Roni saat ini seperti biasa sedang menulis, pria itu tidak memiliki kegiatan lain selain makan – minum – tidur – buang air – bernapas – menulis. Kali ini dia menulis menggunakan laptop, dan tentunya karena Sagli adalah sahabat yang baik, pria itu tidak lupa menaruh kotak kacamata beserta isinya di tas laptop.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu terdengar, Roni merasa kesal karena waktu kerjanya lagi-lagi di ganggu. Roni tidak langsung menjawab dan berdiri, pria itu memejamkan matanya lebih dulu sembari menghela napas untuk meredam amarahnya. Selama menumpang di sini, banyak sekali gangguan yang terjadi ketika dirinya sedang bekerja.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan itu semakin keras, membuat Roni melotot kesal ke arah pintu. Sebenarnya ada apa dan siapa yang mengetuk?! Roni berjalan cepat ke arah pintu, kemudian membukanya. “Ada apa?” Roni sedikit terkejut karena yang mengetuk pintu bukan orang yang dia kenal. Tadinya jika orang itu Diandra, Roni ingin memaki sedikit.
Pria dengan rambut panjang berwarna hitam berdiri di hadapan Roni dengan tatapan kesal, ekspresi wajahnya yang garang membuat orang ragu untuk mencari masalah dengannya. Tato burung elang terlihat jelas di d**a bidang pria tersebut karena atasan kancing kemejanya yang terbuka.
“Roni, benar?” tanya pria itu, Roni pun juga segera mengangguk. “Ya.”
“Ikut aku, ketua dan wakil ketua memanggilmu,” ujar pria itu, membuat Roni mengerutkan keningnya bingung. Kali ini apa lagi? Tidakkah mereka tahu bahwa Roni sedang sangat sibuk sekarang? Namun karena saat ini dia sedang berada di markas mereka, Roni hanya menghela napas dan mengikuti pria tadi dari belakang.
Di tengah jalan, pria itu bertanya,”Kamu seorang penulis?” Roni yang mendengar ini menganggukkan kepala. “Ya, benar.” Pria itu balas mengangguk juga, kemudian bertanya lagi,”Apa nama penamu?”
Roni tersenyum tipis. “Aku penulis bayangan.” Pria itu segera menghentikan langkah kakinya, kemudian menoleh kea rah Roni. “Penulis bayangan? Siapa tuanmu?”
Roni menggeleng pelan. “Tidak ada tuan, aku bekerja kepada siapa saja yang berani membayarku dengan harga tinggi.” Pria tadi tertawa pelan saat mendengar jawaban Roni. “Kamu rela karyamu diatas namakan oleh nama orang lain?”
Roni mengangkat bahunya acuh. “Selama mereka membayarku itu bukan masalah.”
“Buku apa yang kau tulis?” tanyanya lagi, membuat Roni merasa heran. Mengapa pria sangar ini sangat peduli? Biasanya preman kriminal seperti mereka tidak ada yang peduli tentang hal ini. “Apa saja, kecuali romance,” jawab Roni.
Pria tadi yang mendengar jawaban Roni sekilas menunjukkan ekspresi kecewa, membuat Roni merasa bingung. Jangan bilang dia pria otot kawat, tulang besi, namun hati Hallo Kitty? Oh, astaga….
Setelah percakapan tersebut, mereka melanjutkan perjalanan menuju ruangan Axel dan Akiyama. Tidak ada lagi percakapan, pria itu segera diam seolah sedang menelan kekecewaan karena jawaban Roni yang tidak menulis novel romance.
Setelah sampai di ruangan Axel, Roni melihat kedua pendiri Devalga itu sedang mengisap rokok sembari meminum anggur mahal dengan santai. Untuk apa mereka berdua memanggilnya? Mereka ingin mengajaknya minum dan merokok santai bersama? Oh, yang benar saja.
“Roni? Silahkan duduk, mari bersantai sebentar.” Akiyama menoleh ke arahnya, kemudian menunjuk sofa empuk di depannya dan Axel. Roni mau tidak mau menurut dan duduk di sofa yang tadi Akiyama tunjuk.
“Apa ada sesuatu?” tanya Roni, bibirnya tersenyum ramah kea rah Axel dan Akiyama. Akiyama menggeleng pelan. “Tidak ada, aku hanya penasaran dengan buku yang ingin kamu tulis. Ah, ya, ro**k?” Akiyama menyodorkan batang ro**k ke Roni. Roni yang melihat ini menggeleng dan menolak sopan,”Maaf, aku tidak merokok.” Akiyama yang mendengar ini samar-samar tersenyum tipis, matanya menatap wajah Roni dengan penuh arti.
“Minum? Jika kamu tidak suka ini, aku akan meminta bawahanku untuk mengambil minuman baru yang tentunya memiliki kadar alkohol tinggi,” tawar Akiyama lagi dan tentunya Roni tolak lagi. Roni memang tidak minum minuman dan mero**k, bukan sok baik atau bagaimana, tetapi memang dia merasa dirinya tidak cocok dengan kedua hal tersebut.
Melihat Roni menolak kedua hal tersebut, membuat Akiyama semakin memperdalam senyumnya, begitu juga Axel yang sudah lama menatapnya sambil tersenyum. Ayolah, Roni merinding melihat kedua pria berbahaya yang terus menerus tersenyum ke arahnya tanpa alasan yang Roni tidak tahu.
“Kapan operasinya akan dimulai?” tanya Akiyama kepada Axel, yang membuat Roni semakin bingung.
“Nanti malam, jam dua pagi,” jawab axel santai, kemudian menyeruput anggurnya. “Persiapkan saja semuanya, jangan sampai hal ini bocor ke luar. Dia akan menjadi brankas yang bagus.”
“Baik,” jawab Akiyama, kemudian kembali menatap Roni. “Nah, Roni, sekarang kau boleh pergi.” Kemudian mata pria itu melirik ke pintu. “Rama.” Akiyama memanggil nama seseorang, pintu segera terbuka dan pria rambut gondrong dengan tato burung elang tadi muncul. “Antar dia lagi, setelah itu kamu boleh kembali ke wilayah asal,” lanjut Akiyama.
“Baik,” jawab Rama, kemudian tatapan matanya bergeser ke arah Roni. “Ayo pergi.” Roni yang mendengar ini mengangguk, kemudian berdiri dan berjalan keluar bersama Rama. Baiklah, selama ini dia sudah menjadi kucing yang ramah dan penurut, saat ini Roni sudah cukup terlihat seperti orang bodoh. Anggap saja bodoh dan pengecut karena Roni tidak berani melawan mereka jika sedang merasa kesal dengan perilaku mereka.
“Hei!” Roni memanggil Rama, membuat pria itu menoleh padanya. “Apa?” jawab Rama, kedua sudut alis pria itu bertaut. “Apa kau tau apa yang dimaksud untuk ketua dan wakil ketua? Operasi? Operasi apa?”
Rama yang mendengar ini tidak langsung menjawab, pria itu terdiam sebentar kemudian mengangkat kedua bahunya sedikit sambil menggeleng pelan. “Tidak tahu, aku tadi kan menunggu di luar, jadi tidak mendengar apa yang kalian bicarakan. Ruangan ketua dan wakil ketua kedap suara.”
Roni diam dan tidak menjawab, matanya menatap punggung Rama. Entah kenapa sekarang hati Roni merasakan ssuatu yang tidak enak, tetapi dirinya tidak tahu apa yang sedang dia khawatirkan. Megkhawatirkan sesuatu yang tidak tahu apa itu, tetapi sangat mengkhawatirkan.
Pada malam hari sekitar jam setengah dua pagi, Roni masih terjaga karena rasa gelisahnya tersebut. Operasi? Operasi apa yang Axel maksud? Apa tubuhnya akan dibelah kemudian organnya diambil lalu dijual? Mengerikan.
Roni lama-lama merasa frustasi, pria itu segera berdiri dari ranjangnya sambil mengacak-acak rambutnya. Mengapa dari tadi otaknya memikirkan hal itu terus? Roni megambil gelas, kemudian berjalan ke dispenser kamarnya. Namun lagi-lagi hatinya dibuat kesal karena air galon di kamarnya habis. Roni mau tidak mau harus keluar dan mencari air. Ketika Roni membuka pintu kamarnya, dia terkejut melihat Miaoling berdiri di depan pintunya, tangan kanan wanita itu juga seperti hendak mengetuk pintu.
“Kamu?” tanya Roni dengan kedua sudut alis yang menyatu. Miaoling tersenyum, namun kemudian wanita itu memasang ekspresi cemberut. “Siapa yang kau panggil ‘kamu’? Panggil aku dengan namaku!”
Roni menatap Miaoling aneh, sebenarnya apa yang sedang wanita ini lakukan di depan kamarnya? Ini sudah jam setengah dua pagi, untuk apa wanita ini berkeliaran di sini?
“Astaga! Jangan bilang kau tidak tahu namaku?” tanya Miaoling, wajah cemberutnya hilang dan digantikan ekspresi terkejut. Saat Roni hendak menjawab, tiba-tiba wanita itu meletakkan jari telunjuknya di bibir Roni. “Baiklah, kalu begitu kau akan segera tahu siapa namaku,” ujar Miaoling.
“Siapa?” tanya Roni, matanya menatap kesal Miaoling.
“Miaoling! Kapten divisi ketiga Devalga!” jawab Miaoling, kemudian tersenyum sangat manis. Wajah Miaoling memang sangat imut.
“Oh, ya, salam kenal,” jawab Roni santai, kemudian menjulurkan tangan kanannya ke Miaoling sambil menyebutkan namanya,”Roni.” Miaoling membalas uluran tangan Roni, mata wanita itu berbinar girang dan wajahnya mulai memerah, membuat Roni semakin menatap Miaoling dengan tatapan aneh. Menurut Roni, ada banyak orang aneh di Devalga.