Dara melangkah cepat memasuki perusahaan. Dia tidak terlambat, bahkan masih ada setengah jam lagi jadwal masuk dimulai. Namun Dara yang terbiasa untuk lebih dulu datang, membuatnya selalu merasa tidak nyaman jika harus bersantai berjalan menuju tempatnya bekerja.
Dara menekan pintu lift, lantas masuk setelah pintu terbuka. Dengan cepat menekan angka sepuluh, menanti pintu kembali tertutup namun tiba-tiba seseorang menahannya yang membuat pintu besi itu kembali terbuka. Dara kaget bukan main saat melihat siapa yang menyusulnya masuk ke lift. Senyuman menyeringai hadir di bibirnya, Dara berniat ke luar, namun tarikan pria itu membuatnya mundur kembali hingga pintu berhasil ditutup olehnya.
"Aku gak nyangka, kamu makin cantik," pujinya yang malah membuat Dara risih bukan main. "Tapi boleh juga kalau mau main di belakang istriku, aku masih mau kok."
"Jaga bicara anda, Pak, tolong hargai saya sebagai wanita!"
"Mau dihargai berapa? Seratus juta? Dua ratus juta? Atau satu perusahaan?"
Dara melihat ke angka di atas pintu lift. Rasanya lantai sepuluh cukup lama, membuatnya semakin tidak karuan di dalam.
"Aku pikir setelah semua diambil, kalian akan menyusul pria tua itu, ternyata masih bertahan. Hebat!" tambah Fandi sembari tersenyum lebar penuh kemenangan. "Kenapa gak nyusul aja sih? Masih cinta ya sama aku jadi masih bertahan." Fandi mengusap kepala Dara yang membuat wanita cantik itu berbalik menatapnya tajam.
"Jangan macam-macam, aku bisa teriak sekarang juga!" ancam Dara.
"Siapa mau dengar?" Fandi mencari-cari sesuatu, lantas tersenyum saat menemukan apa yang dia cari. "orang di CCTV itu?" Fandi berniat menyentuh pipi Dara, dengan cepat Dara menepis tangannya. "Kenapa sih, bukannya dulu kamu sudah puas aku layani?"
"Jangan mendekat!" tegur Dara sembari mundur beberapa langkah, namun sialnya ruangan lift yangtidka terlalu lebar, membuatnya terhenti di dinding. Fandi semakin memperlebar senyumannya memihak Dara semakin ketakutan.
Fandi semakin mendekat. Beruntung pintu lift terbuka dan terlihat Darrel berdiri di sana dengan tatapan tajam dan tangan kiri menahan pintu lift. Dara langsung berlari ke luar dan berdiri di belakang Darrel seolah meminta perlindungan. Fandi merapikan jasnya.
"Pak Darrel, maaf sudah lama menunggu. Tadi ada sedikit kemacetan di ...."
"Anda tau siapa yang anda ajak bicara tadi di dalam?" tanya Darrel yang membuat Fandi menghentikannya kalimatnya.
"Dara Adiskha. Seharusnya saya yang tanya Bapak, Bapak tau siapa yang anda terima di kantor anda?" tanya Fandi santai. "Dia mantan istri saya. Yaa, saya memang sudah membohongi semua keluarga anda kalau saya pernah menikah, tapi siapa yang mau mengakui wanita ini sebagai masa lalunya? Saya saja malu mengakuinya." Fandi melangkah kenkuar dari lift dan berdiri di hadapan keduanya. Darrel membiarkan pintu lift tertutup sembari memasukkan kedua tangannya di saku jasnya, sedangkan Dara sendiri, masih berdiri di belakang Darrel.
"Seharusnya anda cari tau dulu siapa yang anda ingin jadikan pegawai sebelum menerimanya. Wanta seperti ini mana pantas bekerja di perusahaan besar anda ini."
"Jaga ucapan anda, Pak Affandi!" seru Darrel mulai naik darah walau masih tampak tenang.
"Kenapa harus dijaga, dia gak perlu dibela-bela, Pak Darrel, dia juga bukan siapa-siapa anda."
"Dia calon istri saya!"
Semua terkejut. Baik Fandi mau pun Dara tampak terkejut dengan ucapan Darrel. Darrel sendiri masih tampak tenang walau tatapan tajamnya terus saja menjurus ke Fandi yang masih berdiri di hadapannya.
"Calon istri?" tanya Fandi masih tak percaya, Fandi malah tertawa padahal tidak ada yang lucu sama sekali. "saya tau anda suka candan, Pak, tapi jangan jadikan beginian jadi bahan candaan dong, Pak. Wanita seperti dia gampang bapernya."
"Saya gak becanda." Darrel menanggapinya dengan ekspresi serius. "Lagian sejak kapan saya suka candaan? Apa anda sedekat itu dengan saya sampai sok tau tentang saya?" Darrel langsung menggenggam tangan Dara. Dara tampak kaget namun tak bisa melakukan apa-apa.
"Saya tidak suka kalau ada orang yang mendekati calon istri saya. Jangankan menyakiti, dekat saja saya tidak suka!" tambah Darrel yang semakin membuat Fandi menatap Dara kaget. Dia bingung bukan main mendengar pernyataan itu. Sedangkan Dara sendiri hanya menundukkan kepala, enggan melihat Fandi.
"Oh iya, saya meminta anda ke sini karena ingin memberitahu, kalau saya menolak bekerja sama dengan anda untuk pembangunan perumahan anda."
"Anda berani menolak? Apa anda tidak takut kehilangan klien seperti Pak Bobby? Dia pemilik Granata House yang tidak lain adalah klien tetap perusahan anda!"
"Saya tidak peduli, saya sudah bicara dengan Pak Bobby, dan saya mengatakan bahwa selama beliau bekerja sama dengan anda, saya tidak akan pernah mau bekerja sama dengan beliau." Darrel kembali menatap tajam ke Fandi yang tampak panik. "Sampai di sini apa anda sudah paham? Kalah sudah, silakan pergi dari perusahaan saya, hidup saya, dan hidup semua orang yang ada hubungannya dengan saya, termasuk Dara."
"Anda gak bisa seenaknya seperti ini!" geram Fandi.
"Randy!!!" seru Darrel memanggil asisten pribadinya. Tak lama, seorang pria berpakaian rapi dengan jas abu-abunya datang mendekat. "usir dia dari sini, dan pastikan agar wajahnya, tidak hadir lagi dk perusahaan saya." Darrel menggenggam tangan Dara. "Ayo, kita ke ruangan."
Belum sempat Dara menjawab ajakan Darrel, lelaki itu malah langsung menariknya pergi meninggalkan Fandi yang langsung ditarik kasar oleh Randy masuk ke dalam lift. Dara sempat berbalik, menangkap sorot tajam dari Fandi sebelum akhirnya pintu lift tertutup membawa Fandi dan Randy pergi.
Bersama Darrel, Dara masuk ke dalam ruang kerja Darrel. Darrel melepaskan tarikannya lantas memilih duduk di kursi kekuasaannya. Sedangkan Dara hanya bisa diam berdiri sembari menundukkan kepala.
Cukup banyak pertanyaan di kepalanya. Tentang sikap Darrel, dan juga tentang kebohongan Darrel yang mengatakan di hadapan Fandi bahwa dirinya adalah calon istrinya. Entah apa yang menjadi dasar Darrel mengatakannya. Yang pastinya, Dara benar-benar dibuat penasaran, walau tak berani bertanya.
"Saya Ge-er dulu, semua yang saya ucapkan tadi, cuma biar dia gak bersikap seenaknya di sini!" ucap Darrel tiba-tiba sembari membuka laptopnya.
"Tapi, kenapa anda mengatakan bahwa saya calon istri anda."
"Kenapa, gak suka?" tanya Darrel. "Hampir semua wanita di sini suka kalau saya mengatakan hal itu, kenapa malah jadi masalah?"
"Kelewat halu!" maki Dara dalam hati. "Enggak, Pak, saya cuma gak enak sama Bapak."
"Saya memang gak enak dimakan!" jawab Darrel ngasal. "Kembali ke pantry dan buatkan saya kopi seperti biasa. Jangan lama, saya banyak kerjaan. Kepala saya sudah sakit akibat bertengkar sama mantan kamu itu!"
"Baik, Pak, permisi."
Dara berbalik dan berniat pergi. Namun langkahnya kembali terhenti saat suara Darrel memanggilnya kembali. Dara berbalik tanpa mendekat, menyaksikan wajah Darrel yang tampak seperti seseorang yang sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Lain kali kalau dia macam-macam, hubungi saya. Kamu sudah tau nomor handphone saya kan?"
"Su-sudah, Pak."
"Bagus!"
Dara menunduk, berbalik, lantas pergi ke luar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Ucapan Darrel anehnya membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dara bersandar di pintu Darrel yang baru saja dia tutup dari luar, mencoba menenangkan detakan jantungnya sendiri yang terasa benar-benar aneh hari ini.