Semua Manusia Itu Gila

1082 Words
"Apa alasanmu melakukan semua ini?" tanya Roni lagi, kali ini dia ingin tahu. Sungguh, masalah ini bukan masalah sepele. Memasukkan kantung obat terlarang ke dalam tubuh manusia adalah tindakan ilegal yang sangat besar. ______ "Tentu saja karena aku menginginkannya," jawab Axel santai sembari mengangkat kedua bahunya. Roni yang mendengar ini menggerakkan giginya marah. "Kep***t! Kau pikir manusia itu apa?!" Axel diam dan tidak langsung menjawab, senyum pria itu perlahan hilang, tatapan hangatnya juga hilang. Wajah Axel yang ramah kini berubah menjadi sangat dingin, pria itu menatap Roni lama dengan bisu dan tatapan yang sangat dingin, namun kemudian dia tersenyum miring. "Kau pikir ini di mana, Tuan Roni? Dan lagi, bukankah kau ingin menyelamatkanku dari polisi? Ini juga bagian dari hal tersebut loh..." Roni mencengkeram selimutnya lebih erat, mata Roni menatap Axel dengan tatapan kosong dan tegang. Sekali lagi Roni katakan di dalam hati, bahwa mereka semua gila. Miaoling yang melihat ekspresi Roni yang terlihat mengenaskan segera berjalan ke arah Roni, kemudian duduk di samping pria itu dan mengelus punggung Roni. "Tidak perlu terkejut begitu, setelah ini kau akan terbiasa dengan semuanya." Lalu Miaoling tersenyum manis. Roni menjauhkan tangan Miaoling dari punggungnya, kemudian sedikit menggeser posisi duduknya menjauh dari Miaoling. Mata Roni masih menatap Axel, namun kini ekspresi terkejut dan tatapan kosongnya hilang. "Apa ada bayarannya?" senyum Roni tiba-tiba terbentuk, membuat Diandra menatap Roni dengan ekspresi jijik. Ekspresi Diandra seolah mengatakan,"Kemana perginya ekspresi marah, terkejut, dan mengenaskannya tadi?" Axel mengangguk dan tersenyum. "Tentu saja, sebagai 'loker emas', kau mendapatkan kehidupan bak Pangeran di Devalga." Roni balas mengangguk juga, bibir pria itu masih tersenyum licik. Otak Roni yang mencintai uang tiba-tiba menyala, mulai berpikir bahwa hal ini bisa dijadikan ladang uang untuknya. Roni juga bisa memastikan satu hal, bahwa kualitas dokter yang digunakan Devalga juga bukan dokter biasa. Mereka pasti sudah mempersiapkan yang terbaik kan? Membuatnya celaka sama saja membahayakan barang haram mereka. "Mau pergi keluar? Jika iya, Miaoling akan menemanimu," tawar Alex, kemudian pria itu merogoh kantung celananya untuk mengambil sesuatu. Setelah sesuatu itu dikeluarkan, ternyata itu adalah kertas cek. Alex melemparkan kertas cek ke arah Roni sambil berkata,"Bebas untuk digunakan." Kemudian Alex berjalan keluar. Roni mengambil kertas cek tersebut, kemudian melihat nilainya. Saat melihat angka 0 yang berbaris rapih di belakang angka 1, Roni tertawa pelan. Nilai yang tertulis di sana adalah $1.000.000.000, bagaimana mungkin Roni menolaknya? Roni marah barusan karena mereka semua menyobek kulit tampannya dan memasukkan benda asing ke tubuhnya tanpa izin. Terlepas pengetahuan Roni bahwa ini adalah tindak ilegal, Roni tidak terlalu mempedulikannya, karena pekerjaannya sendiri adalah tindak ilegal. Penulis bayangan. "Roni!" Tiba-tiba Miaoling merangkul bahunya, membuat Roni tersadar dari lamunannya memandang angka satu dan nol tersebut. Roni menoleh ke Miaoling, mengkerut keningnya. "Apa?" "Kita akan pergi bersama, jadi persiapkan dirimu, ya! Jangan mengecewakanku!" ucap Miaoling dengan senyum manisnya yang seperti biasa. Roni sekali lagi menggeser posisi duduknya menjauh dari Miaoling sembari menjawab,"Kau pikir kita akan berkencan, hah? Dan lagi, jangan terlalu dekat denganku." Miaoling tidak membalas apa pun tentang ini, wanita itu justru malah mencolek hidung Roni dengan jadi telunjuknya, kemudian turun dari kasur Roni dan berjalan keluar sambil berkata,"Tentu saja kamu tidak boleh mengecewakanku," Miaoling memberi jeda sebentar, kemudian menoleh ke belakang dan melanjutkan,"Loker kesayangan." Roni mengerutkan keningnya, pria itu merasa merinding dengan tingkah laku Miaoling. Diandra yang melihat ekspresi merinding Roni tertawa pelan. "Tidak perlu dianggap serius, dia memang bersifat seperti itu." Roni beralih menatap Diandra. "Kalian semua gila dan aneh, jika tidak karena sogokan Axel, aku ogah tinggal di sini." Tangan kanan Roni bergerak melambaikan kertas cek tadi ke udara. Diandra tersenyum tipis. "Semua manusia gila, Ron. Seperti kau, beberapa menit yang lalu dengan tatapan tajam ceramah tentang tindakan ilegal, padahal pekerjaanmu sendiri adalah tindak ilegal." Roni balas tersenyum tipis juga, kemudian tangan kirinya memegang dadanya. "Astaga, tidak bisakah kamu berhenti menjadi manusia terus terang seperti itu? Rasa sakitnya berpindah dari perut ke hati." Diandra menggeleng pelan, kemudian berbalik dan berjalan keluar sambil berkata,"Mati saja kau." Roni menatap kepergian Diandra sambil tertawa, setelah itu dia berusaha bangkit dari kasur dan menutup pintu kamar, karena pasalnya wanita ketus itu tidak menutup pintu setelah keluar. Roni juga buru-buru bersiap memakai baju rapih, pria itu sangat berhati-hati terhadap lukanya saat sedang memakai baju. Kali ini Roni berniat untuk pergi ke kasino judi lagi, mendengar teriakan frustasi dan kesenangan mereka ketika kalah dan juga menang adalah hal yang menyenangkan untuk mengumpulkan ide. *** Bam! Suara pintu mobil yang ditutup terdengar jelas, Roni dan Miaoling kemudian berjalan masuk ke dalam Kasino. Miaoling menggunakan jaket over size berwarna hijau neon dan hot pants levis berwarna hitam, benar-benar penampilan anak muda kekinian. Berbeda dengan Roni, pria itu hanya memakai setelan jaz hitam seperti biasa. "Kau mengecewakanku, Roni," ucap Miaoling tadi sebelum mereka berangkat. "Kemana kamu ingin bermain?" tanya Miaoling dengan nada bicara yang sangat gembira. Roni mengangkat bahunya acuh. "Kemana pun kau mau." "Ruang judi? Ruang panas? Ruang minum sambil berjoget ria?" tanya Miaoling satu persatu. Roni yang mendengar ruang kedua yang Miaoling sebutkan tadi mengkerut keningnya. "Ruang panas?" Wajah Miaoling memerah saat mendengar Roni mengatakan ruang panas tersebut, mendadak perilaku Miaoling berubah menjadi sok malu-malu, membuat Roni semakin memperdalam kerutannya. "Apa?" tanya Roni ketus. Miaoling mengangkat pandangan matanya ke Roni, kemudian menjawab,"Jika kamu menginginkan ruang panas, untuk apa repot-repot kemari? Aku bisa memberikanmu." Roni yang mulai mengerti wajahnya ikut memerah. Tangan Roni bergerak untuk mendorong wajah Miaoling yang sangat dekat dengan wajahnya, kemudian berjalan pergi meninggalkan Miaoling sambil berkata,"Kau gila, lebih baik kita ke ruang judi. Lagi pula, mengapa Kasino ini menyediakan semuanya? Aku curiga ini diolah oleh Devalga." Miaoling tidak langsung menjawab, wanita itu terdiam sebentar sambil menatap punggung Roni yang meninggalkannya, setelah itu baru menjawab,"Tentu saja, Kasino ini diolah olehku dibawah naungan Devalga. Kasino yang kemarin kau datangi dan sekarang ditutup adalah milik Diandra." Roni yang mendengar ini menghentikan langkah kakinya, kemudian menoleh ke belakang menatap Miaoling dengan kedua sudut alis yang bertaut. "Kasino itu milik Diandra?" Miaoling mengangguk. "Ya, kenapa? Setiap Kapten Divisi tentu saja memiliki Kasino atau tempat menghibur mereka sendiri. Hitung-hitung sebagai bisnis tambahan saja dikala bosan." "Diandra juga salah satu kapten divisi di Devalga?" tanya Roni lagi. Miaoling menjawab pertanyaan Roni sembari berjalan menyusul pria itu. "Ya, dia adalah kapten Divisi Pertama. Kau belum tahu? Bukankah dia pernah bilang bahas dirinya adalah anggota sss?" Roni terdiam sambil tersenyum tipis. Hah? Tidak salah dengar? Diandra? Kapten Divisi Pertama Devalga? Astaga, seberapa gelap hidup wanita itu? Roni kira dia sekedar menjadi istri kakek-kakek kaya, ternyata dia adalah Kapten Divisi Pertama? Sepertinya hidup Diandra gelap dan bergelimang harta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD