Sesuai janji, Dara tetap berada di kantor saat semua orang sudah beranjak pulang. Hanya tinggal dirinya dan juga Septian di pantry, salah satu office boy yang memang disiapkan untuk membantu Dara.
Septian yang baru saja datang sembari membawa bungkusan besar berisikan nasi kotak pesanan Darrel, langsung disambut Dara yang sudah menyiapkan minuman botol berisi air mineral untuk para anggota rapat, termasuk para investor. Dara melihat ke nasi kotak yang ternyata dari restauran impiannya.
"Cafe One Piece?" ucap Dara yang langsung mendapatkan tatapan dari Septian.
"Kenapa, Mbak, udah pernah ke sana ya?" tanya Septian sembari menyediakan tissue dari dalam lemari.
Dara menggelengkan kepala. "Termasuk cafe mahal kan? Mana mungkin aku ke sana. Kalau pun ada uang, rasanya sayang juga." Dara cengengesan..
"Aku kalau gak diajak Pak Darrel, gak bakalan ke sana, Mbak. Cafe ini kan miliknya."
Dara kaget bukan main. Tatapannya kembali ke tulisan di nasi kotak yang masih berada di dalam bungkusan. Ada harapan kecil di hatinya bisa diajak Darrel bersama pegawai lainnya ke sana. Namun dengan cepat Dara menghapusnya, lantas membantu Septian yang mulai berniat membawa semuanya ke ruang rapat.
Semua sudah hadir dan duduk di kursi masing-masing. Walau belum dimulai, dan memang sengaja makan malam bersama dulu sebelum rapat dilakukan, tapi sebagian orang malah sudah mulai sibuk membaca beberapa lembar kertas yang sengaja disiapkan di atas meja di hadapan masing-masing.
Dara sendiri langsung meletakkan nasi kotak ke hadapan masing-masing sembari sesekali meminta izin sebelum meletakkannya. Sedangkan Septian sendiri meletakkan botol minumannya.
"Dara?!" seruan seseorang membuat Dara menoleh ke hadapannya. Begitu juga dengan Darrel yang semula tampak asyik mengobrol dengan salah satu investor.
Dara tampak kaget bukan main melihat siapa yang ada di hadapannya. Pria berkulit sawo matang yang Dara sendiri benci dengan senyumannya. Dara tidak menyangka bisa bertemu dengannya di sini, di tempat yang diharapkan bisa menjadi dunia baru untukmu, bukan untuk mengulang kisah lamanya yang pahit.
"Wah, gak nyangka bisa ketemu kamu di sini, masih menggoda saja."
Entah itu pujian atau malah hinaan, tapi malah berhasil membuat Dara terpancing emosi. Namun menyadari di mana dirinya kini, membuat Dara menghela napas pelan dan kembali membagikan makanan ke beberapa orang yang belum kebagian dengan meletakkannya ke meja masing-masing.
Dara berniat ke luar setelah semua selesai. Namun dengan cepat pria itu beranjak dari kursinya dan mencengkram tangan Dara yang sedikit lagi melewati pintu. Sialnya Septian malah sudah pergi meninggalkannya tanpa tahu bahwa dirinya masih tertahan.
"Kamu lupa samaku? Kok cuek banget?" tanyanya dengan nada suara sedikit dipelankan
"Lepaskan tanganku, aku sedang berkerja."
"Bekerja? Wah, di perusahan sebesar ini apa kamu layak? Bahkan untuk sekedar jadi seorang office girl saja aku rasa tidak."
Dara mencoba melepaskan tangannya dengan gerakan yang tidak mengundang tatapan orang lain. Namun sialnya cengkraman tangan pria itu terlalu kuat hingga membuatnya kesulitan. Dia malah menyeringai yang membuat Dara semakin jijik melihatnya.
"Pak Fandi, ada masalah?" tegur Darrel tiba-tiba dari arah kursinya berada. Dengan cepat, pria bernama Fandi itu melepaskan cengkramannya di pergelangan tangan Dara. Dara spontan membungkukkan tubuhnya ke arah Darrel sebagai isyarat berpamitan, lantas langsung ke luar tanpa menanti terlalu lama.
"Gak ada, Pak, hanya bertemu teman lama. Sahabat lebih tepatnya." Fandi melangkah kembali ke kursinya. Duduk sembari meraih pulpen dan memainkannya di jemarinya sembari tersenyum. Senyumannya yang ditunjukkannya, membuat Darrel menaruh curiga padanya.
***
Dara menanti ojek online yang dia pesan di depan gerbang perusahan. Sudah setengah jam dia menanti, namun sang ojek tidak datang juga. Padahal sesuai Map, dia sedang menuju ke perusahaan, namun anehnya gambar yang menandakan keberadaannya tidak bergerak sama sekali.
Berulang kali Dara mengirimkan pesan, namun sang penerima orderannya tetap saja tidak membalas. Dara mulai lelah, lantas kembali masuk untuk duduk di pos satpam. Namun langkahnya terhenti saat suara klakson mobil terdengar. Dara menoleh, melangkah kembali ke luar gerbang, dan terlihat mobil sedan hitam dengan merk mewah menantinya di luar gerbang.
"Eh, Pak," sapa Dara saat kaca jendela bagian kursi penumpang terbuka. Terlihat Darrel bersama supirnya di dalam, tatapannya tertuju ke layar laptop yang menyala di pangkuannya.
"Masuk!" perintah Darrel yang membuat Dara bingung bukan main.
"Ma-maksudnya, Pak?" tanya Dara takut salah paham.
Darrel menoleh ke arahnya. Ekspresinya masih tetap sama, datar, walau anehnya entah dari mana asalnya, Dara merasa sosok bosnya itu sedang merasa kesal padanya.
"Masih ingat syarat bekerja dengan saya tadi siang, kan? Jangan bantah apa pun yang saya katakan, dan satu lagi, jangan nanya berulang kali! Ayo masuk!"
Dara semakin bingung bukan main. Di satu sisi dia segan menolak, namun di sisi lain Dara malah lebih segan jika harus duduk di dalam mobil bersama pemilik tempatnya bekerja.
"Mau dipecat?!" tegur Darrel lagi yang membuat Dara panik dan langsung memegang pintu depan, tepat di samping supir. "Siapa suruh di depan saya, duduk di sebelah saya!"
"Ba-baik, Pak!" jawab Dara lantas melangkah memutar dari belakang mobil menuju pintu di sisi kanan, tepat di samping pintu supir. Dara masuk setelah menghela napas sesaat, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Dara hanya diam. Duduk menundukkan kepala di saling Darrel yang sibuk dengan pekerjaannya di layar laptop. Apa yang dikatakan Milly memang benar, sosok CEO tampannya itu memang gila bekerja. Bahkan di saat semua merayakan kebebasan saat pulang kerja, Darrel malah masih tampak sibuk dengan kerjaannya.
"Depan belok kiri ya, Pak," ucap Dara yang merasa takut supir pribadi Darrel tidak tahu arah rumahnya.
"Pak Amat, itu namanya. Dia sudah tau rumah semua pegawai, gak usah dikasih tau." Darrel kembali menegurnya yang membuat Dara mengangguk tak enak hati. Dara kembali menundukkan kepala, mencoba tetap diam agar tidak kembali ditegur oleh Darrel.
"Ada hubungan apa antara Pak Affandi dan kamu?" tanya Darrel tiba-tiba yang jelas saja membuat Dara kaget. Dia tidak menyangka Darrel akan mempertanyakan tentang sosok Fandi.
"Dia ... dia itu ... mantan suami saya, Pak," jawab Dara yang sebenarnya malas membahasnya. Pria b***t yang membuat keluarganya hancur tanpa sisa, hingga berhasil membuat Bapak meninggal dunia karena stres.
Ketikan jemari Darrel di keyboard laptop sesaat terhenti. Dia menoleh ke Dara, melihat tangan kiri Dara yang mengepal seolah sedang menahan emosi. Darrel berusaha mengabaikannya dan kembali melanjutkan ketikan.
"Berarti dia berbohong selama ini," tambah Darrel yang berhasil melenyapkan emosi di diri Dara. Dara menoleh ke Darrel.
"Maksudnya bohong apa, Pak?" tanya Dara penasaran. "Apa di CV nya dia bilang tidak pernah menikah?"
"Untuk apa saya memeriksa CV nya, dia tidak bekerja dengan saya, dia hanya salah satu klien yang bekerja sama dengan perusahaan Granata House untuk mendirikan perumahan mewah. Dan mereka meminta kita yang membangunnya." Darrel menutup laptopnya. "dia sudah membohongi saya dan keluarga saya, khususnya Valery, adik saya."
Dara mencoba mencerna ucapan Darrel. Sekedar menebak bahwa antara Fandi dan Valery, ada hubungan khusus hingga membuat Darrel membencinya. Dan kebencian itu tampak jelas dikedua matanya yang kini tertuju ke laptop yang sudah tertutup di pangkuannya.
"Dan akibat ulahnya, Valery harus ...." Darrel menghentikan kalimatnya. Dia baru sadar kalau dirinya malah curhat pada pegawai barunya.
"Kok berhenti?" tanya Dara yang malah tidak sadar siapa yang di hadapannya.
"Siapa kamu, berani minta saya cerita tentang keluarga saya!"
Dara menarik kepalanya sedikit ke belakang. "Eh, yang cerita kan Bapak, saya hanya dengar."
"Terus, kenapa malah maksa? Suka-suka saya mau berhenti atau gak!"
Dara menundukkan kepala, rasa segan kembali membuatnya sadar siapa yang sedang dia ajak bicara saat ini.
"Maaf, Pak," ucap Dara menyesal.
Amat, supir pribadi Darrel tersenyum tipis mendengar keduanya adu mulut. Seolah sudah tahu sifat dari bosnya, membuatnya hanya menggeleng pelan sembari terus tersenyum.
Mobil pun berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah. Dara bersiap turun, mengucapkan terima kasih pada Amat, dan juga Darrel, lantas turun dan berdiri di samping mobil hingga mobil yang membawa Darrel itu pergi meninggalkannya.
"Wah, mangsa baru nih?"
Seorang wanita bertubuh langsing dengan rok di atas lutut yang dipadukan dengan kaus ketat datang mendekatinya. Tangan kirinya membawa bungkusan yang bisa dipastikan nasi yang dia beli di rumah makan di seberang jalan.
Dara tampak malas meladeninya, memilih berbalik berniat masuk dari pada harus mendengarkan cerita dari salah satu teman satu rumahnya yang memang terkenal usil pada semua penghuni rumah. Tak terkecuali Dara.
"Bagi-bagi dong kalau dapat mangsa tajir kayak gitu, sesama kupu-kupu malam, harusnya saling berbagi."
Dara kembali berbalik, menatapnya tajam. "Aku bukan kupu-kupu malam!"
Wanita itu tersenyum sinis. "Tapi lebih parah dari itu!" balasnya yang langsung membuat menahan emosinya. Dia sadar, tidak akan ada selesainya jika melawani perempuan yang satu itu. Dara hanya menghela napas kesal, lantas memutuskan masuk ke dalam diiringi tawa iblis dari wanita bernama Luna itu.