melakukan apapun, Feli.. sudahlah, biarkan saja semuanya terjadi seperti yang kamu inginkan..” Kata Yuda dengan pelan.
Feli kembali memejamkan matanya ketika dia mendengar apa yang dikatakan oleh Yuda.
Feli memang harus membesarkan hatinya ketika dia berbicara dengan Yuda. Pria itu sering sekali mengatakan sesuatu yang menyakitkan ketika dia sedang emosi seperti ini. Feli memang sudah lama mengenal Yuda sehingga dia hafal dengan semua kelakuan Yuda.
Sejujurnya, kalaupun Yuda tidak ingin meneruskan band ini sendirian, Feli tidak memiliki hak apapun untuk menolak apa yang sudah diputuskan oleh Yuda. Sayangnya, Feli sangat tahu kalau Yuda sebenarnya masih ingin mempertahankan band ini. Feli mengerti apa yang membuat Yuda tidak mau meneruskan band ini sendirian. Iya, kebersamaan mereka tidak akan pernah bisa digantikan dengan siapapun. Yuda tidak siap menggantikan posisi teman-temannya. Feli mengerti dengan isi hati Yuda, tapi untuk kebaikan pria sendiri, bukankah seharusnya Yuda tidak perlu memikirkan tentang hal-hal itu?
Siapa yang mengatakan jika ‘tergantikan’ adalah rasa yang paling menyakitkan? Bukan, bukan itu hal yang paling menyakitkan dalam masalah ini. sebenarnya, memaksakan dirinya untuk menggantikan posisi orang lain, itu adalah hal yang jauh lebih menyakitkan..
“Aku minta maaf untuk semua ini..” Kata Feli dengan pelan.
Yuda menghentikan aktivitasnya dan menolehkan kepalanya untuk menghadap Feli.
Yuda tampak tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Sekalipun Feli tahu kalau Yuda belum sepenuhnya memaafkan Feli atas apa yang terjadi saat ini, Feli yakin kalau Yuda sudah bisa menerima keputusan Feli saat ini. Pria itu sudah mulai mengerti dengan keadaan Feli. Iya, itu saja sudah lebih dari cukup untuk Feli.
“Kamu akan menikah sebentar lagi. Tidak aku sangka kalau kamu akan mendahului aku.. kita masih sangat sangat muda ketika menjalin hubungan, andai dulu kita tidak tergesa-gesa untuk berpisah, apakah mungkin kalau kita masih bersama?” Tanya Yuda sambil menatap Feli.
Feli tidak bisa memberikan jawaban apapun.
Bagi Feli, dengan siapapun dia menjadi hubungan asmara di masa lalu, kalau orang itu memang bukan jodohnya, maka apapun yang Feli lakukan, Feli akan tetap berpisah dengan orang itu.
Sebanyak apapun hubungan yang Feli jalani, kalau dia masih belum bertemu dengan Ken, maka hubungan itu akan hancur dengan sendirinya.
Ya, memang begitulah pemikiran Feli yang sebenarnya. Feli yakin kalau dia akan berakhir bersama dengan Ken oleh sebab itu, tidak peduli apapun yang terjadi, maka Feli akan tetap berakhir dengan Ken.
“Yuda..”
Yuda tersenyum sekilas lalu menganggukkan kepalanya.
Selama mereka berada di band yang sama, selama ini Yuda tidak pernah membicarakan tentang hubungan mereka di masa lalu. Ketika band ini terbentuk, sebenarnya sejak saat itu Feli sudah berpacaran dengan Ken sehingga Feli pikir kalau semua orang akan menerima statusnya itu. Feli sama sekali tidak pernah berpikir jika Yuda... Iya, Feli seharusnya juga tidak melupakan fakta kalau meskipun hanya sebentar, Feli dan Yuda pernah menjalin hubungan asmara juga.
Ken sering mengatakan pada Feli kalau semua pria memang terlihat tidak pernah memikirkan apa yang pernah terjadi di masa lalu mereka, tapi sebenarnya mereka masih memikirkan itu. Tidak seperti wanita yang lebih muda menunjukkan ekspresi mereka, pria tidak semudah itu.
Kadang ada orang yang terlihat sudah menerima keadaan, tapi sebenarnya tidak.
Sekarang mungkin kejadian yang dikatakan oleh Ken benar-benar terjadi di antara Feli dan Yuda.
Feli menghembuskan napasnya. Di hari pernikahannya nanti, Feli tidak ingin terbeban dengan alasan apapun. Feli tidak ingin ada seseorang yang merasa bersedih pada hari bahagianya. Sekarang mungkin waktu yang tepat untuk meluruskan semuanya. Feli harus benar-benar menyelesaikan semua ini karena setelah menikah dengan Ken, Feli tidak akan bisa memiliki hubungan apapun dengan orang lain. Ketika menikah dengan Ken, sekalipun pria itu tidak banyak memberikan larangan dan peraturan pada Feli, tapi Feli tetap akan membatasi dirinya sendiri. Feli akan membuat batas akan segala hal yang ada di hidupnya. Termasuk adalah batas untuk berteman dan memiliki hubungan dekat dengan lawan jenis. Ken mungkin tidak pernah mengekang Feli dengan semua peraturan yang dia buat, tapi Feli ingin melakukan semua itu atas keinginannya sendiri. Feli akan membatasi dirinya sendiri karena memang itulah kunci dari sebuah rumah tangga; saling mengerti satu sama lain.
Feli tidak ingin Ken menegurnya oleh sebab itu, sebelum Ken memberikan teguran, Feli akan melakukan segala hal yang terbaik.
Feli menghembuskan napasnya dengan pelan. Kadang, sesuatu yang dianggap selesai oleh seseorang belum tentu dianggap selesai juga oleh orang lain.
“Yuda, aku memang menganggap kalau hubungan asmara kita sudah selesai. Bukan hanya aku, semua orang juga menganggap begitu. Aku mohon, jangan memikirkan sesuatu yang akan menyakiti dirimu sendiri..” Kata Feli dengan pelan.
“Aku tidak sedang menyakiti diriku sendiri, Feli. Aku hanya bertanya-tanya saja seandainya—”
“Seandainya? Kenapa kamu menanyakan sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi? Kalaupun hari itu kita tidak berpisah, aku yakin kalau sekarang kita akan berpisah karena aku percaya, bukan kamu orangnya. Bukan kamu orang yang selama ini aku cari. Sejak kecil, sebenarnya aku mencari seseorang yang keberadaannya selalu ada di depan mataku sendiri..” Kata Feli dengan pelan.
Yuda kembali tersenyum ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Feli.
Entahlah, Feli sama sekali tidak mengira kalau Yuda akan mengatakan hal seperti ini. Tidak, ini tidak pernah terlintas di kepala Feli karena selama ini Feli berpikir kalau sama seperti dirinya, Yuda juga sudah beranjak pergi dari kisah mereka di masa lalu.
“Iya, aku sadar akan hal itu. Aku sadar kalau sebenarnya sejak dulu orang yang kamu cari adalah Ken. Sejak awal aku menyadari hal itu, Feli.. sayangnya kamu dan Ken masih belum sadar dengan perasaan masing-masing..” Kata Yuda.
Feli tidak percaya dengan apa yang dia dengar, selama ini tidak ada seorang pun yang percaya dengan hubungan Ken dan Feli. Feli sama sekali tidak menyangka kalau sejak awal Yuda sudah menyadari kalau Feli dan Ken memang saling mencintai. Mereka memang dibuat untuk bisa bersama selamanya.
“Baiklah, memang beginilah yang harusnya aku terima.. bahagialah dengan pasanganmu. Dengan siapapun itu, dengan Ken atau mungkin dengan orang lain. Aku, nanti saja. Biarkan aku menikmati semua ini dulu..” Kata Yuda sambil tetap menatap Feli.
Tidak, Feli sama sekali tidak mengharapkan hal ini akan terjadi padanya..