Menulis Lah Dengan Gila

1200 Words
"Wakil ketua sudah kembali dari Jepang, pria itu berniat untuk mengunjungi Anda setelah jam sarapan," kata Daniel, memberi tahu tentang wakil ketua Devalga yang akan datang. "Oh? Katakan padanya untuk tidak perlu datang kemari, aku -- Diandra, dan Roni lah yang akan kesana," jawab Axel santai, pria itu kemudian menyeruput air putihnya. Daniel mengangguk, namun kemudian dia dan Diandra tersasar akan sesuatu. Segera kedua manusia itu bertanya,"Roni ikut ke markas utama?!" Roni yang mendengar ini juga ikut kaget, walaupun dia memang sangat ingin untuk melakukan riset mendalam, tetapi bukankah ini terlalu dalam? Markas kedua masih oke, tetapi markas utama? Itu adalah tempat yang sangat rahasia, kerahasiannya setara dengan resep Krabby Patty! Oh, cukup bercanda di dalam pikiran, Roni. "Memangnya kenapa?" tanya Axel dengan raut wajah acuh. "Markas utama adalah tempat yang sangat rahasia, tidak sembarang orang bisa keluar - masuk. Tuan, saya yakin Anda paham maksud saya 'kan?" jawab Daniel, kening pria itu terlipat tidak setuju. "Apa yang dikatakan oleh Daniel adalah benar, Anda tidak boleh sembarangan, Tuan Axel," timpal Diandra, wanita itu juga merasa keberatan dengan keputusan Axel. Axel menyeringai tipis, matanya menatap Diandra dan Daniel secara bergantian. Tatapan matanya benar-benar menggoda seperti rubah. Menurut Roni, Axel memiliki perwatakan dan sifat yang sulit ditebak, dia lebih berbahaya dari pada semuanya, meskipun pria itu hanya tersenyum seperti orang bodoh. "Aku adalah ketua Devalga, mengapa aku melakukan sesuatu yang dapat merusak privasi Devalga?" Daniel dan Diandra terdiam, mereka tidak menjawab apa pun. Entah kenapa sekarang atmosfer ruangan menjadi sangat canggung, hening, dan berat. Seringaian dan tatapan Axel yang barusan seolah dapat membekukan semuanya, senyuman itu seperti menyembunyikan sesuatu yang berbahaya. "Apa Anda bersedia ikut, Tuan Roni?" tanya Axel, tatapan mata mereka langsung bertemu begitu Roni mengangkat tatapannya. Roni termenung sejenak, jadi dia ikut atau tidak? Itu yang Roni pikirkan. Jika dirinya ikut, entah kenapa Roni merasa seperti sudah merusak sesuatu. Tetapi jika tidak, astaga... dirinya benar-benar membuang kesempatan bagus yang langka. Roni menarik napas sedikit, saat hendak menjawab dan keputusan hatinya adalah terpaksa menolak, tiba-tiba Axel menyelak,"Baiklah, siapkan keberangkatan kami semua." Pada akhirnya Roni ikut ke markas utama, saat ini mereka sudah berada di dalam helikopter pribadi Axel. "Apa markas utama memiliki jarak yang sangat jauh dari markas kedua?" tanya Roni kepada Diandra. Diandra mengangguk. "Cukup jauh, sekitar lima puluh kilo meter dari markas kedua." Roni yang mendengar ini mengangguk mengerti, kemudian kembali menatap ke luar jendela. Tiba-tiba pikirannya memikirkan keadaan Sagli dan keluarganya yang lain, apakah polisi sudah mengunjungi dan mengintogerasi mereka? "Diandra, bagaimana dengan orang-orang terdekatku saat ini?" tanya Roni, matanya melirik Diandra. "Mereka semua aman, polisi tidak akan berbuat kasar kepada mereka." Roni yang mendengar jawaban Diandra mengerutkan keningnya. "Tidak akan berbuat kasar?" Diandra yang mengerti maksud Roni tersenyum samar. "Rahasia dapur, Roni." Roni balas tersenyum tipis. "Licik, tetapi terimkasih." Diandra mengangkat bahunya acuh. "Bukankah ini juga untukmu? Orang-orang Devalga tidak hanya yang selalu ada di markas, mereka tersebar di mana-mana. Ada yang dari anggota politik, kedokteran, dan kepolisian." "Pantas saja kepolisian Indonesia sulit menangkap kalian, ternyata di dalam kepolisian sendiri diam-diam juga ada kalian," balas Roni. Diandra, Daniel, dan Axel hanya tersenyum saat mendengar ini. Setelah tidak ada lagi percakapan yang bermutu, Roni memutuskan untuk membuka ponselnya dan mulai menulis di aplikasi catatan. Konsentrasinya tidak terlalu terganggu karena Diandra, Daniel, dan Axel tidak banyak bicara. Roni terus menulis, karena terlalu terbawa oleh alur yang dia buat sendiri, bulu pria itu terkadang berdiri merinding. Hal ini adalah hal yang biasa namun juga luar biasa bagi para penulis, itu tandanya mereka sangat mendalami alur cerita yang mereka buat. Menulis itu seperti nar***a, seseorang bisa kecanduan karenanya. Contoh nyatanya adalah Roni, pria itu pecandu menulis. Roni pernah menonton film asal Korea yang mengangkat tema tentang penulis, salah satu dialog tokoh utama pria yang dia sukai adalah,"Menulis lah dengan gila." "Sebenarnya cerita apa yang kau tulis, Ron?" tanya Diandra, tiba-tiba wanita itu mendekatkan dirinya ke Roni agar dapat melihat layar ponsel Roni. Roni yang melihat Diandra hendak melihat tulisannya segera mematikan layar ponsel dan menjawab,"Kamu akan tahu jika buku ini sudah terbit di pasaran." Diandra mengerutkan keningnya kesal. "Pelit!" Roni mengangkat kedua bahunya acuh. "Bukan pelit, ini demi menjaga keuntungan pasar. Jika kamu sudah membaca ceritaku sekarang, tentunya ketika terbit nanti kamu tidak akan membeli bukunya kan karena sudah tahu isinya? Jika hal itu terjadi, ah... betapa ruginya!" "Kita sudah sampai!" pekik Daniel sembari menepuk pundak Diandra, membuat mereka semua menoleh ke arah jendela. Helikopter perlahan mendarat di lapangan hijau yang luas, di sana sudah banyak manusia dengan setelah jaz hitam berbaris menunggu kedatangan Axel. "Selamat datang, Tuan Axel." Ucap seluruh anggota Devalga yang berada di markas utama, aura di sini sangat berbeda dengan markas kedua. Di markas utama semuanya terasa dingin dan tegang, wajah para anggotanya juga lebih menyeramkan. Bekas luka yang besar maupun kecil ada di wajah beberapa anggota, hal ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai pengalaman tugas yang luar biasa, selain itu bekas luka juga menunjukkan bahwa mereka memiliki posisi yang kuat di Devalga. Begitu mereka menyadari kehadiran Roni, seluruh sorot mata langsung tertuju pada Roni. Roni hanya diam, memasang senyum santai namun sebenarnya hatinya tertekan. Untuk apa mereka menatap dengan lekat seperti itu? Risih. "Ay, siapa dia?" Tiba-tiba wanita dengan rambut panjang sepinggang yang memiliki kecantikan wajah wanita china muncul di depan Roni, memblokir jalannya. "Miaoling, jangan ganggu dia. Dia tamu exclusive Tuan Axel," tegur Daniel, pria itu menarik kerah baju Miaoling. Axel dan Diandra menghentikan langkah mereka, kemudian menoleh ke belakang. Diandra berjalan mendekati mereka, kemudian menarik tangan Roni. "Miaoling, dia bukan orang yang bisa kamu ganggu." Miaoling yang mendengar ini segera memasang wajah tertegun, kemudian bertanya,"Dia pacarmu?" "Hah?" Diandra langsung menghentikan langkah kakinya lagi dan menoleh ke belakang, menatap Miaoling tajam dengan raut wajah jijik. "Bahkan ditakdirkan menjadi temannya saja sudah menjadi malapetaka," sambung Diandra. Roni yang mendengar ucapan Diandra merasa jengkel kemudian membalas,"Aku sendiri juga tidak mau berteman denganmu, apakah kau lupa siapa yang membawaku ke situasi ini?" Seluruh orang yang mendengar Roni membalas ucapan Diandra terkejut, mata mereka langsung menatap Roni dengan tidak senang. Diandra adalah anggota sss di Devalga, posisinya sangat tinggi namun Roni berani membalas ucapan Diandra? Axel hanya tersenyum tipis sembari menggeleng pelan, kemudian melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda. Pria itu tidak tertarik untuk ikut dalam percakapan mereka. "Kau mulai menyebalkan, Roni. Ingat saat ini kau ada di mana," ujar Diandra dengan raut wajah menahan kesal. Roni tersenyum semakin manis. "Aku hanya bercanda, jangan terlalu marah begitu. Aku takut plastik di wajahmu akan keriput." Kemudian Roni berjalan pergi menyusul Axel dengan langkah yang sedikit dipercepat. Diandra yang mendengar ucapan Roni merasa sangat kesal, wajah wanita itu langsung memerah. "Roni!!!" Kemudian Diandra menyusul Roni, tangan kanannya mengepal, seperti bersiap untuk memukul kepala Roni. Daniel dan Miaoling tertawa, kemudian tiba-tiba tawa Miaoling berhenti. Mata Miaoling yang tajam seperti burung Phoenix itu menatap lekat punggung Roni. Bibir Miaoling tersenyum manis, wajah wanita itu memerah dan mulai panas. "Aku menyukainya!" Daniel, setelah mendengar ucapan Miaoling segera menghentikan tawanya. Pria itu menatap Miaoling dengan tatapan muak. "Menjijikan, wajahmu terlihat m***m. Lagi pula sepertinya dia adalah penyuka pria, aku mendengar bahwa Erlin dan Erla diusir olehnya." Miaoling semakin memperdalam senyumnya. "Justru itu semakin menarik, bukan?" "Gila, aku tidak peduli," balas Daniel, kemudian berjalan pergi meninggalkan Miaoling.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD