Bab 42

1694 Words
37 Hari Menuju Persidangan Ken menghembuskan napasnya dengan pelan. Semua hal yang terjadi di depannya ini adalah sebuah kekacauan yang besar. Ken sama sekali tidak mengira kalau Farel, seorang pengacara ternama yang sudah terkenal dengan kinerjanya yang sangat baik, dia harus melakukan kesalahan besar yang pasti akan berakibat fatal untuk dirinya. Iya, Ken memang tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Farel. Semua ini membuat dirinya sangat terkejut. Ken memang marah pada pria itu, tapi Ken juga harus menguasai dirinya sendiri. Dia tidak bisa melampiaskan emosinya saat ini. “Ini masalah yang sangat besar!” Kata Rosaline sambil menatap Ken dan Farel secara bergantian. Sekalipun Ken masih tidak mengerti kenapa Feli malah menghubungi Rosaline dan meminta Kakaknya untuk datang ke sini, sebenarnya Ken juga bersyukur karena dengan kehadiran Rosaline, keadaan ini jadi sedikit lebih terkendali. Dibandingkan dengan Feli, Rosaline jelas lebih mampu untuk mengendalikan suasana di sini. Ken sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa karena menurutnya, pihak keluarga dari Arika Nadya tidak akan mau menerima tawarannya lagi. Sampai kapanpun, Ken pasti akan merasa bersalah karena dia melakukan satu kelalaian yang akhirnya membuat sebuah keluarga jadi tidak bisa mendapatkan keadilan. Ya, mau bagaimana lagi? Ken sebenarnya juga sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Selama di persidangan, Ken sudah melakukan segala hal yang terbaik tapi memang Ken masih belum menguasai kasus yang ditangani oleh Farel itu. Bagaimanapun cara yang Ken lakukan, Ken tetap tidak bisa melakukan banyak hal. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Ken dengan pelan. Mereka memang sedang membicarakan masalah yang sangat besar, Ken harus menyingkirkan egonya dulu. Sepertinya Rosaline juga mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini, Kakaknya itu pasti juga sedang berusaha untuk membantunya dalam menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi. “Siapa yang akhirnya menggantikan Farel? Aku tadi menerima banyak sekali panggilan dari tim Farel. Aku pikir mereka hanya mencariku karena aku tidak berangkat bekerja, aku memang tidak memberikan kabar apapun pada kantor..” Ken menghembuskan napasnya dengan pelan. Dibandingkan dengan Ken yang sama sekali tidak mengerti dengan masalah yang sedang ditangani oleh Farel, sebenarnya Rosaline yang sekarang harusnya memimpin persidangan ini. Menurut tim yang membantu Ken saat persidangan, Rosaline jauh lebih mengerti dengan apa yang terjadi karena Farel sempat meminta pendapat wanita itu ketika sedang mengambil keputusan. Iya, dibanding dengan Ken, Rosaline jauh lebih menguasai kasus ini. Tapi kenapa wanita itu tidak bisa dihubungi tadi? Kenapa wanita itu memilih untuk tidak menjawab panggilan yang pastinya berjumlah puluhan kali ini? Ken sama sekali tidak bisa memahami apa yang terjadi. Seandainya Rosaline yang memimpin persidangan hari ini, pasti kemungkinan kemenangan mereka akan lebih tinggi. Iya, semua memang sudah terlanjur terjadi. Ken memang tidak akan bisa melakukan apapun karena semuanya sudah terlanjur. Tidak akan ada yang bisa mengubah sesuatu yang sudah terjadi, sekarang mereka hanya harus fokus untuk memikirkan bagaimana caranya agar masalah ini bisa sedikit diperbaiki. “Karena tidak bisa menghubungi Kakak, akhirnya aku yang harus datang ke persidangan. Ini bukan kasus sembarangan sehingga tidak ada yang berani menggantikan Kak Farel begitu saja..” Kata Ken dengan tenang. Sepertinya Rosaline juga sudah menebak apa yang sebenarnya terjadi. Ken menghembuskan napasnya dengan pelan. Sekalipun tahu kalau dia sama sekali tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah sesuatu yang sudah terjadi, Ken tetap saja merasa sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Farel. Ken sama sekali tidak bisa menahan emosinya sendiri dan malah mengatakan sesuatu yang tidak sepantasnya dia katakan pada calon Kakak iparnya sendiri. Oh ya ampun, Ken memang tidak bisa mengendalikan dirinya hari ini. “Ponselku memang sedang mati. Aku sama sekali tidak tahu kalau ada yang mencoba menghubungi dirinya..” Ken memejamkan matanya selama beberapa detik. Sebenarnya Ken merasa sangat lega karena tahu jika Kakak tidak mengabaikan panggilan yang masuk ke dalam ponselnya. Rosaline hanya tidak tahu kalau ada panggilan masuk karena ponselnya sedang mati, Kakaknya itu tidak mengabaikan panggilan itu tapi memang panggilannya tidak masuk ke ponselnya. “Kakak ada di mana? Kenapa tidak masuk ke kantor? Kenapa kalian semua tidak masuk di hari yang sama?” Tanya Feli sambil menatap Rosaline. Sebenarnya Ken juga ingin tahu apa yang menjadi alasan Kakaknya tidak masuk ke kantor tanpa memberi tahu apapun. Ken memang sudah merencanakan untuk tidak masuk pada hari ini karena dia ingin memberikan satu kejutan yang mungkin bisa sedikit memperbaiki keadaan hati Feli yang sedang bersedih karena masalah yang dia alami. Sayangnya, sekarang Feli pasti kembali merasa bersedih lagi. Ah, masalah ini sangat menyebalkan! “Ken, kamu juga tidak bekerja?” Juga? Sebenarnya, sebagai seorang pengacara, Ken sangat jeli dalam setiap kalimat yang diucapkan oleh orang lain. Sekarang Ken benar-benar menaruh curiga pada Kakaknya karena jika di dengar dari kalimat yang dia tanyakan, sepertinya Kakaknya hanya terkejut dengan kenyataan bahwa Ken tidak masuk bekerja. Kakaknya itu terlihat sudah tahu kalau Farel juga tidak masuk bekerja. Astaga, Ken melupakan satu fakta penting yang sebenarnya terjadi. Karena terlalu fokus dengan sara curiganya, Ken sampai lupa kalau memang Farel tidak masuk kerja. Iya, pria itu saja tidak datang ke persidangan, jadi sudah jelas jika dia juga tidak masuk bekerja. Apa yang sebenarnya ada di pikiran Ken? Kenapa dia sering menaruh curiga baik pada Kakaknya ataupun pada Farel? “Aku sudah memberi kabar pada kantor kalau aku tidak masuk bekerja hari ini. Aku sama sekali tidak tahu kalau kalian berdua juga tidak masuk bekerja..” Kata Ken dengan pelan. “Baiklah, katakan padaku, apakah aku boleh ikut campur dalam masalah ini?” Tanya Rosaline. Ken menghembuskan napasnya dengan pelan. Awalnya Ken memang melarang Kakaknya untuk ikut campur. Ken ingin berusaha untuk menyelesaikan ini semua sendirian karena dia merasa kalau semua ini adalah tanggung jawabnya dan juga Farel. Tapi sekarang Kakaknya sudah terlanjur tahu. Sepertinya sama sekali tidak masalah kalau Kakaknya ikut membantu Ken dalam melakukan perbaikan atas kesalahan yang terjadi hari ini. Tiga kepala sepertinya akan lebih baik dari kinerja satu kepala. “Aku sudah mengajukan banding. Apa yang selanjutnya harus aku lakukan?” Tanya Ken. Jika berhubungan dengan masalah pekerjaan, mereka tidak bisa berpikir egois. Ken memang sangat membutuhkan bantuan Kakaknya karena sekalipun mereka lulus di tahun yang sama, Kakaknya jelas memiliki waktu belajar yang jauh lebih lama dibandingkan dengan Ken. “Kamu sudah mengajukan banding? Lalu bagaimana dengan keluarganya?” Tanya Rosaline dengan cepat. Ken menggelengkan kepalanya ketika dia mengingat apa yang terjadi di depan ruangan persidangan. Tidak ada yang bisa Ken katakan lagi karena yang sebenarnya terjadi adalah kekacauan nyata yang terus membayangi tatapan Ken. Entahlah, Ken merasa sangat cemas ketika dia mendengar apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya itu. Ken menyadari dengan benar kalau ucapan seorang ibu yang sedang bersedih memang sangat besar kuasanya. Ken benar-benar tidak ingin kalau ada sesuatu yang buruk yang akhirnya terjadi pada dirinya hanya karena perkataan wanita itu. Ah, seharusnya Ken tidak terlalu setakut ini. Ken harus lebih banyak berdoa agar tidak ada hal buruk yang datang kepadanya. “Keluarganya sangat marah karena mereka merasa sangat kecewa dengan apa yang terjadi. Ini memang bukan pencapaian terbaikku, aku mengaku kalau aku salah dalam bertindak. Aku sama sekali tidak tahu harus melakukan apa karena aku tidak menangani kasus ini sejak awal..” Kata Ken dengan pandangan frustasi. Raut wajah seorang wanita yang sedang menangis di depan Ken karena merasa sangat kecewa dengan keputusan yang dikatakan oleh hakim, raut wajah itu kembali membayangi Ken. Ken melakukan kesalahan yang sangat fatal karena dia telah menyebabkan keadilan jadi berpihak pada hal yang masih belum tentu benar. “Jangan pikirkan itu. Kasus jadi tanggung jawabmu mulai sekarang, Ken. Aku yang akan mengurus keluarga itu, aku akan datang ke pada mereka dan mengakui kelalaian kita. Aku yakin kalau keluarga itu tidak memberikan tuduhan yang salah karena memang aku sedikit mengerti dengan kasus ini. Terus lakukan yang terbaik, Ken. Aku akan datang ke rumah keluarga itu untuk membicarakan apa yang—” “Kamu sama sekali tidak perlu melakukan itu, Rosaline!” Perkataan Farel yang memotong kalimat Rosaline kini mendapatkan perhatian penuh dari Ken dan Feli. Sungguh, sebenarnya Ken sama sekali tidak tahu apa yang membuat Farel sampai terdengar semarah itu. Sejak beberapa menit yang lalu, seakan dia sedang mengakui kesalahan yang dia buat, Farel hanya terus diam saja. Tapi kenapa sekarang pria itu terlihat tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Rosaline? “Aku harus melakukan itu. Harus! Karena kesalahan yang kamu buat, kita semua jadi terkena imbasnya. Ingat baik-baik Farel, kita tidak pernah membiarkan keadilan berada di jalan yang salah. Selama ini kita tahu akan prinsip itu. Kalau keluarga itu tidak mendapatkan keadilan, lalu apa gunanya kita? Apa gunanya seorang pengacara yang tugasnya adalah membantu orang yang membutuhkan keadilan?” Rosaline terlihat sangat marah dengan apa yang dikatakan oleh Farel. Ken menghembuskan napasnya dengan pelan. Ken tahu kalau ini akan menjadi pembicaraan keras dan juga kolot. Seharusnya Ken memaksa Feli untuk menunggu di luar saja. Ken tidak suka ketika dia melihat Feli terus merasa cemas dengan apa yang terjadi. “Lakukan segala hal yang terbaik, Ken. Aku tidak ingin kalau kamu melakukan sedikit saja kesalahan kali ini..” Kata Rosaline dengan pelan. Wanita itu bangkit berdiri sambil menatap Feli yang masih menundukkan kepalanya. “Feli, ayo ikutlah pulang bersamaku.. kurasa Ken masih ingin berbicara dengan Farel..” Sama seperti biasanya, Kakaknya memang selalu mengerti dengan apa yang Ken butuhkan. Iya, sebenarnya Ken memang sangat ingin berbicara berdua saja dengan Farel. Ken ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu sehingga dia sampai seperti ini. Kesalahan yang dibuat oleh Farel bukanlah kesalahan kecil yang bisa dimaafkan dengan mudah. Kesalahan yang satu ini sama sekali tidak membutuhkan satupun kata maaf, mereka hanya harus memperbaiki kesalahan saja. Iya, hanya itu.. “Apakah kalian akan baik-baik saja jika aku tinggalkan?” Tanya Feli dengan pandangan tidak yakin. Ken tersenyum ketika melihat wajah kekasihnya yang terlihat sangat khawatir dengan apa yang terjadi. “Kami tidak akan berperang menggunakan pistol, Feli. Jangan khawatir seperti itu..” Sepertinya, sama seperti Ken yang merasa gemas dengan ekspresi Feli, Farel juga merasa hal yang sama. Feli memang sering  kali tidak sadar kalau dalam kondisi apapun, wanita itu tetap akan menampilkan ekspresi yang sangat menggemaskan. Ken memang tidak mengerti kenapa Feli selalu tampak menggemaskan di matanya, ya.. memang begitulah kenyataannya. “Tunggulah di mobil, aku tidak akan lama..” Kata Ken sambil tersenyum.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD