"Hei! Apa-apaan ini?! Lepas!"
"Gila! Lepaskan aku!"
"Hei, yang di sana! Kau tuli?! Lepaskan aku!"
Roni berteriak keras, saat ini tubuhnya diikat menggunakan tali tambang yang besar, hal ini membuatnya tidak bisa berkutik banyak selain memberontak kasar. Namun, sebanyak apa pun Roni berteriak, tidak ada yang mau menggubris.
Saat ini Roni melihat ruangan tertutup dengan peralatan serba canggih, yang membuatnya semakin heran dan panik adalah ada alat bedah operasi di atas nakas samping dia berbaring. Untuk apa peralatan bedah seperti itu ada di sini?! Apa yang dimaksud Akiyama dan Axel tadi sore adalah hal seperti ini?! Mereka ingin mengambil organ tubuhnya untuk dijual?!
Tiba-tiba ada pria yang menggunakan seragam operasi dokter yang mendekat ke arahnya sambil membawa jarum suntik. Roni semakin memberontak kencang, keringat dingin mulai berkucur deras.
"Gila! Yang benar saja!!!" teriak Roni dengan lebih keras.
*
"Hhaaa!"
Roni membuka matanya, napas pria itu tersengal-sengal tidak beraturan. Keringat dingin membasahi tubuhnya, membuat sprei yang dia gunakan berbaring menjadi basah, padahal AC ruangan menyala optimal.
Roni mengingat apa yang baru saja terjadi padanya, pria itu segera menoleh ke sana kemari untuk memastikan bahwa dia tidak berada di dalam ruangan tertutup barusan. Saat menyadari bahwa dia ada di kamarnya, Roni menghela napas lega.
Roni melirik jam dinding, pukul jam sembilan pagi. Ini adalah pertama kalinya Roni bangun sangat siang, biasanya paling telat dia bangun sekitar jam tujuh sampai setengah delapan.
"Aiya! Sudah bangun?" suara melengking namun imut milik Miaoling terdengar, membuat Roni segera menggeser tatapannya ke arah pintu.
Benar juga, seingatnya kemarin malam sekitar jam dia pagi Miaoling datang ke kamarnya. Namun setelah itu apa lagi? Roni tidak mengingat apa pun lagi selain Miaoling mengajaknya berkenalan. Ini cukup aneh, bagaimana bisa dia tiba-tiba menjadi pelupa.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Roni dengan tatapan dingin menatap Miaoling. Miaoling tersenyum dan menjawab,"Apa? Tidak terjadi apa-apa." Kemudian Miaoling mengubah senyumnya menjadi senyum orang m***m. "Ah... Apa kamu berharap lebih?"
Roni tidak mengubah ekspresinya, dia tahu bahwa Miaoling berbohong. Miaoling masih mempertahankan senyumnya, melihat Roni menatapnya dengan penuh rasa curiga justru semakin membuat senyumnya semakin dalam. Senyum yang dibuat oleh Miaoling bukan senyum untuk menutupi kebohongan, tetapi lebih ke tertarik dan semakin tertarik.
"Jawab aku dengan jujur," ucap Roni, melihat Miaoling hanya diam dengan senyum menyebalkannya membuat Roni semakin kesal dan penasaran.
Roni hendak mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas, tubuhnya tentu saja bergerak. Saat Roni bergerak, tiba-tiba perutnya merasakan rasa sakit yang luar biasa seperti baru saja mengalami operasi yang berat. Bertepatan dengan itu juga, tiba-tiba Miaoling berseru,"Jangan bergerak! Atau jaitannya akan terbuka! Itu masih baru, tentu saja masih sedikit basah!"
Roni segera menyingkap selimutnya, kemudian mengangkat bajunya dan melihat perban putih melilit perutnya. Roni meringis sakit sekaligus kesal,"Ah!"
Mata Roni beralih menatap Miaoling, menembakkan tatapan tajam. "Apa yang sudah kau lakukan?! Tidak, tepatnya apa yang sudah kalian lakukan?!" wajah Roni memerah karena marah, urat-urat di leher dan dahinya sampai terlihat.
"Ayolah, hanya memasukkan bungkusan plastik ke dalam tubuhmu. Mengapa semarah itu? Benda itu hanya mengambil sedikit ruang di sana," balas Miaoling, jari telunjuknya menunjuk perut Roni.
"Bungkusan plastik dan benda apa? Apa maksudmu?" tanya Roni lagi, pria itu mencengkeram selimut kencang, menahan amarah.
Miaoling menutup mulutnya yang tersenyum menggunakan kedua telapak tangannya, wanita itu tidak menjawab pertanyaan Roni. Tak lama pintu kamar Roni terbuka, menampilkan Diandra berjalan masuk.
"Dia sudah bangun? Oh, ternyata lebih cepat dari dugaan," ucap Diandra sambil tersenyum simpul, matanya melirik Miaoling. "Berhenti memasang ekspresi seperti itu, Miaoling. Kau membuatnya kebingungan."
Miaoling tertawa kecil, kemudian melirik Diandra. "Kau tahu? Temanmu sangat menarik!"
"Jangan berbuat macam-macam padanya, Miaoling. Saat ini pria itu sudah menjadi loker penyimpanan ketua dan wakil ketua," balas Diandra.
"Diandra!"
Tiba-tiba Roni meneriaki nama Diandra, membuat Diandra dan Miaoling menatapnya kaget. Diandra mengangkat alis kirinya. "Ada apa?"
"Jelaskan padaku, apa yang sudah kalian semua lakukan! Loker?! Loker apa?!" jawab Roni, rahang pria itu mengeras.
"Maafkan aku karena tidak memberitahumu lebih dulu, Ron. Tuan Axel dan Akiyama memutuskan untuk memilihmu sebagai 'tempat persembunyian' barang itu. Ya... kalau mau dipersingkat, kau kini adalah 'loker' atau 'brankas' barang tersebut," tutur Diandra, wanita itu menjelaskan semuanya dengan santai, seolah itu adalah hal yang mudah bagi Roni.
"Barang apa? Nar***a?" tanya Roni, tatapan matanya menjadi lebih dingin. Miaoling yang mendengar ini mengangguk. "Ya! Benar! Barang yang dimaksud adalah nar***a! Astaga, Roni ternyata pria yang cepat tanggap!"
Deg!
Roni terdiam, tangan kanannya menyentuh pelan perutnya yang dililit perban sekali lagi. Gila. Mereka benar-benar gila. Menjadikan manusia sebagai 'loker' obat terlarang? Tetapi mengapa dari miliaran juta manusia yang ada di bumi, kenapa harus dia yang dipilih sebagai 'loker' mereka?!
"Keluar," ujar Roni dengan ekspresi wajah yang gelap, pria itu benar-benar marah sekarang. Mereka semua yang ada di sini telah kelewatan.
Diandra hanya diam berdiri sambil menatap Roni, sedangkan Miaoling, wanita itu mengerutkan keningnya dengan tatapan sedih. "Ada apa Roni?" tanya Miaoling.
Roni menatap Miaoling tajam. "Apa aku harus memberitahumu apa masalahnya? Ini adalah kamar yang Tuan Alex berikan untukku. Lagi pula, untuk apa aku mengatakan alasannya sebagai sopan santun jika kalian sendiri tidak tahu apa itu artinya sopan santun?"
Miaoling tertegun karena ucapan Roni, matanya membulat menatap Roni. Diandra yang mendengar ucapan Roni justru membalas,"Bukankah aku sudah mengatakan masalahnya barusan?"
Roni menggeser tatapannya lagi ke Diandra. "Seharusnya kamu memberitahukan ini dari awal. Tidak. Seharusnya kalian juga meminta izin, bukan sekedar memberitahu."
Diandra tersenyum tipis sembari menggeleng pelan. "Kau marah, Ron? Ayolah, kesehatanmu tidak akan terganggu. Obat terlarang itu hanya menyita sedikit ruang di perutmu."
"Jangan gila, Diandra! Bagaimanapun tindakan ini ilegal!" bentak Roni, kali ini pria itu mulai membentak.
"Mengapa sangat berisik?" Tiba-tiba suara Axel datang, membuat mereka bertiga menoleh ke arah pintu.
Tatapan mata tajam Roni kini berpindah target, matanya menatap Axel dengan sangat tajam, hal ini membuat Axel terkekeh.
"Apa yang anda tertawakan?" tanya Roni dengan alis kiri yang sedikit naik. Axel yang mendengar nada bicara dingin dari Roni tersenyum tipis. "Tidak ada, aku harap kamu menjaga kesehatanmu. Di dalam tubuhmu kini sudah ada barang yang sangat berharga."
"Apa alasanmu melakukan semua ini?" tanya Roni lagi, kali ini dia ingin tahu. Sungguh, masalah ini bukan masalah sepele. Memasukkan kantung obat terlarang ke dalam tubuh manusia adalah tindakan ilegal yang sangat besar.