36 Hari Sebelum Persidangan
Feli melangkahkan kakinya dengan pelan untuk turun dari lantai dua.
Sebenarnya, sebelum masuk ke dalam kamar Ken, Feli sudah lebih dulu berada di dapur untuk membuatkan sarapan bagi mereka semua.
“Feli? Kamu sudah ada di sini?”
Feli menolehkan kepalanya ketika melihat Ibunya Ken sedang berjalan mendekatinya.
Feli tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ketika sudah dekat, Feli juga langsung mencium tangan wanita itu.
Sejak dulu ibunya selalu mengajarkan agar Feli bisa menaruh hormat pada siapapun. Feli tidak boleh berjalan begitu saja ketika dia berpapasan dengan orang yang lebih tua darinya. Iya, sekalipun sekarang ibunya sudah meninggal, Feli tetap tidak akan pernah melupakan apa saja yang pernah dia ajarkan.
“Iya, Mama. Aku memang sengaja datang pagi-pagi untuk ikut sarapan di sini. Aku juga sudah menyiapkan sarapan untuk kita semua..” Kata Feli sambil tersenyum.
“Kamu memang anak yang sangat baik. Selama ini, apalagi ketika sedang berada di luar negeri, Mama tidak pernah menemukan anak yang seperti dirimu. Ibumu mengajarkan segala hal yang baik padamu yang bahkan tidak bisa Mama ajarkan pada anak Mama sendiri..”
Feli tersenyum ketika mendengarkan pujian yang diberikan pada Ibunya.
Pada dasarnya, sampai sekarang semua orang juga pasti masih mengingat bagaimana sifat Ibunya yang sangat baik.
Benar, wanita tangguh yang akan selalu dengan bangga Feli panggil sebagai ibunya.
Sayang sekali, kenyataan yang ada di depan mata kadang memang terasa seperti mimpi. Iya, rasanya baru kemarin Feli memeluk ibunya sambil tidur di dalam pelukannya, tidak Feli sangka kalau sekarang semua kejadian itu sudah sangat lama berlalu.
“Mama juga selalu mengajarkan hal yang baik pada anak Mama. Sebagai buktinya, sampai saat ini Feli tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk dari Ken. Itu adalah bukti yang paling nyata jika selama ini Mama selalu memberikan didik yang baik..” Kata Feli sambil tersenyum.
“Kalau Ken, anak itu memang sudah baik sejak awal. Mama tidak pernah bisa mengamati pertumbuhannya. Sejak kecil Mama sibuk dengan pekerjaan sebagai pengacara, anak itu tumbuh dengan caranya sendiri. Untunglah dia bisa menjadi seorang pengacara hebat, kalau tidak.. dia pasti tidak akan mendapatkan dirimu..”
Feli mengernyitkan dahinya karena dia sempat merasa bingung. Tidak mendapatkan dirinya?
Apakah selama ini orang berpikir jika Ken mendapatkan Feli hanya karena Ken adalah seorang pengacara? Apakah tidak ada yang membicarakan cinta mereka yang sangat tulus satu dengan yang lain?
Astaga, sekalipun Feli merasa tidak setuju, Feli akhirnya memilih untuk tetap diam.
Kadang orang memang suka salah dalam berbicara. Tidak masalah, untuk hal yang satu ini, Feli tidak akan mempermasalahkannya..
“Mama dengar kemarin Caleb memukulmu. Apakah itu benar, Feli?”
Feli langsung menolehkan kepalanya ketika dia mendengar pertanyaan itu.
Feli pikir tidak akan ada orang yang tahu tentang hal ini. Iya, ternyata Feli salah.
Di dalam rumah Ken ada banyak sekali pelayan yang berjalan di setiap ruangan. Saat Ken dan Caleb bertengkar kemarin, pasti ada seorang pelayan yang tahu. Huh, Feli tidak mengerti kenapa pelayan itu harus menyebarkan berita tidak menyenangkan ini.
“Kak Caleb hanya tidak sengaja saja. Aku sebenarnya juga baik-baik saja..” Kata Feli sambil tersenyum.
“Caleb memang sangat sulit untuk diatur. Mama benar-benar minta maaf padamu, Feli..”
Feli tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Ya, sekalipun pukulan yang diberikan Caleb memang sedikit menyakiti dirinya, Feli tetap tidak akan bisa marah. Caleb pasti melakukan semua itu tanpa sengaja, iya.. sama seperti Ken yang langsung membentak Kakaknya itu ketika dia melihat Feli di pukul.
***
“Kak Caleb tidak mau sarapan? Tadi pagi aku yang memasaknya. Apakah Kaka Caleb tidak mau makan masakan Feli?” Tanya Feli sambil menatap Caleb yang masih berdiam diri sambil melipat tangannya sendiri.
Feli menghembuskan napasnya dengan pelan. Benar, memang sangat sulit jika dia harus membujuk Caleb.
Feli melirik ke arah Ken yang sejak tadi hanya diam saja sambil menikmati sarapan yang ada di depannya. Tampaknya Ken juga sangat sulit untuk dinasehati. Padahal Feli sudah mewanti-wanti agar Ken langsung mengajak kakaknya itu berbicara ketika mereka bertemu, tapi Ken tetap saja teguh dengan pendiriannya itu.
Sebenarnya Ken memang sangat keras kepala, tapi di samping keras kepala, Ken juga orang yang sangat pandai dalam mengatur emosinya sendiri. Ken bisa mengendalikan dirinya dan terus berusaha untuk melakukan yang terbaik.
“Caleb, kamu tidak mendengar apa yang dikatakan Feli? Ayo sarapan..”
Feli kembali menghembuskan napasnya dengan pelan ketika dia mendengar suara Mama. Tidak, bukan seperti ini caranya untuk membujuk Caleb. Sekalipun Feli juga sadar jika dibandingkan dengan keluarga ini, Feli jelas orang yang paling awam dalam menghadapi Caleb, tapi Feli tahu kalau saat ini Caleb sedang tidak bisa diajak bicara dengan nada yang keras seperti itu.
Feli langsung tersenyum lalu kembali mencoba untuk mengajak Caleb sarapan. Pria itu memang sudah siap dengan seragamnya hari ini, setiap hari Caleb memang akan berangkat ke sekolah bersama dengan Ken.
Ah, bagaimana kalau Feli memanfaatkan keadaan ini?
“Kak Caleb, hari ini Ken akan pergi ke kantor dengan menggunakan mobilku. Ken akan ikut dengan aku begitu juga dengan Kak Caleb. Begini, aku tidak akan bisa membawa orang yang belum sarapan, aku tidak mau menanggung resiko jika orang itu akan kelaparan saat di jalan. Kalau Kak Caleb tidak mau sarapan, maaf sekali, Kak Caleb harus berangkat menggunakan taksi saja..” Kata Feli dengan tenang.
Caleb tampak mengangkat kepalanya lalu menatap Feli dengan pandangan bimbang. Iya, pria itu sepertinya memang enggan kalau harus makan masakah Feli, sepertinya dia masih marah dengan kejadian yang kemarin.
Feli harus mencoba berbagai macam cara untuk membujuk Caleb. Biasanya, jika sedang dalam keadaan seperti ini, orang yang paling pandai dalam memanipulasi pikiran Caleb adalah Ken, sayang sekali.. tampaknya pria itu masih tidak berminat untuk mengatakan apapun.
Iya, tidak masalah.. Feli bisa membujuk dua saudara ini nanti. Sekarang dia hanya harus memastikan kalau Caleb mau sarapan agar mereka bisa segera berangkat.
“Ap-apa yang terjadi dengan mobil Ken?” Tanya Caleb dengan suara pelan.
Feli kembali tersenyum ketika mendengar pertanyaan yang diajukan oleh pria itu. Ya, setidaknya dia masih mau berbicara.
“Sepertinya Ken kehabisan bensin. Kita akan mengurusnya nanti, tapi sekarang kita harus segera berangkat, bukan? Oleh sebab itu Ken akan pergi bersama dengan aku, kalau Kak Caleb mau, Kak Caleb juga bisa pergi bersama dengan Feli..” Kata Feli sambil tersenyum.
Feli menatap Ken yang duduk dengan sangat tenang di depannya. Pria itu sepertinya sama sekali tidak terganggu dengan drama yang dibuat oleh Feli untuk bisa membujuk Caleb agar mau sarapan.
Kadang, Caleb memang cukup merepotkan untuk semua orang. Tapi, bagi Feli, dibanding dengan merepotkan Caleb lebih cocok untuk disebut dengan sangat menggemaskan. Pria itu selalu saja melakukan sesuatu dengan kepolosannya.
“Aku tidak akan ikut dengan Feli!”
Feli kembali tersenyum ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Caleb. Iya, sepertinya tiga bersaudara yang ada di keluarga ini memang sangat keras kepala. Mereka sering sekali bertengkar dengan cara yang sangat menggemaskan. Feli sangat senang ketika melihat pertengkaran mereka yang kadang malah membuat Feli memiliki keinginan untuk bertengkar dengan Farel dengan cara yang mengemaskan juga. Sayang sekali, dibanding dengan bertengkar dengan Feli, Farel pasti akan memilih untuk melakukan apapun yang Feli inginkan. Iya, Kakaknya itu tidak pernah mau bertengkar dengan Feli. ah, padahal.. dalam setiap hubungan persaudaraan, pertengkaran adalah hal yang paling menyenangkan..
“Caleb, jangan membuat Mama kesal! Bisakah kamu berbicara dengan baik pada Feli? Dia sudah datang ke sini untuk membuatkan kita semua sarapan. Dibandingkan dengan datang ke sini, setelah dia mendapatkan pukulan darimu, seharusnya dia melaporkan dirimu ke kantor polisi”
Feli hampir menyemburkan tawanya ketika Mama mengatakan kalimat itu.
Kenapa juga Feli harus datang ke kantor polisi?
“Sudah, Ma.. jangan mengatakan seperti itu..” Kata Ken dengan tenang.
Sekalipun sedang bertengkar, Ken tetap tidak tega kalau dia melihat saudaranya dimarahi oleh ibu mereka sendiri. Ah, Ken memang seorang saudara yang sangat sempurna.
Feli tidak bisa menahan senyumnya ketika dia menatap Ken yang malah dengan santainya kembali mengambil telur mata sapi yang ada di depan mereka.
Wow, biasanya Ken tidak pernah memakan banyak sarapan di pagi hari, tapi pagi ini Ken mengambil jauh lebih banyak dibanding dengan porsi yang biasanya. Iya, sekalipun hanya hal-hal kecil, apapun yang dilakukan oleh Ken selalu membuat Feli merasa tersanjung. Pria itu selalu saja menyenangkan Feli dengan cara yang sangat sederhana.
“Ak-aku akan sarapan. Jika, jika aku sarapan, apakah aku bisa ikut denganmu, Feli?” Tanya Caleb dengan suara yang sangat pelan.
Feli langsung tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Sebenarnya, sekalipun membujuk Caleb bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, Feli tetap senang melakukan semua ini. Caleb selalu membuat Feli merasa gemas dengan apa yang dia katakan dan lakukan.
“Tentu saja boleh! Sekarang, ambil sarapan yang banyak karena ini adalah masakanku. Aku akan sangat marah kalau Kak Caleb tidak mengambil banyak sarapan..” Kata Feli sambil tersenyum.
Caleb tersenyum lalu melakukan apa yang Feli katakan.
Iya, sebenarnya Caleb tidak perlu diancam dengan suara yang keras atau bentakan dan teriakan. Pria itu sangat polos seperti seorang anak kecil sehingga Feli tidak akan tega melihat dirinya dibentak. Lain kali Feli akan langsung menghentikan Ken ketika pria itu akan membentak Kak Caleb.
“Mama sudah selesai. Ada pekerjaan penting yang harus Mama lakukan, Mama akan berangkat lebih dulu. Nikmati saja sarapan kalian di sini..”
Feli langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ketika dia mendengar kalimat itu.
Hanya selang beberapa detik kemudian Mama langsung meninggalkan meja makan ini.
Feli menolehkan kepalanya ketika dia melihat jika Ken dan Caleb sama sekali tidak memberikan respon apapun pada ibu mereka.
“Dia memang selalu sibuk seperti itu sekalipun sampai sekarang aku juga belum tahu apa yang dia kerjakan. Kadang aku merasa kalau Mama selalu menyibukkan dirinya karena dia sedang menghindari sesuatu..” Kata Ken dengan pelan.
Feli tetap menatap pria itu. Menghindari sesuatu?
Apa yang harus dihindari? Anaknya sendiri?
“Ada apa sebenarnya?” Tanya Feli dengan pelan juga.
Ini adalah masalah yang sangat pribadi, Feli akan menerima saja jika Ken memilih untuk tidak mengatakan apapun padanya. Tapi entah kenapa, hari ini Ken mau sedikit berbagi cerita hidupnya dengan Feli.
“Mama terlihat sedang berusaha menghindari sesuatu.. entahlah, dia keluar dari pekerjaannya yang awalnya adalah pengacara sukses di firma hukum kami.. dia malah melakukan sesuatu yang sejak awal sangat berlawanan dengan kemampuannya..”
Feli mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ken.
Iya, dulunya keluarga mereka adalah keluarga yang semuanya bekerja sebagai pengacara. Mulai dari ayahnya Ken, ibunya, Kakaknya, hingga Ken sendiri.
Ketika ayahnya Ken meninggal, hanya selang satu bulan kemudian ibunya mengundurkan diri dari pekerjaannya. Beberapa bulan kemudian Feli baru mendengar jika wanita itu memilih untuk menjadi seorang perancang busana.
Kalau Ken mengatakan jika ibunya sedang menghindari sesuatu, apa yang sedang dia hindari?
“Aku merasa kalau dia mencoba menghindari pekerjaannya karena hal itu akan selalu mengingatkan dirinya pada Papa. Aku tidak pernah memiliki waktu untuk bicara dengan Mama karena memang dia menutup jalanku.. Mama menghindari kami semua seakan dia sedang hidup di dunianya sendiri. Aku merasa kalau selama ini Mama paling dekat dengan diriku, tapi sama saja.. sekarang aku juga tidak pernah memiliki waktu untuk bicara dengannya..” Kata Ken lagi.
Feli mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Ken yang ada di atas meja. Pria itu sama sekali tidak membutuhkan apapun lagi sekarang, dia hanya membutuhkan banyak cinta dan juga dukungan dari orang-orang yang ada di sekitarnya.
Feli tersenyum sambil tetap menggenggam jemari Ken.
Entah kenapa sekarang Feli malah mengingat keadaan Kakaknya. Sudah dua hari Kakaknya itu tidak mau berangkat bekerja, kemarin baru saja terjadi masalah besar karena Kakaknya tidak datang ke persidangan. Astaga, kenapa Feli jadi merasa sangat khawatir dengan Kakaknya?
Apakah Farel juga sedang berusaha untuk menghindari sesuatu oleh seba itulah dia mencoba untuk menghilang sejenak dari pekerjaannya?
“Awalnya aku pikir kalau Mama sama sekali tidak merasa kehilangan ketika Papa meninggal. Iya, saat itu Mama sama sekali tidak mengeluarkan air matanya.. sekarang aku mulai tahu, jika Papa meninggal, maka orang yang paling bersedih adalah Mama. Wanita itu adalah orang yang paling kehilangan. Mungkin karena rasa sakit yang dia tanggung sudah terlalu besar, Mama sampai tidak bisa mengeluarkan air matanya..” Kata Ken lagi.
Feli mengingat semua itu. Iya, memang begitulah yang terjadi. Tidak menangis bukan berarti tidak sedih. Kadang kehilangan yang paling besar bukan ditandai dengan tangisan, tapi dengan kebungkaman dan juga ketegaran yang selalu ditunjukkan pada orang lain.
Feli sangat mengerti bagaimana perasaan Ken saat ini karena pada kenyataannya, Feli juga kehilangan ibunya. Feli sangat memahami kehilangan yang sedang Ken rasakan karena Feli juga merasakannya.