Bab 43

1708 Words
37 Hari Sebelum Persidangan Feli menatap Ken yang sedang duduk di sampingnya. Setengah dari kaki Ken masuk ke dalam air kolam renang yang ada di depan mereka. Iya, Feli sedang berada di rumah Ken karena Feli memang ingin menemani Ken untuk beberapa waktu ke depan. “Feli, Feli sekarang ad-adalah giliranmu..” Feli menolehkan kepalanya untuk menatap Caleb yang ada di depannya. Feli tersenyum lalu mulai melakukan apa yang diinginkan oleh Caleb. Ketika melihat Feli datang ke rumah ini, Caleb langsung menghampiri Feli sambil membawa bidak papan catur. Entahlah, Feli baru tahu kalau sekarang Caleb suka bermain catur. Ini sudah permainan kelima dan Feli belum pernah bisa menang atas Caleb. Iya, sebenarnya Feli memang tidak terlalu mahir dalam bermain catur. Feli saja masih sering salah dalam membuat langkah. “Sekarang giliran Kak Caleb” Kata Feli setelah dia menggerakkan pion berwarna putih untuk maju satu langkah. Feli menghembuskan napasnya dengan pelan. Sudah bermenit-menit berlalu tapi Ken tetap saja diam di sampingnya. Pria itu seakan sedang memikirkan satu beban besar yang membuat hatinya tidak tenang. “Ken, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Feli dengan tenang. Ken menolehkan kepalanya lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Feli. Ken memang selalu seperti ini, Feli sudah hafal dengan kelakuannya. Jika sedang ada masalah, Ken sangat jarang mau berbagi dengan orang lain. Entahlah, mungkin semua pria memang melakukan hal yang sama. Mereka lebih memilih untuk menyimpan masalah mereka tanpa mau mengatakan apapun pada orang lain. “Jangan terlalu khawatir, ini hanya masalah pekerjaan saja. Aku akan mengurusnya dengan baik..” Ken malah memberikan jawaban yang sama sekali tidak Feli butuhkan. Sebenarnya bukan tentang pekerjaan yang Feli tanyakan, Feli hanya ingin tahu apa yang Ken bicarakan dengan Farel. Melihat bagaimana keadaan Kakaknya ketika Feli mendatangi pria itu di apartemen tadi siang membuat Feli sadar kalau Kakaknya bukan sengaja dalam melakukan kelalaian. Kakaknya tidak sadar akan apapun juga karena dia sendiri sedang dalam masalah yang besar. Apa yang terjadi hari ini benar-benar membuat Feli merasa kebingungan. Di satu sisi dia tahu keadaan Farel, tapi di sisi yang lain Feli juga mencoba untuk mengerti dengan kekecewaan yang dirasakan oleh kekasihnya itu. “Ken, sepertinya Kakakku sedang ada masalah..” Kata Feli dengan pelan. Ken menolehkan kepalanya sambil mengernyitkan dahinya. Feli takut kalau Ken tidak percaya dengan apa yang dia katakan. Fel takut kalau Ken mengira jika Feli hanya sedang mencoba untuk membela Kakaknya sendiri. Tidak, sebenarnya tidak seperti itu.. Feli hanya ingin memberi tahu Ken tentang sesuatu yang sedang terjadi. “Masalah? Masalah apa?” Tanya Ken. “Aku tidak tahu. Tapi dua hari lalu, dia datang ke kamarku dalam keadaan setengah mabuk. Lalu hari ini, saat aku menemuinya di apartemen, dia sedang menangis di atas lantai. Aku rasa ada sesuatu yang sedang—” “Feli sekarang giliranmu!” Feli menolehkan kepalanya sekilas ke arah Caleb lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat. Feli harus menjelaskan hal penting pada Ken oleh sebab itu tanpa banyak berpikir Feli menggerakkan bidak caturnya dengan asal. “Aku rasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Kakakku. Dia sedang dalam masalah.. aku tahu kalau kasus hari ini sudah cukup membuat harimu jadi buruk, tapi aku juga ingin memberi tahu kalau—” “Fel-Feli! apa yang kamu lakukan? Bukan begitu cara menggerakkan bidak kuda. Kamu harus membentuk huruf L! Haru huruf L” Feli kembali menolehkan kepalanya dengan pelan. Feli mencoba untuk menghembuskan napasnya dengan pelan lalu langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Caleb. Feli sedang ingin membicarakan tentang hal penting saat ini. Kenapa Caleb tidak membiarkan Feli berbicara bersama dengan Ken? “Ini tidak sepenuhnya salah Kak Farel, Ken..” Kata Feli kemudian. “Feli, dengarkan aku. Setiap orang masalah, tapi jangan pernah mencampurkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan. Kakakmu adalah seorang pengacara yang profesional. Sekalipun dia juga masih muda, dia sebenarnya jauh lebih berpengalaman dari pengacara seusianya. Dia tidak seharusnya melakukan ini..” “Ken aku hanya khawatir dengan keadaan Kakakku. Aku sama sekali tidak sedang membicarakan tentang masalah pekerjaannya. Aku ingin—” “Feli kenapa kamu bodoh sekali? Aku sudah mengatakan padamu kalau harusnya kamu membuat huruf L! Kamu bodoh! Sangat bodoh! Kamu sangat bodoh!” Feli menatap Caleb yang sedang mengayunkan tangannya untuk memukul Feli. Seketika itu juga Feli menjerit kesakitan karena dia merasakan pukulan Caleb yang mengenai tulang pipinya. “Kak Caleb! Apa yang kamu lakukan?” Ken langsung bergerak untuk menyembunyikan Feli di belakang tubuhnya. Feli masih meringis kesakitan karena pukulan Caleb benar-benar dilakukan dengan kekuatan penuh. Feli tidak pernah mendapatkan hal ini sebelumnya, kenapa Caleb sambil semarah ini padahal biasanya Caleb selalu menunjukkan sifat baiknya pada Feli? “Apa yang kamu lakukan?!” Ken masih membentak Kakaknya dengan suara keras. Caleb tampak terkejut dengan suara Ken. Feli langsung meraih tangan Ken dan mencoba menenangkan pria itu. Tidak, ini bukan cara yang benar untuk menegur Caleb. Seharusnya mereka berbicara baik-baik saja.. “Fel-Feli! Dia sangat bodoh!” Feli memejamkan matanya. Seharusnya Ken tidak perlu terpancing emosi. “Apa yang kamu katakan? Siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu?” Ken masih mencoba untuk berbicara dengan kakaknya. Feli memegang tulang pipinya yang langsung terasa nyeri. Astaga, ini sangat tidak baik. Feli mungkin bisa memaafkan Caleb dengan mudah, tapi bagaimana kalau Kakaknya tahu jika Feli disakiti oleh Caleb? Bisa dipastikan kalau Kakaknya juga akan marah sama seperti yang sekarang sedang Ken lakukan. “Dia memang bodoh! Dia bodoh! Jangan menikah dengannya karena dia bodoh! Dia sangat bodoh, Ken!” “Siapa yang sedang kamu sebut bodoh? Feli adalah kekasihku, jangan berbicara hal yang buruk padanya! Dia selalu baik padamu, Kak! Kenapa kamu melukainya seperti ini?” Ken masih tidak bisa menahan emosinya. Feli menghembuskan napasnya dengan pelan. Dia sangat membenci situasi ini. Ken tidak boleh marah-marah pada Caleb karena pria itu tidak akan bisa menerima kemarahan Ken. Benar, apa yang dipikirkan oleh Feli memang benar. Kurang dari dua detik kemudian Caleb langsung mengangkat papan catur yang tadi mereka mainkan, pria itu melemparkannya ke sembarang arah. Jika bukan karena Ken, Feli sekarang pasti akan menerima luka yang lainnya. “Dia bodoh! Dia memang sangat bodoh! Aku tidak suka padanya!” “Kak Caleb! Hentikan omong kosong ini! Kamu sangat keterlaluan!” Feli masih mencoba menenangkan Ken tapi semua usahanya sama sekali tidak berguna. Ken hanya fokus untuk menunjukkan kemarahannya pada Caleb. Entahlah, ini akan menjadi semakin buruk kalau Ken tidak mau menahan emosinya sendiri. “Pergilah! Jangan pernah menemui Feli lagi atau aku akan sangat marah padamu!” Kata Ken sekali lagi. Feli menatap Ken dengan pandangan tidak setuju. Apa yang dikatakan oleh pria itu? Kenapa dia malah marah-marah pada Caleb dengan cara yang tidak sewajarnya? Selama ini Caleb juga sering melakukan kesalahan. Tidak sekali atau dua kali Feli melihat Ken dipukul atau ditendang oleh Caleb. Iya, memang begitulah sifat Caleb yang sering kali membuat orang menjadi sedikit kesulitan. Sering kali Caleb melakukan sesuatu semaunya sendiri. Terlepas dari setiap tindakannya yang sangat polos, sebenarnya Caleb menyimpan sifat keras kepala yang kadang sangat sulit untuk dikendalikan. Selama ini, sekalipun mendapatkan luka yang cukup parah dari Caleb, Ken tidak pernah marah sedikitpun. “Dia bodoh, ak-aku tidak suka berteman dengan orang bodoh. Dia tidak bisa bermain catur artinya dia bodoh. Feli bodoh karena tidak bisa bermain catur! Feli bodoh! Feli bodoh. Mama mengatakan kalau tidak bisa beriman catur artinya dia bodoh! Feli ad-adalah anak yang bodoh! Fel-Feli sangat bodoh!” Feli tidak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang. Terlepas dari setiap kalimat kasar yang dikatakan oleh Caleb, ada satu fakta yang menarik perhatian Feli sehingga tanpa sadar air matanya langsung menetes. Caleb tidak mungkin berbohong. Caleb tidak mungkin mengatakan kebohongan. Tapi kenapa? Kenapa ibunya mengatakan hal seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi? “Feli bodoh! Kata Mama, Feli bodoh!” Kata Caleb sambil melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Setelah Caleb benar-benar pergi meninggalkan mereka, saat itulah Ken mulai menunjukkan kesedihannya. Ken menjatuhkan dirinya ke bawah. Pria itu terlihat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Caleb, sepertinya Ken juga terkejut dengan apa yang dia lakukan sendiri. Membentak Caleb bukanlah hal yang biasa untuk dilakukan oleh Ken. Iya, Feli sangat tahu akan hal itu karena selama ini, sekalipun Caleb membuat kekacauan sebesar apapun, Ken tidak pernah marah pada kakaknya itu. Ken akan berusaha membereskan kekacauan itu lalu mencoba menasehati Caleb dengan cara yang sangat hati-hati. Hari ini Ken lepas kendali.. Feli tahu kalau Ken pasti merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Bukan hanya kepada Feli saja, tapi juga kenapa Caleb yang telah dia bentak. Feli memeluk Ken dari belakang karena dia sama sekali tidak bisa mengatakan apapun. Satu-satunya dukungan yang bisa Feli berikan adalah pelukan ini. Feli memeluk Ken dengar erat untuk memberikan kekuatan pada pria ini. Ini hari yang sangat panjang. Ken mendapatkan banyak sekali masalah hari ini, sangat wajar jika pria itu salah dalam melampiaskan kekesalannya. Feli mengerti akan apa yang dirasakan oleh Ken tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk duduk di sini. Bagaimanapun juga mereka harus segera datang pada Caleb dan meminta maaf akan apa yang terjadi. “Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini..” Kata Ken dengan pelan. Feli menghembuskan napasnya sejenak. Sekalipun Feli juga sempat merasa marah ketika Caleb memukulnya, sekarang Feli sudah merasa jauh lebih baik. Feli sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri. Jujur saja Feli tidak menyukai semua ini, seharusnya Ken juga bisa menahan dirinya sendiri. “Kita harus minta maaf kepada Kak Caleb..” Ken menolehkan kepalanya ketika dia mendengar apa yang dikatakan oleh Feli. Iya, mereka memang harus minta maaf. Seharusnya mereka sama-sama sadar kalau bukan itu cara yang tepat untuk berbicara dengan Caleb. Selama ini Feli juga tahu kalau Ken adalah orang yang paling sabar dalam menghadapi kakaknya itu. “Biarkan dia sendirian dulu. Kamu akan terkena—” “Ken, dia tidak sengaja. Dia tidak mungkin ingin menyakiti aku.. Kak Caleb hanya tidak sengaja saja..” Kata Feli dengan tenang. Feli menatap Ken yang menghembuskan napasnya dengan pelan. Apapun yang terjadi, mereka memang harus meminta maaf pada Caleb. Iya, itulah yang harus dilakukan. “Aku akan mengantarmu pulang saja, Feli..” Kata Ken sambil bangkit berdiri. Sekalipun Feli sangat tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ken, Feli akhirnya juga tetap mengikuti apa yang Ken inginkan. Baiklah, mungkin tidak malam ini. Feli akan datang lagi besok pagi untuk meminta maaf secara langsung pada Caleb.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD