Dara menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Kejadian tadi pagi masih membekas di ingatannya. Fandi yang selama ini lenyap bak ditelan bumi, malah kembali hadir. Soalnya di tempat yang diharapkan Dara bisa menjadi awal baru tanpa masa lalu baginya.
Wajah Anaya melesat masuk ke ingatannya. Lesung pipinya yang sama seperti Fandi, selalu saja membuat hati Dara sakit setiap kali melihatnya. Namun satu hal yang membuat Dara terharu melihatnya, Anaya sama sekali tidak bertanya tentang sosok bapaknya. Tidak pernah satu kata pun ke luar perihal sosok sang bapak yang tidak pernah dia rasakan kehadirannya. Entah karena pengaruh sang ibu atau ada hal lain yang membuatnya tidak ingin membahasnya, namun sikapnya itu membuat Dara terkadang sedikit sedih. Dara yakin, jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Anaya pasti merindukannya.
Suara ketukan terdengar. Dara melenyapkan semua kejadian di kepalanya dan beranjak duduk di atas kasur. Meminta sang pengetuk pintu untuk masuk yang ternyata ada Laras di sana, salah satu teman satu rumah yang kamarnya terletak tepat di samping kanannya.
"Sibuk?" tanya Laras sembari masuk menutup pintu kembali dan duduk di samping Dara.
"Gak, cuma lagi istirahat aja." Dara bersandar di dinding. "Kenapa?"
"Gue mau minta tolong sama Lo, tapi ragu sih, soalnya kondisi Lo pasti belum pulih benar."
"Maksudnya?" tanya Dara sembari mengernyitkan dahi.
Laras menghela napas pelan, lantas menatap penuh harap ke Dara. "Gue tadi kebetulan ketemu sahabat lama gue, dan dia cerita tentang saudaranya yang butuh bantuan Lo. Dia sudah menikah dua tahunan, tapi belum dikaruniai anak."
Dara sudah tahu arah cerita Laras ke mana. Sejujurnya saat ini dia sedang tidak ingin menjalani hidup seperti dulu. Pekerjaannya kali ini benar-benar membuatnya puas dan bisa membiayai kehidupan ibu dan Anaya di sana. Rasanya, Dara tidak ingin lagi masuk ke lubang yang sama, apa lagi saat ini dirasa uangnya sudah lebih dari cukup untuk bisa mengumpulkan uang dari hasil kerjanya di perusahaan. Dara akan memakai uang hasil sewa rahimnya selama tabungannya belum penuh sesuai yang dia butuhkan.
"Lo paham maksud gue kan?"
"Masih dua tahun kan, entar juga bisa hamil. Minta sabar dan banyak berobat aja."
"Masalahnya gak bisa, Ra."
Dara menghela napas berat. "La, sebenarnya aku udah janji sama diriku sendiri untuk gak kembali ke dunia itu. Semenjak aku dapat kerjaan di perusahaan itu, aku bertekad berhenti, La."
Laras menggenggam tangan Dara erat. "Tolong, Ra, waktunya udah gak lama lagi."
Dara menatap Laras heran. "Maksudnya?"
"Dia sakit, Ra. Jantung. Dan dia ngerasa usianya udah gak lama lagi."
Dara terdiam. Mustahil rasanya dia kembali menerima pekerjaan hina itu. Selain dia sudah tidak lagi menginginkannya, Dara juga belum siap jika harus hamil lagi. Baru tiga bulan berlalu pasca melahirkan, dan rasa sakit itu masih terasa sampai hari ini.
"Ra."
"Aku coba pikirkan dulu ya."
"Dia bisa bayar berapa pun buat jasa Lo, Ra, asal Lo bersedia membantu."
"Tapi, La ...."
Pintu tiba-tiba terbuka dan terlihat Luna hadir sembari melipat kedua tangannya di d**a. Tatapannya tajam ke arah keduanya. Dara yang melihat kehadirannya, menyadari bahwa sejak tadi Luna menguping semua pembicaraannya bersama Laras.
"Lo kayak gak punya teman lain buat dikasih klien selain dia!" bentak Luna yang membuat Dara menghela napas kembali.
Sebenarnya Dara tidak masalah jika Laras harus memberikan saudara sahabatnya itu ke Luna. Dirinya sendiri pun saat ini sedang tidak ingin melakukan hal itu lagi, dengan kata lain tidak ingin menyewakan rahimnya saat ini. Dara terlalu capek bergelut dengan dunia haram itu. Bermain dengan lelaki yang tidak ada status menikah sama sekali, membuat Dara selalu merasa ada neraka di hadapannya yang siap melahapnya dengan api yang membara.
"Gue gak mau sama Lo!" bentak Laras kesal. "udah ke luar sana, suka banget ikut campur sama urusan orang. Kurang-kurangi kebiasaan Lo yang suka nguping itu, pecah nanti gendang telinga Lo!"
"Anjrit nih anak!" maki Luna kesal bukan main.
"Lagian mau gue kasih sama siapa, sama Lo? Bukannya Lo udah gak bisa hamil lagi semenjak ...."
"Diam Lo!!!" potong Luna emosi.
"Sebaiknya kalau mau bertengkar, di luar kamarku aja ya, aku benar-benar lelah. Besok pagi harus kerja lagi. Maaf ya," usir Dara secara halus yang membuat Luna menghentakkan kakinya lantas pergi dari kamar.
Laras kembali menatap Dara. Tatapan penuh harap kembali dia juruskan ke Dara. Dara menggeleng pelan yang membuatnya menyerah dan akhirnya memutuskan menyusul Luna yang sudah lebih dulu pergi sembari menutup kembali pintu.
Dara kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar sembari mengingat tawaran Laras barusan. Ada rasa iba di hatinya yang membuat satu sisi hati Dara ingin membantu. Namun di sisi hatinya yang lain saat wajah Anaya hadir, membuat Dara tak tega jika harus terus bergelut di dunia itu, dan memberikan Anaya uang dari sewa rahimnya. Uang haram yang akan dinikmati anak dan ibunya sendiri. Dara tak sanggup jika terus membayangkannya.
***
Dara dan semua staf di perusahaan dibuat kalang kabut. Bobby, pimpinan dari Granata House tiba-tiba datang dengan amarah meledak-ledak dan membuat lantai sepuluh tempat Dara bekerja, menjadi tidak kondusif. Darrel yang sedang berbicara dengan klien di ruangannya, langsung ke luar dan menghampiri pusat keributan. Terdapat beberapa orang satpam yang sudah menangani situasi, namun tetap sama Bobby dan dua pengawalnya membuat keributan dengan memaksa masuk ke ruangan Darrel.
Dara yang kebetulan sedang bertugas membagikan kopi dan teh sesuai ketentuan perusahaan ke meja pegawai, ikut kaget saat nampan yang dia pegang, dijatuhkan Bobby tiba-tiba. Dara berusaha memungutnya, namun salah satu pengawal yang merasa langkahnya dihalangi Dara yang sedang berjongkok, malah dengan kasar menolak Dara tepat di depan mata Darrel yang baru saja tiba.
"Hei!!!" bentak Darrel spontan ke arah pengawal Bobby. "Kalian berurusan sama saya, bukan sama pegawai saya!"
Semua terdiam. Milly yang ikut berada di tempat kejadian, langsung membantu Dara bangkit, membawanya menyingkir dari semua orang sembari memastikan bahwa Dara baik-baik saja. Dar hanya mengangguk, lantas kembali memperhatikan situasi dari tempatnya berdiri.
"Berani sekali anda membuat keributan di kantor saya, apa maksud anda?!" bentak Darrel seolah tidak takut kehilangan klien. Padahal Bobby adalah salah satu klien terpenting di perusahaannya.
"Apa maksud anda menjelek-jelekkan saya di depan semua orang!" balas Bobby yang membuat Darrel mengerutkan kening.
"Apa maksud anda?" tanya Darrel lagi.
"Anda bilang anda menolak bekerja sama dengan perusahaan saya karena saya korupsi, suka main perempuan. Kalau pun saya main perempuan, itu urusan saya, bukan urusan anda!!"
"Ini salah paham, saya tidak ada mengatakan hal itu tentang anda pada siapa pun! Bahkan saya tidak pernah tau masalah pribadi semua klien saya!"
"Jangan banyak alasan!" sungut Bobby tak tertahankan. "Kemarin anda telepon saya dan bilang membatalkan perjanjian kerja sama karena masalah anda dengan Pak Fandi, saya terima karena saya tau masalah itu. Tapi ternyata, anda malah bilang ke semua orang kalau alasan batalnya perjanjian itu karena saya melakukan hal-hal yang tidak senonoh seperti itu. Anda waras, Pak Darrel?!"
"Sudah kedua kalinya saya bilang, saya tidak melakukannya!"
Pertengkaran itu terus terjadi di hadapan semua pegawai dan klien Darrel yang memutuskan ke luar dari ruangan. Dari arah lift, Dara melihat Fandi ke luar dengan senyuman sinis dan tatapan ke arah Darrel. Dari senyumannya Dara mengerti, bahwa semua ini ulah Fandi yang dengan sengaja memfitnah Darrel akibat kejadian kemarin.
"Maaf, Pak, sebaiknya kita bicarakan hal ini di ruangan saja, agar tidak jadi keributan di sini," usul Randy, asisten pribadi Darrel yang berusaha menengahi.
"Biar saja di sini, biar semua orang tau siapa CEO mereka sebenarnya!"
"Silakan, anda pikir saya takut? Bahkan mereka akan lebih paham siapa anda sebenarnya!" balas Darrel.
Dara yang tidak ingin tinggal diam karena merasa sudah diselamatkan Darrel berulang kali, langsung menghampiri Fandi. Milly kaget melihatnya pergi, namun tetap berada di tempat karena bingung harus melakukan apa.
"Ini semua karena kamu, kan?" tanya Dara pada Fandi.
Fandi tersenyum puas. "Kenapa, gak suka calon suaminya diusik?" tanya Fandi santai. "Ini pelajaran buat CEO sombong seperti dia. Dia harus tau, sama siapa dia bermain."
Dara menggelengkan kepala. "Aku pikir setelah empat tahun menghilang, kamu bisa berubah jadi lebih baik. Ternyata kamu malah berubah jadi iblis!" maki Dara yang membuat Fandi menatapnya penuh amarah, lantas langsung mencekiknya.
Milly yang melihat adegan itu, spontan berteriak memanggil nama Dara. Darrel yang mendengar teriakannya, beralih menatap Dara yang berusaha melepaskan diri dari cekikan Fandi yang tampak gelap mata saat itu. Tanpa peduli dengan Bobby, Darrel langsung menerobos kerumunan dan langsung melesatkan tinjuan ke wajah Fandi. Cekikannya terlepas, dan Fandi tersungkur ke lantai.
Dara terbatuk-batuk, udara spontan masuk ke dalam hidung dan mulutnya. Milly langsung menangkapnya.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Darrel sembari berjaga jika ada serangan dari Fandi. "Satpam, Randy!! Usir dia!"
Semua orang langsung sigap menghampiri Fandi dan membawanya ke luar melalui lift yang terbuka. Fandi berusaha melepaskan diri dari pegangan erat dua satpam bertubuh kekar yang membawanya. Randy sendiri memilih tetap tinggal karena takut ada kejadian lanjutan dari dua bodyguard Bobby yang masih berdiri di tempat semula.
Setelah memastikan Dara baik-baik saja, Darrel langsung berbalik dan menatap Bobby dari tempatnya berdiri dengan tatapan tajam.
"Anda sudah lihat sendiri kan, gimana partner anda?" tanya Darrel. "apa sekarang, masih mau nyerang saya di sini tanpa tau duduk permasalahannya, atau kita bicarakan baik-baik semuanya di dalam?"
Bobby terdiam, dia tampak malu dengan semua yang sudah dia lakukan di depan semua orang. Darrel melangkah melewatinya ke ruangan, berhenti tepat di depan klien lainnya yang tampak menantinya dengan sabar.
"Maaf, Pak Andre, meeting kita diundur dulu sampai jam malam siang nanti bisa?"
"Bisa, Pak."
"Terima kasih," ucap Darrel sembari membungkukkan sedikit tubuhnya tanda maaf. "Septian, Milly, jamu Bapak Andre dan istrinya sampai saya selesai urusan dengan Pak Bobby!"
"Baik, Pak!" jawab Septian dan Milly bersamaan lantas langsung mendekati kedua kliennya itu dna membawanya ke arah kantin.
Perlahan semua bubar ke meja masing-masing. Randy sendiri tampak dengan sopan mempersilakan Bobby dan dua pengawalnya masuk ke ruangan Darrel. Bobby hanya menunduk malu, mencoba menutupi kesalahannya akibat amarah yang terlalu meluap-luap akibat ucapan Fandi padanya.