"Loker Penyimpanan"

1162 Words
"Apa kau serius Axel? Memilih orang sembarangan tanpa tes, jika salah itu bisa menyebabkan kerugian luar biasa. Bahan yang kita dapatkan tidak semudah mendapatkan telur di supermarket." Pria dengan perawakan orang Jepang berdiri di samping Axel, mereka berdua sama-sama menghadap ke kaca ruangan, menatap ke luar. Mereka saat ini berada di dalam ruangan pribadi dengan interior ruangan elegan dan dominan dengan warna hitam. "Dari pertama kali aku melihatnya, aku menyukainya. Dari segi pandang manapun, tubuhnya cocok untuk projek kali ini," jawab Axel sembari menghisap rokoknya santai. "Bagaimana jika gagal?" tanya pria dengan perawakan Jepang itu lagi. "Aku bertaruh akan berhasil, Akiyama," jawab Axel lagi. "Panggil Roni kemari," sambung Axel, pria itu sedikit menoleh ke belakang, menatap bawahannya. "Baik." Tak lama Roni masuk, Axel dan Akiyama segera berbalik untuk melihat Roni. Roni diam, dia hanya tersenyum sopan sembari menatap Axel dan Akiyama. Jika Axel adalah ketua Devalga, maka Akiyama adalah wakil ketua Devalga. Saat ini Roni berdiri di hadapan petinggi, tepatnya pendiri Devalga. "Apa kau bersedia untuk ikut ke pelelangan besok? Di sana kita akan duduk di kursi VIP bersama wanita cantik," tanya Akiyama, bibir pria itu tersenyum simpul. Roni yang mendengar ajakan ini berpikir sejenak, kemudian dia bertanya kepada Akiyama tanpa keraguan. "Apa ada sesuatu yang akan aku dapatkan di sana?" "Apa yang ingin kamu dapatkan?" kali ini Axel yang bertanya. "Informasi, aku kemari untuk riset novelku." Akiyama dan Axel mengangguk bersamaan, kemudian Akiyama membalas,"Maka kamu akan mendapatkan itu. Percaya padaku, ada banyak informasi bagus untuk risetmu." "Bagaimana jika aku menolak?" tanya Roni, bibir pria itu tersenyum. Roni tidak bodoh, dia merasa curiga sekarang. Untuk apa kedua petinggi Devalga yang notabennya adalah orang penting malah mengajaknya dengan penuh wajah ramah seperti itu? Roni tahu bahwa dia telah menyelamatkan Axel dari endusan Polisi, namun perilaku baik mereka terlalu berlebihan. Senyum Akiyama luntur saat mendengar ini, mata pria itu menatap Roni dengan penuh arti. Roni tidak takut walaupun sebenarnya sedikit takut, pria itu berusaha mempertahankan postur tubuh tegaknya, matanya membalas tatapan mata Akiyama. Axel tiba-tiba tertawa kecil, kemudian tangan kanannya menepuk pundak Akiyama pelan, seperti melempar kode bahwa dia tidak perlu marah. Axel menatap Roni, kemudian berkata,"Mengapa tidak ikut? Padahal akan ada pertunjukkan bagus." Roni masih mempertahankan senyumnya. "Aku tetap menolak." Akiyama yang mendengar ini segera bertanya,"Alasan? Seharusnya kamu memiliki alasan yang bagus 'kan?" "Alasan? Ada. Aku harus menulis, aku tidak bisa menulis di tempat lelang yang ramai." Kemudian tatapan matanya bergeser ke Axel. "Hasil wawancara kita yang kemarin, aku harus segera menulisnya sebelum rasanya menjadi basi. Ide bisa menjadi basi, Tuan Axel." Axel tidak menjawab, matanya tetap menatap Roni dengan senyum ramahnya. Sedangkan Akiyama, pria itu sudah melemparkan tatapan dingin ke arah Roni. "Baik, kau boleh keluar. Maaf sudah menyita waktumu," ujar Axel, hal ini membuat Akiyama menoleh cepat ke pria itu. Namun kemudian Akiyama membalik posisi tubuhnya ke arah Jendela kembali. Roni mengangguk, kemudian segera berjalan keluar. Tatapan matanya berubah dingin begitu membalikkan badan, senyum di bibirnya juga hilang. Hati Roni mulai merasa waspada, otaknya bertanya-tanya apa yang ada di balik senyum mereka? "Dia berani menolak?" tanya Akiyama, matanya menatap keluar, kemudian bibirnya tersenyum. Axel juga begitu, pria itu semakin memperdalam senyumnya. "Dia pantas dijadikan loker penitipan 'kan?" Akiyama tertawa pelan. "Ya, atur sesukamu saja. Aku akan mempersiapkan apa yang ingin kamu lakukan." Axel mengangguk. "Tentu, barang yang aku pilih selalu berkualitas." "Tetapi, bagaimana caranya? Dia menolak untuk diajak ke Kasino(?)" tanya Akiyama, matanya melirik Axel. Axel tidak langsung menjawab, pria itu termenung sebentar, namun kemudian dia menyeringai dan menjawab,"Paksa. Masukkan barangnya ke loker secara paksa." Akiyama tertawa. "Kau jahat, Axel. Senyummu itu benar-benar menipu." Axel mengangkat bahunya acuh. "Aku tidak pernah meminta orang untuk tertipu dengan senyumku." ** Roni sedang berada di dalam kamar yang sudah disediakan oleh Axel secara pribadi untuknya. Jika boleh jujur, kamar yang ada di markas utama lebih megah dan luar biasa, mungkin karena 'markas utama'. Roni saat ini tengah menulis, namun tiba-tiba suara ketukan pintu kamarnya terdengar. Roni mematikan layar ponsel, kemudian berjalan menuju pintu dengan malas. Saat Roni membuka pintu, Roni melihat Diandra menyodorkan laptop ke arahnya. "Laptop-mu, Tuan Axel memintaku untuk memberikan ini padamu," kata Diandra, membuat Roni mengerutkan keningnya. "Kamu ke rumahku?" tanya Roni sembari mengambil laptopnya dari tangan Diandra. "Ya," jawab Diandra singkat. Roni yang mendengar ini membelalakkan matanya. "Ke rumahku?!" Diandra yang melihat Roni bertanya lagi dengan nada tinggi merasa kesal. "Ya! Ada apa? Gila!" Roni menenangkan dirinya, kemudian menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Jika Diandra ke rumahnya, maka berarti dia bertemu dengan Sagli. Roni tidak bisa membayangkan bagaimana Sagli menyambut Diandra dengan tidak ramah. "Temanmu, yang bernama siapa? Entahlah, aku lupa. Dia sangat cerewet dan galak! Padahal aku hanya ingin mengambil laptopmu! Dia itu temanmu atau kekasihmu?!" tanya Diandra, wajah wanita itu berubah suram. Roni yang mendengar pertanyaan Diandra melotot marah. "Enak saja! Dia temanku! Kau pikir aku gay?!" Diandra memutar bola matanya jengah, kemudian berjalan pergi meninggalkan Roni. Roni yang melihat ini segera berseru,"Terimakasih! Tetapi ucapanmu yang barusan sangat menyebalkan! Jadi aku kurangkan rasa terimakasihku menjadi lima puluh persen!" lalu Roni kembali masuk ke dalam kamarnya. ** "Siapa?" tanya Sagli begitu membuka pintu, matanya menatap Diandra dingin. Sagli memperhatikan penampilan Diandra, pria itu mulai merasa tidak enak. "Teman Roni," jawab Diandra pendek. Matanya menatap Sagli dingin, wanita itu merasa kesal karena Sagli menatapnya tidak ramah, padahal dirinya tidak melakukan kesalahan apa pun padanya. "Tidak ada Roni," balas Sagli, pria itu segera hendak menutup pintu, namun tiba-tiba tangan kiri Diandra menahan pintunya agar tidak tertutup. "Apa ini caramu menjamu tamu?" "Tamu atau musuh?" balas Sagli, kedua mata mereka masih saling bertatapan dengan sengit. Diandra tersenyum tipis. "Astaga, kau dan dirinya sama-sama menyebalkan. Yang satu menyebalkan dengan senyumnya, yang satu lagi menyebalkan dengan tatapan tajamnya." "Apa yang membawamu kemari? Bukankah sudah aku bilang bahwa Roni tidak di sini? Jika tidak percaya silahkan cek di garasi, tidak ada mobil Roni di sana. Bocah itu entah sedang berpetualang di mana," ujar Sagli. Diandra menggeleng pelan. "Aku kemari bukan mencari bocah itu, tetapi laptopnya. Aku ingin mengambil laptop Roni." Sagli yang mendengar ini tiba-tiba tersenyum tipis. "Maling?" Diandra mengerutkan keningnya, kemudian tangan kanannya mengangkat rok long dress-nya. Diandra memakai stoking hitam, di stoking tersebut terselip belati kecil. Diandra mengarahkan belati tersebut ke leher Sagli. "Tutup mulutmu sebelum aku memotong urat lehermu. Jika tidak mau membuat keributan, cukup berikan aku laptopnya." Sagli melirik belati yang Diandra sodorkan ke lehernya dengan dingin, kemudian matanya kembali menatap Diandra. "Sepertinya dia bukan wanita biasa. Apa salah satu anggotanya?" batin Sagli. Sebagai pria normal yang tidak memegang s*****a dan tidak memiliki pengalaman ilmu bela diri yang kuat, tentu saja Sagli segera berjalan mundur menuruti perintah Diandra. Dilihat dari segi manapun, Sagli merasa Diandra bukan wanita dengan kemampuan bertarung biasa. "Di mana laptopnya?" tanya Diandra. "Konyol. Bagaimana caranya aku mencari jika kamu terus menyodorkan belati ke leherku?" Diandra yang mendengar ini segera menarik belatinya kembali. "Cepat cari, waktumu dua menit." Sagli tidak menjawab, pria itu segera berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai dua, tempat ruangan kerja Roni berada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD