"Lihat, anda sudah lihat bukti CCTV ini bukan?" tanya Darrel setelah memperlihatkan bukti rekaman CCTV ke Bobby dan juga kedua pengawalnya. Tampak jelas pertemuan Darrel, Dara dan juga Fandi di sana, dan pembicaraannya pun terdengar jelas. Bukti itu membuat Bobby merasa tidak enak karena sudah menuduh Darrel di depan semua orang. Darrel kembali duduk di kursinya, melirik ke Randy yang berdiri di sampingnya lantas kembali menatap Bobby dengan kedua pengawalnya yang terus berdiri di belakangnya.
"Kita sudah lama bekerja sama Pak Bobby, dan selama kerja sama, tidak pernah sekali pun saya berkhianat atau mengecewakan Bapak dan perusahaan Bapak. Anda adalah orang pertama yang turut membantu modal saat perusahaan ini hampir bangkrut. Anda teman baik Papi saya, saya diajarkan untuk tidak menjadi kacang yang lupa akan kulitnya. Jadi saya tidak mungkin mengecewakan anda."
Bobby mengangguk pelan. "Maafkan saya, Rel, saya yang salah sudah percaya sama pria itu."
Darrel tersenyum tipis. "Sejak awal saya tau Bapak bekerja sama dengan dia, saya sudah coba peringatkan Bapak untuk menolaknya. Padahal Bapak sudah tau, apa yang terjadi pada Vallery, adik saya, tapi Bapak malah menganggap itu urusan pribadi, berbeda dengan pekerjaan. Dan saya, tidak bisa memaksanya kan?" Bobby kembali menganggu tanda mengerti. "Dan sekarang akibat termakan hasutannya, Bapak dan kedua pengawal anda ini sudah membuat takut karyawan saya, terutama Dara, office girl yang anda tolak tadi!" tegas Darrel sembari mengarahkan tatapan ke bodyguard di sebelah kanan Bobby. Pria tegap berotot itu langsung menundukkan kepala.
"Sekali lagi maafkan saya dan anak buah saya, Rel. Kami benar-benar kepancing emosi tadi."
"Lain kali saya harap, kalau ada masalah, selesaikan di ruangan saja ya, Pak. Karena bagi saya kenyamanan semua yang bekerja di sini adalah yang utama. Bahkan mereka semua prioritas saya saat ini. Tanpa mereka, perusahaan ini tidak akan seperti saat ini, Pak."
"Saya mengerti," jawab Bobby. "Tapi kalau boleh saya tau, apa hubungannya Pak Fandi, dengan office girl anda tadi, kenapa dia sampai bersikap sekasar itu?"
Darrel menarik napas dalam-dalam,lantas menghembuskannya perlahan. Tampak kebencian di kedua matanya mengingat kejadian yang terjadi langsung di depan matanya. Wajah merah padam Dara saat dicekik, dan tatapan penuh kebencian dari Fandi, membuatnya ingin membunuhnya saat itu.
"Dia mantan suaminya," jawab Darrel yang membuat Bobby dan semua orang terdiam membisu.
***
"Sudah lebih baik, Mbak?" tanya Milly saat melihat Dara bangkit dari posisi berbaringnya di sofa panjang yang terletak di pantry. Dara hanya mengangguk sembari memegang lehernya. Bekas tangan Fandi masih sangat terasa yang jelas saja membuat rasa trauma masa lalunya, kembali menghantuinya sejak tadi. Berulang kali Milly memintanya tidur sejenak, tapi kedua mata Dara tetap saja tidak bisa terpejam barang sebentar saja.
Milly mendekat sembari membawakan segelas s**u cokelat hangat untuk Dara. Memintanya untuk meminumnya yang langsung dibalas Dara dengan ucapan terima kasih.
"Sebaiknya Mbak Dara pulang saja, pasti masih sakit, bekas tangannya masih terlihat jelas, Mbak. Aku sampai takut lihatnya."
Dara tersenyum tipis. "Aku baik-baik aja kok, cuma bekas doang, gak terasa sakit," bohong Dara. "Septian dan Yoyo mana?"
"Mereka ke luar, biasa tugas belikan makan siang," jawab Milly santai sembari beranjak dari sofa. "Mbak makan dulu yuk, tadi udah aku belikan makan siang di kantin, sekalian beli buat aku. Aku lihat Mbak Dara gak bawa bekal."
"Iya, tadi gak sempat masak, tapi kamu gak perlu repot-repot begini, Mil, aku bisa beli sendiri kok." Dara bangkit dari sofa, dan beralih duduk di kursi kayu untuk tempat para office girl dan boy makan. Ada dua bungkus nasi di atas meja. Dara kembali menyeruput cokelat hangatnya sembari memperhatikan Milly menyiapkan sendok dan piring.
"Gak repot, Mbak, sekalian juga." Milly memberikan piring dan sendok untuk Dara, lantas duduk di hadapannya. "Eh iya, Mbak, ngomongin soal kejadian tadi, Pak Darrel keren ya. Bisa langsung sigap gitu nolongin Mbak Dara. Wuih, kayak di film-film."
Dara kembali mengingat kejadian tadi. Apa yang dikatakan Milly memang benar, Darrel jujur membuatnya terpukau. Entah apa yang membuatnya melakukan hal seperti itu. Namun Dara merasa seperti dilindungi setiap kali berada di dekat Darrel.
"Bukannya dia seperti itu ke semua karyawan?" tebak Dara agar tidak merasa berlebihan.
"Iya sih, dia memang care banget ke semua karyawan, bahkan dia pernah lho bertengkar sama Tuan Rendra cuma demi belain kami."
"Tuan Rendra? Dia siapa?"
"Dia Ayahnya Pak Darrel. Nama Ibunya Rachel. Rachel Anindya. Putri tunggal dari pemilik perusahaan ini."
"Maksudnya, perusahaan ini milik keluarga ibunya Pak Darrel?"
Milly mengangguk dengan mulut penuh nasi. "Ini perusahaan Nyonya Rachel, dan dikelola oleh Tuan Rendra. Pada saat dialihkan, perusahaan ini hampir bangkrut karena Nyonya Rachel sebenarnya tidak suka mengelola perusahaan property, dia lebih suka menjadi designer. Tapi setelah diambil alih pengelolaannya sama Tuan, perusahaan ini bangkit kembali dengan bantuan Pak Bobby tadi. Keren kan? Dan sekarang, perusahaan ini jatuh ke tangan Pak Darrel."
Dara mengangguk. "Tapi kok kamu tau semuanya, kamu udah lama kerja di sini?"
"Ya Allah, Mbak, selama apa sih aku kerjanya, aku juga baru dua puluh satu tahun. Aku tuh cuma dengar cerita dari Ayahku saja, dulu dia supir pribadi Tuan Rendra. Makanya tau banyak."
"Kirain kamu dari kecil kerja di sini." Dara tertawa, Milly malah memanyunkan bibirnya sesaat, lantas ikut tertawa. "Kamu gak lanjut kuliah?"
Milly menggelengkan kepala. "Enggak, Mbak, aku gak punya biaya buat kuliah lagi. Lebih bagus aku kerja, dapat uang dan bisa bantu adik-adik aku sekolah."
Selagi asyik mengobrol, tiba-tiba pintu pantry terbuka dan terlihat Randy datang. Dara dan Milly spontan beranjak dari kursi dan menghadapkan tubuhnya ke asisten pribadi Darrel itu.
"Maaf ganggu makan siangnya, Pak Darrel memanggil anda ke ruangannya sekarang."
"Saya?" tanya Dara kaget.
"Iya, mari," ajak Randy yang langsung dituruti Dara tanpa banyak bertanya. Milly tampak cemas dan hanya bisa berharap, Dara tidak terkena masalah akibat ulah pria b******k tadi.
***
Bukan ke ruangannya Darrel, Dara malah diajak masuk ke mobil Darrel yang sudah terparkir menantinya di depan lobby. Darrel sendiri sudah berada di dalam bersama Rahmat. Dara tampak gugup, dan hanya diam seribu bahasa selama di perjalanan.
Anehnya, mobil malah melaju masuk ke dalam rumah sakit mewah yang selama ini, hanya bisa dipandangi Dara dari luar setiap kali melewatinya. Dara bahkan mempunyai impian bisa melahirkan di rumah sakit Citra Bramastya itu. Namun sayangnya tak satu pun dari penyewa rahimnya membawanya ke sana. Selalu saja ke rumah sakit biasa.
"Ayo turun," ajak Darrel setelah mobil berhenti di depan pintu masuk rumah sakit.
"Mau ngapain, Pak?"
"Turun saja!"
Dara menurut dan langsung mengikuti Darrel turun dari pintu berbeda. Dara berjalan mengikutinya masuk ke rumah sakit, lantas berhenti tepat di depan meja informasi.
Anehnya semua perawat dan pegawai rumah sakit, malah menyapanya ramah. Dara sendiri hanya menundukkan kepala, tak enak hati dengan semua orang yang memandang ke arahnya.
"Saya sudah buat janji sama Dokter Freya," ucap Darrel pada salah seorang perawat.
"Oh iya, Pak Darrel, sudah ditunggu Dokter Freya di dalam."
Darrel langsung melangkah pergi meninggalkan Dara yang semula tidak menyadari kepergiannya. Namun beberapa detik kemudian, Dara kaget saat mendapati Darrel sudah semakin menjauh darinya. Dengan langkah cepat, Dara mengejarnya dan langsung memintanya untuk berhenti lantas menghalanginya masuk ke sebuah pintu bertuliskan 'Dr. Freya'.
"Maaf, Pak, tapi kita mau ngapain ke sini ya?" Dara tampak mulai ketakutan. Dia takut, masa lalunya sebagai wanita penyewa rahim, sampai diketahui Darrel. Dara malah sampai kepikiran, bahwa Fandi sudah menceritakan segalanya dan Darrel ingin membuktikannya langsung. Dara tidak siap jika harus ketahuan sekarang. Dirinya belum satu bulan bekerja, dan rasanya terlalu cepat jika harus berhenti atau malah diberhentikan dari pekerjaannya saat ini.
"Mau periksa."
"Periksa apa?"
"Kamu."
"Aku?" tanya Dara. "Aku sehat kok, aku baik-baik aja, ayo kita balik, Pak!" ajak Dara lantas berniat melangkah pergi, namun langkahnya terhenti saat Darrel menarik kerah kemeja putihnya. Bukannya maju, Dara malah melangkah mundur dan masuk ke dalam ruangan yang sudah dibukakan Darrel pintunya.
Semua pasang mata tertuju padanya. Ada dua orang wanita di dalam yang menatapnya heran. Yang satu berjas putih layaknya dokter, dan yang satu berpakaian suster dengan topi kecil putih di atas kepalanya. Dara yang terjebak, hanya bisa tersenyum terpaksa sembari mencoba melepaskan cengkraman tangan Darrel di kerah bajunya.
"Periksa dia, aku gak mau sampai lukanya infeksi!" ucap Darrel bernada perintah yang langsung dibalas wanita bernama Freya itu dengan kedua tangan tempat di d**a sembari menggelengkan dan tatapan kesal ke arah Darrel.